
"Gua suka sama lo," ucap Regan dengan menatap kedua mata Azea.
"Gua juga tau, kalo kita itu sama-sama menikmatinya." tutur lanjutnya.
Azea yang mendengar itu langsung menunjukkan wajahnya yang memerah dan menamparnya tepat di pipi Regan tanpa berbicara sedikitpun.
Apa yang dipikirkannya? Azea hanya menganggap kejadian itu merupakan sebuah insiden kecil, hanya karena insiden kecil itu dia langsung menyatakan cintanya kepadanya?
Sungguh benar-benar membuatnya tak habis pikir!
"Lu-lupain yang kemarin... Itu cuma insiden kecil." ujar Azea.
"Gua nggak bisa, gua nggak bisa nganggep yang kemarin itu kejadian kecil,"
"Jujur aja, kemarin lo juga nikmatin kan? Kalau nggak kenapa lo bales ciuman gua?"
Tamparan dari Azea tak membuat Regan menyerah, dia bahkan kini menghimpit tubuh Azea hingga dia terpojok di gedung sekolah.
"Itu... Itu kelepasan." Azea tak berani menatap mata Regan, dia memalingkan pandangannya ke arah kanan, menghindari tatapan Regan kepadanya.
"Gimana kalau kita mencobanya as a couple? Mau kan jadi pacar gua?" Regan menarik dagu Azea hingga pandangan Azea fokus terhadap Regan.
Azea kembali mengeluarkan semburat merah di pipinya, dia bahkan menggigit kecil bibir bawahnya ketika Regan menatapnya dan mengatakan itu.
"Stop! Gua itu udah ada pacar. Gua nggak mau, lagian lo kan populer pasti banyak lah yang ngantri sama lo." Azea mendorong tubuh Regan hingga dia tak menghimpitnya lagi.
"Udah ya, gua pergi, lupain yang waktu itu. Bye." Azea berjalan dengan niat meninggalkan Regan.
"Eh?!"
Tangan Azea ditarik oleh Regan hingga dia menoleh dan membuat tubuh Azea kembali berdekatan dengan Regan.
Lebih berani, Regan menarik tengkuk Azea dengan cepat hingga Azea tak sadar bahwa bibir miliknya, kini bersentuhan dengan milik Regan.
Ya, Regan mencium sekilas bibir Azea. "Gua, gak nerima penolakan, lo jadi pacar gua, tinggalin pacar lo itu."
Azea kembali blush, pipi dia benar-benar panas, Regan menciumnya sekilas lalu meninggalkannya, hingga kini Azea masih membelalakan matanya.
"Ih kampret! Bisa-bisanya tuh anak!" Azea malu bertambah kesal dengan kelakuan Regan.
***
"Azea kemana si?" tanya Genta yang kini masih di kantin menunggu pacarnya itu.
"Marah kali, karena lo kayak nggak bisa ngebagi waktu sama dia," jawab Sisi yang akhir-akhir ini memperhatikan Azea yang jarang bersama dengan pacarnya itu.
"Weh? Ada apa?" Azea datang dengan cepat lalu duduk bersebelahan dengan Genta.
"Hah? Nggak kok, ini cobain basonya, lo main tinggal aja," ucap Sisi.
Genta menyadari bahwa dirinya sibuk akhir-akhir ini karena kegiatan Osis yang kini makin padat dan harus dia hadiri tanpa tak sadar akan perasaan Azea yang dianya sendiri tak memperhatikannya.
"Em... Enak!" Azea girang karena baso yang dimakannya enak.
"Nih, cobain yang aku." Genta mengambil baso kecil dengan sendoknya dan memasukkannya ke mulut Azea yang sudah membuka ketika Genta bilang seperti itu.
"Enak!" Azea tersenyum kepada pacarnya itu.
Azea tak mau berpisah dengan Genta, dia benar-benar tipikal cowok yang romantis dan pengertian, Azea mengerti bahwa semenjak dia menjabat sebagai ketua osis, dirinya sibuk akan aktifitas yang dia lakukan bersama anak-anak osis, tetapi tetap saja, Azea tak mau lepas dari Genta. Meskipun, Regan bersikeras mengejarnya hanya karena ciuman, itu benar-benar tidak adil untuk Azea, mengingat Genta yang susah payahnya mengejar dirinya.
"Sis, lo duluan ke kelas ya!" ucap Genta yang melihat baso Sisi habis sembari tersenyum kepadanya.
"Kenapa?" tanya Sisi.
Genta menggerakkan matanya ke arah Azea. Sisi mengerti seketika dan langsung pergi. "Eh iya, gua lupa ada anu di kelas. Zea gua balik duluan ke kelas ya."
"Weh, ni anak."
"Ze... Nanti sore kita pulang bareng ya," ucap Genta.
Azea yang mendengar itu langsung membelalakan matanya dan menatap ke arah Genta. "Bukannya kamu ada acara sama anak-anak osis?"
Azea mengangguk tersenyum dengan perasaan yang senang.
***
Bell pulang sekolah sudah tiba, para siswa-siswi di kelas Azea sudah berhamburan keluar untuk pulang, tetapi tidak dengan Sisi dan Azea.
"Sis, gua hari ini mau pulang sama Genta, lo nggak papa kan?" tanya Azea.
"Nggak, gua nggak papa, santai aja. Yaudah gua pulang duluan. Bye." ujar Sisi dan dia berjalan meninggalkan kelas.
Azea beranjak dari bangkunya dan dia berjalan ke kamar mandi.
Masuk ke kamar mandi, dia pun bercermin di kaca toilet, dia memakai lip-gosh yang selalu dia pakai agar bibir pink dan manis itu tak terlalu kering.
Tak lupa, dia juga membuka bungkus permen mint dan menghisapnya di mulutnya.
Setelah itu, dia membuka handphone-nya dan menelepon Genta.
"Hai, dimana?"
"Aku ada di depan kelas kamu, tapi nggak ada siapa-siapa?"
"Bentar, aku ada di toilet. Aku otw ke sana."
"Oke."
***
Azea dari belakang melihat Genta yang sedang berdiri memegang handphone-nya, dan tak menyadari ada Azea dibelakangnya.
Situasi sekolah sudah sepi, Azea bisa memastikan itu dengan melihat ke sekelilingnya.
Diam-diam, Azea memeluk Genta dari arah belakang.
Genta tersenyum dan menoleh ke arah belakang, hingga kini mereka bertatapan satu sama lain.
"Sini." Genta menarik tangan Azea dan membawanya kembali ke dalam kelas yang kosong itu.
"Tuh liat di meja." Genta menunjuk ke arah meja depan di kelas tersebut, sedangkan Azea yang tadinya menatap Genta, kini perhatiannya terarah ke meja yang ditunjukkan oleh Genta.
"Woah! Oh my... Baby this is for me?" Azea yang melihat sebuah buket mawar besar di atas meja dengan 1 coklat, langsung berjingkrak-jingkrak dan memeluk Genta dengan girang.
"Gimana? Kamu suka?" tanya Genta dengan mengelus-elus pipi Azea.
"Suka lah! I love you!" Azea masih memeluk Genta dengan erat.
"Azea...." Genta mengelus-elus pangkal rambut Azea, dan itu membuat Azea yang tengah memeluknya kini menatap Genta.
Genta menatap Azea, perlahan-lahan dia mendekatkan wajahnya ke arah Azea, lalu Genta menarik tengkuk Azea, dan menyapu habis bibir Azea.
Azea tak bisa menolak ciuman dari pacarnya ini, pipinya kembali mengeluarkan semburat merah.
Perlahan, Genta menggigit bibir bawah Azea hingga Azea membuka mulutnya dan membiarkan Genta mengakses mulutnya dengan lidahnya.
Azea tak munafik, apapun itu, dia tidak bisa bohong kalau kini dia tengah menikmati permainan dari sang pacarnya ini.
Mereka saling beradu lidah satu sama lain, hembusan nafas yang hangat itu membuat mereka sama-sama menikmatinya dengan memejamkan kedua mata mereka.
"Berani-beraninya lo!"
***
Bersambung...
Jangan lupa di favoritkan, follow juga author yang ganteng ini, terus jangan lupa like, vote & commentnya ini.
Thank you so much and see you on the next chapter! ^