
Saat matahari mulai terbenam di atas tepi laut yang tenang, Sarah menemukan dirinya tertarik pada pria misterius yang tengah berdiri di tepi tebing. Sesuatu tentang sikapnya, cara rambutnya berkibar tertiup angin, siluet dirinya yang terkena matahari senja dan perasaan aneh yang muncul saat dia melihat pria itu memicu rasa ingin tahu dalam dirinya yang tidak bisa dia abaikan.
Pria dengan tinggi sekitar 180-an cm itu berbalik menghadap dirinya, mata biru yang tajam mengunci ke matanya, gadis itu merasakan punggungnya bergetar.
"Siapa kamu?" gadis muda itu bertanya, suaranya nyaris berbisik.
Pria di tepi tebing tersenyum, senyum kecil tapi tulus yang membuat jantungnya berdetak kencang. "Aku bagian dari dirimu yang hilang," dia berkata dengan suara yang terasa dalam dan kaya seperti lautan itu sendiri.
Ada sesuatu tentang dirinya yang terasa akrab bagi Sarah, seolah-olah dia telah mengenalnya seumur hidupnya. Gadis itu mengambil langkah lebih dekat, ditarik oleh kekuatan yang tidak dapat dijelaskan yang tampaknya berasal dari pria tampan di hadapannya ini.
Mereka berbincang lama, larut dalam cerita dan tertawa seperti teman lama. Sampai malam semakin larut dan bintang-bintang mulai muncul.
“Dimana saja kau selama ini?” Sarah menatap dalam mata biru milik pria itu, sorot matanya menyiratkan kerinduan, bahagia, kecewa dan sedih yang menyatu bagai perairan Selat Gibraltar.
Pria itu diam tak berkutik. Matanya menatap jauh ke arah bintang bintang yang bergemerlap dalam langit gelap nan sunyi. Hening lama sampai akhirnya pria berwajah mirip Andrew Garfield itu menatap dalam mata abu-abu kehijauan gadis di sampingnya dan mulai bicara.
“Sarah, kamu harus bahagia.”
Hanya itu yang diucapkan pria berwajah teduh itu, Ucapan yang tidak sesuai dengan pertanyaan sebelumnya. Tapi entah kenapa sarah merasa maknanya sangat dalam. Senyum pria itu seperti menyimpan sakit yang tak bisa dibaginya pada siapapun di dunia ini.
Baru saja Sarah hendak bicara, sebuah suara berteriak memanggilnya, “Sarah!”
Gadis itu menoleh, disana ada 4 cowok dan 4 cewek yang sebaya dengannya, raut wajah mereka terlihat khawatir.
Sarah menoleh kembali ke arah pria yang tadi mengobrol dengannya, pria itu menghilang. Tidak mungkin manusia menghilang secepat itu, apalagi ini di tebing pinggir pantai.
Seorang cewek memeluknya dan menarik tangannya menjauhi tebing itu. 3 cewek lainnya ikut menyambut dengan pelukan.
“Kenapa kamu tiba-tiba menghilang dari villa?” Selena, gadis dengan pembawaan paling dewasa diantara teman-temannya bertanya, terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya, wajar saja dia dijuluki ‘mommy’.
“Daripada itu, kamu ga apa-apa, Sarah? kenapa kamu duduk di pinggir tebing sendirian begitu.” Ann menatap Sarah dengan puppy eyes yang membuat siapapun yang bertatapan dengannya akan luluh.
“Kau membuat kami semua khawatir, Nona manis.” Cathy menjitak kepala Sarah pelan kemudian mengelus rambutnya gemas.
“Kau baik-baik saja, Sarah?” Celine menangkup wajah gadis itu dengan kedua telapak tangannya yang dingin.
“A-Aku baik baik saja,” suaranya bergetar, Sarah tak yakin dia sedang menenangkan orang-orang yang mengkhawatirkannya atau menenangkan dirinya sendiri.
*****
“Minum dulu.” Gabriel menyodorkan segelas air putih. Gadis di depannya masih diam terpaku, tatapan matanya kosong seolah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
“Kamu teringat dia lagi?” Nada suara Gabriel terdengar sangat khawatir.
Sarah menelan salivanya lalu menghela nafas panjang, akhir-akhir ini dia memang sering melihat pria itu dimanapun berada, biasanya pria itu hanya mengawasi, tapi kali ini mereka sempat berbincang lama.
“Aku tadi mengobrol dengannya di tebing.” Gadis bermata jernih itu memulai pembicaraan setelah menarik nafas panjang dan meminum air pemberian Gabriel.
“K-Kau mengobrol dengannya?” pemuda berkaos hitam dengan celana denim itu terkejut, apakah halusinasi Sarah semakin parah? bagaimana bisa dia mengobrol dengan sesuatu yang tak kasat mata.
“Ya, tapi aku lupa menanyakan nama dan hubungannya denganku.”
Gadis itu tampak menghela nafas sebelum melanjutkan,
“Aku merasa sangat familiar dengannya, tapi aku tak mengingat apapun tentang dirinya. Dia bertanya bagaimana kehidupanku selama ini, apakah aku bahagia, tapi dia tak membicarakan dirinya sama sekali.”
Gabriel hanya bisa terdiam mendengar perkataan Sarah, pemuda itu sangat berhati-hati memilih kata agar tak menyinggung perasaan gadis itu.
“Bagaimana perasaanmu bertemu dengannya?”
Sarah memejamkan matanya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Gabriel.
“Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini, kau tahu? rasanya seperti menemukan harta karun yang hilang tapi kotak harta karun itu terkunci dan kau tak tahu kuncinya ada dimana.” Gadis itu mengakhiri perkataannya dengan tatapan tajam yang menghunus mata hazel milik Gabriel.
“Ada kalanya harta karun tetap disimpan di bawah tanah dan lebih baik tidak dibuka,” bisiknya tepat di telinga Sarah.
Sarah memejamkan matanya sebentar, pikirannya penuh dengan sosok pria yang ditemuinya tadi sore. Dia kembali menghela nafas panjang.
“Aku mau istirahat dulu,” gadis itu mengakhiri pembicaraan, meminum kembali air di gelas kemudian kembali ke kamar.
Gabriel tak menahannya, dia hanya berbisik pelan sambil mengusap lembut kepala Sarah, “Kamu tau kan kalau itu di luar kendali kamu, aku ada disini, datanglah kapanpun kamu membutuhkan.
Gadis pemilik mata bentuk almond bewarna abu-abu kehijauan itu melihat senyuman tulus dari sudut bibir Gabriel, senyuman yang belum pernah dilihatnya selama 5 tahun berteman dengan cowok itu.
Sarah pergi ke kamarnya, mereka sekarang ada di Bali, Berlibur sekaligus merayakan ulang tahunnya yang ke 21. Momen yang seharusnya membuat Sarah senang, tapi dia malah merasa hampa.
“Sarah, kamu mau tidur sekarang?,” mata polos Ann terlihat sedikit kecewa melihat Sarah menarik selimut di sebelahnya. Sarah hanya mengangguk.
“T-Tapi ini kan malam pergantian umurmu, ayo rayakan bersama,”
“Sudahlah Ann, bukankah besok kita ada trip pagi pagi sekali? tentu kita harus istirahat sekarang bukan?.” Selena merangkul Ann yang sedang duduk membaca komik di depan nakas dan menariknya untuk berbaring ke atas kasur.
Ann tidak menolak٫walaupun sebenarnya dia masih belum mengantuk.
“Hei, matikan lampu kalau kalian mau tidur.” suara datar Celine memecah keheningan yang tercipta tiba tiba.
“Oh٫bukankah cathy masih di luar?”
“Kamu ga tau ya? dia kan menyewa kamar hotel dengan Cavin.”
Malam ini berakhir tanpa kebahagiaan yang memuncak layaknya pesta ulang tahun, semua merasa tidak nyaman dengan suasana malam ini, kecuali pasangan fenomenal Cathy dan Cavin tentunya.
Sarah terjaga, jam dinding masih menunjukkan pukul 02:01 am, cahaya bulan merembes masuk melalui balkon villa, siluet hitam samar samar terlihat di ujung balkon, Sarah mendatangi bayangan itu.
Meskipun bulan malam ini sangat indah, bayangan itu terlihat sangat mengerikan dan berlumuran darah. Sinar bulan purnama menyinari sosoknya sehingga Sarah bisa melihat wajahnya yang hancur sebagian.
“Selamat ulang tahun,” bisiknya sambil meneteskan air mata yang bercampur darah.
Gadis itu merasakan seluruh tubuhnya seakan membeku, kedua kakinya tak bisa digerakkan sementara tangannya mulai bergetar dan pita suaranya tercekat. Bayangan itu seperti seseorang yang dikenalnya. Oh! Sarah ingat! pria itu… Pria yang berbicara dengannya di pantai tadi.
Matanya menatap nanar ke arah Sarah. Perlahan dia mendekat dan wajahnya pun menjadi jelas. Wajah tampannya yang sebagian hancur dan mengeluarkan darah hitam bercampur nanah. kemeja putih dan celana jeans yang dikenakannya sangat lusuh dan berlumpur. Dia memegang bahu gadis dengan piyama pink bergambar bunga sakura itu.
“AAAAAA”
“Sarah, ada apa?” Selena memeluk sarah, berusaha menenangkannya.
Cowok cowok yang berada di kamar sebelah pun bergegas ke kamar mereka, berusaha menenangkan sarah. Teriakannya tadi berhasil membangunkan seisi villa. Teriakan yang terdengar sangat putus asa.
Gadis itu masih saja berteriak seakan dirasuki sesuatu. Matanya basah tapi pandangannya kosong dan nafasnya tersengal. Gabriel datang dan langsung memeluk Sarah, perlahan nafasnya mulai kembali normal dan tangannya berhenti memukul-mukul dada bidang Gabriel.
“kamu bawa obat kan?” Ann menepuk-nepuk pelan pundak Sarah.
“Nih minum” Celine menyodorkan segelas air putih.
“T-Terimakasih.”
Gadis itu mulai menceritakan apa yang dilihatnya, dan pertemuannya dengan pria itu di tebing pinggir pantai. Gabriel masih memeluk Sarah sambil mengelus rambut coklat terang gadis itu yang terurai dan kusut karena kejadian tadi.
Sarah perlahan kembali tenang setelah meminum obat dari psikiater yang sudah 2 bulan ini berhenti didatanginya. Dia pikir kondisinya sudah mulai membaik sejak 3 bulan lalu, tapi untungnya dia masih menyimpan obat itu dan membawanya kemanapun dia pergi.
Malam kembali berlalu dengan tenang, teman-temannya kembali terlelap dalam tidur, sedangkan sarah tenggelam dalam pikiran dan perasaannya tentang pria misterius itu.
Sarah tak ingat namanya, dia juga tak ingat hubungannya dengan pria itu, tapi yang pasti perasaannya selalu bercampur aduk jika berhubungan dengan pria itu. Sepanjang malam dia berusaha mencari tahu tentangnya, tapi nihil. Sarah tak mengingat apapun tentangnya.
Gadis itu sadar bahwa dia melupakan sesuatu yang penting, dan mungkin sangat penting.