SEUOL MATE

SEUOL MATE
BAB 13 : Bertemu Dengannya Lagi



Suasana seketika menjadi canggung...


"Ini koper lo"ucap Kevin memberikan koper yang ia pegang ke Hanna.


"Eh iya, sorry gue ngira ini koper gue, abisnya mirip sih"jawab Hanna memberikan koper yang ia pegang ke Kevin karena koper itu memang koper milik Kevin temannya.


"Gak papa"ucap Kevin tersenyum.


"Kalau lo gak ngambil koper gue, kita mungkin gak bakal ketemu"sambungnya lagi sembari tersenyum manis ke Hanna.


"Ah apaan sih"ucap Hanna malu karena disenyumin Kevin dengan manis.


"By the way lo sibuk apa sekarang?"tanya Kevin memecah kecanggungan.


"Gue translator bahasa Korea disebuah penerbit"jawab Hanna.


"Keren, ternyata ilmu lo selama kuliah benar-benar kepake yah"ucap Kevin memuji Hanna dengan senyum manisnya.


Aku senang bisa ketemu teman lama sebelum pergi jauh dari rumah, namun aku harus segera pergi.


"Kevin gue senang ketemu lo lagi, tapi gue harus pergi"ucap Hanna pamit ke Kevin.


"Eh udah waktunya boarding yah?"tanya Kevin kaget karena Hanna pamit pergi.


Aku mengangguk singkat.


"Maaf yah gue malah ganggu lo dengan ngajak ngobrol"ucap Kevin ke Hanna.


"Lo nggak ganggu sama sekali kok"


"Entah kenapa gue punya firasat kalau kita akan ketemu lagi ditempat yang gak terduga"ucap Kevin meramal.


"Lo sekarang jadi peramal?"ujar Hanna tersenyum karena menurutnya itu lucu.


"Jangan salah feeling gue lumayan kuat lo"jawab Kevin lagi sambil senyum.


Dalam hati aku mengamini ucapan Kevin.


"Oke gue percaya kok sama lo"ucap Hanna lalu dijawab anggukan kepala Kevin.


"Kalau gitu gue duluaan yah"sambung Hanna pamit ke Kevin sebelum dia pergi.


"Hati-hati kalau ada yang ngasih permen jangan di ambil"jawab Kevin.


Aku berjalan diiringi lambaian tangan Kevin, tidak selang beberapa waktu yang lama aku sudah naik ke pesawat.


Tenang, ini sama aja kayak naik kereta sama mobil, gue pasti bisa sampai ke Seoul dengan selamat.


Saat sedang sibuk menenangkan diri, seseorang menghampiri ku.


"Permisi mbak boleh tukaran tempat duduk?, itu juga kalau mbak nggak keberatan" tanya seorang wanita yang lebih tua dari Hanna menghampirinya.


Tukeran tempat duduk?


"Kalau boleh saya tau kenapa?"Hanna bertanya pada mbak itu.


"Yang duduk disamping mbak itu ibu saya"jawab mbak yang ditanya oleh Hanna sambil tersenyum.


Kulirik bangku penumpang disampingku, seorang wanita seumuran nenekku tersenyum.


"Ini pertama kalinya dia naik pesawat, saya mau nemenin ibu saya biar gak tegang itupun kalau mbak mau"


"Silahkan mbak"ucap Hanna mengemasi barang-barangnya dan juga kopernya.


"Makasih banyak yah mbak"jawab mbak itu sambil membantu Hanna membereskan barang-barangnya.


"Sama-sama"ucap Hanna tersenyum.


Setelah merapikan barang-barang, aku berdiri dari tempat duduk sambil membawa koper.


"Tempat duduknya disebelah mana yah?"tanya Hanna pada mbak itu.


"Ng..saya lupa nomornya, pokoknya seat saya baris kedua dari belakang yang disampingnya ada mas-mas ganteng"


"Mas-mas ganteng?"tanya Hanna.


"Iya mbak kali aja itu jodohnya,hihi"jawab mbak itu sambil terkekeh kecil.


Aku menyusuri lorong sampai ke barisan kursi belakang.


Ini dia baris kedua dari belakang, yang disampingnya ada...batin Hanna.


Pandangan ku tertuju pada sosok yang tidak asing.


Belum selesai mengatakan apa yang ingin ia katakan tiba-tiba seorang pria berwajah tampan memanggilnya.


"Hanna"panggil Kevin.


Kevin?? gumam Hanna.


"Ternyata mas-mas ganteng itu lo"ucap Hanna senyum ke Kevin.


"Mas-mas ganteng??"tanya Kevin.


"Tadi ada yang minta tukeran seat sama gue, dia bilang seatnya dibaris kedua dari belakang, disampingnya ada mas-mas ganteng dan ternyata mas itu lo"


"Hahaha mana orang yang minta tukeran seat sama lo, mau gue kasih tanda tangan"


Setelah bertemu Kevin deg-degan ku sedikit berkurang, mungkin karena aku nggak lagi merasa sendirian.


"Lo mau ke Korea juga"tanya Kevin.


"Iya, emang kenapa?" jawab Hanna.


"Hm aneh"tanya Kevin pada Hanna.


"Apanya yang aneh?"jawab Hanna.


"Hanna yang gue kenal nggak mungkin ke Korea cuman buat liburan, Lo lagi ada masalah, kalau lo punya masalah lo boleh kok cerita sama gue, gue bakal jadi pendengar yang baik"ucap Kevin sedih.


"Nggak kok, ah..itu"ucap Hanna gugup.


"Lo lagi patah hati? terus lo kabur ke luar negeri buat move-on?"tebak Kevin.


"Nggak kok, gue emang mau liburan"


"Oh yah, wah sekarang lo udah berani yah pergi jauh sendiri"ucap Kevin senyum.


"Iya dong!"jawab Hanna tersenyum.


Terdengar pengumuman pesawat akan take off, perasaan ku semakin tidak karuan.


Tenang Hanna...Lo akan baik-baik aja.


Aku mengepalkan tangan saat pesawat mulai terbang.


Santai Hanna...rileks.


"Lo kenapa? kok muka lo pucat, mau gue mintain minum"tanya Kevin khawatir.


"Gak usah gue gak kenapa-napa kok, beneran"jawab Hanna menyakinkan Kevin kalau dirinya tidak kenapa-napa.


Baru saja aku menyakinkan Kevin kalau aku baik-baik saja, pesawat berketar dengan kencang membuat aku semakin takut dan semakin panik.


Ini kenapa, pesawatnya nggak akan jatuh kan?! Ya tuhan hamba belum mau mati gumam Hanna takut.


Tanganku mulai berkeringat dingin.


"Lo keringatan gini masih bilang gak kenapa-napa?"ucap Kevin dengan raut wajah yang khawatir.


Apa gue harus jujur sama Kevin kalau gue takut naik pesawat? gumam Hanna.


Katanya rasa takut akan berkurang kalau diceritain sama orang terdekat, tapi dia nggak akan nganggap gue aneh kan? gumam Hanna memutuskan jujur sama Kevin tentang rasa takutnya ini.


Aku memberanikan diri untuk menatap Kevin dan berusaha jujur sama dia.


"Sebenarnya gue takut naik pesawat, Ini pertama kalinya buat gue"ucap Hanna menunduk malu sama Kevin.


"Gue panik waktu pesawatnya tiba-tiba bergetar, gue benar-benar takut"lanjut Hanna sembari menatap Kevin.


Kevin mengelus punggung tangan Hanna.


"Itu tadi namanya terbulensi"ucap Kevin masih terus memegang tangan Hanna.


"Gue tau apa itu terbulensi, gue udah sugesti diri sendiri kalau itu normal tapi gue masih tetap merasa takut, gue ngerasa diri gue payah banget"


"Waktu pertama kali gue naik pesawat gue juga takut bahkan gue nyaris nangis, gue rasa kita semua payah waktu pertama kali nyoba hal baru"ucap Kevin menenangkan Hanna supaya tidak takut lagi.


Ucapan Kevin membuat kepanikan ku sedikit menghilang.


"Gue senang kita satu pesawat, kalau gak ada lo mungkin gue akan terus panik sampai pesawatnya landing"ucap Hanna bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimkan Kevin sebagai penenengnya.


"Gue juga senang kita satu pesawat, kita bisa ngobrol bareng lagi kaya dulu"jawab Kevin tersenyum kearah ku.