Red Line

Red Line
Consciousness



“Kamu beneran mau ikut?”


Gabriel khawatir melihat wajah pucat Sarah, dia takut gadis berambut coklat dengan potongan butterfly cut itu tiba-tiba pingsan saat snorkeling nanti. Pagi ini setelah sarapan dia hanya termenung tanpa bicara sedikitpun, padahal biasanya sarah adalah yang paling cerewet kedua setelah Cathy sekaligus paling jutek kedua setelah Celine.


Sarah mengangguk kecil, bersiap memakai jaket pelampung dan kacamata selam .


Gabriel tau Sarah kembali mengingat kejadian itu, kejadian yang menorehkan trauma dan sempat membuatnya hilang ingatan. Diantara teman-teman Sarah hanya Gabriel yang tau tentang kejadian itu, karena yang lain baru berteman dengannya saat kuliah.


“Miss, are u okay?” guide tour yang membantu memasangkan perlengkapan snorkeling Sarah pun menyadari ada yang tak beres dengan gadis itu.


“Yeah, i’m okay”.


Sarah mengembangkan senyum yang terlihat sedikit dipaksakan. Teman-temannya berulang kali menanyai hal yang sama padanya, tapi gadis itu tetap bersikeras untuk ikut. Kalau tinggal sendirian di villa, dia takut pria itu kembali mendatanginya.


“Nice, kamu memang harus menikmati waktumu disini nona, jangan biarkan perasaan tidak enak datang disaat kita menghabiskan waktu bersama untuk liburan menyenangkan ini.”


Cathy merangkul Sarah dan tertawa lebar, dia memang tak tahu kejadian tadi malam karena dia menyewa hotel dengan cavin, bukan di villa seperti ketujuh temannya.


Sarah sedikit terbawa arus ceria Cathy, raut wajahnya tak lagi sesuram tadi. Dia berusaha menikmati liburan yang didapatkannya dengan susah payah ini.


Jarak dari California ke Indonesia membuatnya hampir tak mendapatkan izin dari orangtuanya. Belum lagi perdebatan yang terjadi karena orangtuanya hendak mengirim bodyguard untuk menemani liburan mereka.


Ini kebebasan yang sudah sangat lama dia impikan. Sudah pasti harus dinikmati sepenuh hati, jiwa dan raga.


Setelah puas snorkeling, trekking, berburu kuliner tradisional dan menonton tarian adat Bali, mereka semua kembali ke villa, tapi tidak dengan Sarah. Dia duduk di pinggir pantai tak jauh dari villa, menatap bulan purnama yang bersinar indah.


“Bulan yang sangat indah bukan, ”


Sarah menoleh, di sebelah kanannya terlihat wajah Gabriel yang tersenyum sambil meminum sesuatu berwarna putih dengan gelas kecil.


“Itu wine? , ” Sarah menunjuk gelas yang dipegang Gabriel.


“Sejenis itu, tapi disini disebutnya arak Bali, ”


Gabriel menyodorkan secangkir kecil kepada Sarah, ternyata dia membawa sebotol besar arak dan dua gelas kaca kecil. Dia memang berniat mengajak gadis itu minum rupanya.


“Gimana perasaanmu hari ini?” Gabriel membuka topik obrolan setelah sempat hening beberapa saat.


“Lumayan”


“Apa ada yang mau kamu ceritakan padaku? ”


Sarah memejamkan matanya sebentar, menarik napas panjang dan menghembuskannya.


“Sepertinya aku melupakan sesuatu yang penting tentang pria itu. ”


Gabriel menghela nafas pelan, dia sangat tak suka melihat Sarah menderita tapi dia juga sudah berjanji pada orangtua Sarah untuk merahasiakan apa yang diketahuinya tentang pria itu. Ini juga demi kebaikan Sarah.


“Oh hei, ayolah, kenapa kau membicarakan pria lain saat ada pria tampan sepertiku disampingmu?”


Gabriel terkekeh kecil, jauh di lubuk hatinya dia merasa sakit. Sudah lama dia menyimpan rasa pada Sarah, namun gadis itu tak pernah menganggapnya lebih dari sahabat.


Sarah memandang gabriel lekat-lekat, dia memang tampan. alisnya tebal dan rapi, matanya jernih dan berwarna hazel, hidung mancung serta bibir tebal kemerahan dan kulit yang lumayan exotis dengan rambut kecoklatan.


Kenapa selama ini Sarah tak pernah berdebar di dekatnya? apa karena gadis itu hanya menganggapnya sebatas sahabat? atau sudah ada orang lain di hatinya?


“Hei, kau percaya diri sekali.” Sarah tertawa lepas. Menurutnya, ekspresi Gabriel waktu mengatakan dirinya tampan itu sangat lucu. Pemuda berwajah mirip pemeran langston dalam film Charlie’s Angels itu sedikit malu sekaligus senang karena akhirnya Sarah bisa tertawa lepas sejak kejadian kemarin.


Pembicaraan mereka pun mengalir bebas seperti biasa, sampai Ann memanggil mereka untuk kembali ke villa, mereka mengadakan barbeque sebagai acara malam terakhir disini.


“Karena hari ini malam terakhir, gimana kalau kita main Truth or Dare?” Cathy si paling heboh memberi usulan.


“Bagus. ”-Jason


“Aku ikut! . ”-Ann


“Kedengarannya bagus. ”-Selena


“Buang buang waktu saja. ”-Gabriel


“Hei Gabby, kau diam saja. ” ketus celine, Gabriel cemberut tapi Sarah tertawa karena dia merasa lucu melihat ekspresi Gabriel yang seperti anak kecil.


“Woah, akhirnya aku melihat Sarah tertawa hari ini,” Cavin buka suara, dia memang memperhatikan Sarah yang hari ini berbeda dari biasanya.


“Udah langsung mulai aja.” Celine geli melihat tingkah kembaran dan pacar kembarannya itu.


“Haha celine, I feel u,” Jason merangkul celine, yang langsung ditepis dengan kasar oleh gadis itu.


“Hei, jangan cari mati.” Sam memukul belakang kepala Jason pelan.


Permainan pun dimulai. Orang pertama yang terkena putaran adalah Ann dan dia memilih dare.


“Minta nomor salah satu penduduk lokal.” tantang Cavin.


Ann yang pemalu sedikit ragu, tapi terus didorong oleh teman temannya sampai akhirnya dia pergi mencari penduduk lokal. Selang beberapa lama dia pun kembali membawa nomor seseorang bernama Putu.


Putaran selanjutnya, giliran Jason yang kena. Jason pun memilih dare.


“Confess ke orang yang lu suka disini, ” tantang Sam. Jason tersenyum lebar, selama ini dia selalu mengatakannya dengan bercanda, tapi malam ini adalah kesempatan untuknya bicara dengan serius. Tak sia-sia selama ini Sam jadi tempat curhatannya.


“Selama ini mungkin kalian liatnya gua selalu bercanda, tapi kali ini beneran serius. Gua mau bilang kalau cewe ini adalah pembawa warna baru dalam hidup gua. Mungkin warna kita berbeda, tapi itulah yang membuat kita saling melengkapi.”


Hening sebentar.


“Udah?,” tanya Cavin tak sabar, dan diacuhkan Jason.


“Gua maunya kita jadi lebih dari sekedar teman. Tapi gua tetap mempertimbangkan keputusan lo. Ini kesekian kalinya gua bilang ini, tapi … I LOVE YOU CELINE. ”


“Waww dengan penekanan di setiap hurufnya. ”Cavin takjub, dan langsung ditutup mulutnya oleh Cathy.


Ekspresi celine datar seperti biasa, namun terlihat sedikit raut senang bercampur malu di wajahnya.


“Jadi jawabannya apa lin?,” Selena menyikut lengan celine.


“Dare nya cuma confess kan?, ga perlu jawaban.”


Semuanya hanya bisa terdiam, percuma mendebat celine, dia punya seribu satu jawaban logis untuk mematahkan argumen lawan.


Akhirnya permainan pun dilanjut dengan jason yang murung seperti anak ayam kehilangan induknya. Putaran kali ini berhenti di celine dan dia memilih dare.


“Wah, pas banget nih momentnya. Cium Jason kalau lo suka, tampar dia kalo lo ga suka. ” Kali ini cathy, kembarannya sendiri yang memberi tantangan.


“....”


Seisi ruangan dibuat hening menunggu jawaban Celine. Tapi tiba-tiba dia berdiri dan menghampiri kursi jason.


Celine mengangkat tangannya.


Jason menutup mata, dia tak tahu sekeras apa tamparan yang akan dilayangkan Celine.


CUP


Jason merasakan sesuatu yang lembut dan dingin menyentuh pipinya, Celine menciumnya. Ya, CELINE MENCIUMNYA. Seluruh wajah Jason memerah. Selama ini dia sudah puluhan kali mengatakan suka pada gadis bermata monolid itu, tapi selalu ditolak.


Wajar saja kali ini pun dia berpikir akan ditolak lagi. Tapi ternyata celine justru melakukan hal yang selama ini tak pernah dia bayangkan. Celine si manusia es ternyata sudah sedikit mencair.


“I Love you too.” Celine berbisik di telinga Jason.


Wajah Jason semakin merah padam, mimpi apa dia semalam? apakah mimpinya menjadi nyata sekarang? .


Suasana menjadi ramai, mereka mengolok-olok ekspresi jason dan menyuruh mereka berdua melanjutkan yang tadi di luar ataupun di kamar. Jason dengan senang hati mengajak Celine pergi. Awalnya celine menolak, tapi tak tahan dengan ejekan teman-temannya, dia pun pergi sendiri dan disusul oleh Jason.


“Nah, kita lanjutkan ya. ” Cathy kembali memutar botol setelah kepergian pasangan baru itu.


“Wah”


Botol berhenti di Sarah, dan dia memilih truth.


“Siapa orang yang kamu suka? dan apa alasannya?.” Kali ini Ann yang mengajukan pertanyaan.


Sarah diam berpikir, apakah dia menyukai Gabriel? tapi dia tak pernah berdebar karena cowok itu. apakah Sam? lebih tidak mungkin, mereka tak sedekat itu.


Terlintas wajah pria itu di pikiran sarah, hatinya berdesir dan jantungnya berdetak kencang, dia merasa sedikit sesak dan pusing. Teman temannya mengerubunginya, tapi sekilas dia melihat pria itu di belakang mereka.


Dunianya serasa berputar dan pandangannya mulai kabur.