
Sindy membereskan piring bekas sarapan pagi ini bersama mbo jumi. Ini menjadi kegiatan yang sindy lakukan ketika pagi.
"Sudah biar mbo jumi aja non." Ujar mbo jumi dengan lembut.
"Gak papa mbo. Dulu sewaktu dirumah aku juga juga sering bantu ibu."
"Kalau Oma lihat pasti nanti di kira nya Jumi yang suruh-suruh non sindy. Sebaiknya non sindy jangan di dapur."
"Gak papa mbo. Lagian aku bingung mau ngapain dirumah ini. Biar aku ada kegiatan mbo."
"T-tapi non..." Kata mbo jumi.
"Lagian kenapa sih mbo kalau dia ikut bantu-bantu dirumah ini? Toh, pekerjaan mbo jadi lebih ringan. Lagian mau ngapain lagi dia kalau gak bantu-bantu, mau numpang hidup? Minimal dia ada manfaatnya dirumah ini." Ujar Mira dengan kata-kata pedas nya.
Ya, kata-kata kasar seperti itu sudah sering sindy dengar dari mulut Mira, menantu keluarga Lesmana. Mira menikah dengan Fauzan yang tak lain adalah anak kedua dari Oma Risma. Sementara ayah Niko adalah anak pertama Oma yang kini telah berpulang alias meninggal pada 2019 lalu akibat serangan jantung.
Sindy berusaha untuk membiasakan telinga serta batin nya untuk bisa menerima dengan legowo perkataan kasar yang Mira lontarkan kepada nya.
"Biarin aja sindy yang beresin semuanya." Suruh Mira yang langsung di iyakan oleh mbo jumi.
"Iya non." Angguk mbo jumi.
"Sini mbo biar saya bantu."
"Kamu pikir, kamu akan menjadi tuan putri di rumah ini? Saya pastikan akan bikin kamu menderita." Mira tersenyum licik menatap tajam kearah sindy.
Kebencian Mira terhadap sindy bermula ketika Oma menjodohkan Niko dengan sindy. Padahal Niko tengah menjalin hubungan dengan Luna, yang tidak lain adalah keponakan Mira.
Mira kembali mengambil kesempatan dari rasa benci yang Niko tunjukkan pada sindy. Ia merasa memiliki teman yang sama-sama membenci sindy.
"Setelah ini cuci piring nya dengan bersih. Jangan sampai ada noda yang masih menempel." Ujar Mira.
Sindy mengangguk dengan senang hati. Baginya ini hal mudah dan bahkan sebelum menikah, sindy sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah seperti ini.
Sindy melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Ia membagi tugas dengan mbo jumi agar cepat selesai. Mbo jumi merapikan meja makan dan membawa semua piring kotor ke wastafel. Sementara sindy bertugas mencuci piring.
Mira berdiri di dekat sindy. Tangannya berpangku di dada sambil memperhatikan sindy bekerja.
Tanpa sengaja sindy menjatuhkan piring yang sedang ia pegang. Tangannya licin karena sabun. Piring itu meluncur bebas ke lantai hingga berserakan menjadi beling. Piring itu hampir saja mengenai kaki Mira.
"Ha ya ampun." Sindy berteriak ketika melihat piring itu terjatuh.
"Aaaa." Mira berteriak tak kalah hebohnya.
"Sindy! Kamu sengaja ya mau celakain saya?." Bentak Mira.
"Maaf tante sindy gak sengaja, maaf." Kata sindy dengan gemetaran.
"Saya lihat kamu sengaja menjatuhkan piring itu. Supaya apa? Supaya saya celaka?." Ujarnya dengan nada bicara tinggi. Matanya bahkan hampir keluar ketika menatap tajam kearah sindy.
"Enggak tante, sindy benar-benar tidak sengaja. Piring nya licin jadi... Terjatuh."
"Alasan saja! Cepat beresin. Dasar tidak becus!." Mira kembali bicara dengan nada tinggi. Setelah itu ia pergi menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
Sindy mencuci tangannya dan langsung membereskan pecahan piring itu dengan tangannya yang tanpa perlindungan. Akibatnya telapak tangan sindy terluka. Mbo jumi sempat histeris ketika melihat darah yang bercucuran dari tangan sindy.
"Aaww." Sindy menahan rasa sakit itu. Ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak panik. Perlahan ia membuka matanya seraya menatap kearah tangannya yang bercucuran darah.
"Ya ampun non tangan non berdarah."
"Gak papa mbo. Cuma perih sedikit." Kata sindy.
"Iya mbo." Sindy berdiri dari jongkok nya dan langsung mencuci tangannya yang bercucuran darah. Sementara itu mbo jumi bergegas pergi mengambil kotak p3k.
***
Oma turun dari lantai atas menuju dapur ketika ia mendengar suara sayup pecahan piring. Oma melihat Mira yang nampak kesal masuk menuju kamarnya.
Oma juga melihat mbo jumi yang berjalan ketar-ketir mencari kotak p3k. "Mbo cari apa?
" Tanya Oma.
"Anu Oma, itu non sindy."
"Sindy, kenapa?." Tanya Oma mulai khawatir.
"Tangan non sindy berdarah akibat terkena pecahan piring."
"Ya ampun kok bisa. Sekarang dimana dia?."
"Di dapur Oma. Saya suruh non sindy untuk mencuci tangannya."
"Terus kamu lagi cari apa?."
"Kotak p3k."
"Ambil saja di kamar saya, cepat."
"Iya Oma." Mbo jumi segera bergegas ke kamar Oma dan mengambil kotak p3k yang ada disana.
Oma segera menghampiri sindy ketika tahu bahwa ia terluka. "Sindy, ya ampun kamu gak papa?."
"Gak papa Oma, cuma kegores aja." Kata sindy. Wajahnya terlihat jelas kalau ia sedang menahan rasa sakit.
"Duuh kok bisa sih?."
"Tadi gak sengaja terjatuh Oma. Soalnya tangan sindy licin kena sabun."
"Kamu sih gak hati-hati. Ini si Jumi mana lagi, ngambil kotak p3k kok lama banget. Jumiiii." Oma berteriak sekuat tenaga.
"Iya Oma Jumi datang." Katanya dengan napas terengah-engah.
Oma segera memberi anti septik pada tangan sindy. Memberinya obat merah lalu kemudian membalutnya dengan perban.
"Lain kali hati-hati ya. Lagi pula siapa yang suruh kamu mencuci piring?." Tanya Oma.
"Jumi sudah larang Oma tapi non sindy yang memaksa ingin membereskan semua ini." Ujar jumi menjelaskan. Tangannya gemetar. Ia sangat takut jika Oma memarahinya.
"Iya Oma itu keinginan sindy sendiri. Lagi pula sindy bingung harus apa di rumah."
"Besok tidak usah lagi melakukan pekerjaan rumah, kan sudah ada Jumi. Tugas kamu mengurus Oma saja."
"Iya Oma." Angguk sindy.
"Dan kalau sampai sindy memaksa ingin membereskan semua ini, laporkan kepada saya."
"Baik Oma." Angguk Jumi paham.
"Mari Oma antar ke kamar kamu."