
Keesokan paginya, bel rumah Luca berbunyi di pagi hari. Luca juga sudah bersiap untuk kegiatan bersih-bersih hari terakhir. Luca langsung membuka pintu untuk melihat seseorang di depan rumah. Namun, tidak tahu apa yang terjadi olehnya, Llhuvia terlihat sedikit senang. Wajahnya seperti menyembunyikan sesuatu dari Luca.
Mereka berangkat bersama menggunakan kereta. Llhuvia juga sempat mengingatkan Luna untuk datang makan malam ke rumahnya. Sesampainya di sekolah, banyak murid yang ada di sana. Mereka berdua menjadi pusat perhatian para murid lain. Tak lama, terdengar suara pengumuman dari ruang audio sekolah.
“Panggilan untuk Luca Kai dan Llhuvia Chinatsu, di tunggu di ruang kepsek sekarang juga. Sekali lagi, panggilan untuk Luca Kai dan Llhuvia Chinatsu, di tunggu di ruang kepsek sekarang juga. Mereka pun secepatnya menuju ke ruang kepsek. Saat di sana, ada 1 siswa yang terlihat babak belur dan orang tuanya di dalam ruang kepsek.
“Luca, ada beberapa masalah yang dikabarkan bersangkutan denganmu.” ucap kepsek.
“Ada apa? Apa aku berbuat suatu hal?”
“Saat ini tersiar di media sosial tentang kau menghajar preman di depan rumahmu. Di video itu memperlihatkan kalau preman itu sangat tunduk padamu. Seminggu kemudian, preman itu memukuli siswa sekolah ini. Apa kamu tahu alasan dari preman-preman itu?” tanya kepala sekolah ke Luca sambil menunjukkan video ia memukul preman dan berbicara akrab dengan pemimpinnya.”
“Ya, dulu aku kenal dengannya. Kalau alasan mereka memukuli siswa sekolah ini aku tidak tahu.”
“Nak, bukannya aku ingin menyalahkanmu tapi, kalau bukan karena kau memukuli dua bawahannya mungkin mereka tidak akan memukuli siswa sekolah ini.” ucap orang tua siswa yang ada di dalam ruangan itu.
“Tunggu dulu, aku akan menjelaskan apa yang terjadi malam itu.” ucap Llhuvia menghentikan pembicaraan.
“Memangnya apa yang kau tahu?” ucap orang tua itu merasa kesal dengan Llhuvia.
“Malam itu, Luca menyelamatkanku dari preman itu. Dia menjemputku dari restoran dan membawaku lari dan bersembunyi di rumahnya. Jika kalian tidak percaya, kita bisa pergi ke restoran itu dan ke rumah Luca untuk mengecek CCTV. Jika aku tidak di tolong olehnya malam itu, aku tidak tahu apa aku bisa hadir ke sekolah lagi hari ini.”
“Sebentar, kau bilang anakmu di pukuli oleh preman itu?” tanya Luca.
“Ya, aku di pukuli oleh orang yang memimpin mereka itu.” ucap siswa yang terluka itu.
“Hahaha, sungguh lelucon yang jelek. Apa kau tahu? Semua hal yang kita lakukan akan kembali pada kita suatu hari nanti.” ucap Luca lalu menarik pergi Llhuvia dari ruang kepsek.
“Luca, tunggu dulu. Aku belum selesai.”
“Nanti sore aku akan ke sini. Aku akan berbicara dengan kepala sekolah. Tapi, pastikan tidak ada orang, baik guru maupun murid. Aku akan menjelaskan masalah ini beserta rekaman CCTV dan membawa preman itu untuk memberikan penjelasan.”
Kemudian Luca langsung pergi menarik tangan Llhuvia. Mereka pergi ke ruang OSIS untuk meletakkan barang dan bersiap keliling area terakhir untuk bersih-bersih. Mereka membawa kantong plastik dan sarung tangan untuk mengumpulkan sampah yang berserakan di sepanjang jalan yang mereka temui.
Llhuvia merasa bingung, karena Luca seperti sedang berwaspada. Matanya selalu memperhatikan sekitar. Ia merasa kalau Luca akan melakukan sesuatu untuk mengurus masalah kali ini. Ia merasa tidak enak dan ingin membantu karena hal ini juga di sebabkan olehnya. Setelah setengah perjalanan mereka beristirahat dan memakan makan siang.
“Sepertinya di taman ini saja istirahatnya.” ucap Luca.
“Iya, di sana juga ada keran air untuk cuci tangan.”
Mereka memakan bekal mereka di sekitar taman bersama dengan anggota lainnya. Mereka berdua menepi di bawah pohon besar. Ketika mereka sedang makan, ketua OSIS menghampiri mereka.
“Hai Luca, bagaimana? Apa kau sudah lelah?” ucap Angel.
“Tentu saja lelah, tapi aku masih bisa lanjut.”
“Ada apa tadi di ruang kepala sekolah?”
“Hanya masalah kecil saja, setelah ini akan aku urus dengan cepat.”
“Sudah kuduga kau akan mengurusnya sendirian. Aku tidak mau membebanimu. Kenapa kau tidak bilang padaku?”
“Tenang saja, karena semuanya sudah selesai. Aku sudah melakukan beberapa hal jadi, maukah kau menemaniku ke restoran kemarin untuk mengambil rekaman CCTV?”
“Rekaman CCTV? Sepertinya masalahnya cukup besar.” ucap Angel bingung.
“Baiklah, lalu apa yang akan kau lakukan setelah itu?”
“Tentu saja, menemui geng motor kemarin dan mengajaknya untuk memberikan penjelasan.”
“Geng motor?” ucap Llhuvia dan Angel terkejut.
“Tenang saja, karena saat SMP aku adalah anggota geng itu. Bahkan emblem dari mereka aku merupakan orang yang cukup penting.”
“Kau serius? Aku penasaran apa saja yang kau lakukan saat SMP sampai bisa jadi orang penting di geng motor.”
“Hahaha, aku jadi merasa seperti orang jahat. Kalau begitu apa kau ingin ikut ke tempat geng motor itu?”
“Heh? Aku rasa tidak usah.”
“Apa kau takut Llhuvia? Tenang saja, ada aku bersamamu nanti. Sekalian melihat sesuatu yang tidak pernah kau lihat bukan?”
“Baiklah kalau begitu, kalau terjadi sesuatu kau harus melindungku meski nyawamu jadi taruhannya.”
“Tenang saja, tidak akan ada perkelahian.”
Sesampainya di restoran, mereka menuju ke ruang manajer dan membicarakan tentang masalah mereka dan meminta kerja sama dari pihak pemilik restoran. Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya mereka mendapatkan rekaman pada hari itu. Setelah itu mereka menuju ke markas geng motor dengan terbuka.
Saat sampai di sana, para anggota geng motor langsung berbaris di depan markas. Mereka mengelilingi Llhuvia dan Luca. Kemudian Luca menunjukkan emblem salah satu anggota penting di geng itu. Dalam sekejap semua orang menyingkir dan tidak berani berbicara apa pun. Saat masuk ke dalam, bagian dalam tidak terlalu ramai.
Karena biasanya ramai pada malam hari. Ia menuju ke ruangan bos atau pendiri geng motor itu. Saat memasuki ruangan, baru saja membuka pintu mereka di todong oleh pistol. Luca maju seperti biasa dan Llhuvia menggenggam tangannya dengan sangat kuat. Baru maju beberapa langkah, bos geng motor itu merasa familier oleh wajah Luca.
“Siapa kau? Sepertinya aku pernah melihatmu?”
“Apa begini sikapmu ketika orang yang membantumu kembali setelah pergi selama setahun?”
“Setahun? Luca! Apa ini benar-benar kau?”
“Benar, aku ke sini ingin meminjam orangmu kak. Kemarin kami baru saja bertemu, sepertinya orangmu membuat orang salah paham tentangku.”
“Siapa dia? Akan ku siksa sekarang juga jika kau menginginkannya.”
“Tidak perlu, dia juga temanku. Aku hanya perlu membawanya sore ini.”
“Baiklah terserahmu saja, ngomong-ngomong siapa gadis ini?”
“Dia, dia adalah sarung pedangku.”
“Sarung pedang?” pikir Llhuvia tak mengerti apa yang dikatakan Luca.
“Oh, penampilanmu sekarang sangat lucu. Apa kau sudah tidak bisa berkelahi lagi?”
“Apa kau ingin mencobanya?”
“Hahaha, tentu saja aku ingin melihat perkembangan adikku ini.”
Kemudian Llhuvia duduk di sebuah sofa di ruangan itu. Di sampingnya berdiri banyak pengawal, sedangkan Luca berada di tengah ruangan bersama bos geng motor untuk berlatih setelah sekian lama tak bertemu. Llhuvia merasa tidak tenang dengan situasinya. Ia takut kalau Luca kalah akan ada masalah.
Kemudian Luca bertarung dengan bos geng motor itu. Sungguh perkelahian jalanan tanpa aturan, ampun dan celah meski hanya berlatih. Mereka bertarung seakan ingin saling membunuh satu sama lain. Di tengah pertarungan, Luca terluka dan gerakannya sedikit melambat. Saat serangan terakhir, Luca mengeluarkan darah dari mulut setelah disikut pada bagian dada.
“Agh.”
“Sepertinya aku sudah terlalu berlebihan, apa kau tidak apa?”
“Ya, seperti waktu itu kau sangat kuat kak. Aku masih belum bisa melukaimu kah?”
“Tidak, dibandingkan dirimu yang dulu kau jauh lebih kuat. Aku sampai menggunakan seluruh kemampuanku, karena itulah aku tidak bisa menahan kekuatan di serangan terakhir tadi.”
“Hahaha, kau terlalu memujiku kak. Setelah ini aku ada urusan, kalau begitu aku akan pamit dulu.” ucap Luca membawa Llhuvia keluar.
“Luca, bawa ini untuk menyembuhkan lukamu.” ucap bos itu melemparkannya sekotak koper berisi uang.”
“Tidak perlu, memangnya aku ke sini untuk meminta uang berobat.” ucap Luca menangkap uang itu lalu melemparkannya kembali.
Kemudian mereka berdua kembali ke sekolah membawa preman pada malam itu. Namanya adalah Zeke di dalam geng. Ia merupakan teman Luca saat masih ikut geng itu. Sesampainya di sekolah, mereka menuju ke ruang kepsek secepatnya selagi tidak ada murid. Di dalam ruang kepsek masih ada orang tua murid dan anaknya yang dipukuli oleh Zeke.
“Kepala sekolah, aku membawa pelakunya.”
“Luca? Kenapa kau membawanya masuk? Apa akan aman?”
“Tenang saja, biarpun begini aku kenal dengannya.”
“Apa dia yang memukulimu nak?” tanya orang tua itu ke anaknya.
“Iya, benar dia. Dia yang memukuliku papa.”
“Sekarang aku ingin kau bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan pada anakku!”
“Kau ingin aku melakukan apa?” tanya Zeke tanpa banyak basa-basi.
“Aku ingin kau memberikan biaya untuk berobatnya sebesar 5 juta yen.”
“Baiklah, aku akan memberikan uangnya. Berikan rekeningmu!”
Ayah dari murid itu terdiam karena dengan mudahnya preman itu memberikan 5 juta yen. Padahal ia hanya asal menyebut harga tinggi saja. Kemudian murid itu dan orang tuanya berniat pergi meninggalkan sekolah. Namun, baru berdiri dari sofa pintu di tutup rapat oleh Luca. Mereka berdua bingung apa dengan apa yang Luca lakukan.
“Tunggu dulu! Aku masih ingin membicarakan tentang anakmu yang membayar preman untuk melukai Llhuvia.” ucap Luca lalu semua terkejut dengan perkataannya.