
"Ada satu lagi, yang benar-benar membuat lo bakal hangat," ucap Regan.
Azea menggerakkan kepalanya menatap Regan, dan menaikkan kedua alis matanya.
"Ciuman."
Azea yang mendengar hal itu terucap, langsung melepaskan pelukan dari Regan.
"A-apaan sih!" Azea dibuat gugup oleh Regan.
"Seriusan, gua gak boong," ucapnya yang meyakinkan Azea.
"E-enak di lo!"
Regan mendekatkan dirinya ke ara Azea, Azea yang melihat gerak-gerik Regan langsung berjalan dengan mundur ke belakang.
"M-mau apa?!" Azea panik dengan yang Regan lakukan, dia kembali berjalan mundur, tetapi Regan menghiraukan pertanyaannya hingga tak sadar Azea kini sudah terpojok di tembok dekat jendela.
"Dingin kan? Biar gua bantu lo," Regan menatap Azea kembali.
Kedua pipi Azea kembali panas, tatapan Regan kepada Azea benar-benar membuat Azea harus menahan semburat merah di pipinya walaupun sudah kelihatan di mata Regan.
Azea melirik ke arah lain sambil menahan semburat merah di pipinya.
Regan mengelus-elus pipi putih itu dengan sisi telunjuk tangan kanannya, tetapi herannya Azea tidak berkata apapun saat Regan melakukan itu, malah kini dia berani menatapnya dengan jantungnya yang berdebar tak karuan.
Regan mendekatkan wajahnya ke arah Azea, hingga kini tubuh mereka berhimpitan.
Azea menatap Regan, bahkan dia menatap bibirnya Regan yang kini makin mendekat.
Jantungnya benar-benar dibuat tak karuan oleh Regan.
Hingga akhirnya Regan menarik tengkuk Azea dan membuat bibir mereka bersentuhan satu sama lain.
Regan memejamkan kedua matanya ketika bibirnya bersentuhan dengan bibirnya Azea dan dia ******* bibir pink nan kenyal itu dengan lembut agar Azea merasa nyaman.
Azea membulatkan matanya dan mendadak speechless ketika benda kenyal itu bersentuhan dengan bibirnya
Dia benar-benar ingin melepaskan tautannya itu dari mulut Regan, dia mendorong Regan dibagian dadanya, namun usahanya nihil.
Regan merasakan bibir pink, kenyal, nan manis ini benar-benar membuatnya merasa bergairah, beda halnya dengan bibir-bibir yang pernah dia cium dengan cewek-cewek yang lainnya. Tetapi, bibir Azea ini benar-benar membuat Regan candu.
Regan menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, dia menggigit bibir bawah Azea, agar Azea memberikan akses masuk kedalam mulutnya.
Azea dengan predikat 'The Good Girl' di sekolahnya ini, tentu dia bukan siswi munafik, lama-lama dia pun mengakui bahwa Regan ini merupakan pecium yang handal, dan dia sendiripun menikmati ciuman Regan ini dengan cara dia memejamkan matanya lalu membalas ciuman dari Regan ini.
Nafas hangat dari hembusan hidung mereka, benar-benar membuat mereka hangat satu sama lain.
Apa yang dikatakan Regan itu benar, kini Azea merasakan hangatnya bibir Regan di mulut Azea.
"Emh."
Regan yang candu akan bibir Azea itu, dia mengukir senyuman di ujung bibirnya itu, karena Azea kini membalas lumatannya.
Hingga tak lama kemudian, mereka kehabisan pasokan oksigen dan kemudian saling melepaskan tautannya.
Nafas berat dari kedua insan yang terjebak di lab kimia itu saling terhembus satu sama lain.
Regan suka, rasa bibir Azea yang terasa oleh bibirnya benar-benar membuatnya candu.
Kini, Azea tak berani menatap Regan, dia bahkan merasa malu karena telah terbawa hanyut oleh bibir Regan.
Regan menarik dagu Azea dan menatap kedua mata Azea agar dia juga membalas menatapnya.
"Gimana? Hangat kan? Tapi, lama kelamaan ternyata lo nakal juga ya," ucap Regan dengan membentuk smirk di ujung bibirnya.
Azea yang tadinya menatap Regan, kini dia melirik ke arah lain, dan benar-benar merasa malu dengan apa yang Regan ucapkan. "Be-berisik!"
Regan tersenyum puas melihat reaksi Azea yang benar-benar membuatnya ingin memiliki seutuhnya.
Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara kunci yang tertarik, dan itu menandakan bahwa seseorang telah mengambil kunci tersebut.
"TOLONG!!!" Azea berteriak dan langsung mendekat ke arah pintu.
"Eh? Ada orang?"
Seseorang itu membuka pintu tersebut dan ternyata itu adalah penjaga sekolah yang Azea sangat mengenalnya yaitu Pak Uri.
"Astaga dek Azea?"
"Syukurlah bapak datang, kita udah terjebak dari tadi pas pulang sekolah pak," ucap Azea.
"Kenapa gak mencoba menghubungi seseorang lewat handphone?"
"Baterainya abis pak,"
"Kalian gak ngelakuin yang aneh-aneh kan?" tanya pak Uri yang curiga.
Deg!
Azea kembali gugup. "Hah? Eng... Enggak kok pak! Pak makasih banyak pak, Azea pulang dulu," Azea mengambil tasnya, dia melirik Regan sejenak lalu dia jalan keluar lab, disusul dengan Regan yang berjalan dibelakangnya.
"Iya dek, hati-hati pulangnya."
***
"Jangan ngikutin gua!" Azea yang sadar bahwa Regan terus mengikutinya dari belakang.
Regan menarik tangan Azea hingga dia menoleh ke belakang. "Pulang bareng aja gimana?" ajak Regan.
"Nggak, gua bisa cari Taxi." tolaknya dengan kembali berjalan.
"Azea... Ini udah mulai malem, gua cuma mau mastiin lo baik-baik aja." ujar Regan yang kembali menarik lengan Azea.
Azea mengehembuskan nafas beratnya kembali, lalu berpikir sejenak. Setelah kejadian tadi, kenapa Regan kini mencari-cari perhatian kepadanya?
Kejadian tadi hanya di anggap sebuah insiden kecil oleh Azea dan harus ia lupakan dan semoga tidak pernah terjadi lagi.
"Ngga," Azea bersikeras menolaknya.
"Astaga, perlu gua cium lagi?" goda Regan.
"Di-Diem ih! Udah ah pergi sana!"
Di depan sekolah Azea berhasil menemukan taxi dan masuk ke mobilnya, tetapi tak lain dengan itu, Regan melihat taxi tersebut dan dengan motor ninjanya itu Regan mengikuti taxi tersebut dari belakang.
***
Beberapa menit kemudian, sekitar seperempat menit, akhirnya Azea sampai tepat di depan villanya yang luas.
Ya, Azea tingal di Villa bersama dengan Ibu tercintanya.
Regan yang melihat dari arah jauh tahu bahwa Azea pulang dengan selamat, dia menancapkan gas motornya lalu memutar balik dan pulang ke arah rumahnya.
"Astaga, Azea kamu kenapa bisa pulang sampe malem kayak begini?" tanya Ibunya yang mendapati anaknya pulang jam 7 malam.
"Mamih Anna, syukurnya anakmu ini pulang dengan selamat," Azea tersenyum seketika.
"Nggak, mih cuma urusan sekolah kok." tutur lanjutnya.
Anna yang melihat anaknya itu membalas senyuman anaknya.
"Kalau laper ada makanan yang udah mamih siapin di ruang makan ya nak,"
"Oke Ibu negara, anakmu ini izin ke kamar dulu,"
Anna mengangguk dengan diiringi senyuman yang terukir di bibirnya.
Azea masuk ke kamarnya dan setelah dia membersihkan diri, dia berbaring sejenak di kasurnya itu, dan entah kenapa pikiran tentang Regan itu muncul di otaknya.
Dia mengingat bagaimana Regan memojokkannya, memeluknya, dia ingat bagaimana Regan menciumnya, bahkan dia ingat bagaimana Azea sendiri yang merespon ciumannya Regan.
Ah tidak, kini Regan berhasil memenuhi pikiran Azea dan membuat semburat merah di pipinya kembali mencuat.
"Regan kampret!"
***
Bersambung...