
Setelah menunggu lama serta sejenak untuk beristirahat Ayah Hadi tidak memanggilnya berarti bahwa dirinya sudah tidak ada perlu lagi. Rio saat itu sejenak untuk berfikir harus dimulai dari mana untuk mengawali ucapan dan perkataan yang cocok untuk perbincangan nanti, mungkin Rio akan di anggap mempermainkan dirinya soal perlakuan yang telah Rio lakukan saat itu.
Rio tak tau harus bagaimana untuk memulai meminta maaf untuk kejadian kemarin. Ayuna yang saat itu masih bersih-bersih dengan Ibu Rio hanya mengawasi dan kapan Aira pulang untuk menemuinya.
Aira dengan senyum dan penuh ceria saat beraktivitas membuat Rio semakin suka dan tersenyum sendiri dari kejauhan sambil memandangnya.
" Aira sayang ini sudah semua ya, oh iya tadi kita dikasih rempah oleh pengunjung dari desa sukaarum nanti kita bawa, tolong masukan kedalam bakul," Ucap Ibu
" Oh iya Ibu, ini aku masuk bakul, wau lumayan Ibu jadi kita tidak repot mengambil di pengunungan, stok ini sangat cukup sekali untuk acara ini selesai," Jawab Aira
" Iya, alhamdulillah kita di berikan rezeki oleh orang lain, kita patut bersyukur dan selalu melakukan yang terbaik sayang, " Ucap Ibu
" Iya Ibu, " Jawab Aira
Rio yang tersenyum sendiri membuat Manuel merasa ada yang aneh dengan Rio, sehingga Manuel datang dan membuat Rio kaget dan seketika menutupi apa yang menjadi perasaan dirinya.
" Kenapa Tuan Muda tersenyum seperti itu, " Ucap Manuel sambil mengikuti arah mata sang Tuan
" Ah ternyata dirinya senyum ke wanita itu, seperti ada sesuatu dengan Tuan sampai dirinya tersenyum kepadanya, awalnya drinya sangat benci dan marah-marah tetapi sekarang ada perasaan dihatinya," Ucap lirih Manuel sambil menuju ke arah Rio
Dibawah pohon yang rindang Rio duduk dengan santai sambil memandang wanita yang mulai ia cinta dan sukai.
" Tuan..., " Ucap Manuel
Terkejut kaget...
" Iya... Kenapa kamu, " Jawab Rio
" Maaf Tuan, hanya memberi tahu kan bahwa Ayah Tuan memberikan perintah bahwa besok kita presentasi terakhir untuk acara ini jadi Tuan menyiapkan dokumen yang lengkap," Ucap Manuel
" Oh besok hari terakhir untuk acara dan lusa kita penutupan, iya nanti saya siapkan, " Jawab Rio
" Maaf Tuan jika saya lancang, seperti Tuan mulai suka dengan wanita itu, dan saya perhatian Tuan sangat memperhatikan dari jauh, apakah benar itu Tuan," Tanya Manuel
" Ehm apasih kamu tidaklah aku hanya salut dan kagum saja dengan wanita seperti dia sudah baik dan membantu orang tuanya, kamu lihat orang seumur dia di kota dia enak-enak dan hanya kesusahan keluarganya, tapi dia beda, apakah tidak seperti itu menurut juga," Jawab Rio
" Saya lihat juga begitu benar apa yang Tuan katakan dia wanita yang berbeda aku juga salut dengannya, mungkin wanita itu bisa jadi Contoh untuk wanita yang lain," Ucap Manuel
" Sebenarnya aku lebih dari itu, perasaan aku kepadanya melebihi apa yang kau katakan dan akun katakan, aku sangat suka, cinta bahkan mulai tumbuh sayang terhadapnya tapi aku masih belum bisa memberitahu kepada-Nya," Batin Rio
" Seumpama dia ada di kota pasti dirinya lebih sukses dan dirinya bisa jadi trend wanita untuk melakukan hal yang positif," Jawab Rio
Tak lama kemudian Aira dan Ibunya bergegas pulang menuju jalan menuju rumahnya, dengan membawa wadah yang sudah kosong, Rio melihat dirinya pulang bersiap-siap untuk menemui dan membicarakan apa yang harus ia katakan saat itu.
Tak sengaja Rio melihat bahwa Aira dibantu oleh Afra dari kejauhan yang terlihat seperti mesra dan tersenyum diantara keduanya, Rio hanya terdiam dan berhenti untuk mengingat rasanya suka terhadapnya untuk melupakan rasa cintanya.
" Aku akan menyuruhmu tolong kamu cari kertas ini dan ambilkan dokumen aku di dinas nanti aku akan segera selesai agar besok aku serahkan ke Ayahku, " Perintah Rio
" Baik Tuan Muda segera saya lakukan tugas Tuan, jika ada apa-apa Tuan segera hubungi saya," Jawab Manuel
" Iya itu pasti kalau begitu sekarang, aku tidak mau nunggu Nanti-nanti," Ucap Rio
Manuel berdiri dan berjalan, sambil memakai kaca mata hitamnya ia berjalan segera mencari apa yang telah diperintahkan oleh Rio kepadanya.
Rio merasa siap dan dirinya bersiap-siap untuk menuju kerumah Aira. Rio tak lama berjalan melewati jalan utama karena dirinya takut melewati jalan yang tidak Rio ketahuan, takut kejadian akan terulang kepadanya.
Aira dan Ibunya barusan tiba di rumah dan saling duduk dan menarug barang bawaan, serta Afra yang kembali menuju ke jurang senggang, Rio seolah bersembunyi sekejap agar tidak ketahuan oleh Afra.
" Permisi..., " Teriak Rio
" Siapa itu Ibu, seperti ada tamu," Ucap Aira
" Sebentar saya lihat dulu, " Jawab Ibu
" Kenapa bapak itu datang kesini, pasti dirinya mau meminta ke Aira kalau begitu aku sampaikan kepada Aira," Batin Ibu sambil berjalan menuju ke Aira
" Sayang bapak yang ada masalah denganmu dia kesini, tu diluar, " Ucap Ibu
" Ya sudah Ibu sekarang istirahat biar Aira yang akan menyelesaikan, " Jawab Aira
Aira langsung keluar dan berbicara kepadanya. Rio yang berharap ke belakang.
" Ada apa mas datang kemari lagi, apakah mas tidak Terima emang belum cukup untuk tambahan tapi untuk denda pokok itu sudah pas," Ucap Aira
" Sudah, saya tidak mau dan tidak Terima dengan itu semua, " Jawab Rio berputar menghadapi Aira
" Terus apa yang Mas mau, apakah mau tambah lagi dan tambah bunga setiap aku tidak memberinya, aku akan berjanji akan aku kasih ketika aku sudah mendapatkan uang, aku akan carikan uang, sekarang mas jangan ganggu aku," Ucap Aira
" Aku tidak bermaksud seperti itu, aku mau berbicara kepadamu soal ini, jadi adalah waktu untuk kita omong berdua, aku mohon," Jawab Rio
" Aku sebenarnya sudah tidak mah berurusan dengan mu, tapi aku masih ada tanggung sedikit dari mu, kalau begitu iya aku beri waktu, kita ke atas rumah bambu saja, mari mas," Jawab Aira
" Terima kasih, aku sangat senang mendengar itu, mari," Ucap Rio
Mereka tak lama berjalan menuju rumah bambu, mereka saling menaiki tangga untuk menuju keatas tangga tersebut, tak disangka tangga yang diajak Aira saat itu licin dan membuat Aira terjatuh tetapi tak heran bahwa Aira terjatuh di tangkap oleh Rio.
Rio saat itu tidak tau jika akan terjadi seperti itu Rio merasa degdegan dan Aira juga merasa tidak enak terdapat Rio soal itu.
Aira akhirnya memberikan waktu kepada Rio untuk membicarakan apa yang akan Rio sampaikan kepadanya.