Satya & Sinta

Satya & Sinta
Episode 7



Selamat membaca!!!!


"Elo dan elo minggir. Gue mau makan,"ucap Satya seraya mengusir laki-laki setengah paru baya yang sedang menikmati makanan. Semua pengunjung sedikit terganggu dan mengamati Satya yang tampak beda bukan pakaiannya tapi yang di sampingnya.


"Kita duluan yang di sini,"bantah Yogi. Lelaki yang barusan di usir Satya.


"SARI,"teriak Satya.


Wanita yang di sebut namanya oleh Satya tadi langsung keluar dengan sedikit kerepotan dan masih memakai serbet di pundaknya, Sari berjalan ke arah Satya yang berdiri dengan angkuh.


"Usir 2 pria ini."


Wanita tersebut memutar ke dua bola matanya dan berdecih sebal tapi, tetap saja menuruti perintah Satya."Maaf mas. Bisa pindah,"ucapnya dengan sopan. Untung aku cuman karyawan, bisa sabar kata batin wanita tersebut.


Semua pemilik Warteg dari kecil hingga besar sudah tau kelakuan Satya, kalau tidak menurut bisa bangkrut Warteg mereka.


"Kalian dengar."


Dua pria tersebut terpaksa mengikuti perintah karyawan pemilik warung ini.


Bruk


Tangan Yogi sengaja membanting piring yang berisi nasi beserta lauk pauknya sebagai bukti dirinya sedang marah dengan kelakuan Satya yang semene-mena dengan dirinya.


"Elo gak terima,"sinis Satya. Saat mendengar bantingan piring yang tergorek di atas meja.


"Udah, Gi. Biarin aja,"sela temannya. Dua laki-laki tersebut terpaksa mengalah dan dalam hatinya menggerutu atas kelakuan Satya.


Satya duduk di kursi bekas pria tadi dan Sinta juga menurut duduk di sampingnya.


"Kamu mau pesan apa?"ucapnya dengan sedikit lembut kepada Sinta.


Sinta sedikit berpikir dan mengamati seluruh meja. Sinta mencari kertas yang seperti buku yang tidak terlalu tebal yang bertulis macam-macam nama makanan.


"Kok gak ada kertas?"


"Menu restoran. Ini warteg bukan restoran,"nada bicara Satya sedikit di tekan, kan.


"Ya udah sama kayak kamu aja."


"Gitu dong."


"Sari,"panggil Satya.


Sari datang dan melayaninya dengan sedikit jutek."pesan apa."


"Pesan kayak biasanya. Tapi ini 2 porsi."


"Ya."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pesanan Satya sudah datang dua nasi uduk dan dua es teh.


"Kamu sama siapa, Sat? Calon istri."Sapa Rudi yang baru datang.


"Bukanlah,"sanggah Satya yang tak terima.


"Gak usah malu. Kalau kalian pacaran."Dodi mulai ikut-ikutan menyebar hoax.


"Bacot lagi. Gue bunuh,"ancam Satya yang merasa terganggu dan terpojokkan.


Teman sialan, gak laki gak perempuan sama saja. Cerewet.


"Gak boleh bunuh. Itu dosa,"timpal Sinta.


Mereka berdua terperangah dan terbahak-bahak saat mendengar ceramah Sinta.


"Sono pergi."


"Ha ...ha ...ha ...Elo gak takut bawa anaknya si Lurah. Yang gila ini."


"Sinta, ayo pergi. Gak mut gue."Satya mulai jengkel, kemudian berdiri dan menggandeng Sinta yang masih mengamati pembicaraan mereka bertiga. Sinta tak mengerti yang meraka bicarakan hanya mengamati interaksi mereka yang bisa Sinta tangkap.


"Belum makan."


"Nanti ada makanan yang lebih enak dari ini."


"Aku ingin makan ini." Sinta tak mau pergi. Dirinya sudah terlanjur ingin tau rasa makanan yang ada di tempat ini.


Satya menarik tangan Sinta dengan kasar. Sinta mencoba melepas cekalan jemari Satya tapi tenaga yang di milikinya tak sebanding dengan Satya.


"Hiks ...hiks ...sakit. Lepas."


Mendadak langkah Satya berhenti, barusa telinganya mendengar suara tangisan dan terasa ada yang menabrak punggungnya, tak lain dahi Sinta yang bertubrukan dengan punggung kokohnya.


Sekali sentak Satya membalikan badan ke arah Sinta yang tepat di depan dada bidangnya dan Sinta langsung mendongak ke atas.


"Maaf,"lirihnya yang tak tega melihat Sinta tersakiti karena hawa nafsunya.


"Maafin, ya,"ulangnya lagi dan tangannya berusaha menghalu air mata yang turun ke dagu Sinta.


Hanya anggukan kecil yang di tunjukkan Sinta sebagai tanda maaf Satya di terima.


"Tangan aku sakit."


Satya menatap ke bawah tepatnya jemari tangannya yang masih tetap menggenggam pergelangan tangan Sinta.


"Sini aku obatin."Jemari tangan Satya mengelus dan mulutnya meniup bekas genggaman tadi sebagai penghilang rasa nyeri di tangan Sinta.


"Masih sakit."


Sinta menggelengkan kepalanya, dan berkata."Sedikit."


"Aneh."


Jangan lupa vote!!!!