Rain In The Summer

Rain In The Summer
Hari Pertama



Keesokan harinya, kegiatan bersih-bersih dimulai. Hari ini Llhuvia dan Aoi tidak mendapat giliran, karena mereka mendapat giliran di hari kedua. Luca dan anggota OSIS lainnya membersihkan area pertama yang di tandai oleh Ketua Angel sebagai tempat bersih-bersih hari pertama. Para sukarelawan pun juga semangat untuk membersihkan sampah.


Mereka semua berkeliling di area 1 dan membersihkan semua tempat yang kotor. Mereka memulai di pagi hari dan beristirahat di siang hari. Para warga sekitar memberikan mereka beberapa minuman dan makanan sebagai tanda terima kasih atas kerja kerasnya. Mereka beristirahat di sebuah taman di bawah pohon besar di teriknya matahari.


Saat semua orang beristirahat Luca hanya bersandar di pohon lain dan berteduh dari panas. Ketika dia sedang bersantai ditemani minuman soda, ketika ia memejamkan mata terlihat seakan ada bayangan yang menghalangi pandangannya. Ketika ia membuka mata, Llhuvia ada di depannya bersama Aoi membawa kotak makanan.


“Kenapa kalian di sini?”


“Haha, karena tidak ada kegiatan kami mampir kesini. Harusnya kau bersyukur aku mampir untuk melihatmu.” ucap Aoi sedikit meledek Luca.


“Luca, apa kamu sudah makan? Kalau belum kami membawa roti lapis, apa kau mau?”


“Tidak perlu, aku hanya haus saja. Ngomong-ngomong bagaimana kalian bisa tahu aku ada di sini?”


“Kami melihatnya dengan GPS.” jawab Aoi.


“Bukankah ponselmu hilang?”


“Aoi menggunakan ponselku, untuk nomornya Aoi mendapatnya dari teman sekelasnya katanya.”


“Jadi, ada apa kalian menemuiku hari ini?”


“Kami hanya ingin menemui saja, apa tidak boleh?” tanya Aoi sedikit kesal.


“Bukan begitu, aku kira kalian ada perlu sampai mencariku dengan GPS. Kalau tahu begitu harusnya ponselku ku tinggal di sekolah saja tadi.”


“Kejam sekali kau! Seharusnya bersyukur karena ada dua gadis cantik yang mencarimu.”


“Apanya yang gadis cantik, gadis tomboi sepertimu mana ada cantiknya.”


“Berani ya kau bilang begitu, rasakan ini!” Aoi mengunci leher Luca dengan kakinya.


“Hahaha, kalian lucu sekali ya.” tawa kecil Llhuvia melihat pertengkaran kecil mereka berdua.


“Ada apa Llhuvia? Kenapa kau tertawa?” tanya Luca heran.


“Tidak, kalian lucu sekali saat bertengkar, seperti sepasang kekasih saja.”


“Hah? Aku dan dia? Mana mungkin, lagi pula aku sudah ada pacar.” ucap Aoi mengejek Luca.


“Lagi pula siapa juga yang mau dengan mu!” balas Luca yang mulai kesal dengan Aoi.


“Kalau Llhuvia bagaimana? Apa ada orang yang sedang kau taksir? Kau kan populer, pasti kalau ada laki-laki yang kau suka pasti sangat hebat.” tanya Aoi.


“Saat ini ada seseorang yang menarik perhatianku sih, tapi . . .”


“Eh, benarkah? Siapa? Katakan padaku!” ucap Aoi bersemangat.


“Ra . . . Ha . . . Si . . . A” jawab Llhuvia.


“Waktu istirahat sudah hampir selesai, apa yang kalian lakukan setelah ini? Aku akan kembali mencari sampah.”


“Bagaimana kalau kita ikut dengan Luca saja? Apa kau mau Llhuvia?”


“Tidak masalah.”


Kemudian Luca kembali mencari sampah dengan ditemani oleh satu gadis cantik dan satu gadis tomboi yang merepotkan. Karena setiap ia membersihkan tempat Aoi selalu mengejeknya dengan seolah memerintahnya membersihkan. Setelah jerih payah, akhirnya area satu sudah benar-benar bersih.


Setelah kembali ke sekolah untuk mengambil tas, mereka pulang bersama. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol tentang keadaan mereka masing-masing belakangan ini.


“Entah kenapa, belakangan ini aku selalu di pandang tajam oleh para murid laki-laki di sini.”


“Memangnya ada apa? Apa kau melakukan sesuatu? Seperti mendekati gadis incaran mereka? Hahaha.” balasan dari Aoi yang selalu bercanda menanggapi suatu hal.


“Mana mungkin ‘kan? Aku saja tidak pernah berbicara dekat dengan gadis. Kalau di hitung mungkin hanya Kau, Llhuvia, dan Ketua Angel saja.”


“Apa mungkin mereka tahu masa lalumu?” tanya Aoi sedikit serius.


“Rahasia?” ucap Llhuvia bingung dan penasaran.


“Kurasa tidak, karena aku sudah tidak pernah berkelahi saat masuk ke SMA ini dan tidak ada orang yang berasal dari SMP yang sama denganku kecuali kau.”


“Memangnya kau merahasiakan apa?”


“Kuberitahu tapi kau jangan menyebarkannya, saat aku SMP aku sudah sangat parah. Setiap hari berkelahi, bolos, memalak, juga merokok. Tapi, aku sudah berhenti menjadi orang bodoh. Aku sudah tidak pernah melakukan hal itu lagi.”


“Tato? Benarkah?” tanya Llhuvia sedikit terkejut.


“Begitulah, aku tidak ingin kau merasa takut padaku karena hal ini. Karena sebodoh apa pun aku waktu dulu, aku tidak pernah melakukan hal bodoh terhadap wanita.”


“Aku tahu, lagi pula itu hanya masa lalu bukan?” Llhuvia menerima kenyataan dengan terbuka.


Di persimpangan Aoi berpisah dengan mereka berdua. Kemudian sesampainya di depan rumah Llhuvia tiba-tiba turun hujan dengan sangat deras. Llhuvia pun mengajak Luca untuk mampir ke rumahnya untuk berteduh. Mereka pun langsung masuk secepatnya sebelum pakaian mereka semakin basah.


Sesampainya masuk ke dalam Llhuvia langsung mengambilkan handuk untuk Luca. Mereka pun mengeringkan rambut di depan pintu. Kemudian Llhuvia menyuruh Luca untuk mandi di tempatnya agar bajunya bisa di keringkan terlebih dahulu.


“Luca, sebaiknya kau mengeringkan pakaianmu terlebih dahulu. Bukan rompinya saja yang basah bukan?”


“Begitulah, kemejaku juga sangat basah. Bagaimana denganmu?”


“Aku akan mengganti pakaianku terlebih dahulu, setelah itu kau bisa menggunakan kamar mandinya.”


Kemudian Llhuvia mengganti pakaiannya dan menyiapkan air hangat untuk Luca. Setelah selesai Llhuvia menyuruh Luca untuk masuk ke kamar mandi. Ia meminjamkan pakaian kakaknya untuk Luca. Llhuvia membuat coklat panas untuk dua orang ketika Luca sedang berendam air hangat. Karena seragam Luca masih basah, Luca berteduh di tempat Llhuvia sampai seragamnya kering.


Setelah selesai, Luca keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian dari Llhuvia. Ketika membuka pintu kamar mandi, ia melihat Llhuvia di dapur menggunakan celemek sedang memotong sayuran. Ia pun menghampirinya dan melihat apa yang di lakukan Llhuvia.


“Apa yang sedang kau lakukan?”


“Tentu saja memasak, apa kau lapar?”


“Tidak terlalu, hanya kedinginan saja.”


“Ini, minumlah dan tubuhmu akan hangat.” Llhuvia memberikan gelas berisi coklah panas.


“Apa kau tidak kedinginan? Kau tidak kena air hangat kan? Nanti kau akan demam loh.”


“Bukan masalah, tadi aku mengambil pakaian di kamar. Kamarku ada pemanas ruangan.”


“Owh, apa tidak ada orang di sini? Sepertinya sepi sekali.”


“Begitulah, ayahku bekerja sementara ibuku ada di luar negeri untuk menemani kakakku bersekolah di sana.”


“Luar negeri? Apa kakakmu kuliah?”


“Tidak, dia sekarang sedang belajar bahasa asing. Tahun depan mungkin dia baru akan mendaftar kuliah di sana.”


“Bagaimana denganmu? Apa yang kau ingin lakukan setelah lulus nanti?”


“Aku masih bingung tapi, mungkin aku akan mengambil jurusan musik. Bagaimana dengan dirimu sendiri?”


“Mungkin aku akan fokus untuk melatih bela diri. Aku sudah melihat ekskul di sekolah tapi,tidak ada yang membuatku tertarik.”


“Apa kau ingin mengikuti suatu perlombaan atau semacamnya.”


“Tidak juga, aku hanya ingin melatih kemampuanku saja.”


“Sepertinya bagus juga, mungkin akan banyak yang suka padamu jika kau pandai berkelahi.”


“Bukankah mereka justru akan takut?”


“Bodoh, kau tidak pernah mengerti perempuan. Mereka akan merasa terlindungi, karena itulah aku bilang akan ada banyak gadis yang menyukaimu.” ucap Llhuvia disertai kata ejekan kecil.


“Baru pertama kali aku dikatakan bodoh olehmu, rasanya sakit sekali karena perkataan bodoh itu ditemani kata tidak pernah mengerti perempuan.”


“Hahaha, maaf aku hanya asal berkata. Apa kau marah?”


“Bodoh, mana mungkin aku marah bukan?” ucap Luca menunjuk dahi Llhuvia dan mendekatkan wajahnya.


Llhuvia justru terdiam dan malu karena melihat wajah Luca dengan dekat. Llhuvia pun kembali memasak untuk mengalihkan pikirannya. Setelah selesai masak mereka makan bersama sambil bercanda. Setelah makan pakaian Luca pun sudah kering. Luca menggunakan kembali pakaiannya dan pulang ke rumah dengan payung pinjaman Llhuvia.


Setelah Luca pulang, Llhuvia masih terbayang wajah Luca yang sangat dekat. Wajahnya memerah dengan sendirinya, detak jantungnya meningkat, suhu tubuhnya panas.


“Apa aku . . . Apa aku menyukai Luca? Tidak, ini pasti hanya demam! Sebaiknya aku istirahat."


Sementara itu, di tempat lain di suatu jalan Luca sedang berjalan menuju ke rumahnya. Ia berbicara sendiri kepada dirinya.


“Bodoh sekali aku! Apa yang aku lakukan tadi? Wajahnya dekat sekali! Bagaimana aku sanggup melihat wajahnya besok?” ucap Luca berbicara sendiri mengingat dirinya yang mendekatkan wajahnya ke Llhuvia.