
Niko berjalan menyusul sindy yang sudah sampai di depan kantor. Niko berusaha menghentikan langkah istrinya itu dengan menarik tangan kirinya. Tubuh sindy berputar, sampai membuat sindy harus terjatuh di pelukan Niko. Tatapan saling memandang pun tak terhindarkan. Wajah keduanya begitu sangat dekat, jantung sindy sampai berdegup kencang dan sepertinya begitu juga dengan Niko.
"Maaf." Kata sindy yang langsung melepas pelukan Niko.
"Kamu mau kemana? Biar saya antar." Ucap Niko bersikap gentleman.
Sindy merasa aneh dengan kalimat yang terlontar dari mulut Niko. Tumben sekali!
"Saya mau langsung pulang." Jawab sindy yang masih terus menahan rasa sakitnya.
"Ikut saya!." Kata Niko tegas. Segera ia membukakan pintu mobil untuk sindy. Dan lagi-lagi sindy tercengang melihat tingkah Niko yang mendadak begitu baik. Padahal pagi tadi ia sempat di caci maki olehnya.
"T-tapi pak mau kemana?." Tanya sindy bingung.
"Biasakan untuk tidak banyak bicara."
***
Keduanya sampai di sebuah klinik kesehatan yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor.
"Klinik dokter gilang." Sindy membaca papan nama yang terpampang jelas di depan pintu masuk.
"Untuk apa kita kesini pak?."
"Tangan kamu terluka, itu harus di obati." Kata Niko sembari berjalan masuk meninggalkan sindy yang masih terheran dengan perlakuan Niko yang sejatinya begitu peduli dan perhatian padanya.
Sindy tersenyum tipis melihat aksi Niko yang diam-diam peduli namun terhalang oleh gengsi.
"Ada yang bisa saya bantu pak?." Tanya seorang resepsionis.
"Saya mau bertemu dokter gilang, ada?." Ujar Niko.
"Ada. Kebetulan dokter gilang sudah selesai memeriksa pasien. Silahkan, mari saya antar untuk menemui dokter gilang." Resepsionis itu berjalan menuju ruangan sang dokter. Di belakangnya ada Niko dan sindy yang mengikuti resepsionis itu berjalan.
Tok, tok, tok!
"Permisi dok, ada yang ingin bertemu dengan dokter."
"Ya silahkan masuk." Dokter gilang mempersilahkan Niko dan sindy untuk masuk.
"Eh pak Niko, saya kirain siapa. Mari pak duduk, ada yang bisa saya bantu?."
Niko tersenyum ramah. Keduanya sudah saling mengenal satu sama lain, sebab Niko adalah pasien dokter gilang. Beberapa bulan lalu Niko sempat di rawat dua hari lantaran ada gangguan pada pencernaan nya, karena efek terlalu banyak mengonsumsi kopi. Semenjak itu keduanya jadi kenal dekat.
"Selamat pagi dok."
"Pagi juga. Ada apa ya pak? Apa ada masalah dengan pencernaan lagi?."
"Oh tidak bukan itu dok. Saya kemari ingin mengobati luka di tangan istri saya. Tangan nya terluka tanpa sebab." Jelas Niko.
"Ya ampun darah nya banyak sekali. Kenapa bisa terjadi?." Tanya dokter pada sindy.
"Emmm, tadi pagi saya tidak sengaja menjatuhkan piring. Saat saya ingin membereskannya tangan saya tertusuk pecahan piring." Jelas sindy yang membuat Niko bereaksi kaget.
"Sudah sempat di obati?."
"Hanya di bersihkan dan di beri obat merah dok." Jawab sindy.
"Iya dok." Angguk sindy.
Dokter gilang mengambil kotak obat di lemari yang ada di dekat kursinya. Ia mulai mengobati luka sindy dengan sangat hati-hati. Rupanya masih terdapat pecahan piring yang menancap di tangannya. Bentuknya kecil namun itu sangat menyakitkan.
"Tahan sedikit ya."
"Pelan-pelan dok." Kata sindy sedikit ketakutan.
"Iya, yang penting kamu tenang jangan panik."
Sindy memejamkan matanya berusaha untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sudah selesai." Kata dokter gilang seraya merapikan kembali peralatan medis nya.
Sindy membuka mata dan benar saja, tangannya sudah kembali di perban rapi oleh dokter tanpa ada rasa sakit yang mendalam.
"Tidak sakit kan." Ujar dokter gilang. Sindy tersenyum menatap dokter itu. Ia khawatir tanpa alasan.
"Ini saya berikan obat dalam dan luar ya pak Niko. Yang ini di minum 3X1, dan yang ini obat oles nya. Harus di minum tepat waktu ya pak Niko, setelah makan. Dan ini di oleskan setelah selesai mandi."
"Iya dok." Angguk Niko.
"Kalau ada keluhan lagi datang saja kemari."
"Baik dok." Angguk Niko dan sindy.
"Kalau begitu permisi dulu ya dok. Sekali lagi terimakasih" Pamit Niko.
"Iya pak, sama-sama."
**
"Terimakasih pak sudah bawa saya kemari." Ujar sindy. Hati nya benar-benar berbunga ketika melihat aksi Niko yang begitu khawatir padanya.
"Lain kali hati-hati." Sahut Niko. Ia berjalan menuju mobil, disusul sindy yang berjalan di belakangnya lalu membuka pintu mobil untuk masuk.
"Eh mau ngapain?." Tanya Niko ketika sindy akan masuk kedalam mobil nya.
"Mau masuk."
"Cari taxi saja." Suruh Niko.
"T-tapi pak."
"Kamu ke kantor saya naik apa, Taxi bukan?." Sindy mengangguk.
"Yasudah, sekarang pulang naik taxi saja. Saya masih banyak kerjaan di kantor. Ini uang ongkos nya." Niko menggumpal kan uang seratus ribu menjadi bentuk bulat. Ia kemudian melemparkannya ke sindy.
"Ohiya, terimakasih karena sudah mengantarkan dokumen saya."
Niko masuk kedalam mobil nya. Ia benar-benar meninggalkan sindy di tempat itu seorang diri. Pagi ini Niko sudah meninggalkan dua wanita, pertama Nesya sang sepupu dan sindy sang istri. Hati nya mungkin terbuat dari batu sehingga ia tega melakukan itu.
"Bisa gak sih kalau sudah berbuat baik, ending nya jangan jahat kayak gini, sebel banget deh. Hiikkss!."