
Dipagi hari yang cerah tepatnya pukul 06,25 tampak gadis cantik bernama Revalina Xaviera masih tidur dengan sangat pulasnya, sinar matahari yang masuk melalui celah celah jendela bahkan tak lekas mengganggu tidurnya yang nyaman. Selimut dan guling sudah berserakan dilantai kamar bernuansa dark blue dengan kombinasi warna gold membuat kamar itu tampak sangat elegan dan mewah, gadis itu tidur dengan posisi yang sangat tidak enak untuk dipandang, bagaimana tidak ia tidur dengan posisi kaki berada di atas ranjang sedangkan kepala gadis itu berada dilantai yang beralaskan karpet berbulu dengan gambar Doraemon kesukaannya.
Anak semata wayang dari pasangan ayah Indra Xavier dan Diana Xavier ini memang mempunyai sikap yang agak lain dari gadis pada umumnya, selalu ada saja tingkahnya yang membuat kedua orang tuanya geleng kepala, tapi meskipun begitu tentunya kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ayah Indra sangat memanjakan Revalina, berbeda dengan Bunda Diana yang selalu marah karena ulah jail dari Revalina.
"Kenapa lama sekali dandannya? Nanti kamu bisa terlambat ke sekolah, sayang." Ucap ayah setelah melihat putri cantiknya berjalan menuruni tangga.
Bunda Diana sudah menyiapkan roti dengan selai strawberry dan segelas susu rasa strawberry kesukaan Revalina, kini bunda sedang membuatkan kopi untuk ayah.
"Bun gimana penampilan Reva? Cantik kan." Tanya Reva dengan memperlihatkan rambutnya yang diikat dua dan kaca mata besarnya kepada bunda yang sedang mengaduk kopi untuk ayah.
Mendengar ucapan putrinya, ayah danbunda lantas mendongak untuk melihat penampilan putrinya dari atas sampai bawah dengan siempunya sibuk berputar-putar selayaknya seorang model, setelah menyadari penampilan anaknya yang menjadi culun ayah dan bunda berusaha mati-matian untuk menahan tawanya.
"Sayang, kenapa penampilan kamu seperti itu? Kamu kan siswa baru di sekolah itu, nanti kalau kamu dibully bagaimana?" Ujar ayah Indra yang hanya dibalas senyuman si gadis berkacamata itu.
"REVALINA!! Apa yang kamu lakukan kenapa berpenampilan seperti itu,, cepat kembali ke kamar dan perbaiki penampilanmu" Terdengar teriakan bunda
Gadis itu sontak menutup kedua telinganya karena bunda Diana berteriak sedikit kencang setelah memperhatikan penampilannya kali ini. Bunda Diana meminta agar putrinya merubah penampilannya tetapi gadis itu menolak dengan alasan ingin mendapatkan teman yang benar benar tulus padanya, tidak seperti disekolahnya terdahulu. Banyak yang ingin berteman dengannya hanya karena dia cantik saja.
"Udah dong sayang, biarkan saja jika Reva ingin berpenampilan nerd seperti ini, toh tujuannya karena dia ingin mendapat teman yang baik." Ujar ayah membela putrinya.
"Ayah jangan belain anak nakal ini dong! Awas saja nanti malem gak akan ada jatah." Ucap bunda Diana sambil meletakkan secangkir kopi kedepan ayah.
"Yah gak bisa gitu dong Bun."
"Ihh kaya anak kecil aja, emang ayah gak punya duit ya, tapi kan ayah kerja? Masa minta jatah sama bunda." Ucap Revalina dengan polosnya
Ayah Indra dan bunda Diana langsung melotot setelah menyadari keberadaan Revalina, setelahnya ayah langsung memerintahkan mereka untuk segera menghabiskan sarapannya.
"Oke yah." Ucap Revalina dengan mengacungkan ibu jarinya
Bunda Diana hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya, padahal dulu sebelum mereka pindah rumah Revalina adalah anak yang kalem dan penurut tapi kenapa sekarang menjadi bar bar seperti ini.
Revalina berangkat ke sekolah di antar ayah Indra, sekalian beliau berangkat ke kantor karena memang sekolah baru Revalina berada searah dengan kantor ayah.
"Stooopp...!! Ayah, Reva turun disini aja." Ujar culun eh gadis cantik berpenampilan culun itu
"Sekolah kamu masih jauh sayang,, masa mau turun disini nanti kalau telat gimana?" Ucap ayah sambil menatap gadis disebelahnya
"Gak apa apa yah, sebentar lagi juga sampai kok." Ucap gadis itu kemudian keluar dari dalam mobil
Ayah Indra menghela nafasnya melihat tingkah putrinya, kemudian ia mengikuti putrinya dengan memelankan laju mobilnya sampai sang putri tiba didepan gerbang sekolahnya, setelahnya ayah Indra mempercepat kendaraannya meninggalkan putrinya yang tersenyum menatap kepergian ayahnya.
Revalina lalu melangkah menuju keruang kepala sekolah, setelahnya ia berjalan mencari dimana letak kelasnya dan untung saja ia bertemu dengan seorang guru yang ternyata adalah wali kelasnya.
"Baik anak anak,, hari ini kalian kedatangan teman baru, perkenalkan dirimu" ucap Bu Mira
"Halo semua,, perkenalkan gw Revalina Xa." Ucap Reva sambil memperhatikan senyum manisnya.
Semua teman baru Reva menertawakan penampilannya yang di anggap berbeda bahkan tidak ada yang mau duduk sebangku dengannya.
"Yahh kirain cantik ternyata upik abu." Ucap salah satu siswa.
"Bahan bullyan baru nih." Ucap siswa perempuan bernamtag Radela Pratama.
"Sikat Del" ucap Nandira teman sebangku Radela
"Revalina,, sini duduk disebelah gw." Ucap seorang siswa tampan dan pintar dikelas itu yang bernama Putra Algara Marvin.
Revalina pun langsung berjalan kearah siswa yang tadi memanggilnya
"Apa!!! Gw yang udah lama pengen duduk disebelah Putra aja ditolak terus tapi ini si culun malah di ajak duduk, kurang cantik apa coba gw. Awas aja gw akan buat perhitungan sama si culun itu." Ucap Radela mengeram marah
Sesampainya di bangku siswa itu, Revalina langsung meletakkan tasnya di bangku kosong sebelah Putra dengan rasa canggung karena jujur saja Revalina tidak pernah duduk di sebelah laki laki selain ayahnya.
"H-haii,, g-gw Revalina." Sapa Reva memperkenalkan diri.
"Iya gw tau, kan tadi lo udah sebutin nama lo. Gw Putra Algara Marvin lo bisa panggil gw Putra tapi lo panggil gw Alga aja ."
Khusus untuk Revalina, Alga tidak mau dipanggil Putra.
Selesai dengan acara perkenalan, kini mereka melanjutkan proses pembelajaran sampai terdengar bel tanda jam istirahat telah tiba.
"Reva apa kamu sudah paham dengan penjelasan ibu tadi?" Tanya Bu Mira
"Eum sudah Bu, nanti kalau Reva kesulitan Reva akan bertanya kepada ibu atau teman teman yang lain." Jawab Reva pelan
"Cih murid baru aja belagu, padahal juga belum tentu bisa." Ucap Ulfa
"Kita lihat saja bisa apa si culun itu." Ucap Radela tersenyum remeh.
Mereka semua menatap sinis ke arah Revalina, tidak tahu saja kalo Revalina itu sangat pintar bahkan ia tidak pernah main main jika sedang belajar
"Ckck kita lihat saja." Gumam Revalina pelan.