
Hari ini, Risa libur kerja. Risa bergegas segera kemas diri untuk mengantar sekaligus membantu Ibunya berjualan kembang tabur di pasar.
"Apakah ibu hendak memasak seperti biasa sebelum kita pergi, Bu? Tanya Risa pada ibunya.
"Tidak nak, tetangga sebelah rumah kita sedekah subuh barusan, ia memberikan makanan dan angpau kepada anak-anak yatim dan janda." Jawab Ibu sambil menyingkap makanan yang baru didapatnya.
"Alhamdulillah ya Bu, Masih ada orang yang peduli terhadap anak-anak yatim dan janda."
Sahut Risa menyicipi makanan itu.
Setelah selesai sarapan , mereka pun menuju pasar. Sesampainya di pasar, Risa lekas membeberkan dagangan ibunya di meja toko.
" Sudah beres semuanya Bu." Sambil menata kembang di meja dagang.
"Ibu tinggal ke kamar kecil sekalian mau bayar sewa toko dulu ya." Pesan Ibu kepada Risa.
"Tapi , bagaimana bila ada pembeli, Risa tidak hafal harga semuanya Bu?" tanya Risa mengerutkan keningnya.
"Tenang Na, di laci meja ada list harganya." Jawab ibu Risa sambil menoleh ke belakang.
Sambil membaca list harga itu," kembang tabur campuran terdiri dari pihong, melati, cempaka, kenanga, pandan iris.
"Bila pembeli ingin kembang tabur beserta air mawar tambah harga tujuh ribu." Sambung Risa menambahkan hafalannya.
Risa memang suka membantu Ibunya berjualan, tapi biasanya hanya menata kembang dan menutup toko nya saja. Wajar bila dia tidak hafal keseluruhan harganya. Selain menjual kembang tabur, Ibu Risa juga menyediakan beberapa tangkai bunga mawar yang biasa dibeli anak muda untuk kekasihnya.
Ibu Risa juga menyediakan satu set perlengkapan mayat. Namun jarang yang mencarinya.
Sesaat kemudian ada pembeli menghampiri meja Risa.
"Ka, beli bunga mawarnya satu tangkai yang sudah dikemas plastik bening ya". Pinta pembeli itu kepada Risa.
"Lima belas ribu," Risa sembari menyodorkan bunga kepada pembeli itu.
Pembeli itu mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribu rupiah dan menyodorkannya kepada Risa, " kembaliannya ambil saja."
Setelah membayar bunga mawar anak muda itu lekas pergi.
Risa merasa heran, mengapa kalau dirinya yang melayani, selalu mendapat kelebihan kembalian.
"Bila setiap hari seperti ini, ibu bisa untung banyak." Bisik Risa sambil tersenyum.
Dari kejauhan sebuah mobil mewah melintas di depan tokonya. Terlihat seperti orang itu sedang mencari sesuatu. Ternyata lelaki paru baya tampan keluar dari mobil itu dan menghampiri toko Risa.
"Mba, kembang tabur satu bungkus ya." Pinta seorang lelaki memakai kacamata hitam.
Meskipun sedikit berumur, lelaki itu tetap terlihat fresh dan tampan. Risa selalu bersikap ramah kepada semua pembeli.
"Sepuluh ribu untuk kembang taburnya, tujuh ribu untuk air mawarnya Pak." Kata Risa kepada pembeli itu.
"Pak..., No no no , jangan panggil saya Pak, apa saya terlihat sangat tua ya?, panggil saja saya Ruli, Om Ruli." Sahut lelaki itu membuka kacamata nya.
"Saya akan lebih sering untuk memesan kembang tabur di toko mba ini ." Lelaki itu melanjutkan pembicaraannya.
Sebenarnya Ruli terpesona melihat kecantikan Risa , Ruli tidak kehabisan akal untuk lebih mengenal dekat gadis cantik bermata jeli itu, Ruli rela membeli kembang tabur di toko Risa sesering mungkin.
"O o , baik Om , toko kami akan melayani dengan senang hati." Sahut Risa terbata bata sembari senyum simpul di wajahnya.
Entah apa yang ada difikiran Risa.
Bak gayung bersambut, Risa pun menawarkan jasa perawatan makam dan menaburkan kembang tabur di makam pada lelaki itu. Bagi Risa ini adalah kesempatan emas untuk menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
"Kalau Om Ruli tidak keberatan, kami menawarkan jasa perawatan makam beserta kembang tabur setiap minggunya, bila anda setuju, anda cukup tuliskan alamat makam dan nama jelas di nisannya." Jelas Risa kepada lelaki itu.
"Jadi nanti, bila anda ingin ziarahi, makam itu sudah bersih dan rapi." Tambahnya lagi.
"Mohon maaf, makam siapa yang anda ziarahi Pak?" Tanya Risa dengan lembut.
"Makam istri saya, dia meninggal karena serangan jantung sepuluh tahun yang lalu." Sahut lelaki itu.
"Mohon maaf bila saya lancang mengungkit kesedihan anda." Sahut Risa membungkukkan kepala perlahan.
"Oh, Sama sekali tidak, saya sudah ikhlas menerima kepergian istri saya." Jelas lelaki itu meyakinkan.
Setali tiga uang, bagi Ruli itu tawaran yang bagus. Sehingga Ruli akan lebih sering bertemu dengan Risa. Ibarat pepatah mengatakan, sambil menyelam minum air.
"Baiklah saya setuju dengan tawaran anda, saya biasanya ke makam istri saya setiap Minggu sore, jadi berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk itu?" Tanya Ruli seraya mengeluarkan uang dari dalam dompet bermereknya.
"Anda cukup bayar seikhlasnya saja, karena dalam hal ini saya tidak mau memasang harga."Jawab Risa.
"Baik, nanti setelah selesai pekerjaan sebulan sekali saya transfer atau anda mau saya bayar cash." Tanya lelaki itu.
"Transfer aja Om, supaya lebih praktis." Sahut Risa.
Setelah pekerjaan selingan itu berjalan, ibu Risa merasa senang karena ekonomi keluarganya sedikit membaik.
Namun mengetahui ibunya mendapat uang tambahan, Vena dan Banu semakin banyak menuntut.
Dia Vena berkata kepada adiknya," Dek, ibu sama Kaka lagi dapet job baru dari orang kaya, aku akan minta belikan hp keluaran terbaru."
"Kaka jangan curang, aku dulu yang minta motor belum dibelikan Ibu." Sahut Banu pada Vena.
Kedua anak itu selalu menuntut dan menuntut, meskipun ekonomi keluarganya sedang terpuruk, tak membuat Banu dan Vena mengurungkan niatnya menyulitkan Ibunya.
Jangankan membantu Ibunya, Belajar pun tidak pernah.
Ibu yang tak sengaja mendengar tuntutan mereka merasa sedih akan tingkah laku kedua anaknya.
Lalu Ibunya berlari menuju sudut dapur.
******