
"Selamat pagi Oma, tante, om." Sapa Niko dengan senyum hangatnya.
"Hey, pagi." Sahut tante Mira yang mempersilahkan Niko untuk duduk di sebelahnya.
"Pagi cucu Oma yang tampan. Oh iya dimana sindy?." Tanya Oma.
"Masih bersiap." Jawab Niko.
"Duuhh kak sindy lama banget sih turunnya. Bisa terlambat aku." Gerutu Nesya.
"Kita sarapan duluan saja Oma." Kata Niko yang di dukung dengan anggukan Nesya.
"Sebentar lagi. Kita tunggu sindy dulu." Ujar Oma.
"Oma perut kita udah pada kelaparan. Nesya harus segera berangkat sekolah dan mas Faisal harus segera berangkat ke kantor. Niko juga udah pasti banyak kerjaan di kantor nya. Oma mikirin satu perut tapi melupakan perut kita semua. Lagi pula kegiatan sindy apa sih? Cuma duduk dirumah." Ujar Mira yang tak segan protes kepada Oma.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Begitulah pepatah yang tepat saat sindy tiba-tiba datang dengan penampilan yang dirasa masih berantakan.
"Selamat pagi Oma." Sapa sindy seraya merapikan rambutnya yang terurai menutupi sebagian wajah.
"Pagii, mari sarapan." Ajak Oma yang menyuruh sindy untuk duduk di sebelah Niko.
"Pagi ini kami semua harus menahan lapar dan itu karena kamu!." Bisik Niko pada sindy.
"Maaf."
"Sindy lain kali harus lebih cepat untuk bersiap nya. Anak saya sudah hampir terlambat karena kamu." Ujar tante Mira.
"Iya tante, maaf."
**
"Kak Niko ikuuuut." Ujar Nesya yang berlarian menghampiri Niko di depan gerbang rumah.
"Nesya ikut ya kak. Kak Niko kan kalau nyetir mobil nya gebut jadi kemungkinan besar untuk terlambat nya kecil. Boleh ya kak." Ucap Nesya memelas.
"Please." Sambung nya.
"Masuk." Suruh Niko. Nesya tersenyum sumringah ketika Niko mengiyakan permintaan nya.
"Sorry ya kak Nesya gak bermaksud untuk ngerepotin kak Niko. Tapi coba aja kalau kak sindy lebih cepat turunnya mungkin jam segini Nesya udah di sekolah." Ujar Nesya.
Niko diam tak bergeming. Ia bahkan tak menghiraukan ucapan sepupunya itu. Matanya terus terfokus pada jalan. Suasana di dalam mobil seketika hening. Nesya yang super aktif mencoba untuk membangun suasana ceria di tengah keheningan bersama Niko.
"Kak." Sahut nya.
"Hhhmmm.." balas Niko bergumam.
"Oma kenapa sayang banget ya sama kak sindy? Sampai sarapan pagi aja harus nungguin kak sindy." Tanya Nesya.
"Mana kakak tau." Jawab Niko super cuek.
"Kak Niko, kok bisa sih nikah sama kak sindy? Setahu Nesya kakak kan gak pernah mau dekat sama cewek. Jangankan sama orang lain sama sepupunya sendiri aja cuek."
"Atau diam-diam sebenarnya kakak itu udah punya pacar? Atauuuuu.."
"Apa yang kak Niko rasain setelah menikah?."
"Menurut Nesya kak sindy itu orang nya baik sih terus cantik juga. Tapi kenapa ya mama kayak gak suka gitu sama kak sindy. Kakak tau kenapa?."
"Oh satu lagi, kak sindy itu orang mana? Maksud Nesya orang tua kak sindy itu tinggalnya dimana? Kapan-kapan ajakin ya kak."
"Ceritain dong kak awal pertemuan kakak sama kak sindy. Nesya penasaran deh cowok cuek sedingin kak Niko, kok bisa gitu jatuh cinta sama kak sindy."
"Eh Nesya juga belum pernah liat foto pernikahan kak Niko sama kak sindy. Kan waktu kakak nikah Nesya lagi di Jerman sama kak ken."
"Kapan-kapan Nesya lihat ya kak." Pinta gadis berusia 16 tahun itu.
Niko menginjak pedal rem secara mendadak. Membuat sang sepupu terkejut dan sampai harus membentur bagian depan mobil.
"Awww kak, sakiiiiit." Teriak Nesya seraya mengelus keningnya yang kesakitan.
"Silahkan turun." Ucap Niko.
"Hah?." Nesya terkejut dengan ucapan Niko.
"Kakak bilang silahkan turun."
"T-tapi kenapa kak? Kan sekolahan nya masih jauh." Kata Nesya yang terlihat bingung kenapa mendadak Niko menyuruhnya untuk turun.
"Kamu terlalu banyak bicara. Anak kecil seperti kamu tau apa tentang kehidupan kakak. Sebaiknya turun."
"Kak Niko tega ninggalin aku di jalanan kayak gini?."
"Cepat turun, kakak sudah terlambat masuk ke kantor." Ujar Niko yang ketiga kali nya menyuruh Nesya untuk turun.
Nesya terpaksa turun dari mobil. Ia masih tak menyangka dengan sikap egois kakak sepupu nya itu. Banyak bicara? Apa yang salah dengan pertanyaan sederhana itu. Menyebalkan!
Niko langsung tancap gas meninggalkan Nesya seorang diri di pinggir jalan.
"Tega banget sih jadi orang! Awas aja bakal Nesya bilangin ke mama." Ancam Nesya dengan mata yang berkaca-kaca.
Gadis 16 tahun itu putus asa bagaimana caranya supaya sampai ke sekolah mengingat waktu sudah hampir menunjukkan pukul setengah delapan pas.
Selang beberapa menit seorang lelaki datang menghampiri Nesya dengan kendaraan motor jadul nya. Pria itu ternyata teman Nesya.
"Nes." Sapa nya.
"Kok jalan?." Tanya keval.
"Aku ikut ya val, please." Pinta Nesya.
"Boleh aja sih. Tapi bukan nya kamu gak pernah mau ya kalau aku boncengin pakai motor jadul ini."
"Untuk hari ini aku mau. Udah buruan udah terlambat nih."
"Yaudah naik." Keval menyuruh Nesya untuk segera naik ke atas motor nya.