Risa

Risa
Harapan



Risa yang merenungi nasib adiknya dipermalukan di depan umum, turut sedih dan menghela nafas panjang sembari menyapu air matanya.


Datang seorang laki-laki menyapa memberikan Risa makan siang seraya berkata," Ini saya belikan ikan bakar di Sarang Oci, ayo makan siang bersama, Risa."


Rupanya lelaki yang menyapa Risa adalah leader di Restoran itu , Pak Yuda , lelaki paruh baya yang belum dikaruniai anak dalam pernikahannya. Pak Yuda mencintai Risa secara terang-terangan dan pernah menyatakan cintanya, namun Risa menolak lantaran dia telah memiliki istri.


"Terima kasih Pak , tapi maaf saya belum lapar saat ini."


Sahut Risa buru-buru menyeka air matanya.


Namun Pak Yuda tak kehabisan akal agar Risa mau menerima pemberiannya. Ia pun juga membelikan karyawan yang lain makanan agar Risa tidak menolak makan bersama-sama.


Di restoran karyawan istirahat secara bergantian.


Akhirnya dengan ajakan sahabatnya, Risa pun memakan pemberian pak Yuda.


Mereka bertiga makan di meja stainless prepare sambil duduk di kursi.


Setelah selesai makan, Risa tidak menyantap habis makanan lantaran suasana hatinya sedang sedih.


" Kenapa tidak kau habiskan makanan mu, Risa?"


"Apa menunya tidak kau sukai?" Yuda menambah pertanyaannya.


"Porsinya terlalu banyak Pak, perut saya tak mampu menampungnya ." Jawab Risa berjalan menuju wastafel.


Hari ini Risa masuk Shift siang pulang malam. Tapi dia tidak pernah takut untuk pulang sendirian. Walaupun seringkali Yuda menawarkan diri untuk mengantar Risa pulang, namun Risa selalu menolaknya.


Bagi Risa membalas rayuan lelaki beristri adalah suatu kebodohan besar. Karena dia takut hukum karma itu berlaku. Dan dia sadar betul bahwa hati wanita sesungguhnya rapuh.


Sementara di rumah megah itu Ali tiba di halaman yang dihias rumput hijau tempat mobil mewah terparkir.


Pelayan di rumah itu siap membukakan pintu rumah untuk tuannya.


"Tuan muda mau makan? biar kami siapkan semuanya." Tanya salah satu pelayan itu.


"Tidak usah Mbak , saya habis makan di luar tadi." Sahut Ali.


"Oh, ya saya mau tanya Papa ada di ruang kerja ga?" tanya Ali kepada pelayannya.


"Belum pulang tuan, barusan tuan besar keluar sendirian."


Jawab pelayan itu.


"Ok, ya sudah." Ali masuk kamarnya di lantai dua.


Kamar Ali terlihat banyak sekali foto dirinya bersama mama papanya. Maklum dia anak satu-satunya. meskipun bukan anak kandung, tapi kasih sayang orang tua Ali tak berbeda.


Ali merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk sambil mengulang kejadian hari ini. Dia melihat Risa dalam kondisi yang memprihatinkan. Yang tadinya membenci, Ali mulai simpati pada ekonomi Risa.


Seperti biasa dia memutar lagu galaunya sambil mengingat Lia dan tertidur.


Ada band


Akal sehat


Dulu ku mencintaimu


Terasa bahagia


Namun kau hilang


Tanpa jejak


Apa salah diriku


Hapus memori itu


Tak semudah dibayangkan


Bagai hantu disiang malam


Mendera batinku


Bayang dirimu begitu merasuk kalbu


Akal sehat ku berhenti kala menatap indah matamu


Hingga melumpuhkan jiwa


Kau mencuri perhatian dan sayang ku


tak kan kupungkiri semua


Sambil bernyanyi Ali pun tak terasa sudah tertidur dengan nyenyaknya.


Sementara, Pak Ruli yang telah kembali dari perginya masuk ke rumah itu.


"Maaf tuan, tadi tuan muda mencari anda, dan sekarang sedang berada di dalam kamar nya." Sapa pelayan itu sembari membukakan pintu majikannya.


"Ok,. terima kasih Mba." Ruli berjalan menuju kamar Ali.


Di buka pintu kamar tampak Ali sedang tertidur pulas. Lalu Ruli masuk ke kamar nya untuk berbaring.


Dia teringat besok tepat sebulan hari Minggu, dimana dia harus sudah membayar biaya rawat makam pada Risa.


Tapi ia berencana untuk membayar Risa dengan uang cash sekaligus mengunjungi makam istrinya.


"Besok pagi saya harus ke makam sekalian bayar upah cash perawatan makam pada Risa." ucap Ruli dalam hati.


Setelah itu Ruli didatangi seorang pelayan di kamarnya. Kepada pelayannya itu, Raden Ayu Ningtyas berpesan agar Ruli segera menemuinya di meja makan.


"Toktoktok..... permisi tuan , Nyonya Besar menunggu anda di meja makan." Pelayan itu menyampaikan pesannya sembari menundukkan kepalanya sedikit.


"Katakan saja kalau saya akan segera menemuinya setelah mandi." Pesan Ruli pada pelayannya itu.


Ruli yang kemudian mandi segera menemui Ibunya. Setelah mandi Ruli tampak tampan sekali dengan t-shirt berwarna hijau dan celana jeans pendek santai itu. Tak heran bila banyak kolega dan anak teman Raden Ayu Ningtyas yang ingin menjodohkan putrinya dengan Ruli.


Sesampainya di meja makan, kemudian ia mencium pipi ibunya dan menarik kursi untuk duduk.


"Hai mam...." Cium sapa Ruli hangat pada ibunya.


"Ada apa mama memanggil saya?" Tanya Ruli keheranan sembari meminum orange jus kesukaannya.


"Mama hendak mengenalkan kamu pada putri dari salah satu kolega kita, Intan namanya." Ungkap Raden Ayu Ningtyas pada anaknya.


Ruli yang saat itu sedang meminum orange jus sontak terkejut dan terbatuk, " Uhuk-uhuk.uhuk...."


"Kenapa Nak?" Tanya Raden Ayu Ningtyas pada Ruli keheranan.


Sebenarnya Ruli terkejut mendengarkan perkataan ibunya itu karna dalam fikiraanya sedang memikirkan Risa dan berusaha untuk mengenal Risa lebih dalam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...