Red Line

Red Line
Enigma



Sarah melangkahkan kakinya dengan lesu, capek sekali hari ini, seharian dia tertidur di atas rumput yang panas karena kepalanya pusing, dan sekarang dia malah membuntuti seorang gadis dengan rambut kuncir kuda dan tas black metal nya yang menyilaukan pandangan.


Pantas saja gadis itu sempat di bully di sekolah lamanya. Selain kepribadiannya yang sedikit kurang ajar, seleranya juga aneh.


Gadis dengan seragam sekolah yang masih baru itu menoleh ke kanan dan kiri, lalu mengendap endap masuk ke rumah besar di pinggiran kota.


“Hahhh untuk apa aku mengikuti diriku sendiri? lagipula apa sih yang ada di pikiran sesuatu itu? sesuatu yang menempatkanku dalam posisi rumit ini.” Sarah menendang batu di depannya karena kesal.


Saat terbangun di rumput tadi, dia sadar kalau dirinya kembali ke masa lalu. Kembali dalam wujudnya sebelum kehilangan kesadaran di Bali. Dia melihat dirinya sendiri yang masih berusia 17 tahun dan baru pindah ke kelas 1 SMA di sekolah swasta pinggiran kota Nevada.


“Hei!” seorang bocah lelaki seusia dirinya saat ini berteriak memaki Sarah, itu karena batu yang ditendangnya tadi mengenai badannya.


“Maaf, aku benar-benar minta maaf.” teriak Sarah sambil berlari menjauh.


Ini aneh, kenapa dia berlari menjauh? seingatnya dulu dia bukanlah orang yang akan menghindari siapapun. Tapi tubuhnya seperti bergerak tanpa komando.


“Apa kau ingat sesuatu sarah?”


Suara itu lagi! Sarah benar-benar muak mendengar suara itu di kepalanya.


“Apa yang kau ingin aku mengingatnya?!.” Gadis itu menarik rambut untuk menutupi wajahnya. dia baru sadar kalau dirinya mengenakan pakaian mencolok yang digunakannya saat berlibur di Bali.


“Jangan malu-malu begitu. Crop top pink dengan short pants denim sangat cocok untukmu.”


“Oh ****! sekarang aku yakin kau bukan dewa!”


“Kenapa begitu?”


“Tidak ada Dewa yang mesum sepertimu!”


Suara berat dan tenang itu tertawa renyah. Tawanya sangat adem dan menenangkan hati Sarah yang sedang kesal sekaligus kebingungan.


“Baiklah, akan kutunjukkan diriku.”


Setelah mendengarnya pandangan Sarah tiba-tiba kabur dan segalanya menjadi gelap.


“Bukalah matamu.”


Sarah mengerjapkan matanya perlahan, di depannya ada cahaya yang sangat menyilaukan dan perlahan meredup. Dia melihat seorang pria yang amat sangat tampan berdiri di hadapannya.


Sarah bersumpah dia tidak pernah melihat manusia setampan ini sebelumnya. Bahkan sekelas artis dan model hollywood di agensi papanya pun tak ada yang bisa mengalahkan pria ini. Seakan bisa membaca pikiran Sarah, pria di depannya pun mulai berbicara.


“Aku bukan manusia ataupun Dewa. Tak mungkin Dewa mau menemui manusia.’


“Lantas kau siapa? apakah kau pangeran? atau malaikat?”


“Kau tak perlu tau siapa aku, yang jelas aku akan membantumu menghadapi takdir yang sudah dihancurkan oleh orang tua aslimu.”


“A-Apa?”


Sarah sedikit kebingungan dengan penggunaan kalimat ‘orangtua asli’. Bukankah orang tuanya memang asli? atau sebenarnya mereka palsu?


“Aku bisa membaca pikiran manusia.”


Sesuatu di hadapannya tersenyum, senyum yang tak bisa diartikan maknanya.


“Apa maksudmu dengan orangtua asli?”


“Kau akan tahu nanti. Sekarang lihatlah sekelilingmu, apa kau tahu ini dimana?”


Sarah melihat sekelilingnya. Mereka ada di ruangan serba putih yang tak ada apapun di dalamnya. Entah bisa disebut ruangan atau tidak, karena seperti tak ada tembok atau apapun yang membatasinya, Sarah ingat disinilah dia pertama kali mendengar suara itu.


“Kita ada di ruang perbatasan dimensi.”


Kaki Sarah tiba-tiba bergerak, berjalan mengikuti sesuatu yang berwujud pria tampan di depannya. Sarah tak bisa menyebutnya pria, karena dia bahkan bukan manusia.


Mereka sampai di depan pohon yang sangat besar. Ujung pohonnya tak terlihat sejauh mata memandang. Daunnya mungkin berjumlah triliunan saking besarnya pohon itu.


Di belakang pohon ada sungai yang mengalir seperti melodi alam nan syahdu, airnya pun jernih sekali dan terlihat menyegarkan. Suasana terasa sangat damai dan tenang,


Sarah mendekati sungai kecil itu, dia merasa haus dan hendak meminum air itu untuk melepas dahaganya. dia baru sadar kalau kali terakhir dia minum adalah saat bersama Gabriel di malam terakhir sebelum dia pingsan, itu pun bukan minum air putih melainkan wine yang penduduk lokal biasa menyebutnya arak Bali.


Baru saja kakinya hendak melangkah, tangan Sarah ditarik dengan kuat tapi juga terasa lembut.


“Itu bukan air yang bisa diminum sembarang orang.”


“Kenapa? aku sangat haus, terakhir aku minum itu sebelum pingsan, dan bahkan bukan air putih. Biarkan aku sedikit melepas dahaga.”


“Itu adalah mata air kehidupan. Kalau minum dari situ kau tak akan mati selamanya,”


Sarah bergidik ngeri, memang ada orang yang ingin hidup selamanya di dunia? pasti akan sangat membosankan.


“Baiklah, tapi kapan kau akan mengembalikanku ke dunia? aku sangat haus.”


“Tahanlah sebentar, siapapun akan merasa haus kalau berada di depan mata air kehidupan.”


Sarah hanya mengangguk pasrah, lagi-lagi ini tak seperti dirinya, Sarah adalah anak yang akan memberontak jika tak sesuai keinginannya, dan paling tak suka pasrah dipermainkan oleh siapapun.


“Ini adalah pohon takdir, setiap helai daunnya memiliki satu nama manusia dan takdir yang akan dilewatinya sepanjang hidupnya.” sesuatu itu mulai menjelaskan


“Kau lihat daun berwarna kecoklatan itu? jumlahnya sangat sedikit, itu adalah daun milik orang-orang yang mengubah takdir.”


Sarah mengangguk pelan.


“Lihat lagi ke bawah, kau lihat dua daun berwarna merah? itu adalah daun milik orang-orang yang mengubah takdirnya dan takdir orang di sekelilingnya. Tapi perubahan yang mereka lakukan bukan membawa kebaikan malah mendatangkan kehancuran.”


“Lalu?” Sarah sedikit bisa menebak arah pembicaraan ini.


“Itu daun milik orang tua kandungmu.”


Sarah membulatkan matanya, seraut ketakutan menghampiri dirinya. Dia merasa ini bukan sekedar hal buruk biasa. Pasti ada hal besar menantinya setelah ini.


“Daun itu sudah hampir gugur, dan jika daun itu gugur berarti orang tuamu harus meninggalkan dunia. Tapi sebelum itu kau harus memperbaiki kesalahan yang mereka buat.”


“kenapa harus aku?”


“Karena kau punya kekuatan istimewa."


“Tapi aku bahkan tak pernah melihat wajah mereka, tak pernah hidup bersama mereka. Dan … itu kan kesalahan mereka, biarkan mereka sendiri yang membayarnya.”


“Mereka sudah membayarnya dengan mengganti kebahagiaan yang seharusnya menjadi takdir mereka menjadi kesedihan dan kesengsaraan sepanjang sisa hidup mereka.”


“Kalau begitu untuk apalagi kau menyuruhku?, bukankah mereka sudah membayarnya.”


“Mereka membayar kesalahannya dengan cara itu, tapi bukan berarti kesalahannya sudah diperbaiki. Hanya kau, penerusnya yang tersisa dan memiliki darah mereka yang bisa memperbaikinya.”


Sarah tercekat, apalagi yang harus dihadapinya? kenapa dia harus memperbaiki kesalahan orangtua yang tak berkontribusi apapun dalam hidupnya selain membuatnya terlahir ke dunia dan merasakan penderitaan?


“Sekali lagi kukatakan, aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi jika kau lari dari hal ini maka orang tua angkat yang selama ini mengasuh dan menyayangimu setulus hati yang akan menderita seumur hidupnya, begitupun Gabriel dan orang-orang terdekatmu.”


Sarah tak punya pilihan, dia tahu dari awal dia memang tak berhak memilih. Ini jalan yang memang harus dilaluinya. Gadis itu menarik nafas panjang, keputusannya saat ini akan mengubah hidupnya di masa mendatang, namun dia tak punya pilihan lain.


“Baiklah, katakan apa yang harus kulakukan dan kekuatan apa yang bisa kugunakan untuk memperbaiki takdir?.” Sarah mengepalkan tangannya, sejujurnya dia takut terhadap hal yang akan terjadi padanya setelah ini.


“Kau akan menemukan sendiri jawabannya.”