
Sesampainya di rumah kumuh dan lusuh itu, Vena mengetuk pintu dengan kerasnya tanpa mengucapkan salam.
"dugh...dugh...dugh....!"
"Ka.... Cepetan dong buka....!! Teriak Vena dari balik pintu.
Risa yang saat itu sedang berkemas diri untuk pergi bekerja segara berlari ke arah suara itu dengan tergesa-gesa.
"Iya sebentar.....!" Risa membuka pintu kayunya lalu bertanya lagi.
"Apa yang membuat kamu pulang dengan penuh amarah, Ven?"
Vena membuang tasnya ke kursi plastik, "aku benci dengan keadaan kita yang miskin ini!" Vena duduk mengangkat kedua kakinya di kursi sambil membuka sepatunya.
Risa memandang wajah Vena keheranan, "apa yang kamu bicarakan, Ven?" Tanya Risa mengerutkan dahi.
Di rumah itu hanya ada Risa dan Vena, menambah haru suasana kesedihan Vena.
"Aku ini baru saja diolok-olok oleh teman sekolah ku!" Vena melempar sepatu talinya ke pojok pintu.
"Mereka mengejekku karena aku tidak mampu membeli baju di toko depan!" Menunjukkan jari telunjuk nya.
"Aku malu Ka, aku merasa tertampar-tampar oleh ejekan teman-temanku, hati aku sakit ka....." Vena menumpahkan air mata kesedihannya.
"Adik ku Vena, Miskin atau Kaya itu hanya sebuah status sosial, semua manusia derajatnya sama di hadapanNya. Risa berusaha menenangkan Vena.
"Ketahuilah Ven, Jadi orang kaya itu belum tentu bahagia, begitu juga dengan yang miskin , hanya saja kita harus belajar cara mensyukuri apa yang kita punya." Imbuh Risa.
"Kamu inget pesan Alm Ayah, kita harus banyak bersyukur kepada Allah maka rezeki kita akan bertambah."
Risa merangkul Vena dan mengusap air matanya.
Vena sontak melepaskan pelukannya kakaknya dan berdiri.
Sifat Vena yang sulit dinasehati membuat dia tidak menghiraukan ucapan kakaknya.
"Kaka selalu saja menceramahi aku, saat ini yang aku butuhkan hanya uang, uang dan uang untuk menunjang hidupku !" Cetus Vena.
"Aku bosan jadi orang miskin terus, dihina dan dihina!" Sambung Vena lalu masuk kamar dan menguncinya.
Sebenarnya dalam hati kecil, Risa amat sedih adiknya dipermalukan seperti itu, namun apalah daya, dia hanya bisa menelan pil pahit dan getirnya kehidupan.
Jam menunjukkan pukul 13.00 waktunya Risa pergi bekerja.
Hari itu Risa jadwal shift siang dan pulang pukul 21.00.
Risa yang mengenakan seragam waiters itu pergi bekerja tanpa memoles wajah nya. Ia tergesa-gesa karna hampir telat. Dengan mengandalkan motor tua peninggalan almarhum ayah nya, dia memacu laju kendaraan memakai jaket, masker dan helmnya.
Ruli yang sedari tadi memperhatikan rumah Risa, melihat Risa keluar rumah dari kejauhan. Lalu dia berusaha mengikuti jejak Risa akan pergi.
"Mau kemana cewek itu pergi...?"
"Mengapa terlihat terburu-buru sekali." bisik Ali dalam hati.
Sebenarnya Ali merasa iba dengan apa yang barusan dilihatnya. Dia menyimpulkan bahwa Risa adalah sosok wanita yang tegar dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.
"Gila, cepet banget tuh cewek naik motor nya." Ali hampir tertinggal dan kehilangan jejak Risa.
Sampai di suatu Restauran. Risa memarkir motornya di tempat khusus karyawan.
" Hallo Risa.......!" Sapa seorang lelaki pada Risa.
" .........!" Risa hanya membalas dengan senyuman.
"Ali pun segera memarkir mobil nya lalu memasuki restauran tempat Risa bekerja.
Risa terlebih dahulu memasuki ruang dan meletakkan jempol kanannya pada mesin finger print untuk absensi kehadirannya.
"Hai Risa, kamu telat lagi ya?" Sapa teman lelaki satu shift nya.
"Iya nih, tadi ada urusan bentar." Sahut Risa sambil mengenakan bandana logo restauran di kepalanya.
Ali pun tidak hentinya membuntuti Risa dan memperhatikan segala gerak-geriknya. Dia memanggil salah satu pelayan restoran lalu memesan jus kedondong dan beberapa menu appetizer.
"Mba, saya minta jus kedondong, lumpia udang mayonaise, dan shrimp roll masing-masing satu porsi ya." Pinta Ali kepada pelayan itu.
" Baik Mas, mohon ditunggu pesanannya," pelayan itu menulis list pesanan Ali.
"Ada lagi yang bisa saya bantu?" Pelayanan itu menanyakan kembali.
" O iya, saya mau pesanan saya diantar oleh mba yang itu yah," pinta Ali menunjuk jari telunjuk ke arah Risa.
"oo.. baik Mas, jawab pelayan itu dengan nada keheranan.
five minuts ago......
Akhirnya setelah makanan selesai diprepared, Risa mengantar pesanan itu ke meja nomor dua. Alangkah terkejutnya melihat lelaki pemesan makanan itu.
"Ka....mu.....!" Risa menatap wajah pria yang ia kenal sebagai anak pa Ruli itu.
"Hai, Risa...!" Senang bisa bertemu dengan mu lagi," sapa Ali tersenyum simpul.
Risa tidak mau banyak bicara, ia meletakkan pesanan Ali lalu pergi melanjutkan pekerjaannya.
"Ini pesanannya, ada lagi yang lainnya?" Tanya Risa profesional.
"Saya cuma ingin mengingatkan, Minggu ini jadwal kamu merawat makam mama saya bukan?" Imbuh Ali menegaskan.
"Iya benar, tapi maaf saya harus kembali bekerja." Risa mengakhiri pembicaraan lalu berlalu meninggalkan Ali.
Setelah merasa cukup memperoleh informasi, Ali menyelesaikan makanannya lalu lekas kembali ke rumah.
Sambil bekerja, Risa sempat merenungi kejadian Vena yg diejek oleh teman nya.
Sembari mengelap peralatan makan, Risa yang saat itu hatinya resah meneteskan air mata lalu mengusapnya dengan tisu basah. Dia sadar betul bahwa dirinya belum bisa membahagiakan ibu dan kedua adiknya.
...****************...