Revenge Ended In Love

Revenge Ended In Love
1



Niko duduk di kursi sambil terus fokus pada layar ponselnya. Beberapa kali suara derap langkah terdengar dari arah belakangnya. Niko membalikkan tubuhnya dengan cepat. Ia terkejut, dan sepertinya benar-benar terkejut ketika melihat hasil make-over penampilan dari Sindy. Mulutnya menganga dan mata nya terbuka lebar sampai tak berkedip sedikit pun.


"Sungguh, benarkah ini sindy?."


Niko menatap sindy dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perfect! Niko rasa itu kata yang tepat untuk menggambarkan penampilan sindy malam ini.


"Bagaimana dengan penampilan saya?." Tanya sindy. Ia merasa ada hal aneh yang menyebabkan Niko terdiam sampai tak berkutik seperti itu.


"Saya harap penampilan saya tidak membuat bapak merasa, ilfil."


"Ouh tidak, kamu terlihat berbeda. Saya suka." Puji Niko dengan gaya cool nya.


"Jadi secara tidak langsung bapak memuji saya cantik ya? Hehehe." Goda sindy.


"Saya tidak bilang kamu cantik. Saya hanya suka dengan baju dan style nya. Mungkin kalau orang lain yang pakai itu akan terlihat cantik." Ujar Niko dengan kata-kata pedas nya.


Sindy terdiam. Tingkahnya memang selalu salah di mata Niko. Padahal sindy yakin betul kalau Niko sangat terpukau dengan penampilannya malam ini. Hanya saja dia gengsi untuk mengutarakan nya.


"Oh iya gimana sama warna lipstik yang saya pakai ini?." Tanya sindy terus menerus membuka obrolan.


"Biasa aja. Terlihat sangat merah, kamu seperti orang yang habis meminum darah."


"Masa sih pak? Padahal ini warna merah nya gak terlalu terang bahkan bisa dibilang ini pink. Darah apa yang berwarna pink pak?." Tanya sindy polos.


"Sudahlah tidak usah banyak bicara. Saya sudah terlambat dan ini semua karena kamu. Nyesel saya bawa kamu ke sini kalau hasilnya seperti ini atau mungkin wajah kamu yang salah, entahlah. Bahkan baju mewah seperti ini terlihat biasa saja ketika kamu yang pakai."


Kata-kata Niko itu membuat hati sindy terluka. Sindy terheran, kenapa ya kok ada laki-laki yang perkataan nya sepedas itu. Tapi ya sudahlah sindy juga sadar kalau wajahnya tak secantik mantannya dulu. Sindy menghibur dirinya dengan tersenyum manis kearah Niko.


Sindy berjalan melangkah mendekati posisi Niko berdiri. Tangannya ingin meraih kearah Niko namun bukan Niko namanya jika tak membuat hati sindy sakit. Saat tangan sindy akan menggandeng tangan nya, ia malah pergi begitu saja meninggalkan sindy.


"Ekspetasi dan kehaluan tingkat tinggi." Gerutu sindy sambil berjalan menyusul Niko.


**


Sindy berdiri disamping pintu mobil sambil terus menatap Niko yang sibuk memakai kacamata hitam nya sambil membuka pintu mobil sebelah kanan.


"Kenapa malah diam. Saya sudah benar-benar terlambat." Ujar Niko.


"Bapak gak mau bukain pintu buat saya? Biar romantis gitu." Ujar sindy yang tak henti-hentinya merayu singa jantan.


"Jangan bikin saya marah!." Tegasnya.


Sindy buru-buru membuka pintu mobil dan langsung masuk kedalam mobil mewah milik Niko itu. Ia menghidupkan mesin mobil lalu tancap gas sekencang mungkin, membuat sindy menjadi panik dan ketakutan.


Sindy benar-benar ingin berteriak tapi ia harus mikir dua kali jika melakukan itu. Niko pasti akan jauh lebih marah padanya. Sangat sulit untuk meluluhkan hati singa jantan pemarah ini.


Beberapa orang sudah berkumpul. Tampak ada banyak sekali para pengusaha ternama yang hadir disana.


Dalam rangka suksesnya peluncuran produk baru yang di luncurkan oleh perusahaan Herlangga. Maka dari itu pihak perusahaan mengadakan pesta untuk merayakan kesuksesan besar dalam perusahaan nya itu. Niko selaku rekan bisnis turut hadir dan meramaikan acara tersebut.


"Halo pak Niko, selamat datang." Sambut pak Herlangga dengan hangat.


"Terimakasih sudah menyempatkan hadir ke acara saya." Lanjutnya.


"Sama-sama pak. Selamat untuk kesuksesan besar ini. Semoga setelah ini perusahaan saya juga akan mengalami kesuksesan besar seperti perusahaan bapak." Ucap Niko basa basi.


"Oh iya pak Niko datang bersama siapa? Istrinya ya? Cantik sekali." Ujar pak Herlangga yang tak segan untuk memuji kecantikan sindy.


"Halo pak, saya sindy." Ucap sindy.


"Iya ini istri, saya."


"Kok saya baru tau ya kalau pak Niko sudah menikah. Saya kira bapak masih melajang."


Niko tersenyum tipis menanggapi celetukan pak Herlangga yang menurut nya itu hanya omong kosong belaka.


"Tidak usah tersenyum berlebihan. Dia tidak benar-benar memuji kamu. Penampilan kamu tetap biasa saja." Ujar Niko yang berbisik pada sindy.


Seketika senyum itu hilang dari bibir manis sindy. "Hanya omong kosong." Lanjut Niko.


"Lalu kenapa? Biarkan saya menikmati omong kosong ini." Sahut sindy. Ia kembali tersenyum ketika ada orang yang yang tersenyum mengapa nya dan Niko.


"Saya dengar dari kejauhan ini istri anda?." Tanya pak Raghaf seraya menghampiri Niko.


Niko menatap sindy sejenak lalu tersenyum sangat manis kepada pak Raghaf sambil menganggukkan kepala seraya membenarkan apa yang pak Raghaf tanyakan.


"Selain cerdas dalam hal bisnis anda juga ternyata cerdas dalam hal memilih pasangan. Istri anda benar-benar cantik dan menawan. Kalau boleh tau siapa nama nya?."


"Terimakasih pak Raghaf, istri anda bahkan jauh lebih cantik." Ujar Niko kembali memuji pak Raghaf dan istrinya.


"Saya sindy." Sahut sindy memperkenalkan diri.


"Saya Raghaf dan ini istri saya Nadine."


Sindy dan Nadine saling berjabat tangan memperkenalkan diri mereka masing-masing.


"Mari pak Niko nikmati hidangan yang ada." Ujar pak Herlangga.


"Terimakasih pak. Kalau begitu saya permisi." Niko menggandeng tangan sindy dengan erat. Ia mengajaknya ke sebuah meja yang diatasnya sudah tersedia makanan dan minuman. Untuk sesaat sindy merasa diatas awan ketika Niko akhirnya benar-benar memegang erat tangan sindy.


"Tuhan.. dia benar-benar menggenggam tangan ku. Ekspetasi dan kehaluan yang nyata." Kata sindy dalam hatinya.


"Saya bingung, ini siapa ya yang berbohong? Bapak atau mereka-mereka." Ucap Sindy membuka obrolan ditengah bising nya suara musik.


"Maksud kamu apa?." Tanya Niko tak mengerti.


"Bapak bilang penampilan saya biasa aja tapi mereka bilang saya terlihat sangat cantik."


"Sudah saya bilang mereka hanya bicara omong kosong."


"Kalau memang itu omong kosong tolong katakan sekaliiii saja kalau saya cantik. Saya ingin dengar bapak bilang saya cantik."


"Tidak!."


"Apa salahnya sih pak memuji kecantikan istrinya sendiri."


"Kamu jangan mancing saya untuk marah ya!." Tegas Niko.


"Galak amat sih." Celetuk sindy.