
“Oh ****, dia benar-benar mempermainkanku!.”
Sarah tak habis pikir. Sekarang dia ada di St. Frankenstein High School, dengan seragam sekolah lengkap dan sedang duduk di mejanya, mendengarkan penjelasan tentang sejarah politik sebelum perang dunia kedua. Pelajaran paling membosankan sepanjang ingatannya.
Pak Jeremy, guru yang mengajar mata pelajaran sejarah dan ekonomi itu seperti tak niat mengajar sehingga membuat seisi kelas sibuk dengan kegiatan dan pikiran masing-masing. Begitupun dengan Sarah yang tenggelam dalam pikirannya.
Bagaimana bisa sekarang dia benar-benar kembali ke tubuhnya sewaktu SMA?. Sampai kemarin dia bahkan hanya kembali ke masa lalu dengan wujud dirinya yang berusia 21 tahun. tapi sekarang dia kembali berumur 18 tahun!.
Gadis itu melihat sekeliling٫ teman-temannya masih sama seperti yang terakhir dia ingat. Begitupun dengan kelas, guru-guru, dan bahkan struktur bangunan tak ada yang berubah satupun.
“Hei, sekarang tanggal berapa?,” Sarah menyikut lengan michelle, teman sebangkunya.
Michelle melirik Sarah sebentar kemudian beralih kembali ke komik yang dibalut buku sejarah tebal itu. “16 Januari.” jawabnya nyaris tak terdengar.
“Apakah ini tahun 2018?” Sarah tak sadar suaranya terlalu besar sehingga bisa didengar oleh seisi kelas.
“Hei, apa kau datang dari masa depan, Sarah? Kembalilah ke bukumu dan fokus dulu ke masa lalu,” pak Jeremy menyindirnya dan seisi kelas tertawa, tapi tidak dengan Sarah. Karena itu memang fakta yang sebenarnya.
Michelle menatap Sarah aneh. Tapi dia tak menghiraukannya dan kembali fokus membaca buku.
Daniel mengamati Sarah dari bangkunya. Gadis itu seperti memiliki dua kepribadian, terkadang dia terlihat kuat dan sulit didekati, kadang dia terlihat seperti orang kebingungan. Namun Daniel merasakan aura yang unik dari dirinya. Entah sejak kapan dia tertarik dengan gadis berkuncir kuda dengan berwajah cantik yang tidak membosankan untuk dipandangi itu.
“Daniel, bacakan poin-poin di bab 5!” tegur pak Jeremy yang meperhatikannya melamun sejak tadi.
******
Sarah meregangkan badannya, seluruh tubuhnya terasa kaku dan pegal-pegal. Ternyata duduk di kelas memperhatikan pelajaran yang membosankan itu sangat melelahkan. Bagaimana dirinya dulu melewati hal ini? Ah ya, dia kan biasanya tidak memperhatikan pelajaran sejarah!
Pelajaran telah usai, sekarang saatnya dia kembali ke rumah. Sarah tidak punya teman dekat untuk diajak pulang sekolah bareng. Dia bahkan tidak dekat dengan teman-teman sekelasnya. Entah karena wajahnya saat tidak tersenyum terlihat galak atau karena dia punya selera yang aneh. Apapun itu, Sarah tidak terlalu memusingkannya.
“Hey Sarah, kau pulang dengan siapa?”
Seorang cowok dengan rambut coklat terang yang tersisir rapi, hidung mancung sempurna dan alis lebat yang hampir menyatu berdiri di sampingnya, dari tubuhnya tercium aroma woody yang membuat nyaman.
“Sendiri.”
“Mau pulang bareng?”
Sarah menimbang-nimbang, dia memang perlu mendekati Daniel untuk mengetahui apa yang terjadi di masa lalu, tak disangka Daniel duluan yang mendekatinya.
“Boleh.”
“Rumahmu dimana?”
“Arah selatan, 15 menit jalan kaki.”
“Wah, rumahku juga ke arah selatan.”
Daniel memandang lekat-lekat gadis yang tengah berjalan bersamanya. Gadis dengan rambut kuncir kuda dan mata jernih bewarna abu kehijauan itu sesekali tersenyum mendengar ceritanya. Wajah cantiknya yang jarang tersenyum terlihat sangat manis saat gigi gingsulnya mengintip dari celah bibir merah merekah gadis itu.
Daniel merasakan sesuatu tentang gadis itu. Dia merasa memiliki hubungan dengannya.
*****
Sarah meletakkan kepalanya ke atas meja belajar. Sudah berjam-jam dia mencari tau tentang teori multiverse, time travel, dan fisika kuantum. Tapi hal ini masih saja terasa tidak nyata baginya. Benarkah dia kembali ke masa lalu? atau malah terjebak di dunia paralel? lalu bagaimana cara untuk kembali ke dunianya? gadis itu mengacak-acak rambutnya frustasi.
“Non Sarah, tuan dan Nyonya datang berkunjung.”
Salah satu maid mengetuk pintu kamar Sarah. Gadis itu buru-buru merapikan kertas yang berserakan di mejanya dan turun ke ruang keluarga.
“Mama,Papa!” teriak Sarah senang dan langsung menghambur ke pelukan orang tuanya.
Sarah tinggal sendiri di sini, karena masalah dengan anak pemilik sekolahnya yang lama, orang tuanya menghukumnya untuk tinggal di rumah kecil 2 lantai di Las Vegas, Nevada. Sedangkan Mike Anderson dan Stephanie Anderson, orangtua Sarah tinggal di rumah utama mereka di Los Angeles, California.
Sarah tak pernah membenci keputusan orang tuanya٫ dia tahu keputusan itu diambil untuk membentuk kemandiriannya.
Hukuman yang juga terasa berat bagi mereka٫karena Sarah adalah satu-satunya anak yang mereka punya. Permata hati yang sangat mereka sayangi.
“What’s up My Princess.” Mike memeluk Sarah erat dan menggendongnya bak anak kecil.
Sarah mencium kedua pipi papanya kemudian beralih memeluk mamanya.
“Mama kangen sekali dengan putri cantik mama.” Stephanie memeluk Sarah dan mencium puncak kepala gadis itu.
“Aku juga kangen kalian… Libur sekolah nanti aku akan main ke Los Angeles.” Sarah mengerucutkan bibirnya manja. Dia sangat dekat dengan orangtuanya, dan merindukan sosok mereka.
Sarah teringat saat dia kehilangan kesadaran di Bali٫sudah berapa lama sejak saat itu? bagaimana sosok orangtuanya yabg ada di masa depan? dan bagaimana dengan teman-teman yang ada bersamanya saat itu?
Sarah melampiaskan perasaan rindunya kepada kedua orangtuanya di masa ini. Sosok mereka yang masih tampak cantik dan tampan dengan senyuman manis dan nada bicara yang lembut kepada anak semata wayang mereka.
“Nanti kalau kamu libur, ayo ke connecticut, kita jenguk opa sama oma.” Stephanie mengelus rambut coklat terang Sarah yang biasanya selalu di kuncir kuda, tapi kali ini tergerai begitu saja.
“Oiya, papa tadi teringat kamu waktu lihat ini, jadi papa beliin deh.” Mike mengeluarkan sebuah kotak tas branded dari kantong belanjanya.
“Wahh cantik banget pa! aku suka banget.” Sarah memeluk tas ransel berwarna hitam-cream dengan konsep elegan itu. Pas sekali dia membutuhkan tas baru, dia malu menggunakan tas black metal itu ke sekolahnya.
“Tumben kamu suka, Sayang, biasanya kamu nolak kalau disuruh ganti tas.” Stephanie mencubit pipi Sarah gemas.
“Kalau papa yang beliin mah putri kecil papa pasti suka. Ya kan, My Princess.” Mike tersenyum bangga.
Sarah tertawa, melihat keharmonisan kedua orangtuanya membuatnya sejenak melupakan kebingungan yang sempat dialaminya. Dia harus kuat dan mencari tau takdir yang harus dihadapinya.
Sarah ingin mempertahankan senyum di bibir kedua orang tuanya. Apapun akan dia lakukan demi bisa melihat senyum itu٫tanpa ada tangis yang membasahinya.