
Rupanya suasana yang semula hangat berubah menjadi dingin dan sunyi. Ruli yang hendak diperkenalkan putri dari salah satu kolega ibu nya tak bisa menolak lantaran ia sudah kesekian kali menolak permintaan sang mama. Intan namanya. Ia adalan putri pertama dari salah satu kolega yang akrab dengan ibunya. Intan baru pulang dari Jerman lantaran menyelesaikan kuliahnya pada salah satu universitas terkemuka di sana.
"Bagaimana menurut kamu?" Raden Ayu Ningtyas sembari menyodorkan foto Intan pada Ruli.
Sambil melihat foto itu, Ruli hanya bisa menghela nafas panjang dan berharap ucapannya tidak mengecewakan Ibunya lagi.
"Apakah yang mama maksud foto wanita ini?" Melihat sejenak lalu meletakkan foto itu di meja makan.
"Iya, bagaimana menurut kamu foto Intan, cantik bukan?"
Raden Ayu Ningtyas memasukkan sandwich ke mulutnya.
"Mama harap kamu mau mengenal Intan lebih jauh , Ia merupakan putri dari salah satu kolega terbaik kita. Baik dari segi pendidikan, penampilan, serta keturunannya."
"Lalu kenapa kamu terdiam Ruli?" Apa kamu hendak mencari argumen lagi untuk menolak perjodohan ini?"
"Ayolah Nak, berfikirlah sejenak demi kelangsungan nama baik keluarga kita. Keluarga kita butuh penerus yang akan melanjutkan masa depan perusahaan, yaitu dari darah daging kamu sendiri, bukan anak adopsi.
Ruli sudah mengetahui sejak lama bahwa ibunya setengah hati menyanyangi Ali anak angkatnya. Namun ia tidak bisa menolak permintaan ibunya untuk yang kesekian kalinya.
Dia Ruli sejenak berhenti mengunyah sandwich di mulutnya, seraya berkata sambil menatap wajah ibunya yang menua namun tetap anggun.
" Baik Ma, saya akan menerima permintaan mama, tapi bila wanita ini tidak sesuai kriteria , maka saya tidak bisa lagi melanjutkan perjodohan ini."
Terlihat dari foto, wanita ini memang cantik namun wajahnya tak secantik Risa yang penuh aura ketulusan.
Ruli segera melahap cepat sandwich dan orange jusnya, ia lalu mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain.
"Oh iya mah, saya akan pergi untuk meeting siang ini, kemungkinan pulang sore hari." Menyeka bibir mungilnya dengan napkin.
" Kau ini kan Ceo Nak, Pemilik perusahaan besar dan ternama, lagi pula hari ini kan kantor libur, perintahkan saja Sisil untuk menghandle semuanya."
Sisil adalah sekretaris Ruli yang selalu mencari perhatian Ruli dengan berbagai macam cara namun tetap saja Rully tidak menghiraukannya. Semenjak istri Ruli meninggal dunia, Sisil mulai menaruh perhatian besar terhadap Ruli.
Kadang Sisil pun suka membawakan Ruli kopi, soft drink atau makan siang namun Ruli tidak pernah menghiraukannya karena Sisil bukanlah tipe wanita kriterianya.
Sebenarnya Ruli tidak pergi hanya untuk meeting, melainkan ia hendak berkunjung ke rumah Risa membayar biaya perawatan makam pada nya. Namun ia tidak kehabisan akal agar mendapat izin mamanya.
"Ini masalahnya klien ingin aku yang langsung menangani proyek nya ma, lagi pula ini proyek besar, sayang bila terabaikan begitu saja."
"Mmm.... Baiklah jika itu untuk kebaikan perusahaan, mama izinkan." Mengunyah sandwich di mulutnya.
Lalu para Pelayan itu membukakan pintu utama untuk Ruli dan Ruli pun keluar dengan menggenggam kunci mobil mewahnya.
Wajah yg berumur lebih tua dari Risa itu bak seperti remaja yang sedang puber kedua. Ia nampak senang sekali ingin menemui Risa.
"Risa Salsabila, jalan Mahkota Lima nomor dua," dia membaca perlahan sambil tersenyum.
Nampaknya agak sulit bagi Ruli menemukan tempat tinggal Risa, di mana daerah itu sangat padat penduduk, jalanannya sempit dan sulit menemukan tempat parkir mobil mewahnya itu.
Namun Ruli tidak begitu saja putus asa karena hatinya telah tertuju pada pencarian rumah Risa.
dia memarkirkan mobilnya di sebuah toko tidak berada jauh dari rumah Risa, lalu ia lekas keluar dari mobilnya dan mencari keberadaan rumah Risa. Lalu dia bertanya kepada seseorang yang mungkin mengetahui alamat tersebut.
"Permisi Bu, boleh saya bertanya kepada anda tahukah alamat ini?" Menyodorkan kartu alamat kepada wanita itu.
Ibu itu lekas paham bahwa yang Ruli maksud adalah penjual kembang tabur Risa.
"Oh ini penjual kembang tabur pak, rumahnya dari sini bapak belok kiri ada pintu reot warna coklat itu rumahnya." Ibu itu menunjukkan alamat tersebut kepada Ruli dengan sangat jelas.
"Oh baik, terima kasih Bu." Rully mengucapkan terima kasih dengan keramahannya dan lekas pergi menuju alamat tersebut.
Saat di tengah perjalanan tiba-tiba seorang lelaki berjalan dengan terburu- buru dan menabrak pundak Ruli dari belakang dan terjatuh.
Seketika Ruli kaget dan berkata," Anda tidak apa apa Mas ?"
Lalu pria itu meminta maaf kepada Ruli dan berkata, "Maaf saya tidak sengaja menabrak anda karena saya terburu-buru mau ke rumah seseorang.
"Iya, tidak masalah, saya baik baik saja." Jawab Ruli santai.
Lalu pria itu pergi dengan tergesa-gesa dan meninggalkan Ruli menuju ke rumah yang ditujunya.
Ruli hampir sampai di alamat rumah Risa depan rumah pintu coklat seperti yang ibu tadi beritahu.
Namun Ruli terkejut karena melihat pria yang menabraknya tadi juga berada di rumah Risa. Rully juga melihat Risa tampak cantik sekali mengenakan dress warna ungu batik dengan rambut terurai.
Dalam hati dia bertanya," Siapa lelaki itu? ah mungkin hanya temannya, tapi mengapa Risa terlihat menolaknya? Risa nampak menolak ajakan pria itu di depan pintu rumahnya.
Ruli memperhatikan dari kejauhan karena tidak berani untuk menemui Risa saat itu.
Tidak perlu menunggu lama pria itu lalu meninggalkan Risa dengan raut wajah kecewa dan sedih.
Kemudian Ruli menghampiri rumah Risa , dia mengetuk pintu itu dengan pelan bercampur rasa canggung.
"Permisi , tok tok tok Assalamualaikum...." Ucap Ruli mengetuk pintu rumah Risa.
Risa segera membuka pintu itu karena mendengar suara ketukannya dari balik pintu, tak disangka ternyata yang mengetuk pintu itu adalah Pak Ruli pria paruh baya yang kaya raya. Dia Risa memegang pintu dengan tangannya yang lembut sambil tercengang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...