Risa

Risa
Bab 3 Keluhan



Ibu yang sedih mendengar semua keluhan kedua anaknya itu menangis di sudut kursi dapur. Sehingga Risa pun mendengarnya.


"Apa yang membuat mu bersedih, Bu?" Bukankah kita sudah dapat uang tambahan dari orang kaya itu ?" Tanya Risa sambil merangkul ibunya.


" Risa tolong kamu lebih bersabar menghadapi kedua adikmu." Ucap ibu menyeka air matanya.


"Apa yang mereka lakukan, Bu?"


Tanya Risa duduk di sebelah kursi ibunya.


"Vena meminta dibelikan hp keluaran terbaru, sedangkan Banu tetap menuntut dibelikan motor, Ibu jadi kasihan sama kamu Nak." Ungkap ibu memandang wajah Risa dengan raut kesedihan.


"Sudahlah, Ibu tidak usah terlalu difikirkan, biar Risa yang akan menasihati Banu dan Vena."


Jawab Risa mengelus bahu Ibunya.


"Baiklah Bu, Risa izin pergi ke makam istri pak Ruli dulu ya, takut kalau dia datang lebih awal Risa jadi tidak enak padanya." Ucap Risa mengambil kunci motor tuanya.


"Air mawar nya jangan lupa Nak, hati hati di jalan."


Pesan ibu pada Risa.


"Iya Bu, Assalamualaikum..." Risa lekas pergi dengan motor tuanya.


Sesampainya di makam , Risa segera membersihkan makam itu dari ranting dan daun yang berserakan.


Sementara, Risa yang sedang sibuk membersihkan makam , seseorang menepuk bahunya. Dia adalah Ali Maulana, putra angkat Ruli Maulana.


"Anda siapa, sok peduli dengan makam ini." Tanya lelaki itu pada Risa.


"Tolong jangan ganggu, biarkan saya melakukan tugas saya, karena pak Ruli yang memerintahkan demikian."


Sahut Risa memandang wajah pria yang sombong itu.


"Maksud anda papa saya telah membayar anda untuk melakukannya?" Jawab Ali dengan nada heran.


"Bisa-bisa nya papa menyuruh orang lain menaburkan kembang tabur di makam mama, apa papah sudah mulai melupakan mamah?"


Lirih Ali dalam hati.


"Kalau boleh tahu siapa nama anda nona?"


Tanya Ali pada Risa.


" Nama saya Risa, Risa Salsabila." Sahut Risa sambil meletakkan botol air mawar di sisi makam.


"Hei, apa kau tak ingin berjabat tangan dengan ku?" Seperti itukah cara mu memperkenalkan diri kepada orang?" Sambung Ali terlihat angkuh.


"Haruskah aku bersikap manis dengan orang yang menyapa tidak sopan padaku?" Sahut Risa berdiri memperhatikan Ali.


Ali yang terlihat angkuh dan sombong menatap dalam wajah cantik Risa tanpa berkata-kata."


Entah mengapa Ali yang biasa dingin dengan wanita saat itu merasa nyaman melihat Risa. Dia Risa berpamitan setelah selesai tugasnya.


" Saya permisi pulang, karena tugas saya telah selesai." Ucap Risa mengeluarkan kunci motor dari saku jaketnya.


Lalu Risa pergi meninggalkan Ali tanpa menoleh ke belakang.Sedang Ali bergegas pulang ke rumah mewahnya untuk meminta klarifikasi papanya perihal ini.


Dan di rumah mewah itu, di ruang kerja, Ruli memikirkan Risa sambil memainkan pena di mulutnya.


"Risa...." dia Ruli menyebut nama itu perlahan dan menghayati.


"Tidakkah kau ketuk pintu lebih dulu sebelum masuk Ali?" Ucap Ruli pada anaknya.


Ali berdiri di depan meja kerja berlapis kaca.


"Ada apa dengan kau Papa....?"


Mengapa wanita lain yang menaburkan kembang tabur di makam mama?" Tanya Ali pada ayahnya dengan nada heran.


"Papa hanya menerima tawaran baik wanita itu!" memang apa salahnya bila kita menerima kebaikan orang?" Ruli lalu bangun dari duduknya.


"Kebaikan yang dibayar dengan uang?"


" Itu yang dinamakan kebaikan?" Imbuh Ali yang merasa bingung.


"Atau jangan-jangan papa tertarik dengan wanita penjual bunga itu?"


tanya Ali seolah meneliti.


"Sudahlah Ali , kamu tidak perlu mengatur-atur hidup papa lagi!"


"Papa ini merasa sangat kesepian di rumah, pulang kantor tak ada yang menyambut dan melayani papa." Tegas Ruli dengan nada tinggi.


"Papa ini butuh teman yang bisa di ajak berbagai cerita, kesedihan, dan merawat papa bila kamu sudah menikah nanti ." Sambung Ruli dengan wajah memelas.


Meskipun di rumah banyak asisten rumah tangga yang melayani, namun Ruli merasa malu bila datang ke acara teman kantor hanya seorang diri. Ali yang diam merasa turut iba dengan keluhan papanya yang terpendam selama ini. Karna di mata Ali, papanya selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan saja.


Ali yang merasa bingung dengan sikap papanya lekas pergi meninggalkan rumah mewah nan megah itu dengan hati yang berkecamuk.


Dia juga belum move on dari Lia, mantannya itu. Ali memacu laju mobilnya pergi menuju rumah sahabatnya. Dia bingung tidak ada Lia yang biasa menghiburnya dikala sedih. Ali yang sedih mengingat kisah cintanya kandas dengan Lia, lalu memutar lagu galaunya.


ADA BAND


SEGUDANG CINTA


Lirih gemercik hujan


seiring hembusan angin


membelaiku menyapa sepiku


dan hadirkan rasa ini


kau tinggalkan aku


sementara ku menggilai mu


inginkan segudang cinta mu


sampai mati


desah akhir nafasku


Rudi merupakan teman dekat Ali sejak kuliah. Rudi jugalah yang menjadi saksi pertemuan sekaligus perpisahan kisah cinta Ali dan Lia, karena Rudi lah yang mendekatkan Lia dengan Ali sewaktu di kampus.


Ruli Maulana merupakan anak tunggal yang akan mewarisi seluruh harta kekayaan Raden Ayuningtyas. Oleh karena itu semua wanita yang mendekatinya harus jelas bibit, bebet dan bobotnya. Serta harus sesuai dan setara martabatnya.


Sama halnya dengan Ali, meskipun hanya anak angkat, namun Ali termasuk dalam bagian ahli waris harta kekayaan Raden Ayuningtyas , sehingga selayaknya Raden Ayuningtyas memperhatikan dengan siapa Ali menjalin asmara.


*******