Satya & Sinta

Satya & Sinta
episode 5



Selamat membaca!!!


Terima Kasih sudah mau mampir!


"Ibuk."Saat ini dirinya sangat penat dan tak bergairah ke luar rumah. Dengan langkah gontai Satya menuju ke kamar.


"Kamu itu, sudah ibuk ajarkan untuk salam yang benar."Aminah sudah beratus kali mengajarkan moral dan budi pekerti kepada putranya ini. Bertahun-tahun Aminah bersabar untuk membuat anaknya berubah tapi nasi sudah menjadi bubur mungkin hanya siraman rohani atau istri membuat Satya sadar dan hidup lebih dewasa.


Satya sangat tertutup masalah cintanya tapi masalah yang menyangkut tentang Aminah dia tak akan tinggal diam dengan kebengisan dan ketangguhannya membuat penduduk patuh dan hormat kepadanya sekaligus dengan ibunya.


"Assalammualikum, ibu Aminah,"ejek Satya yang tengah berbaring di kasur seraya mengulangi lagi perintah ibunya.


"Anak nakal, kamu sudah makan." Itulah ibu tampak kesal tapi perhatian, Satya berjanji kepada dirinya sendiri akan menghajar lelaki itu, ayah sang penghancur hidupnya. Tiada kata maaf untuknya.


Sudah lama mencari laki-laki tersebut tapi tak membuahkan hasil. Semoga lelaki itu sudah mati agar dirinya tidak terlalu berdosa, jika pria brengsek itu masih hidup Satya ingin membunuhnya dan meminta untuk mengemis memohon ampun di bawah kaki ibunya.


"Belum, tapi gak lapar. Nanti siang aku akan makan,"jawab Satya dengan mata terpejam.


"Ya udah. Ibuk mau keluar,"pamit Aminah dan melangkah pergi.


"Hati-hati, buk."


Hanya 45 menit Satya tidur sangat nyenyak dan harus terbangun tanpa sengaja. Satya mencoba menidurkan matanya tapi bayangan tadi malam masih teringah-ingah sempurna di ingatannya. Di tatapnya langit-langit atap kamarnya, semakin lama terukir sempurna wajah dan senyuman Sinta yang masih jelas di pikirannya.


"Kamu cantik tapi gak waras,"guman Satya lirih dengan kekehan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Assalammualaikum."


"Assalammualaikum,"ulangnya lagi.


"Ibuk, ada tamu,"teriak Satya dari dalam kamar, Satya tak mau menyambut tamu jika bukan teman atau kerabat terdekatnya. Satya baru ingat ibunya belum pulang dengan langkah gontai dan penuh cacian Satya melangkah ke arah pintu untuk membukakan pintu.


"Siapa sih. Pagi-pagi sudah bertamu. Ganggu orang aja,"gerutu Satya seraya membukakan pintu, bisa saja itu penting.


Satya terkejut dengan kedatangan pria ini yang bertamu mendadak di rumahnya. Apa yang telah di rencanakan telah terkabul, mesin mencair uang? Dengan senyuman kecil Satya menyambutnya.


"Elo ...maksudnya Pak Lurah. Ada apa Pak, datang ke rumah saya. Mau kasih bantuan."Tanpa berdosa dan malu Satya menyambut orang yang terpadang dan di hormati di kota ini dengan tak layak.


"Boleh saya masuk,"pinta Bekti. Tak enak bila berbincang tentang hal penting di luar tepatnya di pintu, seperti ini.


Semalam Sinta sudah menceritakan kalau Satyalah yang telah menolongnya. Sinta hanya memberikan ciri-ciri penyelamat itu dan salah satu penjaganya tau kalau itu adalah Satya, preman yang terkenal di desa Karang Jati.


Bekti sudah beberapa kali bertemu dengan Satya dan memperingatinya untuk tidak berbuat onar dan meresahkan warga.


"Silakan."Satya berjalan duluan dan di ikuti Bekti di belakangnya.


"Saya di sini mau mengucapkan terima kasih telah menyelamatkan Sinta dari mara bahaya. Kalau tidak ada pertolongan kamu, pasti Sinta tidak akan ada di pelukan saya."Bekti melihat Satya yang hanya duduk diam dan menatapnya dan tidak menawarinya minuman, sebenarnya dia tak mengharap tapi kan dirinya tamu. Apa gak sopan seorang lurah tidak di jamu dengan baik dan sopan?


"Hanya itu. Oke sama-sama,"ucap Satya cuek seraya mengangkat sebelah kakinya ke atas paha kirinya.


Tangan Bekti merogoh sakunya dan mengeluarkan amplop putih yang lumayan tebal dan mengarahkan amplop itu ke Satya."Ini ada sedikit bantuan. Mohon di terima."Tangan Bekti menarik tangan Satya seraya meletakan amplop yang berisi puluan uang yang di letakan ditelapak tangan Satya.


"Berapa ini?"tanyanya sambil membuka isi amplop tersebut.


"Cuman sedikit."


"Oke terima kasih banyak, Pak Lurah." Sekali sentak tangannya telah bertautan dengan tangan Bekti.


"Pak Lurah. Ada apa, Pak?"kaget Aminah saat melihat orang yang paling di segani berada di rumahnya. Apa Satya berbuat sesuatu? Pikiran negatif itu telah merasuki kepala Aminah.


"Begini maksud kedatangan saya ke sini hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Satya atas pertolongannya telah menolong putri saya yang hilang."jelasnya.


Aminah menatap heran ke Satya, kebetulan mata Aminah langsung mengarah ke amplop putih yang berada di tangan Satya dan terlihat ada uang yang mencuat ke luar dari amplop yang telah tersobek itu.


"Satya, itu apa?"tanya Aminah yang berhati-hati dan lirih. Jangan sampai anaknya menerima hasil imbalan dari Pak Lurah yang telah di tolongnya. Aminah selalu mengajarkan yang di perintahkan Agama, tak baik bila kita menerima dan mengharap sesuatu dari orang lain yang telah kita tolong tapi, Satya sudah keterlaluan dan telah melanggar yang telah ia ajarkan.


"Uang."


"Kembalikan uang itu,"titahnya.


"Ibuk saya ikhlas memberinya,"sela Bekti.


"SATYA KEMBALIKAN,"ucap Aminah tegas dan mengintimidasi. Aminah sudah di ambang kemarahan dengan putranya ini.


"Tapi, buk,"tolak Satya yang merasa tidak ikhlas.


"SATYA,"teriak Aminah yang seperti kemurkaan.


"Iya! Ini uangnya. Aku kembalikan lagi." Dilemparkan uang itu ke atas meja dengan terpaksa. Untuk kali iniĀ  Satya harus menolak rezeki hanya demi ibunya.


Satya sedang di mode marah dan kesal, mungkin dengan keluar rumah bisa mengurangi kekesalan di hatinya. Kenapa ibu harus pulang? Kata batin Satya.


Jangan lupa vote!!!


VOTE! BIAR TAMBAH SEMANGAT NULISNYA!