Risa

Risa
episode 4 Keputusan



......Lagi, suara pintu terbuka di ruang kerja dengan cat serba putih itu .


Kreeekk,,,,


Nampak wajah wanita tua dengan kacamata perak membuka pintu tergesa-gesa. Dia adalah Raden Ayuningtyas, Ibu dari Ruli sekaligus pemilik perusahaan ternamanya. Ternyata dia mendengar percakapan antara Ruli dan Ali.


"Ruli, coba jelaskan yang dikatakan anakmu barusan!" Sambil duduk di sofa putih panjangnya.


"Benarkah kau berniat mencari pengganti almarhumah Irma istrimu?" Tanya Nenek menatap seolah meneliti.


Duduk di sofa putih melengkung Ruli perlahan diam dan menjawab.


" Iya mah, itu benar adanya, saya hendak mencari pengganti Irma."


Jawab Ruli menjelaskan.


"Mama hanya bisa mengingatkan bahwa dengan siapa pun kamu menikah, pilih wanita yang jelas bibit bebet dan bobotnya.


....."Dan sederajat dengan kita." Imbuhnya menegaskan.


Ruli, duda keren dan bergelimang harta, wajar bila dia masih terlihat tampan meskipun sudah menikah. Sedangkan Ali masih muda dan masih suka menjajakan cintanya pada banyak wanita.


"Soal dengan siapapun saya menikah tolong masalah harta jangan disangkutpautkan mah," kata Ruli sembari mencekik gelas yang berisi air putih.


Raden Ayuningtyas yang mendengar penjelasan anaknya itu sontak berdiri.


" Kamu jangan lupa Nak, beberapa kali wanita yang mendekati mu hanya memoroti harta mu saja." Tegas Raden Ayuningtyas.


Ruli yang selesai meminum meletakkan gelasnya di meja sebelah sofa yang didudukinya.


"Tapi wanita ini sepertinya berbeda dengan wanita yang lain mah, meskipun dia tidak setara dengan kita, tapi dia memiliki hati yang tulus."


....."Hanya saja Ruli membutuhkan waktu untuk mendekatinya." Jelas Ruli.


"Siapa wanita itu?" Tanya Raden Ayuningtyas.


Sebenarnya Raden Ayuningtyas merasa penasaran dengan wanita yang mampu menguras fikiran anaknya itu. Sebab Ruli bukanlah tipe pria yang mudah jatuh cinta.


"Saya belum bisa mengatakannya mah, karena saya sendiri butuh waktu untuk itu." Merebahkan kepalanya di sofa.


"Yang pasti dia sosok wanita yang baik dan cantik." Seraya mengatakan sambil tersenyum.


"Ya sudahlah, terserah kamu saja, yang penting dia bukan wanita materialistis seperti yang sudah-sudah." Seru Raden Ayuningtyas bergegas meninggalkan ruang kerja itu.


Pernikahan Ruli dan Irma masih seumur jagung. Istrinya meninggal saat pernikahan memasuki tahun ketiga.


Pernikahan mereka belum dikaruniai keturunan hingga akhirnya mereka mengadopsi anak yang sudah berusia 5 tahun, yaitu Ali pada tahun kedua pernikahan.


Sepeninggalan Irma, Ruli tidak bergegas mencari pengganti lantaran belum bisa melupakan Irma isterinya.


Hubungan antara Raden Ayuningtyas dengan Ali terbilang kurang harmonis lantaran Ali bukan darah daging Ruli anaknya. Namun Karena memandang Ruli yang sangat sayang dengan anak angkatnya itu, membuat Raden Ayuningtyas merasa sedikit iba pada Ali.


Sementara Ali yang sudah tiba di rumah Rudi sahabatnya menceritakan segala kegelisahannya itu pada Rudi.


"Hi bro, tumben Jem segini udah ke rumah?" Tanya Rudi yang sedang mencuci motornya.


"Nggak,,, gue cuma badmood aja di rumah...." Menghampiri Rudi.


"Tuh muka kenapa kusut begitu, kayak dompet isinya kertas cicilan?"


Rudi mencoba menghibur Ali.


"Ah... lu jangan bercanda dulu, gue lagi pusing banget nih." Menggaruk kepalanya.


" Bokap gue mo nikah lagi." Jawab Ali cemberut.


"Berita bagus dong..."


"Jadi lu punya mama baru..." Rudi sumringah sambil tersenyum lebar.


.... Lagi pula bokap lu kan belum tua-tua banget buat nikah lagi bro, masih ganteng juga." Ucap Rudi mengelap motor nya dengan kanebo.


"Bukan itu masalahnya....." Sahut Ali seraya berdiri.


" Terus kenapa....?" Tanya Rudi heran.


" Dia tertarik sama penjual kembang tabur." Cetus Ali.


"Ha,. orang sekelas bokap lu naksir sama cewek penjual kembang tabur...?" Rudi terdiam semakin keheranan.


"Makanya itu, gue lagi bingung nyari ide nih, gue takut tuh cewek hanya mengincar harta bokap gue aja." Sambung Ali duduk di teras.


"U punya ide ga buat bokap gue?" Tanya Ali


"Maksud lu ide apaan?" Sahut Rudi menghampiri Ali.


"Ide buat menyelidiki latarbelakang cewek itu." Jawab Ali.


"Maksudnya gue suruh nyamar jadi detektif gitu?" Rudi menerka.


"Boleh juga tuh ide lu ." sahut Ali tersenyum.


"Ga ga ga, gue ga mau mata-matain orang, nanti gue dikiranya penjahat lagi, mendingan lu aja lah."Jawab Rudi menggelengkan kepalanya.


"Payah lu bro, ya sudahlah gue aje yang selidikin cewek itu." Jawab Ali bergegas pamit dari rumah Rudi.


"Sorry ya bro dalam hal ini gue ga bisa bantu."Ucap Rudi melambaikan tangannya.


Dan kembali pulang memacu mobil ke arah rumahnya. Di pertigaan pasar ia melihat seorang gadis berpakaian SMK sepintas mirip Risa, wanita penjual kembang tabur. Ia sontak mengurangi kecepatan laju mobilnya dengan perlahan.


Terlihat gadis itu masuk ke dalam pemukiman padat penduduk yang tidak dapat dilalui mobil. Lalu Ali memarkir mobilnya di sebuah ruko terdekat dan mengikuti gadis itu berjalan.


Vena memasuki kios baju dan melihat-lihat baju yang dipamerkan di kios itu. Di dalamnya juga terdapat tetangga Vena sekaligus teman sekolah yang selalu menghina Vena.


"Kaos yang corak biru berapa mba?" Tanya Vena kepada penjual itu.


"Dua ratus ribu rupiah mba." Sahut penjual itu menjelaskan.


"Mahal banget mba harganya, apa tidak boleh kurang?" Tanya Vena melakukan penawaran.


"Tidak bisa mba, karna itu barang import." Jawab penjual itu.


Teman-teman Vena yang meperhatikan lalu mengejeknya," Bukan harga bajunya yang mahal Ven, tapi elu nya yang miskin, Ha ha ha". Sontak tertawa setelah mengejek.


Vena lantas pergi meninggalkan kios baju sambil memandangi wajah teman-temannya yang selalu mengejeknya..


Ali yang mengikuti Vena merasa iba karena apa yang terjadi barusan. Dia terus mengikuti Vena hingga tiba di rumah.


Gadis itu Vena, adik Risa. Sepintas Vena memang mirip sang kakak, dari rambut warna kulit dan tinggi badan. Namun bila disandingkan, Risa lah yang lebih beraura dibanding Vena karna Risa memiliki hati yang tulus dan penuh kasih sayang.


############


 


.