Risa

Risa
Tabir Perasaan



Sedangkan saat itu perasaan Rully bercampur antara ragu dan malu. Alangkah senangnya Ruli bahwa yang membuka pintu itu adalah Risa sendiri.


"Pak Rully." ucap Risa keheranan.


Mari silakan masuk, Risa menawarkan Ruli untuk masuk dan duduk ke dalam rumah kumuhnya.


"Mau minum apa, Pak?" Tanya Risa.


"Tidak usah repot-repot saya hanya sebentar, sambil matanya menatap area disekelilingnya.


"Maaf, Bapak ada apa ya repot repot ke rumah saya?" Risa bertanya sambil menatap dalam wajah Ruli.


Oh iya, ini, saya hendak mengeluarkan hak kamu karena telah satu bulan mengurus makam istri saya." Ruli terbata-bata sambil mengeluarkan dompet nya.


"Oh iya, terima kasih atas pengertian Bapak, sebentar ya Pa,


Lalu Risa mengambilkan secangkir kopi untuk Ruli meskipun dia menolak nya. Karna bagi Risa tamu harus dihormati walau hanya dengan secangkir kopi.


Akhirnya Ruli merasa tidak enak hati karena sudah disediakan minuman oleh Risa dan diapun meminum dengan nikmatnya.


Dalam hati Ruli memuji kopi buatan Risa mengingatkan dia pada almarhumah istrinya.


"Kopi ini..... " Bisik Ruli perlahan-lahan.


"Iya, kenapa dengan kopinya Pak ? kemanisan ya ? tanya Risa sambil mengurutkan dahi.


"Oh tidak, hanya saja kopi buatanmu mengingatkan saya dengan almarhumah istri saya."


"Kopi bubuk hitam dengan sedikit creamer dan ditambah gula aren."


"Siapa di rumah ini suka dengan kopi ini?" Tanya Rully meneliti.


"Oh , itu kopi kesukaan ibu saya, karena kata ibu," Kopi dengan gula aren itu lebih nikmat."


Paras wajah Ruli yang dermawan dan tidak terlihat terlalu tua membuat Risa merasa nyaman berbicara banyak hal.


Sementara mereka terbawa suasana sehingga percakapan mereka pun satu jam berlalu. Terdengar suara ketukan pintu dan ibu Risa pun tiba di rumah.


"Assalamualaikum...." seperti biasa ibu Risa mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah dan melihat ada tamu laki-laki di rumah nya.


"Waalaikumsalam, Alhamdulillah Mama sudah pulang, ini mah ada Pak Rully ingin membayar uang perawatan makam pada kita."


Ibu Risa menyapa Ruli dan duduk bersama di kursi itu.


Lalu Ruli berdiri sembari memperkenalkan dirinya.


"Assalamualaikum Bu, saya Ruli, saya ingin membayar biaya perawatan makam selama satu bulan kepada Ibu."


Sekali lagi terdengar suara ketukan pintu dari luar dan ternyata itu adalah Vena. Vena adik Risa yg baru pulang sekolah itu menatap Ruli dengan tercengang.


"Tampan sekali pria ini, pakaian nya rapi, pembawaannya tenang, keren abis." ucap Vena dalam hati.


Vena lalu masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Dia berpakaian cantik seolah ingin terlihat menarik di depan Ruli.


"Baik Bu, saya pamit pulang dulu karna masih ada urusan."


"Oya iya, terimakasih atas kepercayaannya pada kami untuk merawat makam istri bapak." Ucap ibu Risa.


Ruli lalu pergi meninggalkan rumah Risa menuju mobilnya.


Di sepanjang gang jalan itu ia banyak diperhatikan orang sekitar salah satunya adalah Kiki yang tak lain adalah tetangga Risa sekaligus musuh Vena adik Risa.


Kiki bercakap pada ibunya dan berkata," Mah Siapa lelaki tampan itu yang mendatangi rumah Vena, dia terlihat seperti orang kaya."


"Entah lah, mama juga tidak tahu, nanti sama-sama kita cari tahu."


Kiki dan ibunya adalah tetangga Risa yang suka bergosip dan menyebarkan berita-berita yang tidak benar di lingkungan itu. mudah sekali menyimpulkan orang dengan sisi negatifnya.


sementara Vena yang sudah selesai berganti pakaian yang menarik dan berhias dengan cantiknya keluar kamar dan bertanya pada ibunya," di manakah pria yang duduk di kursi tadi, Bu?" Vena terlihat mencari-cari Ruli di dalam dan di teras rumahnya.


Maksud kamu Pak Rully, Ven?" tanya ibu sembari makan siang bersama Vena.


"Iya Bu, siapa lagi, ke mana dia aku belum sempat berkenalan." menggaruk kepalanya dengan bingung.


"Ya sudah pulang lah, lagian ngapain sih kamu ingin berkenalan, kita aja juga baru kenal hari ini sama dia." imbuh ibu melahap nasi dan orek tempe buatan Risa.


"Ya Ibu kenapa disuruh pulang , jarang-jarang aku punya kenalan orang kaya." kembali masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian yang biasa.


"Risa sebaiknya uang yang dari Pak Rully kamu yang simpan saja nak." ucap ibu pada Risa.


"Selama ini kita tidak pernah punya tabungan untuk masa depan adik-adik kamu kuliah." tambah ibu.


"Tapi, bagaimana dengan uang sewa toko di pasar, Bu?"


tanya Risa pada Ibunya.


"Iya nak, kita ambil seperempatnya buat bayar sewa toko sisanya kamu tabung."


"Baik Bu," sambil melahap nasi orek nya dengan secangkir liang teh.


...****************...