Search : Kim Jennie

Search : Kim Jennie
Search : Ep. 1



*Pemain Utama*


Jennie : Ruby Jane Alexander


V. : William Smith


Jisoo. : Clara Victoria


Lisa. : Adelina Victoria


Rose. : Jesslyn Caroline


Jungkook : Dylan Alexander


Jimin : Adelio Smith


Jin. : Nicholas Smith


IU. : Irene Alexander


Irene: Claudia Anggara


Ryujin : Agatha Caroline


Tn. Alexander Ny. Alexander


Tn. Smith Ny. Smith


Tn. Dan Ny. Victoria


Tn. Dan Ny. Caroline


Hai, ini gue. Ruby Jane Alexander. Gua mau ceritain awal mula kisah gua trauma. Oke, lanjut aja.


Dipagi hari waktu itu gua masih kecil kesitar 10 tahun. Gua berangkat sama kakak gua, Dylan Alexander. Seperti biasa kita berdua berangkat sekolah sama pak supir karena ayah kerja pastinya. Kita udah sarapan langsung dah salim ke bunda. Waktu pulang sekolah udah sampe rumah, gua sama kakak kaget karena ada surat. Ditulis sih dari orang tua, tapi kakak gua agak curiga. Soalnya tulisannya beda gitu. Terus waktu suratnya dibalik, ada alamat yang tertera gitu. Sontak, aku sama kakak langsung kesana, kita bawa hp biar nanti bisa telpon siapa aja.


Waktu sampai di alamat, gua sama kakak kaget ada ortu gua disitu. Tangan dan kaki mereka diiket tali, gua ngeliat ada orang tegap dan beberapa orang berbadan kekar berada di belakangnya. "Kak liat deh mereka siapa?" tanya gua ke kakak gua. "Kakak juga gak tau, tapi tetep waspada ya" kata kakak gua sambil ngusap rambut gua. "Udah sampe? Gimana kaget gak? Hahahahahaha" kata orang berbadan tegap itu. Aku dan kakakkku samar-samar ngeliat wajahnya soalnya diruangan ini agak gelap. Kakak gua mulai angkat bicara "Apa maksud anda? Kenapa membawa orang tua kami kesini?" Kata kakak gua itu, btw kita jarak usianya cuman 2 tahun aja. "Maksud saya? Oh gak papa cuman mau balas dendam aja" ucapnya santai. Aku cuman diam, aku takut. "Balas dendam apa?" kata kakak gua. "Mereka nolak terima tawaran kerja saya. Ya saya marah lah" ucapnya. Aku mulai angkat bicara "Kenapa menolak tawaran kerja sampai begini?" Ucapku sedikit emosi. "Hei, anak kecil tidak usah tau. Sudah cepat buka lakban mereka" ucapnya. "Baik bos" kata anak buahnya.


"Bunda!!!!! Ayah!!!!" Kataku. "Cepat lepaskan orang tuaku" kata kakakku berani. "Emmmmm gak bisa dong kan mereka jadi tawanan gua" ucapnya. "Oke ayo lihat kematian orang tua kalian hahahahahaha" ucapnya santai. "APA!!!!" ucap ku dan kakakku bebarengan. Dia menusuk perut kedua orang tuaku. Aku dan kakakku kaget pastinya. "C..cepat l....lari" kata bunda ku teduduk lemas. "Cepat!!!" kata ayahku yang gagah menjadi lemas di dudukan kursi yang terkena darah itu. "Tidak!!!!!". Kataku. "Hei hei jangan suruh mereka pergi, nanti siapa yang melihat sosok Tn. Alexander dan Ny. Alexader mati?" ucapnya yang enggan membiarkan aku dan kakakku pergi. Lalu "dia" mau menusuk jantung orang tua ku lalu dia berkata. "Ucapkan terakhirmu sialan". Ucapnya. Bundaku berkata " Ruby , Dylan baik-baik ya. Nanti bawa semua uang dan pindah ke negara lain selama beberapa tahun kalian mengerti?" Aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa menangis dan menangis. "Jangan menangis, kalian kan anak hebat.Dylan jaga Ruby ya, baik baik jaganya. Jangan balas dendam mengerti?" tapi aku akan membalas dendam ayah *batinku*. Tiba-tiba dia menusuk jantung orang tuaku. "Tidakkkk!!!!"aku dan kakakku histeris. "Baik-baik ya, Anyeong" kata bunda ku. Lalu tersungkur ditanah sambil terus mengeluarkan darah. Ayah ku hanya tersenyum lalu tersungkur ditanah. Aku haya melihat darah dan kegelapan , dan anyeong anyeong anyeog itu terus menghantuiku. "Ayo pergi" kata dia. "Baik bos "


"Bunda Ayah" teriakku. Kami berdua menghampiri kedua orangtua ku yang tersungkur dilantai tak berdaya itu. Kakakku langsung menelpon ambulans. Aku melihat sekeliling. Ya, ternyata ada cctv, what mereka bodoh atau gimana itu cctv menyala. "Kak liat deh ada cctv nyala" "iya" aku lalu langsung berlari mencari ruangan cctv itu. Aku langsung masuk kedalam ruangan dan memindah rekaman saat orang tuaku dibunuh. Aku memindahkannya dengan menangis. "Sudah selesai" aku lalu sudah sampai di tkp saat orangtuaku dibunuh.


Kakakku mendengar suara sirine ambulans dan polisi datang. "Tahan dikit ya bun yah." kata lembut kakakku. Lalu polisi dan ambulas datang "Maaf dik, kami bawa dulu ya orangtua kalian" ucap seorang dokter dengan lembut. "Hati-hati bawanya ya dok" kataku. "Kalian istirahat kembali kerumah saja ya" kata polisi baik itu. "Tidak, mereka orang tua kami, kami akan tetap menunggunya di rumah sakit" kata kakak ku itu. "Ya itu benar" kataku. "Baiklah jika itu yang kalian inginkan." Saat kami tiba dirumah sakit. "Maaf dik, orang tua kalian tidak bisa tertolong karena peluru yang sangat dalam." kata dokter itu. "Apa makmudmu? Orang tua kami tidak bisa tertolong?" ucap kakakku tapi dia menjadi dingin!. "Kakak?" ya ucapku tidak percaya kakakku yang hangat dan ceria menjadi dingin karena ada seorang yang sangat kejam. "Maafkan kami" aku dan kakakku hanya menangis. "Kalian pulang saja ya, besok pemakamannya" tanya dokter itu. "Baiklah". Lalu kami diantar sampai rumah.