
Aku sudah selesai memperkenalkan diri. "Ruby, silahkan duduk di sebelahnya Claudia ya" "Claudia, angkat tangan" kata guru itu. Yang bernama Claudia pun mengangkat tangan. Aku langsung duduk di sebelahnya. "Hai" sapa gadis cantik, terkenal disekolah yang bernama Claudia. "Hai" aku menjawab dwngan swnyuman tipis. "Baiklah anak-anak ayo kita mulai pelajarannya.
Kelas sudah selesai. Sekarang adalah waktu istirahat. "Mau ke kantin bareng?" tanya Claudia. "Ok, tapi sama kakak-kakak ku ya". Claudia hanya mengganguk. Aku mencari meja kakakku jika kedua kakakku itu pergi ke kantin.
Aku melihat mereka duduk di pojok. Dari dulu saat sekolah di Korea kami bertiga selalu satu sekolah dan duduk di meja kantin paling pojok, ya seperti kebiasaan. Aku dan Claudia menghampiri meja kakak-kakak ku itu. "Hai kak" kata ku. "Sini Ruby" kata kak Dylan menyuruhku duduk disebelahnya. Aku sudah duduk. "Oh ya, ini siapa?" tanya kak Irene menanyakan siapa gafis cantik yang kubawa ini. "Oh ya halo nama saya Claudia, saya teman sebangku Ruby. "Oh ya duduk" kata kak Irene. Claudia duduk disebelah kak Irene. "Oh ya mesen" kata kak Dylan. Kami pun memesan dan memakan makanan yang kami beli itu. Oh ya, sekolah kami adalah sekolah Internasional. Bunyi bel berbunyi menandakan istirahat telah berakhir. Kami kembali ke kelas.
Ya seperti biasa kami makan malam dan kembali ke kamar untuk tidur. Oh ya, kamarku sudah di cat dengan warna hitam dan putih. Tapi hari ini aku tidak langsung ke kamar.
Aku ke taman di belakang rumah. Aku duduk di kursi. " Hai bunda ayah, kalian kangen gak sama aku?" "Aku kangen banget sama ayah dan bunda, semoga ayah dan bunda tenang ya disana" "Aku udah dijaga baik sama kak Irene sama kak Dylan" tak terasa ai mataku mulai menetes. Aku memikirkan saat-saat ayah dan bunda masih ada. Aku memikirkan saat mereka menyuapiku, mengajakku dan kak Dylan jalan-jalan di mall, dan yang lainnya. Aku mulai menangis deras. Ternyata kakak-kakakku melihatnya. Mereka langsung memelukku. "Nangis aja jangan dipendem sendiri" kata kak Dylan. "Iya nagis aja nanti malah sakit" kata kak Irene. Mendengarnya aku langsung menangis dengan kencang. "Kenapa....... Kenapa ayah sama bunda harus meninggal dulu sebelum Ruby udah punya suami sama anak?" "Kenapaaaaaa" tangisku sudah pecah. Kedua kakakku juga ikut menangis. "Dasar pembunuh sialan, kenapa lo harus hidup sih" kataku bercampur aduk perasaan marah dan sedih. "Udah yuk masuk, tidur. Nanti sakit" kata kak Dylan dengan lembut. "Iya nanti kalo Ruby sedih, bunda sama ayah juga sedih loh. Aku menghapus air mataku itu. "Iya Ruby gak nangis kok, cuman kangen aja" kataku dengan tersenyum manis. Akhirnya kami masuk "jangan nangis ya, tetep semangat" kata kedua kakakku itu. Lalu aku masuk kamar, aku langsung saja ke kasur dan aku tidur sambil menangis.