Revenge Ended In Love

Revenge Ended In Love
7



Oma duduk diatas kursi yang ada di kamar Niko. Tangannya masih menggenggam baju yang sudah sebagian besar rusak karena terbakar.


Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada pertengkaran hebat diantara keduanya?


Oma pun mulai mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Selain baju yang terbakar Oma juga melihat koper sindy di dekat lemari. Padahal sebelumnya Oma menyuruh sindy untuk meletakkan koper nya di atas lemari.


Kecurigaan Oma semakin menjadi. Dan saat oma membuka pintu lemari, benar saja. Baju sindy sudah tidak ada di sana.


"Hhhh Niko. Pasti Niko yang suruh sindy untuk mengeluarkan semua pakaiannya dari lemari."


"Apa karena sebab ini Niko membakar baju sindy?." Oma mencoba menyimpulkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi.


Mendadak Oma menjadi seorang detektif. Namun sementara itu, Mira terdengar sedang mengobrol bersama seseorang di lantai bawah. Suaranya kencang hingga sampai ke telinga Oma. Fokus nya terganggu. Oma segera turun dan melihat siapa yang mengobrol bersama Mira di ruang tamu.


"Serius tante?."


"Iya. Tapi untungnya gak kena kaki tante." Sahut Mira.


"Kayaknya dia sengaja deh pecahin piring nya supaya kena kaki tante. Terus di depan Oma dia playing victim gitu deh."


"Kalau emang dia sengaja, tunggu saja balasan dari tante." Kata Mira.


"Tapi perlakuan Niko gimana ke perempuan kampung itu tan?."


"Cuek. Niko super duper cuek ke sindy. Kamu tenang aja sayang, Niko gak akan pernah jatuh cinta sama perempuan kampung itu. Percaya sama tante, Niko itu cinta nya cuma sama kamu. Buktinya dia belum bisa move on."


"Tapi kok aku takut ya tan."


"Takut kenapa?."


"Ya aku takut aja kalau suatu saat Niko bakalan jatuh cinta beneran sama perempuan kampung itu. Apalagi Oma mendukung banget hubungan mereka. Oma pasti bakal terus paksa Niko untuk selalu bersama sindy. Terus karena sering bareng akhirnya Niko jatuh cinta. Terus gimana sama nasib aku tan."


"Aduh sayang kamu jangan berpikir negatif gitu dong. Tante jamin kalau Niko gak bakal jatuh cinta sama sindy. Itu hal yang mustahil. Udah dari pada kamu sedih, mending kamu pikirin rencana gimana caranya kamu bisa deket lagi sama Niko."


"Kamu bicara sama siapa mir?" Tanya Oma.


Mira dan Luna kompak membalikkan tubuh mereka seraya terkejut mendengar suara Oma.


"Halo Oma" Luna menyapa Oma dengan penuh kehangatan.


"Oh kamu, lun. Kapan datangnya kok Oma gak tau"


"Baru aja sampai Oma"


"Oh iya, gimana kondisi ibu kamu. Oma dengar kata nya sakit"


"Alhamdulillah kondisi mama udah membaik Oma. Cuma harus rutin cek-up aja"


"Oh syukurlah kalau begitu"


"Oma sendiri gimana kondisinya, sehat?"


"Ya seperti ini lah kondisi Oma sekarang. Jauh lebih baik setelah di urus oleh sindy. Dia itu gadis yang benar-benar baik, tidak salah Oma memilih dia untuk Niko"


Senyum manis itu seketika pudar dari wajah Luna. Lagi lagi sindy! Kenapa harus gadis kampung itu yang selalu di puji oleh Oma. Bukan kah saat niko masih bersama Luna, ia pun turut mengurus Oma. Menyebalkan!!


Mira sebagai Tante paham betul apa yang di rasakan oleh keponakannya ini. "Luna pasti kamu haus, ikut Tante ke dapur yuk kita bikin jus" ajak Mira. Luna mengangguk dan keduanya pergi bergegas menuju dapur meninggalkan Oma seorang diri di ruang tamu.


"Hmm, kenapa gadis itu harus menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Saya benar-benar tidak menyukainya sama sekali"


"Tapi ada hal yang lebih penting daripada kehadiran gadis itu. Saya harus mencari tahu kenapa ada baju terbakar di kamar Niko" ujar Oma penuh selidik.


**


Sindy terkejut melihat Oma berada dalam kamarnya sambil terus memegang baju yang terbakar itu. Wajah nya mulai panik. Sindy tidak siap dengan pertanyaan Oma, kenapa baju ini bisa terbakar? Sindy benar-benar bingung harus apa. Tapi ia tau sesuatu.


*Suara ponsel berdering


"Ada apa?" Singa itu sepertinya mengamuk dan tak suka jika waktu nya di ganggu sebentar oleh sindy.


"Pak saya boleh minta tolong tidak?"


"Apa lagi. Ongkosnya kurang? Atau tangan kamu terluka lagi?"


"Bukan pak"


"Ya terus apa? Jangan buang waktu berharga saya! Saya ada meeting 15 menit lagi"


"Bahkan saya hanya butuh waktu bapak 5 menit saja. Please pak saya benar-benar butuh bantuan bapak"


"Apa?"


"Oma melihat baju yang terbakar tadi malam. Sebelum saya pergi ke kantor Oma sudah tanya kenapa bajunya bisa terbakar. Saya jawab karena terkena obat nyamuk. Tapi Oma tidak percaya. Dan setelah saya pulang dari kantor bapak, Oma masih duduk di kamar kita. Oma pasti akan menanyakan hal yang sama lagi pada saya. Saya bingung pak bagaimana meyakinkan Oma"


"Kenapa baju nya tidak kamu buang saja tadi malam? Kenapa sih kamu tuh selalu menyusahkan saya"


"Ya maaf pak. Tadi malam saya tidak sempat keluar kamar. Saya buang baju itu di tong sampah dekat pintu kamar mandi "


"Ya itu jadi masalah kamu lah. Kenapa kamu malah buang baju nya di situ"


"Tolongin saya kek, ini malah nyalah-nyalahin. Pak Niko juga sih ngapain baju nya pake segala di bakar kan jadi panjang urusannya" sindy menggerutu kesal.


"Oh jadi kamu nyalahin saya? Terus suruh siapa kamu taruh baju kamu di lemari saya?"


"Oma yang suruh maka nya saya taruh baju-baju saya di lemari bapak"


"Pokoknya saya gak mau tahu ya selesaikan masalah kamu ini dengan Oma. Saya sibuk!" Niko langsung mematikan telepon nya. Seperti nya ia benar-benar kesal karena sindy.


"Iiisshhh nyebelin banget sih! Dasar angry bird" sindy memaki ponselnya seperti orang gila.


Dan tanpa sadar Oma mendengar nya dari dalam kamar. "Sindy, kamu sudah pulang?" Tanya Oma yang menghampiri sindy.


"Sudah Oma"


"Mari masuk" Oma menarik tangan sindy menuju kamar.


"Duduklah" pinta Oma. Sindy mengangguk seraya menuruti perintah Oma.


"Jujur sama Oma, kenapa baju kamu bisa terbakar begini? Yang Oma lihat ini seperti di sengaja"


Sindy terdiam beberapa saat. Otaknya buntu ia tak dapat menemukan ide untuk memberi alasan pada Oma.


"Sin" Oma mencoba menyadarkan ku dari lamunan.


"Sebenernya baju itu memang di bakar Oma. Pak Niko marah kalau sindy taruh baju-baju sindy di lemarinya" sindy benar-benar pasrah, ia mengungkapkan hal yang sejujurnya pada Oma. Sindy tak peduli jika nantinya Niko akan marah padanya.


"Ya ampun Niko, keterlaluan anak itu!" Oma geram dengan tingkah sang cucu yang sangat arogan dengan istrinya sendiri.


"Tapi ya sudahlah Oma, mungkin ini salah sindy juga gak minta ijin sama pak Niko"


"Tapi kamu kan istrinya. Suami istri itu harus berbagi dalam hal apapun termasuk lemari"


"Ya sudahlah Oma tidak usah di perpanjang lagi masalah ini, sindy mohon" pinta nya memelas.


Oma tersenyum kecut pada nya. Iya menyayangkan sikap Niko yang begitu kasar pada sindy.