Revenge Ended In Love

Revenge Ended In Love
5



Niko membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Tak ada wajah penyesalan dari Niko yang telah meninggalkan adik nya di tengah jalan.


Yeah, itulah Niko. Seorang pria yang kehidupan pribadinya sangat tertutup. Seorang pria yang kejam juga tentunya.


Niko telah sampai di kantor. Seorang security menghampiri Niko lalu membukakan pintu mobil.


"Selamat pagi pak." Sapa security itu dengan senyum hangatnya.


Niko mengangguk seraya tersenyum singkat.


"Parkiran mobil saya." Kata Niko memberikan kunci mobilnya.


"Baik pak."


"Nanti antar ke ruangan saya."


"Iya pak, baik."


Niko berjalan masuk kedalam kantor mewah miliknya. Semua karyawan berdiri menyambut kedatangan nya.


"Selamat pagi pak." Kata mereka kompak.


Lagi-lagi Niko merespon nya dengan senyuman tipis singkatnya.


"Sudah cukup, jangan melempari saya dengan senyuman. Kembali bekerja." Ujarnya bersikap dingin.


"Baik pak."


"Tolong buatkan saya kopi." Pinta Niko pada office boy.


"Iya pak." Angguk nya.


**


Niko duduk di kursi kerjanya. Mata dan tangannya terfokus pada layar laptop yang sejak tadi ia buka. Ia memeriksa beberapa dokumen penting untuk meeting Minggu depan.


Tok tok tok! Seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk." Kata Niko yang mempersilahkan masuk.


"Permisi pak, saya mau meminta dokumen yang kemarin bapak tanda tangani." Pinta sasya selaku asisten pribadi nya.


"Ohiya saya lupa. Mungkin tertinggal di mobil." Ujarnya sambil menelfon sang pegawai untuk mengambilkan berkas dokumen nya di mobil.


Beberapa saat kemudian Denis, orang yang tadi di telpon Niko datang menghampiri Niko dengan tangan hampa.


"Maaf pak Niko berkas yang bapak bilang tidak ada di dalam mobil." Kata nya memberi laporan.


"Gak ada? Kok bisa tidak ada?!."


"Kamu sudah cari yang benar apa belum?." Tanya Niko.


"Sudah pak. Saya sudah cek semuanya tapi tidak ada."


"Yasudah kamu silahkan keluar."


"Baik pak." Angguk Denis yang langsung melangkah pergi dari ruangan itu.


"Kamu juga silahkan keluar. Nanti akan saya panggil jika dokumen nya sudah ada." Kata Niko pada sang asisten pribadi.


"Baik pak." Sasya ikut menyusul Denis yang beberapa detik lalu keluar meninggalkan ruangan sang bos.


"Perasaan sudah saya taruh berkas itu di dalam mobil. Apa saya lupa?." Niko mulai mengingat dimana keberadaan dokumen itu.


"Apa mungkin tertinggal di rumah?."


Niko meraih ponselnya dan langsung menelpon ke nomor telpon rumah.


"Halo." Suara seorang wanita dari seberang sana. Suara yang sudah Niko kenal. Itu mbo jumi.


"Halo mbo, saya minta tolong. Berkas dokumen saya tertinggal di rumah. Siapapun tolong bawakan dokumen itu ke kantor saya. Saya tunggu!." Kata Niko dengan jelas.


"Baik tuan. Tapi mohon maaf, berkas dokumen nya yang warna apa ya?."


"Yang warna merah."


"Baik tuan. Segera dokumen nya di antar."


"Yaaa."


***


Oma mengantar sindy menuju kamarnya. Sementara sindy berusaha untuk menahan rasa sakit akibat luka terkena pecahan piring. Ia berusaha setenang mungkin dan tak ingin membuat sang Oma ikut panik.


"Kamu istirahat saja. Jangan pergi kemana-mana." Kata Oma.


"Iya Oma."


"Tunggu Oma ambilkan perban dulu. Darah kamu terus saja mengalir. Atau kita pergi ke rumah sakit saja ya." Ajak Oma.


"Tidak usah Oma. Beri perban saja. Nanti pasti darah nya berhenti."


"Kamu ini memang keras kepala ya."


Oma mengambil kotak perban di laci dekat pintu kamar mandi. Tanpa sengaja Oma melihatĀ  sebuah baju yang terbakar di buang di tong sampah. Oma ingat betul itu adalah baju milik sindy yang beberapa hari lalu ia belikan di mal. Oma pun mempertanyakan baju itu.


"Iya Oma." Jawab sindy tanpa memandang Oma.


"Kenapa baju ini terbakar?." Tanya Oma yang menunjukkan baju itu pada sindy.


Sindy menoleh kearah Oma yang berdiri sembari memegang baju milik nya yang terbakar tadi malam.


Wajah sindy mendadak pucat. Ia panik dan bingung akan menjawab apa ketika Oma bertanya kenapa baju ini bisa terbakar.


"Eeuummm itu Oma, tidak sengaja terkena obat nyamuk." Jawab sindy sekenanya.


"Obat nyamuk? Sejak kapan di rumah ini pakai obat nyamuk? Jujur sama Oma." Kata Oma memaksa sindy agar berkata jujur.


"Ituuuu.."


Tok tok tok!


"Permisi Oma, saya disuruh tuan Niko untuk mengambil berkas dokumen nya yang tertinggal." Kata mbo jumi yang mendadak datang.


Sindy menghela nafas lega. Setidaknya ia bisa menghindar hari ini dari pertanyaan Oma.


"Berkas yang mana?." Tanya sindy mengalihkan perhatian Oma.


"Kata tuan berkas yang berwarna merah."


Yeah, sindy ingat dengan dokumen merah itu. Tadi pagi sempat ia taruh di dalam lemari. Karena ia pikir berkas itu sengaja ditinggalkan oleh Niko.


"Mungkin berkas yang ini." Sindy mengambil berkas itu dari dalam lemari dan menunjukannya pada mbo jumi.


"Mungkin saja iya." Mbo jumi meraih dokumen itu dari tangan sindy.


"Oma, Jumi permisi mau mengantar berkas ini ke kantor tuan Niko." Pamitnya sebelum pergi.


"Euuh mbo biar saya saja." Kata sindy dengan senang hati.


"Tapi tangan kamu masih terluka." Kata Oma kembali khawatir.


"Tidak apa Oma, Sindy bisa. Nanti sindy pesan taxi online."


"Yasudah hati-hati."


"Sindy pamit." Katanya seraya meraih tangan Oma lalu menciumnya.


**


"Permisi pak, kopi." Ujar Tono, OB kantor yang selalu membuat makanan dan minuman dengan enak. Salah satu favorit Niko adalah kopi buatannya. Rasanya begitu pas, tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit.


"Yaa silahkan masuk."


"Selamat pagi pak Niko, ini kopi nya."


"Terimakasih."


"Ada yang bisa saya bantu lagi pak? Mungkin bapak butuh makanan? Atau cemilan?." Tanya Tono.


"Tidak, ini saja sudah cukup. Silahkan keluar." Suruh Niko.


"Baik pak." Angguk Tono yang langsung melangkah keluar dari ruangan Niko. Baginya suatu kehormatan ketika Niko, sang bos yang super duper dingin dan sikap cuek serta tegasnya tak lupa sifat galak nya juga menyukai hasil makanan atau minuman yang ia buat. Maka dari itu Tono selalu menyiapkan semuanya dengan sangat baik dan hati-hati.


Niko merasa cocok dengan kopi yang dibuat oleh Tono. Sensasi rasa dan aromanya tak kalah dari kopi yang dibuat oleh barista handal di kedai kopi ternama.


Perlahan ia menyeruput kopi itu. Aahh nikmat. Niko selalu merasa mood nya kembali membaik setelah meminum kopi buatan Tono.


Tok tok tok!


Suara itu terdengar dari balik pintu ruangannya. Niko kembali menyuruh orang tersebut untuk masuk. Rupanya yang datang sindy.


"Ngapain kamu kesini?." Tanya Niko yang langsung meletakkan cangkir kopi diatas meja. Niko sedikit terperanjat ketika melihat sindy ada dihadapannya.


"Saya kesini mau antar berkas bapak yang tertinggal. Mbo jumi bilang suruh diantar." Kata sindy.


"Yasudah mana berkasnya?." Niko menjulurkan tangannya seraya meminta dokumen itu untuk diberikan kepadanya.


Sindy memberikan dokumen itu. Dan dengan otomatis Niko melihat tangan sindy yang di bungkus perban. Niko menggenggam tangan sindy dan memastikan apa yang telah terjadi pada istrinya itu.


"Tangan kamu kenapa?."


"Tidak papa." Jawab sindy yang berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Niko. Tapi Niko tak semudah itu melepaskan tangan sindy.


"Kenapa bisa sampai di perban begini."


"Saya tidak papa pak." Kata sindy yang kembali melepaskan tangannya. Sedangkan Niko memaksa tidak ingin melepaskannya. Dan tanpa sengaja Niko menekan luka ditangan sindy. Perban yang semula putih berubah warna menjadi merah. Karena darah yang sempat terhenti kembali mengalir membasahi perban.


"Awww." Sindy kesakitan ketika luka itu kembali terbuka.


"Eeuuh kamu tidak papa?." Tanya Niko panik.


"Sakiiiiit." Rintih sindy yang masih mencoba menahan sakitnya.


"Maafkan saya. Saya tidak sengaja."


"Tidak apa pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Sindy melangkah keluar. Tangan kanannya ia pangku diatas tangan kiri. Bisa dibayangkan bagaimana Sindy merasa kesakitan.