
Selamat membaca!!!!
Malam!!!!!
Sinta hanya menuruti ide Satya tapi kenapa seperti ini. Sinta sangat malu tapi juga hangat dan nyaman.
"Kok baju kita dilepas?"tanya Sinta. Pertanyaan terbodoh dan tak layim bila berada di posisi Sinta.
"Biar hangat."Satya sedikit terpejam tangannya memeluk Sinta dengan erat sangat nyaman. Ketika Dada Sinta yang bulat dan padat menempel sempurna di dada bidang Satya tanpa busana sama sekali. Kali ini Satya menang banyak.
"Sinta jangan gerak-gerak."Satya tak nyaman saat sebelah kaki Sinta mencoba masuk di sela pahanya, dan akan mengenai benda pusakanya yang paling kramat. Satya sudah bernafsu tapi di tahannya dirinya ia tak mau bercinta sama orang gila seperti Sinta meskipun Sinta sangat cantik, putih, berisi dan dadanya berisi. Kenyamanan yang tiada tara.
"Tapi masih dingin." Sinta tak sengaja menggerakan kakinya ke atas dan ...opss! Tak sengaja menyentuh dan menekan pusaka Satya.
"Shit."Satya merasa geram terhadap Sinta yang sangat keras kepala.
"Kenapa?"tanya Sinta biasa saja tanpa menghiraukan betapa Satya menahan gejolak yang telah ia kubur dalam-dalam dan dalam sekejap pula di gali kembali oleh cewek aneh ini yang baru pertama kali ia kenal. Satya bisa gila.
"Nakal."Satya menggulingkan tubuhnya ke atas tubuh Sinta dan tangannya menjadi tumpuan agar Sinta tak menopang tubuhnya yang sedikit berisi.
"Aku gak jahat, kok,"ucap Sinta lirih yang mirip sekali dengan anak kecil yang tertangkap basah oleh ayahnya sedang berbuat sesuatu.
Satya mulai mencium leher Sinta tapi, kali ini bukan suara desahan yang keluar dari mulut Sinta tetapi suara tawa geli. Cukup aneh bukan! "Ha ...ha ...ha ...Geli, jangan di cium,"tawa Sinta yang belum mereda seraya mencoba menarik kepala Satya dari ceruk leher Sinta.
Baru pertama kali ini Sinta merasakan di cium di area leher biasanya hanya di area pipi itupun hanya orangtuanya yang boleh melakukan perbuatan itu.
Dulu Sinta anak yang baik dia selalu menjaga kehormatannya dan tak melakukan hal yang tabu meskipun sekedar berciuman.
"Geli."Satya menarik kepalanya dari leher Sinta dan menatap Sinta yang masih tertawa pelan.
Kenapa wanita ini sangat menggemaskan dan polos?
Satya tak bodoh dirinya pernah bercinta tapi semua wanita yang ia kencani tidak ada yang memberikan respon seperti Sinta. Sangat menarik.
Satya mencoba mencium dan menjilati tubuh Sinta dari leher kemudian, turun ke dada Sinta yang kenyal dan sintal. Satya seperti bayi yang kehausan dan tidak sabaran dirinya mencium, menjilat dan sedikit menggigit ****** Sinta.
Tanpa sadar Sinta menekan kepala Satya dan menyisir rambut Satya. Mendapat respon yang sangat menyenangkan dari Sinta membuat Satya tak akan menyianyikan kesempatan ini.
"Kamu suka?"tanya Satya seraya menatap Sinta. Sinta mengangguk kecil dan berkata."Enak."
"Kamu mau yang lebih enak."
"Apa?"tanya Sinta yang polos. Terlihat jelas bagaimana Sinta tak mengerti perbuatan Satya yang akan mendorongnya ke dalam lubang dosa.
Satya melebarkan kaki Sinta dan bangun dari bebaringanya dan menyentuh area inti Sinta. Satya sedikit bermain di area terlarang milik Sinta yang belum terjamah oleh pria di luar sana.
"Jangan di gituin."Sinta bangun dan menarik tangan Satya yang mengelus bibir intinya.
"Katanya mau enak."
Satya menarik Sinta dan mendudukan di pangkuannya. Terasa sangat nikmat saat bongkahan Sinta menekan pusakanya yang sudah menegang.
"Nanti kamu akan keenakan dan tak kedinginan. Mau?"Satya tak ingin memaksanya lebih baik dengan pelan-pelan dengan kenikmatan.
"Emang bisa."Tangan Sinta melingkar di leher Satya dan kepalanya di sandarkan di dada Satya.
"Bisa,"jawab Satya sontak membuat Sinta langsung menatap kearahnya.
"Mau."
"Tapi kamu diam jangan banyak bicara."
"Iya."
Satya memulai kegiatanya meskipun ia melakukan seperti lelaki baru melepas pejakanya. Sinta hanya mendesah dan mencakar punggung Satya saat dirinya memompa miliknya di lembah Sinta. Banyak cairan yang keluar dari inti Sinta dan tentunya percampuran antara dirinya dan Sinta.
Satya belum menyadari cairan yang di rasakan saat ini telah bercampur dengan cairan merah seperti darah yang sebenarnya darah keperwanan Sinta.
"Ada darah,"heran Satya saat tak sengaja melihat ke bawah saat sedang memompa. Astaga! Satya telah bercinta dengan wanita perawan.
Untuk saat ini Satya sudah terlambat dan telat menyadari dirinya telah mengambil milik Sinta yang tentunya bukan haknya.
JANGAN LUPA VOTE!!!!