
"Kalian sudah pulang. Gimana pestanya?." Tanya Oma dengan antusias.
"Pestanya seru banget Oma. Makanannya enak-enak semua. Orang nya juga baik-baik." Ujar sindy.
"Oh ya... Wahhh."
"Berlebihan. Acaranya biasa aja Oma." Timpal Niko.
"Oma seneng deh kalian bisa pergi berdua gini. Sering-sering di ajak ke pesta dong sindy nya. Jangan kamu tinggal di rumah terus Niko."
"Huffttt.. iya Oma." Angguk Niko dengan terpaksa.
"Oma jam segini kok belum tidur?." Ujar sindy yang begitu perhatian pada nenek yang semua orang sebut dengan panggilan Oma itu.
"Oma tadi udah tidur tapi tiba-tiba pengen minum teh hangat." Ucap Oma.
"Kenapa gak suruh jumi buat bikinin teh nya. Kemana dia."
"Jumiiii!!!." Teriak Niko sekeras mungkin.
"Sudahlah Niko Oma kasihan liat jumi. Seharian dia beres-beres rumah ini. Biarkan dia beristirahat di kamarnya. Lagian Oma bisa buat sendiri kok teh nya."
"Gak usah Oma. Oma mending balik ke kamar aja biar sindy yang bikinin teh buat Oma."
"Terimakasih cucu Oma yang cantik. Beruntung kamu Niko mendapatkan istri sebaik sindy." Puji Oma di depan sang cucu kesayangan.
Niko memasang wajah datarnya. Kenapa semua orang senang sekali bicara omong kosong?.
Niko dan sindy keduanya mengantar sang Oma kembali ke kamarnya. Setelahnya sindy bergegas pergi menuju dapur untuk membuatkan secangkir teh hangat untuk sang Oma mertua.
"Teh nya selesai." Kata sindy seraya memberikan secangkir teh hangat ke Oma yang tengah duduk bersandar di atas ranjang kasur. Oma mengambilnya lalu perlahan menyeruput nya.
"Nikmat."
"Minum teh nya sudah selesai sekarang Oma lanjut tidur. Ayo Oma ini sudah malam." Ujar Niko.
"Ah kamu ini, iya iya Oma tidur." Oma menaruh cangkir teh di atas meja. Ia meluruskan tubuhnya dan menarik selimut kemudian Oma pun tertidur.
**
"Mana baju ganti saya? Kenapa posisi baju-baju saya jadi seperti ini." Ujar Niko dengan nada bicara marah.
"Saya yang pindahkan. Sebagian saya menaruh baju saya di lemari itu." Ucap sindy.
"Siapa yang suruh? Lancang sekali kamu." Sentak Niko.
"Ini kamar saya dan semua benda yang ada di dalam kamar ini adalah milik saya. Kamu tidak punya hak sama sekali!."
"O-oma yang suruh saya untuk menaruh baju itu di lemari bapak." Kata sindy berterus terang.
Niko melirik sinis menatap sindy. Ia membuka laci meja lalu mengambil sesuatu didalamnya. Niko kembali membuka lemari dan mengambil sehelai baju milik sindy. Lalu tanpa segan membakarnya di hadapan sindy. Sadis!
Sindy terkejut bukan main. Matanya membulat sempurna ketika menyaksikan langsung hal gila yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Jangan sok berkuasa di kamar ini." Ucap Niko bringas.
"Hari ini saya membakar satu baju milik kamu lain kali kalau kamu melakukan kesalahan saya akan bakar semua baju milik kamu." Ancam Niko dengan kejam.
Sindy terdiam sambil menahan air matanya. Tatapan tajam mata Niko membuat sindy gemetar ketakutan. Apalagi setelah ia melihat sendiri aksi gila yang dilakukan oleh Niko.
Niko berlalu meninggalkan sindy. Mengambil baju kaos miliknya lalu bergegas ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Sindy bertekuk lutut meratapi nasibnya yang hidup dengan orang super kejam seperti Niko. Air matanya tumpah membasahi pipinya. Sindy memadamkan api dengan cara menginjak baju yang terbakar itu. Ia tak menyangka Niko akan tega melakukan ini kepadanya.
"Maafkan saya, saya tidak akan melakukan hal ini lagi." Ujar sindy yang dengan tulus meminta maaf.
Niko tak menghiraukan ucapan sindy. Ia bahkan tak merasa iba melihat sindy yang berurai air mata. Baginya hal ini pantas sindy dapatkan mengingat ia sudah melanggar peraturan yang di buat Niko. Bahwa apapun barang yang ada di dalam kamar ini adalah milik Niko dan sindy tak boleh menyentuh nya.
Sindy mengambil baju yang sebagian besar sudah terbakar. Ia membuangnya ke tong sampah yang ada di ujung pintu kamar mandi.
Ia mengurung dirinya di kamar mandi. Menahan tangis di dada yang membuatnya benar-benar merasa sakit. Kejam! Satu kata yang tepat untuk menggambarkan watak Niko.
Sindy mengambil semua bajunya yang tersimpan di lemari Niko. Sindy kembali menaruh baju Niko sesuai dengan posisi awal. Ia kemudian menyimpan baju di dalam koper miliknya.
Sambil berderai air mata sindy menghapus riasannya. Segera berganti baju lalu bergegas tidur. Ia membentangkan sebuah karpet berukuran sedang di samping ranjang tempat tidur. Menaruh bantal lalu menidurkan kepala di atasnya. Menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Sejenak sindy merasa bahagia karena Niko menggenggam erat tangannya di hadapan banyak orang. Tapi sindy harus sadar dan bangun dari mimpinya kalau Niko tidak sebaik yang banyak orang lihat. Faktanya Niko adalah pria bringas yang kejam.
"Saya akan terus bikin kamu menderita!." Ujar Niko dalam hati. Tangannya mengepal erat dan tatapan matanya mengungkapkan betapa bencinya ia pada sindy.
Malam ini menjadi hal paling buruk yang sindy alami. Kesalahan nya hanya kecil bahkan sepertinya hal itu tidak usah di permasalahkan. Tapi Niko melakukan hal itu dengan sangat kejamnya.
Siapa yang bisa menghadapi sikap kasar Niko selain sindy. Sindy benar-benar wanita baik dan tulus.
**
Niko membuka gorden jendela. Membuat cahaya matahari pagi menyoroti tajam ke arah sindy. Sindy tersadar dan segera bangun dari tidurnya sambil menatap wajah Niko yang tanpa ekspresi memandangi nya.
"Setrikain jas saya sekarang juga." Pinta Niko yang langsung melempar jas ke wajah sindy.
Malam yang buruk dan pagi yang menyiksa.
Sindy mengambil jas itu kemudian menyetrika nya dengan lembut. Sementara sindy menyetrika, Niko menyiapkan dirinya sendiri. Mengambil kemeja putih, memakai kaus kaki dan sepatu sambil menunggu jas nya selesai di setrika.
Tok! Tok! Tok!...
"Tuan dan mbak sindy, Oma sudah menunggu untuk sarapan pagi." Ujar jumi dari balik pintu.
Niko menghampiri dan membuka pintu untuk jumi. "Bilang pada Oma 10 menit lagi kami siap." Kata Niko.
"Baik tuan." Angguk mbok jumi yang kemudian kembali pergi.
Sindy diam untuk beberapa detik. "10 menit bersiap? Oh tidak." Ucap sindy mulai panik. Ia pun mempercepat pekerjaannya.
"Ini jas nya sudah saya setrika. Saya taruh di atas kasur."
Sindy melipat karpet dan membereskan bantal serta selimut bekas nya tidur. Tak lupa ia juga membereskan tempat tidur milik Niko. Sindy bekerja secepat kilat. Ia segera berlari menuju kamar mandi.
"Waktu kamu tinggal 8 menit lagi." Kata Niko.
"Iya saya tau." Sahut sindy geram.
"Jangan sampai bikin Oma saya menunggu lebih lama."
"Saya tau pak. Tidak usah ajak bicara nanti saya kapan mandinya." Ujar sindy.
Niko bergidik. Ia berdiri di depan cermin dan memakai jas yang tadi sudah di setrika oleh sindy. Tiba-tiba terlintas niat jahat Niko untuk mengerjai sindy. Ia mengotak-atik ponselnya dan segera menelpon seseorang.
"Tangki air di kamar mandi saya penuh. Tolong matikan keran nya." Kata Niko memerintah orang tersebut.
"Baik tuan."
Niko tersenyum picik. Ia menghitung mundur seraya menunggu suara teriakan sindy yang panik karena tiba-tiba keran air mati.
"3.... 2.... 1...."
"Kenapa air nya mati." Teriak sindy. Niko tersenyum lebar ketika mendengar suara itu. Rencananya berjalan dengan mulus.
"Duuh, kamu bisa cepat sedikit gak sih? Ini sudah hampir jam 7 pas. Waktu kamu hanya tinggal 5 menit." Ujar Niko.
"Pak keran nya mati. Gimana caranya saya membilas badan saya yang penuh dengan sabun?."
"Kenapa tanya saya. Urus saja diri kamu sendiri. Saya tidak bisa menunggu kamu lebih lama."
"Aduuuhhh kelilipan, Perih banget." Teriak sindy.
"Tidak usah drama."
"Ini beneran pak, mata saya kemasukan sabun. Haduuh periiiiihhh." Ujar sindy yang merengek kesakitan.
Niko mulai panik mendengar rintihan itu. Ulah nya yang usil menimbulkan celaka. Ia pun kembali menelpon seseorang yang barusan ia telpon untuk kembali menghidupkan kembali keran air nya.
"Sekarang air nya sudah kembali menyala. Cepat bersiap. Bilas mata kamu dengan air." Suruh Niko yang diam-diam khawatir pada sindy.
Sindy menuruti perintah Niko. Ia segera membilas tubuhnya dan juga mata nya yang terkena sabun. Segera berganti baju lalu keluar dari kamar mandi untuk bersiap.
Rasa perih di mata masih sindy rasakan. Sindy terus mengucek matanya hingga membuatnya kembali merintih kesakitan.
"Aduuuhhh..."
Niko melirik kearah sindy. Di lubuk hatinya yang terdalam ia merasa iba dengan sindy. Karena ulah nya dia jadi seperti itu. Niko menarik tangan sindy. Sindy terperanjat kaget karena tiba-tiba Niko memegang tangan nya. Posisi tubuh keduanya saling berdekatan dan kedua mata mereka saling bertemu di satu titik.
Dengan cekatan Niko meniup mata kiri sindy yang kelilipan. Huufftttt seketika itu juga rasa perih dimata hilang. Sindy terus menatap Niko seakan tak percaya kalau ia akan melakukan hal ini. Sindy seolah di perlihatkan sosok lain dari seorang Andreas Niko Ferlando.
Niko segera menyudahi aksinya yang bisa dibilang merupakan bentuk kecil dari perhatian. Ia menjauhkan tubuhnya dari sindy dan kembali bersikap 'sok' di hadapan sindy.
"2 menit lagi! Segera selesaikan penampilan kamu."
Sindy mengangguk lalu berbalik badan membelakangi Niko. Jantungnya berdegup kencang. Senyum tipis menghiasi bibir manis sindy. Apa yang barusan terjadi benar-benar di luar dugaannya.