
Sarah membuka matanya perlahan, dia melihat langit-langit ruangan yang berwarna putih. tubuhnya sulit digerakkan, tangannya keram. Sarah mencoba mengeluarkan suara tapi tenggorokannya terasa sangat kering dan bibirnya dingin. Seluruh tubuhnya terasa tak bertenaga dan kaku.
Disampingnya seorang wanita setengah baya tertidur lelap dengan kepala menyandar pada kasur Sarah, sementara tubuhnya terduduk di sebuah kursi. Pastilah sangat tak nyaman tidur dengan posisi itu.
Sarah berhasil menggerakkan jari-jarinya yang digenggam oleh wanita itu. bunyi alat pendeteksi detak jantung-Elektrokardiograf memenuhi seisi ruangan. Perempuan setengah baya itu terbangun.
“Sarah! Sarah… Akhirnya kamu sadar, Nak.” Wanita itu memeluk dan mencium puncak kepalanya. setelah itu memencet tombol untuk memanggil suster.
Tak berapa lama, 2 orang suster dan 1 orang dokter memasuki ruangan, mereka mulai mengecek keadaaan Sarah. Jarum suntik menembus lapisan kulitnya dan mengalirkan cairan dingin ke dalam nadinya, Sarah meringis ketika jarum itu dicabut dan digantikan oleh kapas yang dibasahi cairan antiseptik.
Stephanie masih menangis, sedangkan Mike merengkuh kepalanya dalam pelukan. Teriakan Stephanie tadi sontak membangunkannya yang tertidur di sofa ruangan vip rumah sakit itu.
“Mama…jangan menangis…” Sarah mengangkat tangan kiri nya yang tidak diinfus, seakan ingin memeluk mamanya.
Stephanie memeluk anak semata wayangngya, mencium kedua mata anaknya yang basah.
Dokter telah pergi, kini hanya ada mereka bertiga di ruangan itu.
“Kamu mau minum Sarah?” tangan kanan Mike menyodorkan air mineral, sedangkan tangan kirinya mengusap matanya yang basah.
“Sudah berapa lama aku disini?” tanya Sarah sambil berusaha untuk duduk.
Mike membantu Sarah menegakkan badannya dan stephani membantu memegangi botol mineral yang diminum gadis itu. tangan kirinya mengusap dagu Sarah, mengelap air yang menetes dari sudut bibirnya.
“Lebih dari seminggu kamu tak sadarkan diri, Nak.” Mike mengelus rambut coklat Sarah yang tampak semrawut, sudah berapa lama ini gadis itu tak bisa keramas. Untuk mandi saja susah, hanya bisa dibersihkan dengan handuk yang dibasahi air hangat, kegiatan yang menjadi rutinitas istrinya akhir-akhir ini.
Sarah tampak tak terkejut. Wajar saja, walaupun dia merasa baru meninggalkan tubuhnya selama 2 hari, tapi kenyataannya dia menembus ruang dimensi dan menjelajahi waktu. Pasti tak sedikit waktu yang berkurang sebagai bayarannya.
“Bagaimana dengan teman-temanku?”
“Mereka sudah pulang 3 hari yang lalu, karena hari ini sudah harus masuk kampus dan menyiapkan ujian.”
Stephani menyikut lengan suaminya, bisa-bisanya dia membicarakan ujian di depan putrinya yang baru sadar dari koma.
“Sayang, kamu pasti lapar kan? mama suapin ya…” Stephanie mengambil selembar roti gandum dan mengoleskan selai nutella kesukaan Sarah.
****
Mike merangkul putri kesayangannya, stephanie menggenggam erat tangan putri semata wayangnya. Mereka seolah tak ingin kehilangan permata berharga mereka untuk kali kedua.
Hari ini mereka akan kembali ke California. Sarah mengelilingi bandara internasional I Gusti Ngurah Rai, dia ingin membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang. Tapi kedua orang tuanya mengikuti dan menempel padanya seolah-olah dia bisa hilang kapan saja.
Beberapa orang yang lewat sempat melirik mereka, Sarah merasa sedikit malu, tapi disaat bersamaan dia juga merasakan cinta yang begitu besar dari kedua orangtuanya.
Gadis itu sampai meragukan kalau mereka bukanlah orang kandungnya, apa ada orangtua angkat yang begitu menyayangi anaknya seperti mereka? Bahkan Sarah merasa mata hijau keabuan miliknya mirip dengan mata hijau jernih Mike, dan bibir merah merekahnya mirip dengan Stephanie.
“Ma, aku lahir di rumah sakit mana?,” Sarah menyandarkan kepalanya pada bahu Stephanie.
Perempuan setengah baya dengan rambut blonde dan mata biru itu sedikit heran menanggapi pertanyaan putri semata wayangnya. Apa yang membuat gadis itu tiba-tiba menanyakan masa kecilnya.
“Kenapa kamu menanyakan itu?,” Stephanie mengelus kepala Sarah penuh sayang.
“Kemarin waktu di rumah sakit aku tiba-tiba saja kepikiran,hehe.”
Stephanie hanya geleng-geleng kepala melihat kerandoman putrinya.
“Kalau foto waktu aku bayi mama simpan dimana?”
Sarah memang pernah melihat foto masa kecilnya, akan tetapi dia tak pernah melihat potret dirinya sewaktu bayi. Stephanie diam sejenak, tampak seperti sedang berpikir, kemudian dia mengambil sebungkus keripik pedas dan memberikannnya pada Sarah.
“Ambil ini untuk Gabriel, mama tau dia sangat suka keripik pedas.”
Terang sekali Stephanie mengalihkan topik, dia tak mau menjawab pertanyaan putrinya.
Mike mengelus puncak kepala Sarah dan mengacak-acak rambutnya, kemudian berkata sambil menatap dalam manik mata Sarah,
“Tidak penting dimana kamu lahir, yang penting adalah bagaimana kamu menjalani kehidupanmu. Kamu adalah putri kecil papa dan mama, putri cantik yang paling kami cintai dan selamanya akan tetap begitu.”
Lengkungan kecil terbentuk di bibir mungil Sarah, dia bersyukur punya orangtua seperti Mike dan Stephanie, walaupun mereka bukan orangtua kandungnya, Sarah akan tetap mencintaii mereka seperti orangtua kandungnya sendiri, cinta tanpa syarat.
“Pa,” Sarah menepuk pelan pundak Mike
Pria setengah baya itu sedikit terkejut dan langsung menutup teleponnya.
“Nelpon siapa?,” Stephanie bertanya penasaran
“Kolega papa dari Australia.” Mike berbohong, itu terlihat dari bahasa tubuhnya yang terlihat gelisah walaupun dia menutupinya dengan bersikap tenang tapi Sarah bisa melihat perbedaan perilaku papanya itu.
Sejak kecil Sarah memang berbeda dengan anak lain, dia lebih peka terhadap sekitarnya terutama orang yang dia sayangi. Sekelas Mike saja yang seorang direktur utama di perusahaannya tak bisa membohongi Sarah, gadis itu sudah sangat hafal dengan gerak gerik papanya. Bagaimana tidak? dari kecil dia selalu berada di sisi papanya, bahkan tak jarang dia ikut ke kantor papanya dan belajar banyak dari memperhatikan orang-orang disana.
“Kepada seluruh penumpang pesawat American Airlines untuk penerbangan ke tujuan Los Angeles Mohon segera menuju pintu keberangkatan 3A, Pesawat akan segera berangkat.”
Mendengar pengumuman itu, Sarah mengurungkan niatnya untuk mengintrogasi Mike dan bergegas membawa barangnya menuju pintu keberangkatan.
****
Sementara itu, di Bandara Internasional Los Angeles, Gabriel menunggu dengan cemas. Stephanie kemarin menghubunginya dan mengatakan mereka akan tiba di California hari ini pukul 18:30 pm.
Pemuda berkaos putih v neck dengan celana jeans Guess panjang berwarna gelap itu langsung pergi ke Bandara setelah selesai kuliah. Cowok berkulit eksotis dengan mata hijau jernih dan rambut sedikit acak-acakan itu berulang kali melirik jam tangan Chanel J12 automatic bewarna hitam dengan diameter 38 mm yang melingkar di pergelangan tangan kirinya yang kokoh. Jam masih menunjukkan pukul 18;15 pm.
Sebenarnya Gabriel sudah berada disini lebih dari sejam yang lalu. Dia hanya sempat mengganti baju sebentar di apartemenya yang memang dekat dengan kampusnya, Stanford University. Butuh waktu hampir 3 jam dengan mobil sportnya untuk sampai disini. Semua itu dia tempuh karena khawatir pada Sarah.
“Sudah 15 kali kau pandangi jam mahalmu itu,” Celine menyindir Gabriel ketus.
Selain dia, beberapa teman Sarah yang kemarin ikut berlibur di Bali juga hadir disini. Mereka sangat mengkhawatirkan Sarah yang sempat terbaring koma di negeri orang. Kalau bukan karena ujian akhir tahun, mereka pasti sudah menemani Sarah disana.
“Biarkan saja sayang, dia tak sabar melihat Sarah setelah hampir dua minggu ini mereka tak bertemu.” Jason merangkul Celine dengan lembut dan mengusap rambut Long Hard Layered Cut yang membingkai indah wajah ovalnya.
“Jangan panggil aku sayang di depan umum.”
“Kenapa sayang? kita kan sudah resmi jadian 2 minggu lalu.”
“Aku lebih suka privat.”
“Kau berkata begitu tapi bahkan tak menyingkirkan tanganku atau menjauh dariku.”
jason kembali menggoda Celine dan kali ini gadis itu tidak menjawab, hanya ekspresi malu dan pipi putih mulusnya yang merona sudah mejawab semuanya.
Selena, dan Ann yang melihat itu memalingkan wajah mereka. Kalau yang berbuat seperti itu Cathy dan Cavin mereka tak akan heran, tapi ini Celine yang terkenal dingin dan cuek bisa menjadi bucin saat bersama Jason si konyol. Apa ini benar nyata?
“Hei, enyah saja kalian berdua.” Gabriel melepar topinya ke arah jason dan dibalas dengan wajah mengesalkan jason.
Tak berapa lama yang mereka tunggu tiba, gadis dengan kaos crop top putih dibalut jaket denim lengan panjang dan celana jeans panjang berjalan dengan membawa koper kecil, diikuti oleh kedua orangtuanya dan 4 pria berbaju hitam yang adalah bodyguard mereka.
Gadis dengan rambut potongan butterfly cut yang dikuncir kuda itu mengembangkan sudut bibirnya sehingga membuat kedua pipinya terangkat naik dan gigi gingsulnya mengintip dari celah bibir kecilnya yang tidak semerah biasanya. Rona wajah gadis itu kelihatan bahagia walau sedikit pucat.
Selena dan Ann langsung memeluknya, begitupun dengan Celine. Jason hendak bergabung dengan pelukan hangat mereka tapi Celine langsung mendorongnya dengan wajah galak.
“Hei gabby!” Sarah menyapa Gabriel yang memalingkan wajahnya.
Pria itu tampak berantakan, wajahnya juga kelihatan lelah, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat dan matanya berbinar seperti habis memenangkan lotre.
“Dia terburu-buru kesini sehabis kuliah karena sangat rindu padamu.” Selena menjelaskan tanpa diminta. Dia sangat peka dengan tatapan bingung Sarah dan ekspresi salah tingkah Gabriel.
“Kau tak ingin memeluk sahabatmu ini?,” Sarah merentangkan tangannya dan menatap ke arah Gabriel.
“Ehm ada yang malu nih,” goda Jason melihat ekspresi malu Gabriel yang jarang sekali terlihat. Sebenarnya mereka semua sudah tau kalau Gabriel mnyukai Sarah, hanya saja gadis itu sedikit tidak peka.
Gabriel bangkit dan berjalan pelan ke arah Sarah, tatapan matanya menyiratkan bahagia bercampur sedikit rasa bersalah. Karena dia menyembunyikan kenyataan yang ada, gadis itu hampir saja kehilangan nyawanya.
Lengan kekar Gabriel merengkuh tubuh langsing Sarah ke dalam pelukannya. Sarah merasakan kehangatan di hatinya. Gadis itu mengusap punggung Gabriel dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang pria itu.
“Aku kembali Gabby, aku tidak apa-apa.”
Gabriel tau gadis itu berusaha menenangkan hatinya yang merasa bersalah, tapi dia juga merasakan punngung gadis itu bergetar dalam pelukannya. Gabriel melepas pelukannya dan menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi putih pucat Sarah.
“Katakan padaku apa yang terjadi.”