Red Line

Red Line
Semua Ada Harganya



“Kamu sudah makan?” Gabriel melirik Sarah yang tanpa sadar memegangi perutnya sambil memejamkan mata.


“Belum.”


Wajar saja, Sarah baru sampai dari penerbangan jauh di waktu yang hampir mendekati makan malam. Terakhir kali dia makan adalah saat di pesawat siang tadi.


Gabriel melirik jam hitam mengkilap di pergelangan tangan kirinya.


“Kita makan dulu.”


Gabriel membelokkan mobil Porsche Panamera nya ke sebuah restoran mewah. Tadinya dia ingin membawa mobil Lamborghini Aventador SVJ Grigio Telesto kesayangannya, tapi teman-temannya memaksa ikut, jadi dia terpaksa menggunakan mobil sport 4 pintu yang lebih cocok digunakan untuk piknik bersama keluarga ini.


Sarah diam tak bersuara. Dia sangat lelah setelah menghabiskan waktu lebih dari satu hari di perjalanan dengan 2 kali transit di Hong Kong dan San fransisco. Bagaimana dengan papa dan mamanya? mereka mungkin sudah terbiasa dengan perjalanan bisnis ke luar negeri tapi bagi Sarah ini pertama kalinya.


Rasanya lebih lelah daripada saat pergi, karena sebelum pulang dia sempat melewati ruang dimensi dan berujung koma selama lebih dari seminggu. Tak hanya fisiknya yang lelah, jiwanya juga terasa lemah dan letih.


Sarah mengurai rambutnya, pakaian yang mereka pakai saat ini sangat casual, tidak sesuai dengan kesan restoran ini yang mewah dan romantis. Gabriel menyadari hal itu dan menggenggam tangan Sarah. Dia menarik kursi dan membiarkan Sarah duduk layaknya seorang pasangan yang romantis.


Sarah teringat kejadian di bandara tadi. Setelah Gabriel melepas pelukannya, tangis Sarah tumpah. Gadis itu seperti meluapkan semua beban yang ia tanggung. semua perasaan yang ia tahan tumpah begitu saja. Ingin sekali rasanya dia menceritakan semuanya pada Gabriel, tapi siapa yang akan percaya bahwa dia melewati ruang dimensi dan melihat pohon takdir?


Melihat itu pasangan Mike dan Stephanie Anderson malah mengira putri mereka menangis karena sangat merindukan sahabatnya. Jadilah mereka menyuruh Gabriel mengantar Sarah sekalian menghabiskan waktu berbincang berdua, Sementara itu, teman-teman mereka naik mobil yang sama dengan pasangan Anderson ke rumah utama mereka.


“Sarah.”


Panggilan Gabriel membuyarkan lamunan Sarah. Gadis itu dari tadi hanya menatapi daging


yang terhidang di piringnya. Japanese Wagyu Beef Fillet Mignon A5 dengan saus truffle itu terlihat sangat menggoda, tapi Sarah malah sibuk memikirkan hal lain.


“Apa steaknya tidak sesuai selera kamu?”


Sarah menggeleng, dia bahkan belum memakan satu suap pun. Melihat itu gabriel mengambil piring sarah dan mulai memotong-motong daging empuk dan juicy itu menjadi beberapa bagian yang lebih kecil.


“Gabby,” Sarah menahan tangan Gabriel, dia hendak memotong sendiri saja, tapi pria tampan itu memberikan senyum tulus serta tatapan lembut untuknya. Menandakan bahwa dia ingin menjamu Sarah malam ini, dan bahwa dia adalah orang yang selalu siap untuk membantunya.


Sarah menarik kembali jemari tangannya yang putih dan lentik. Gadis itu merasakan ketulusan hati Gabriel, dia tau cowok itu selalu menjadi garda terdepan setelah orangtuanya.


Sembari Gabriel sibuk dengan wagyu di piring Sarah, gadis itu malah sibuk memperhatikan Gabriel.


Alis tebalnya yang rapi, kulit eksotis dengan rambut halus di sekitar pipi sampai ke dagunya, rahang yang kokoh serta bibir merah yang terlihat plumpy membuat Sarah berpikir, kenapa selama ini dia tidak sadar kalau Gabriel sangatlah tampan? dengan wajah seperti itu saja sudah bisa menggaet banyak wanita cantik berebut ingin memilikinya. Bahkan selain wajahnya yang tampan dia juga memiliki tubuh atletis dengan tinggi sekitar 187cm.


Tapi dengan semua kelebihan yang dimilikinya itu dia malah belum pernah pacaran sampai saat ini. Wajar saja, bagi orang lain yang tidak dekat dengannya, Gabriel adalah sosok kulkas berjalan. Dinginnya bahkan melebihi kutub utara!


Gabriel hanya berbicara beberapa kata saja dengan orang yang memiliki kepentingan dengannya, tapi dengan Sarah dia bahkan bisa bertingkah konyol dan memasang ekspresi seperti anak kecil.


“Wajahku bisa bolong jika ditatap seperti itu,” Gabriel berkata sambil melirik Sarah dengan tatapan puas. Dia sadar gadis itu mulai menyadari pesonanya.


“Aku hanya bingung, bagaimana bisa wajah setampan itu tak kau gunakan dengan baik,”


Gabriel menghentikan kegiatannya dan menatap Sarah dalam-dalam, mencari sesuatu dalam manik matanya.


“Kau bertanya karena tak tahu?” Pria itu memicingkan matanya, dia tak menemukan binar yang dinginkannya dalam bola mata hijau keabuan milik gadis itu.


Sarah mengangguk, dia tahu Gabriel hanya memancingnya, maka dia mengalihkan pembicaraan dengan mengambil pring yang ada di tangan Gabriel. Daging di dalamnya sudah terpotong semua. Gadis itu megambil garpunya dan mulai menyuapkan satu persatu daging juicy itu ke mulutnya yang kecil.


“Ini enak sekali,” gumamnya lembut sambil sesekali menyuapkan kentang dan sayuran lain ke dalam mulutnya yang mungil itu.


Gabriel memanggil waitress untuk membawakannya sebotol anggur, dia menuangkan anggur merah itu ke dalam gelasnya dan meneguk sedikit. Pandangan matanya terkunci pada Sarah yang menikmati steaknya dengan pandangan terpaku pada piring di hadapannya.


Satu gelas telah habis diteguknya, dia menuang kembali anggur ke dala gelasnya hingga penuh. Gabriel tak mudah mabuk, butuh 3 gelas penuh untuk membuatnya sedikit pusing dan sebotol penuh anggur merah dengan kandungan alkohol 20% untuk membuatnya kehilangan kesadaran. Toleransi tubhnya terhadap alkohol cukup tinggi karena dia rajin berolahraga dan menjaga kesehatan tubuhnya.


“Aku tau sampai sekarang pun hatimu masih diisi olehnya, tapi kenapa kau tak membuka hatimu dan melupakannya? Aku akan menunggumu sampai saat itu.” Gabriel belum mabuk, dia berbicara seperti itu dengan keadaan sadar. Dia kembali ingin meneguk gelas itu sampai habis, tapi Sarah menahan tangannya.


“Hei, besok kau masih harus kuliah Gabby, kau harus mengikuti ujian,” Sarah berbicara dengan lembut, sangat lembut sampai hati Gabriel berdesir. Pria itu sadar, dia masih harus menyetir ke rumah Sarah, dia masih harus mengantarkan gadis itu dengan selamat, sehingga dia menghentikan minumnya dan kembali menyuapkan daging tenderloin ke mulutnya.


“Aku sudah selesai, ayo kita pulang.” Kata Sarah setelah selesai memasukkan suapan terakhir dari hidangan pencuci mulut, puding Frozen Haute Chocolate dan Ice Cream Sundae serta minuman lemonadenya


Gabriel kembali bersikap gentle. Dia menggenggam tangan Sarah dan membukakan pintu mobil untuknya. Gadis itu tersenyum manis atas perlakuan Gabriel, lesung pipinya tercetak jelas dan gigi gingsul mengintip dari sela-sela bibirnya yang merah merekah, tak sepucat saat di Bandara tadi.


“Gabriel,” Sarah memulai pembicaraan, perjalanan ini masih panjang dan akan sangat membosankan jika mereka hanya diam saja . Gabriel memalingkan wajahnya ke arah Sarah, “Ya?,” jawabnya lembut sambil menikkan kedua alisnya yang tebal dan rapi.


Jika gadis itu sudah memanggil namanya dengan Gabriel bukan Gabby, maka gadis itu akan berbicara sesuatu yang serius. Gabriel kembali fokus pada jalanan di depannya, tapi telinganya bersiap untuk mendengarkan perkataan yang akan keluar dari mulut Sarah.


Gadis itu membuka mulutnya, dia seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi bibir merah mungil berbentuk heart lips itu dia katupkan kembali. hening sebentar… Gadis itu kembali membuka mulutnya, tapi sepersekian detik kemudian dia kembali menutupnya.


Gabriel mengusap lembut punggung tangan gadis itu dan menggenggam jemarinya. Dipandangnya sebentar wajah cantik yang penuh kegelisahan itu, sorot matanya memancarkan kehangatan yang akan membuat siapapun yang melihatnya menjadi tenang.


Bibirnya dia tarik membentuk lengkungan yang sangat indah.


“Kamu lupa apa yang pernah aku bilang hm?,” nada suaranya rendah dan dalam, seperti melody yang menenangkan siapapun yang mendengarnya.


“Aku akan selalu ada kapan pun kamu membutuhkan, aku siap mendengarkan segala keluh kesahmu. Aku ingin menjadi tempat berbagi dimana kau bisa berbagi apapun denganku.” imbuhnya, kemudian mencium punggung tangan Sarah dengan lembut.


Mendengar itu membuat hati Sarah menjadi damai, ingin rasanya dia memeluk Gabriel saat ini juga, dan menumpahkan segala keluh kesahnya, tapi dia tahu bahwa Gabriel menyimpan rasa padanya. Akan sangat menyakitkan bagi Gabriel jika dia menceritakan tentang Daniel, pria yang memenuhi hatinya sehingga tidak ada ruang bagi siapapun untuk masuk hingga saat ini.


Sarah menghela nafas pelan, “Terimakasih,” ucapnya tulus, jemari tangannya yang digenggam Gabriel bergerak pelan, beralih mengusap punggung tangan kekar itu dengan lembut. Gabriel menepikan mobilnya pada rest area di jalan tol yang mereka lewati.


Pria itu memutar tubuhnya menghadap Sarah, pandangan mereka terkunci satu sama lain.


Gabriel mendekatkan wajahnya pada wajah Sarah, dia tidak sanggup lagi menahan hasrat untuk mencium bibir heart lips merekah itu. Sudah sejak lama dia ingin merasakannya, tapi dia tidak ingin gadis itu merasa terbebani, karena hatinya masih milik orang lain.


Gadis itu mendorong dada bidang Gabriel, dia memalingkan wajah tanpa menatap pria tampan itu sedikitpun. Gabriel mengerti, gadis itu belum siap untuk ini. Dia menarik nafas dan memundurkan tubuhnya, bersandar pada sandaran kursi mobilnya yang empuk.


“Maaf,” satu kata yang terlontar dari bibir mungil yang hampir saja dilahapnya, mampu meruntuhkan rasa sesak di dadanya. Gabriel tau Sarah masih belum membuka hatinya untuk saat ini. Pria itu mengannguk pelan, “Aku yang seharusnya mengucapkan itu,” ujarnya sambil tersenyum, senyum kecil yang hampir tak terlihat.


Sarah memutar tubuhnya ke arah Gabriel, tatapannya berubah serius. Dia merasa bersalah pada pria itu, tapi dia harus mengatakannya.


“Aku punya satu permintaan untukmu.” Bibir mungil itu berhenti bergerak, pandangannya menelisik ke dalam mata hazel terang Gabriel yang terlihat sedikit gelap karena cahaya lampu mobil yang temaram.


Gabriel balas menatap Sarah, dia memang pandai menyembunyikan isi hatinya tapi Sarah terlalu peka untuk bisa dikelabui. “Katakan saja, aku akan mengabulkannya selagi aku mampu,” ucap pria itu dengan tatapan yang tak lepas dari mata hijau Sarah, tatapan yang seakan mampu memberi seluruh isi dunia.


“Tolong buka hatimu untuk wanita lain.”


Ucapan itu membuat Gabriel membeku, dia melepaskan pandangannya dari Sarah, tangannya kembali menggenggam setir dan dia menghidupkan mesin mobilnya.


“Kita sudah terlalu lama disini, orang tua mu pasti khawatir,” ucapnya dengan pandangan fokus ke depan, tak sekalipun dia melirik gadis manis itu.


Mobil mahal itu kembali melaju di jalan tol, kali ini lebih cepat dari sebelumnya.


Sarah menggigit bibirnya, dia menelan saliva nya dengan susah payah. Matanya melirik ke arah pengemudi, pria itu tampak kacau sekarang, mungkin bukan saatnya membicarakan hal ini, tapi kalau bukan sekarang dia takut Gabriel akan menjadi seperti dirinya, terjebak dalam cinta yang tak dapat bersatu dan hanya meninggalkan luka.


“Kita tak bisa bersatu, Gabriel. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri.” Suara lembut itu terdengar sendu, pandangannya dia alihkan ke arah jendela.


Gabriel melirik sosok belakang wanita yang sepertinya sedang menahan tangis itu, ingin sekali rasanya ia mengelus punggungnya yang naik turun lebih cepat dari biasanya.


Gadis itu menoleh, matanya nanar, ada berbagai macam emosi yang tersimpan di dalamnya.


“Kau tau, mungkin kau tak akan bisa melihatku lagi.”