Satya & Sinta

Satya & Sinta
Episode 3



Selamat membaca!!!!


Sudah subuh saatnya Satya bergegas pergi tapi kali ini dirinya tak sendirian ada Sinta yang masih terbaring lemah di lantai yang hanya beralaskan jaketnya, Satya sudah selesai memakai pakainnya. Di tatapnya bekas tempat sisa memadu cinta dengan Sinta yang sangat berantakan, baju Sinta berceceran di mana-mana. Satya menghela nafas sebentar dan tak tinggal diam, di pungutinya baju Sinta.


"Sinta bangun sudah pagi,"ucap Satya seraya mencoba membangunkan Sinta tapi, tak mempan hanya kepalanya yang bereaksi mencari kenyamanan, Satya mencoba kembali sambil mengelus pipi cabik Sinta tapi Sinta hanya menggeliatkan badannya pelan tanpa membuka mata.


"Ini sudah subuh aku antar pulang."


"Pulang,"kaget Sinta seraya bangun dari bebaringannya saat mendengar kata pulang.


"Iya, cepat pakai bajumu!"


"Baju! Pakein?"perinta Sinta yang sedang di mode malas.


Akibat kesedihannya yang mendalam membuat dirinya seperti ini. Dulu dirinya selalu menangis dan tertawa tanpa sebab. Dokter tidak bisa melakukan banyak hal hanya memberikan obat penenang untuk mengurangi kesedihan Sinta. Banyak laki-laki tidak mau menerima Sinta karena keterbatasan tersebut meskipun ayahnya orang yang sangat terpandang dan mapan, itu pun tidak mampu menarik kaum Adam untuk menerima kekurangan Sinta.


"Bangun,"perintah Satya.


Baru pertama kali Satya melakukan hal ini seperti merawat bayi. Sinta patuh dan tak malu saat Satya memberikan aba-aba dan tak membantahnya saat memakaikan pakaian dalam hingga saat memakaikan rok, Satya itu matanya tak sengaja melihat ada bercak darah yang sudah mengering di paha Sinta, ini harus dihilangkan biar tidak ada yang curiga bila dirinya telah memperawaninya.


Satya selalu membawa sapu tangan di kantong celananya dari kecil ibunya selalu membiasakannya untuk membawa kain persegi tersebut untuk berjaga-jaga saja.


Satya mengambil sapu tangan itu yang masih rapi tersimpan di saku jaketnya kemudian, ia beranjak berdiri menuju ke arah pintu luar.


"Mau kemana?"tanya Sinta yang takut bila tinggal olehnya.


"Aku mau keluar sebentar,"jawab Satya tanpa menoleh dan tetap berjalan keluar. Ia ingin membasahi sapu tangan ini, saat di teras tidak ada keran ataupun sungai kecil dan hanya ada genangan air , pasti dari sisa hujan tadi malam. Satya berjongkok mencelupkan kain persegi itu dan memerasnya.


Satya kembali dan membawa kain basah di genggaman tangannya."Kok di buka lagi?"Sinta kaget saat Satya menyingkap roknya dan mengelap pelan pahanya dengan sapu tangan yang sudah di basahinya tadi.


"Masih sakit?"


"Sedikit. Kok cuman di lap,"ucap Sinta yang sedikit heran dengan kelakuan aneh Satya.


Saat bangun tadi Sinta sangat bingung saat selakangannya terasa sangat sakit dan perih. Buat berdiri saja sedikit susah.


Tangan Satya masih bertengker di pahanya, ada rasa sedikit geli saat jari Satya bersentuhan langsung di area intinya.


"Kamu mau lagi."


Sinta menggeleng cepat. "Gak mau. Sakit."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di perjalanan Sinta memeluk tubuh Satya sangat erat dan melingkarkan tangannya ke perut Satya seolah-olah mencari kehangatan yang terpancar dari tubuhnya. Udara yang masih dingin membuat Sinta tak betah duduk di atas motor dan berakhir memeluk posesif tubuh Satya.


"Rumah kamu di mana?"tanyanya yang ingin tau. Sinta menempelkan kepalanya di ceruk leher Satya membuatnya ingin memberhentikan motornya dan melahap Sinta kembali tapi kesadaran Satya masih sempurna dan mencoba melawan godaan Sinta.


Meraka berdua tak sadar banyak warga yang melihat mereka dengan aneh seperti orang yang baru mengenal pacaran dan ada pula yang berpikir mereka telah berbuat hal sesuatu.


"Jauh,"jawab Satya singkat.


"Aku boleh main."


"Gak boleh."


"Kenapa?"balas Sinta yang bingung.


"Ya. Gak boleh."


"Kok gak boleh."


"Aku hanya ingin tau."


"Sinta."


"Iya."


Mereka terdiam dan menikmati suasana pagi ini meskipun Satya sedikit kesal karena keras kepala Sinta. Setelah menempuh 5 menit akhirnya sampai di kediaman rumah Sinta yang sangat megah dan mewah. Meskipun Satya tak mengantarkan sampai di depan rumah tapi hanya berjarak 15 m dari rumah Sinta. Dirinya tak mau kepergok dengan keluarga Sinta atau pun para pelayan yang pasti akan mengadu kemajikannya.


Satya merasakan kalau Sinta belum turun dari motor dan membuatnya sedikit kepo. Satya memutar badannya dan menatap ke arah Sinta yang menyentuh area dadanya.


"Dada kamu kenapa?"tanya Satya yang penasaran. Sinta merasakan ke dua dadanya yang terasa sangat sesak. Sepertinya ada masalah.


"Sesak,"jawab Sinta lirih.


"Sini biar aku bantu."Sinta menuruti perintah Satya yang memeluknya dari depan dan tangannya menyusup masuk ke dalam bajunya. Tangan Satya merabah-rabah mencari pengait BH Sinta yang mungkin tadi ia salah mengaitkan.


"Enggak sesak lagi, kan?"


Sinta mengangguk kecil."Makasih malaikat penyelamatku."Sinta mengecup bibir Satya sekilas.


Satya merasa tegang dan kaget saat tiba-tiba bibir Sinta sudah berada tepat di atas bibirnya meskipun hanya kecupan kecil tapi mampu menghipnotis dirinya.


Ada apa dengan diriku ini seperti baru merasakan kecupan pertama kali. Kayak ABG labil.


Satya tersenyum tipis hingga sudut matanya tak sengaja menangkap tukang sayur yang menatapnya dengan melongo tanpa berkedip dan merasakan tatapan balik Satya yang tajam.


"Apa liat-liat,"ancamnya.


"Maaf mas."Tukang Sayur tersebut gelagapan dan segera mendorong gerobaknya kembali dengan tergesa-gesa.


"Sana masuk,"perintahnya kepada Sinta yang masih berdiri di hadapannya seraya melihat tukang sayur tadi.


Sinta patuh dan berjalan meninggalkan Satya yang terus menatapnya dari kejahuan. Mungkin Satya ingin memastikan Sinta sampai di rumah sengan selamat.


Tak sengaja matanya melihat ada noda merah di sekitar leher Sinta, untung ia sadar dan jeli.


"Tunggu!"panggil Satya.


Sinta langsung berhenti saat berjalan kurang lebih 2 meter dari jarak motor Satya.


"Kenapa?"tanya Sinta berbalik seraya berjalan ke arahnya.


"Rambut kamu jangan di ikat. Di gerai aja biar ini tak terlihat."Tangan Satya melepas ikat rambut yang mengikat rambut Sinta dan menyentuh kismark di leher Sinta yang hampir memudar.


"Gerah,"adunya yang tidak suka.


"Nurut."Tangan Satya mengusap rambut Sinta dan merapikannya agar menutupi jejaknya.


Sinta mengrecutkan bibirnya dan tetap mengaggukkan kepala dan berjalan meninggalkan Satya.


Hingga saat tubuhnya tepat di depan pintu gerbang rumah, Sinta berbalik dan melambaikan tangan ke arah Satya dengan senyuman yang sangat tulus tanpa beban.


Tak tau kenapa tangan Satya membalas lambaian tangan Sinta dari kejauhan.


Kamu lucu, sayang untuk di permainkan tapi kamu tak punya rasa untuk membalasku.


JANGAN LUPA VOTE!!!!