
Selamat membaca!!!!
Tujuan awal Satya hanya ingin meninggalkan rumah namun saat di perjalan menuju Beskem, ada perasaan yang melintas di benaknya, ingin tau kabar Sinta dan tentunya sedikit rindu.
Satya memberhentikan motornya di pintu samping rumah Sinta. Biasanya pintu ini digunakan untuk keluar masuk para pelayan.
Satya mulai mengintip di cela gerbang tersebut, tampak sepi.
Sinta kemana? Apa sedang jalan-jalan?
Sejak kecil Satya mempunyai sifat penasaran tingkat tinggi membuatnya nekat menyusup masuk rumah pak Bekti. Takut! Enggak, tapi jantung berdetak kencang.
"Rumah apa istanah, besar banget. Pantesan bisa jadi lurah,"kagum Satya seraya melihat bangunan yang megah dan mewah di hadapannya ini.
Satya terus masuk lewat pintu samping, kalau lewat depan bisa membahayakan citranya. Di kiranya dirinya beralih profesi.
Di dalam rumah juga sangat sepi. Satya pernah masuk ke rumah ini tapi setahun lalu saat pak Bekti memanggil dan memperingatinya untuk berhenti menjadi preman. Katanya banyak warga yang resah karena ulah Satya. Resah takut duitnya hilang.
"Bibik, ayo keluar. Aku bosan,"gerutu Sinta di lantai atas.
Langkah kaki Satya mendadak berhenti, kaget! Iya. Untung suara Sinta, kalau pegawai di rumah ini, bisa rontok tubuh ini. Ternyata orang yang di cari ada di atas, baguslah. Aman.
Kondisi aman saatnya Satya beraksi. Disain rumahnya bagus interiornya lumayan, kalau di jual pasti mahal. Mata dan otak Satya tak berhenti bergerak terus menghitung dan menilai harga dan barang yang berada di rumah ini. Dasar pria mata duitan.
"Kamarnya yang mana,"lirihnya saat ada dua pintu yang bersebrangan. Kalau salah membuka bisa di kira maling. Satya terus berpikir dengan logika mungkin kamar Sinta di sebelah kanan karena sesuatu hal baik di mulai dari kanan.
Ceklek
Tidak di kunci, pasti ini kamar Sinta. Dasar bocah! Ceroboh. Yap! Betul sekali ini kamar Sinta dan dia sedang berbaring di ranjang besarnya.
"Sinta,"panggilnya lirih. Satya hanya mengecek.
"Siapa?" Sinta bangun dan menatap dengan terkejut ke arah Satya.
"Malaikat penyelamat."Binar ke bahagian terpancar di bola mata Sinta seraya beranjak bangun dan menghampiri Satya.
"Satya."
"Panggil aku Satya,"ulangnya lagi.
"Satya."Sinta sedikit berpikir seperti pernah mendengar nama itu.
Ingatannya mulia bermunculan sepertinya, pak Joko pernah bilang kalau laki-laki yang bernama Satya yang berada di depannya ini orang yang jahat, tak baik, dan menakutkan harus di hindari ujar pak Joko saat tak sengaja mendengar di dapur saat mencari bibik.
"Kok bisa ke sini?"
"Bisa, lah. Emang gak boleh."
"Boleh. Duduk sini,"ucap Sinta dengan menepuk ranjang di sampingnya yang dia duduki.
"Kamu udah makan."
"Belum."
"Makan di luar, mau?"
"Mau."
"Tapi nanti mama marah,"ucapnya dengan raut sedih. Pasti harus ijin dan harus ada bibik yang menemaninya.
"Kamu jangan bilang sama mama. Pamitnya sama bibik aja."
"Jawab aja, main di luar. Sama teman."
"Aku gak punya teman."
"Ya ampun."Satya menghela nafas kasar. Di zaman sekarang, masak gak punya teman. Satya baru teringat wanita di sampingnya ini, orang setengah gila mana mau berteman dengan Sinta. Cuman dirinya, yang betah dan mau berteman dengan wanita ini.
"Mau keluar?"tanya Satya lagi. Ingin memastikan dan memaksa Sinta.
"Mau."
"Kalau gitu, izinnya ditulis di kertas taroh di ranjang ini."Tiba-tiba ada ide aneh muncul di otaknya ini.
"Benar juga. Itu juga termaksud izin. Tapi itu bukan bohong, kan."
"Ya bukan"itu namanya kabur. Kabur sehari gak papa lah. Lanjutnya di dalam hati dengan seringai khasnya.
"Aku tulis dulu, ya."
"Hem,"jawabnya singkat dan mengamati gerak-gerik Sinta.
"Udah selesai. Ini di taroh di ranjang?"
"Iya, lah."
"Gak papa."
"Sinta."
"Iya. Aku taroh sini."Sinta sangat bimbang ada sedikit keraguan tapi dirinya juga ingin keluar bermain dan bersenang-senang bersama teman barunya.
"Udah. Ayo pergi!"ajak Sinta yang tidak sabaran.
Satya mengamati baju yang di pakai Sinta dari atas sampai bawah sangat menggoda dan terbuka. Masak pakai terusan di atas lutut, pahanya terekspos dan dadanya lumayan menyembul ke luar. Bisa jadi pemandangan gratis di Warteg. Kebetulan Satya ingin makan di Warteg langganannya. Gak perlu datang ke restoran bintang 5, kalau ada yang murah dan enak. Belum tentu ada bintangnya enak. Betul, kan.
"Kamu pakai baju itu."
"Iya."
"Gak boleh. Kamu harus ganti."
"Kenapa?"Dahi Sinta berkerut. Apa gak boleh keluar rumah pakai baju seperti ini?
"Ganti baju. Apa gak jadi pergi,"sinisnya. Di bilangin ngeyel banget. Gue sudah tau otak penghuni Warteg.
"Iya."Sinta berjalan sambil memanyunkan bibir seraya membuka lemari pakaian. Terlihat jumsuit celana pendek dengan motif bunga-bunga, Sinta sangat tertarik.
Dengan girang Sinta menunjukkan pilihannya kepada Satya. "Ini boleh."Sambil memperlihatkan jumsiut celana pendek.
"Gak. Pakai celana panjang."
"Nanti gerah."Terbiasa memakai pakaian di atas lutut dan jarang pakai jins membuat Sinta sangat gerah. Apalah daya Sinta jika sang raja telah berkehendak hanya patuh dan mendengarkan perintah yang tak masuk akal ini.
"Oke. Gak jadi makan,"ancam Satya. Sinta hanya mendengus kesal dan kembali mencari keinginan sang penguasa.
Jangan lupa vote!!!
VOTE BIAR TAMBAH SEMANGAT GALI IDENYA!