
“Sarah, aku selalu berharap kau bahagia.”
Sarah mengerjapkan matanya perlahan, suara yang terdengar lembut dan penuh kesedihan itu milik pria yang berdiri di samping ranjangnya saat ini.
Pria itu mengelus rambut coklatnya dan mengusap air yang mengalir turun dari mata kirinya.Sarah berusaha mengeluarkan suara, tapi tercekat, dia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
“Kau tak mengingatku, itu membuatku sedih.” Pria bermata biru itu menatap dalam mata abu-abu sedikit kehijauan milik Sarah yang kini dipenuhi air mata.
Lama mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya Sarah bisa membuka mulutnya. “D-Danny,” ucapnya lemah.
Ekspresi pria yang dipanggil Danny itu berubah sumringah. “Yeah, ternyata nama itulah yang kau ingat٫” dia menggenggam tangan Sarah, mendekatkan wajahnya ke wajah gadis yang terbaring di kasur dalam ruangan serba putih dengan beberapa selang di tubuhnya.
“Aku disini sayang. Aku akan selalu melindungimu,” ucapnya lagi, dia mencium bibir Sarah, ciuman yang dalam sampai membuatnya terhanyut dalam perasaan sedalam samudera.
“Hmphh-”
Waktu terasa lambat, ciuman ini berubah menyesakkan, menghantam jantung Sarah dan menyisakan degup yang perlahan melemah. Tubuhnya serasa melayang terbawa ke dimensi lain dunia ini.
“Sarah!” suara itu, suara orangtua dan teman-temannya yang terdengar panik dan khawatir.
Terbayang olehnya wajah mama yang tersenyum sewaktu dia akhirnya bisa bersekolah dengan normal, papanya yang bangga melihat anak semata wayang mereka tumbuh dengan baik dan masuk universitas favorit dengan usahanya sendiri. Lalu wajah-wajah itu berubah penuh kesedihan dan air mata.
Wajah sedih dan teriakan mamanya yang menyesakkan. Sarah ingin kembali, dia harus kembali!. Sarah membuka matanya, tidak ada siapapun disini, bahkan tak ada apapun, semuanya putih. Sejauh mata memandang dia tak menemukan apapun.
Apakah ini yang dinamakan hampa? ruang kosong dimana hanya ada dirimu yang tak berdaya untuk melakukan sesuatu. Hanya bisa mendengar suara orang-orang yang kau sayangi memanggil namamu dengan penuh isak tangis.
“Karena keegoisanmu, kau kehilangan hal yang berharga bagimu.”
Suara darimana lagi itu?
“Siapa kau? kembalikan aku!.” Sarah mencoba berteriak, memecah suara-suara di ruangan hening itu.
“Sekarang kau harus memilih, tetap disini atau kembali dan jalani takdir yang sudah kusiapkan untukmu,”
“S-Siapa kau!.” Sarah mencoba melawan, tapi suara-suara dalam kepalanya semakin menggebu, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
"Pilihlah. Tak ada gunanya melawan.”
Dari semua suara di kepalanya, suara ini yang paling jelas. Apakah dia Dewa? sesuatu yang mengatur keseimbangan alam semesta ini, atau dia hanyalah bagian dalam dirinya yang mengatur alam bawah sadarnya?
“Kenapa kau memberiku pilihan?”
“Ini adalah bentuk belas kasihku yang terakhir.”
Sejak awal ini bukanlah pilihan, ini jebakan. Sesuatu itu punya kuasa yang bisa mengembalikannya ke dunia asalnya, tapi dia seolah memberikan pilihan untuk membuat Sarah terdesak. Apa sebenarnya maunya? Sarah bahkan tak tahu takdirnya, bagaimana bisa dia memilih untuk menjalani takdir yang tak diketahuinya? bisa saja takdirnya adalah menjadi penyelamat dunia atau bahkan orang yang menghancurkan dunia.
“Aku tau yang kau pikirkan.”
Setelah mengatakan kalimat itu, suara serak basah yang terdengar tegas dan berwibawa itu menghilang, digantikan oleh suara berdengung yang menyakitkan di kepala Sarah. Pandangannya gelap, setelah itu dia tidak mendengar atau merasakan apapun.
********
“Sedang apa kau disini?.”
Sarah membuka matanya, cahaya matahari yang terik langsung menerobos masuk melewati bulu matanya yang lentik dan tebal.
“K-Kau?”
Sosok pria yang beberapa hari ini menghantuinya terlihat sangat tampan dengan potongan rambut yang lebih rapi dan seragam sekolah yang sepertinya masih baru.
“Ya, apa kau mengenalku?”
“Tidak. Uh, apa yang kau lakukan disini? bukankah seharusnya kau ada di kelas?”
Sarah menyadari kalau mereka ada di halaman belakang sekolah yang dipenuhi rumput dan beberapa taman bunga. Dia sendiri tadi berbaring di salah satu taman yang sedikit jauh dari bangunan sekolah.
“Ah, aku mencari pena kesayanganku, seingatku tadi aku sempat melewati halaman belakang setelah piket pagi. Tapi sewaktu melewati taman aku melihat seorang perempuan berbaring di atas rumput yang panas, jadi kusempatkan mampir untuk mengecek keadaanmu.”
“Dan ini masih jam istirahat,” imbuhnya dengan ekspresi polos tanpa dosa.
“Sudahlah, sini ku bantu cari, sebentar lagi waktunya masuk kelas bukan?.” Sarah mencari di semak semak, sedangkan pemuda itu mencari di daerah yang tadi dilewatinya.
“Ah, ketemu!”
“Syukurlah, sana cepat kembali ke kelasmu,” sarah mendorong cowok berkacamata bulat setebal 5 centi itu menjauh dari taman.
“Ah, tunggu! sebenarnya kau siapa? setidaknya beri tahu namamu.” Pemuda tampan mirip pemain film The Amazing Spiderman itu menatap Sarah polos. Gadis itu bingung harus menjawab apa.
“Sekarang tanggal berapa?”
“27 September.”
“Kalau begitu kembalilah ke kelas. Kau akan menemukan jawabannya nanti.”
Ya, hari ini adalah hari pertama kepindahan Sarah ke Sekolah menengah pertama di nevada. Dia dipindahkan dari sekolah lamanya karena menghajar anak pemilik sekolah. Padahal anak itu sendiri yang duluan membullynya.
****
Tak tau harus kemana٫ Sarah pun memilih untuk berjalan-jalan di sekolah yang sudah lama tak didatanginya ini.
Menyusuri penjuru sekolah٫ berharap ada petunjuk yang bisa membantunya. Jujur saja Sarah sangat kepikiran dengan perkataan sesuatu yang menempatkannya dalam situasi ini.
Lalu bagaimana nasib tubuhnya yang masih berada di Bali?
Sudah berapa lama dia meninggalkan tubuhnya?
Apa yang terjadi selama dia tidak ada?
Capek berkeliling tapi tak menemukan apapun٫ Sarah kembali ke taman. Dia mencoba berkomunikasi dengan sesuatu yang mengirimnya kesini٫tapi hasilnya nihil. Dia tak bisa berkomunikasi kalau bukan sesuatu itu yang memulai.
"Hahfft" Sarah menarik nafas panjang٫pikirannya penuh dengan berbagai macam pertanyaan tapi tak ada satupun yang menemukan jawabannya.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas rumput. Saat ini di Nevada sudah memasuki musim gugur٫ daun-daun coklat berjatuhan mengenai wajahnya.
Sarah menghembuskan nafas perlahan٫ overthinking tak akan mengubah apapun di hidupnya. Dia melihat awan yang bergerak dengan pelan tapi pasti. Indah sekali.
Hal itu tentu akan berbeda jika awan bergerak kencang dan saling bertabrakan satu sama lain.
Tak semua hal yang dilakukan dengan pelan itu buruk٫ dia hanya perlu bersabar sampai kunci dari masalah ini ditemukan. Terkadang bergerak pelan itu lebih indah dan menenangkan dibanding terburu-buru. Sama halnya dengan awan awan ini.
Sarah memejamkan matanya٫ menikmati angin sepoi-sepoi dan udara yang masih segar karena sekolah mereka berada di atas bukit. Tenang sekali rasanya.
Tiba-tiba Sekelebat ingatan terlintas di benak Sarah, pemuda yang tadi ditemuinya itu adalah Daniel Wielham, teman sekelasnya yang sangat pintar. Kepintarannya berhasil membuat pak Steven, guru fisika paling killer di sekolah itu sekaligus penanggung jawab siswa untuk olimpiade dan lomba tingkat tinggi memberikannya pena langka seharga ratusan dollar.
Selain itu, dia juga merupakan siswa yang terpilih untuk mengikuti kelas akselerasi saat akhir kelas 1.
Sarah ingat bagaimana mereka mulai dekat saat gadis itu kelas 2 dan Daniel sudah kelas 3 karena dia merupakan murid akselerasi.
Dia ingat bagaimana dirinya yang saat itu menyatakan cinta pada Daniel٫ingatan itu terasa begitu jelas bahkan perasaan yang menggebu saat itu masih bisa dia rasakan dengan sangat jelas.
Sarah yang baru selesai piket sore bergegas mengunci pintu kelasnya٫dia ingin segera pulang.
Tapi di depan kelasnya Daniel telah menunggu di depan lokernya
"Kau daritadi disini?"
"Ya٫ sejak setengah jam lalu."
"Kenapa?"
"Aku menunggumu."
Sebenarnya Daniel selalu menunggu Sarah untuk pulang bersama٫ tapi tetap saja gadis itu merasa senang seakan waktu yang mereka habiskan saat diperjalanan pulang terasa sangat berharga.
"Umm hari ini aku ingin mampir ke toko ice cream dekat taman kota." Sebenarnya itu hanyalah alasan٫ Sarah hanya ingin berduaan dengan Daniel di luar sekolah.
"Baiklah٫ as you wish my lady." Daniel merangkul pundak Sarah٫ dada bidangnya terasa nyaman dan hangat bagi gadis dengan tinggi 168 cm itu.
Sepanjang jalan mereka bercerita tanpa kehabisan topik٫apapun bisa mereka jadikan bahan perbincangan.
"Ice cream kamu meleleh my queen."
Daniel mengusap sudut bibir Sarah dengan jari telunjuknya dan memasukkannya ke mulutnya.
"Kau tau Sarah? terkadang aku merasa aku sudah mengenalmu sejak awal٫ bahkan sebelum kau pindah ke sekolah ini."
"hmm? aku juga merasa begitu."
"Apa kau adalah pasanganku di kehidupan sebelumnya?" imbuh Sarah sambil asyik memakan ice creamnya yang mulai mencair.
"Kalau begitu aku akan menjadi pasanganmu lagi di kehidupan kali ini." Daniel menatap lekat-lekat wajah Sarah.
Hidung bangir dengan bibir bulat merekah itu sangat menggoda. Ingin rasanya dia ******* bibir merah merona itu. Tapi dia tak ingin Sarah merasa terbebani.
"Kau harus menyatakan cinta dulu baru mengatakan itu٫dasar bodoh." Sarah tertawa kecil.
Daniel mendekatkan wajahnya dan mecium tepat di bibirnya. Sarah terkejut٫ mata almondnya menatap Daniel meminta penjelasan.
"Apakah ini bisa disebut pernyataan cinta?" Daniel menyentuh ujung hidung Sarah dengan lembut.
"Kau harus mengatakan sesuatu seperti 'Aku mencintaimu'٫ begitu." ujar Sarah sedikit kesal٫ gadis itu memanyunkan bibirnya.
Daniel terkekeh pelan٫ bagaimana bisa gadis yang biasanya jutek dan terlihat tak bisa didekati itu bertingkah menggemaskan begini di depannya.
"Kan kau sudah mengatakannya٫ My queen."
Daniel mencium punggung tangan Sarah tapi gadis itu menariknya. Pria ini mempermainkannya!
"Aku mencintaimu٫ Sarah Anderson." Daniel mencium puncak kepala gadis berkuncir kuda itu.
Sarah menarik wajah Daniel dan menciumnya. Daniel membalas ciumannya٫ dia ******* bibir Sarah dengan lembut dan sangat hati hati.
Ciuman itu terasa hangat dan menyenangkan. Sarah tak akan pernah melupakan perasaan itu٫ saat dia merasa paling bahagia sepanjang 18 tahun usianya.
"Aku lebih mencintaimu٫Daniel Wielham."
Mengingat kejadian itu membuat hati Sarah kembali berdesir٫ perasaan yang sama seperti saat itu kembali menghampirinya. Hanya saja saat ini dia merasa sedikit sesak dan hampa.
Sarah merasakan kepalanya pusing, keringat dingin mengalir dari pelipisnya hingga membasahi seluruh tubuh. Berbagai ingatan memaksa masuk ke kepalanya, sampai akhirnya gadis itu kembali tak sadarkan diri di tempat dia terbangun tadi.