
Selamat membaca!
Satya akan mengunjungi temannya yang sakit, dia tidak menggunakan jalan utama tetapi jalan tikus. Malam - malam sendiri lewat jalan sepi, gelap dan tak ada seorang lewat dirinya tak takut. Kenapa harus takut dirinya, kan preman?
Suara jangkrik, suara semak-semak yang terkoyak, suara misterius Satya tak takut hanya satu kelemahan Satya takut ibunya meninggal dan tak sempat memberangkatkan haji. Meskipun itu tidak mungkin. Sedangkan, Satya tak punya pekerjaan tetap hanya nongkrong, malak, judi, dan minum air surga yang bisa dia lakukan.
Satya anak yang pintar tetapi dirinya anak haram. Ibunya di perkosa dan di campakan begitu saja. Setiap hari dirinya mendapat cemohan, hinaa dan di kucilkan waktu sekolah dulu. Satya hanya lulus SD dia tak mau melanjutkan sekolah jika dirinya hanya di jadikan bahan lelucon lebih baik menjadi preman. Membuat semua takut dan tunduk kepada perintahnya. Tidak ada hinaan dan sejenisnya, Satya merasa dihormati dan disanjung. Hidup hanya sekali lakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri.
Saat di pertengahan ada bayangan dua orang laki-laki dan seorang wanita sepertinya sedang berbuat mesum. Tempat itu ruangan kosong dan terdengar suara jeritan dan teriakan. Abaikan saja dirinya sudah tau dan tak mau tau tapi kenapa wanita tersebut di pukul dan di tutup mulutnya. Bukanya itu penyiksaan atau pemerkosaan? Satya berhenti sebentar dan turun dari motor. Satya hanya ingin mengintip dari jendela yang usang. Banyak kayu lapuk, dinding dan atap sudah mau roboh ruangan yang tak layak. Gak elit banget.
Satya kembali lagi dia tak mau menggaggu urusan orang lain."Tolong."Suara itu sepertinya ia pernah dengar. Bukannya itu suara Sinta. Ya, ampun!
"Kamu sekap dia. Gitu aja gak becus,"ucap lelaki berambut panjang yang sedang mengikat tangan perempuan tersebut dan memarahi lelaki berambut Cepa yang hanya mengelus paha perempuan tersebut.
"Gak lihat. Bodinya montok banget. Gak salah kita culik."
Brukk
Suara itu langsung membuat mereka berdua kaget dan menoleh ke arah sumber suara. Mereka kenal siapa pria tersebut dia Satya preman kelas kakap yang tak segan-segan hajar lawan sampai sekarat.
"Mas Satya. Kami berdua pamit dulu."Mereka berdua tau Satya sedang marah. Lebih baik mereka pergi dari pada jadi bulanan Satya.
"Tunggu."Satya berbalik dan menatap mereka berdua yang sudah di ujung pintu.
"Ada apa bos."
"Lepaskan perempuan tersebut."
"Baik bos."Mereka berlari menuju Sinta dan melepaskan tali yang mengikatnya dengan tergesa-gesa.
"Bagus. Kalian boleh pergi."Mereka tak menyianyiakan kesempatan ini.
Perempuan tersebut benar Sinta, anak pak Lurah. Orang terkaya di tempat ini. Dia tidak akan menyianyiakan kesempatan ini. Mungkin dengan menolongnya dapat penghasilan. Satya emang licik.
"Sinta."Satya duduk di tumpukan batu dan menatap Sinta.
"Kamu siapa?"tanya Sinta yang penasaran.
"Kamu gak tau aku?"Satya bertanya balik. Sinta berlari kecil ke arahnya dan duduk di sampingnya. Benar-benar menarik.
"Tapi kamu kayak orang jahat,"tebak Sinta yang menatap penampilan Satya dari atas sampai bawah. Pakaian oblong, rambut sedikit panjang, celana sobak, dan banyak tato di tangan sebelah kiri.
"Tapi kamu baik. Malaikat penyelamat aku."lanjutnya. Sinta memeluk Satya dari samping sebagai bentuk terima kasihnya.
"Ha...ha ...ha ....malakait. Dengan pakaian seperti ini."Satya tertawa terpingkal-pingal dirinya di sebut malaikat penyelamat. Lucu.
"Mungkin ini semua kostum,"sanggah Sinta.
"Kamu tau preman."
"Tau. Orang jahat."
"Itu kamu tau."
"Tapi kamu baik,"jawab Sinta dengan keras kepala.
Hujan turun dan mereka berdua belum menyadari badai dari langit telah tiba dan saat itu pula badai yang sebenarnya akan menghampiri mereka berdua.
"Kok hujan. Ayo pulang."Sinta sedikit kawatir dan takut bila dia tak pulang pasti orang tunya akan cemas mencarinya. Sinta juga tak suka dengan hujan.
Satya masih diam di tempat tak merubah posisinya. Satya seakan lupa tujuan awal untuk menjenguk temannya. Sinta sangat lugu dan montok sayang kalau di lewatkan.
"Hujannya semakin deras. Ayo pulang."Sinta mengintip dari jendela yang terbuka. Hujan dan petir akan segera bersautan Sinta tak suka dalam posisi ini hanya berdua dan berada di tempat asing. Pasti dia sudah tidur nyenyak dan tak mendengar ini semua. Sinta merutuki dirinya sendiri tak patuh sama bibik yang menemani jalan-jalan sore. Dirinya sudah di larang untuk pergi sediri tapi dia keras kepala. Sinta ingin keluar rumah tapi saat berada di jalan ada sebuah mobil dan menyekapnya dan ini akhir segalanya berada di tempat kosong dengan malaikat penyelamatnya.
"Ayo pulang,"ajak Sinta.
"Hujan deras. Apa kamu gak takut."
"Takut! Tapi aku mau pulang,"rajuk Sinta. Satya tak mau pulang dengan kehujanan dirinya tak mau sakit dan dirinya tak membawa mantol. Lebih baik berteduh sebentar.
"Pulang."Sinta menarik tangan Satya. Tapi Satya tak menghiraukan rengean Sinta.
Sinta terus merengek dan menarik tangan Satya ke luar tapi tenaga Satya jauh lebih besar dari pada dirinya. Tinggi Satya 175 dan Sinta hanya 156 pasti berat badan Satya sangat banyak dan tak mungkin Sinta mampu menariknya.
Kilatan putih menyinari ruangan, Sinta kaget dan memeluk Satya sangat erat saat bunyi gemuruh terdengar jelas. Tubuh Sinta gemetar dan Satya tau wanita yang memeluknya ini sedang ketakutan. Selama 5 menit mereka masih berpelukan Sinta tak melepasnya sedangkan Satya hanya pasrah menerima kehangatan yang tiada tara.
"Dingin."Sinta mendongak dan mengadu ke Satya.
Sontak membuat Satya menoleh ke bawah dan menatap wajah Sinta yang sedikit pucat. Satya mempererat pelukannya tapi itu tidak membantu mengurangi angin malam ini.
"Hiks ...hiks ...hiks ...Mau pulang,"rengek Sinta dan menggoncang tubuh Satya.
"DIAM,"bentak Satya. Sinta hanya bisa mendekap mulutnya dengan ke dua tangannya dengan air mata yang terus mengalir.
"Kamu mau hangat?"Sinta hanya menganggukkan kepala. Akhirnya dia tidak akan kedinginan dan mati. Tapi, apa yang akan di perbuat Satya?
Jangan lupa vote!!!!