
Semua orang berkumpul di ruang OSIS, tugas Luca hanya membantu persiapan rapat. Llhuvia mendengarkan rapat karena dia merupakan salah satu anggota relawan. Kemudian rapat di mulai, dipimpin dan di buka oleh ketua OSIS Angela Samantha. Mereka biasa memanggilnya dengan panggilan Ketua Angel.
Ia merupakan orang yang cerdas dan memiliki jiwa kepemimpinan. Saat ini ia sudah kelas 3 dan menjadi ketua OSIS selama 2 tahun. Rapat dimulai, ketua Angel membahas tentang pendanaan dan rancangan acara. Mereka berencana untuk membuat acara musim panas sebagai penutup hari liburan semua siswa.
Acara ini terdiri dari sebuah pentas atau pertunjukkan, lalu akan di adakan barbekyu dan api unggun pada malam hari, terakhir tentu saja akan di tutup oleh pertunjukkan kembang api. Untuk dananya, Ketua Angel sudah berhasil mengumpulkan dari para orang tua yang berada. Hanya saja, masih kurang sedikit dana.
Oleh karena itu, para relawan beserta anggota OSIS akan melakukan bersih-bersih selama 3 hari saat musim panas untuk mendapat dana dari Walikota. Setelah merencanakan jadwal bersih-bersih, setiap orang mendapat giliran sehari untuk membersihkan kota. Sebagai perwakilan OSIS, Luca akan mendapat bagian 3 hari penuh bersama anggota OSIS lainnya.
Para anggota OSIS sangat bersemangat karena ini merupakan acara terakhir mereka bersama Ketua Angel. Karena ia sudah kelas 3 jadi, saat liburan musim panas berakhir akan diadakan upacara kelulusan dan upacara penerimaan murid baru. Oleh sebab itu, mereka ingin membuat kenangan terbaik untuk ketua yang sudah banyak membantu mereka.
Tak memakan waktu lama, rapat telah selesai. Kegiatan hari itu sudah selesai dan semua orang bisa pulang ke rumah masing-masing. Anggota OSIS melakukan pertemuan sebelum mereka pulang. Untuk memperjelas tugas mereka masing-masing. Jadi, mereka tetap di ruangan OSIS setelah rapat selesai.
“Terima kasih atas kerja keras kalian hari ini. Terutama Luca, padahal aku telat mengabarimu tapi kau datang tepat waktu.” ucap Ketua Angel.
“Tidak, itu bukan masalah. Lalu, apa yang akan kita lakukan di sini?” tanya Luca.
“Tugas kalian besok bukan hanya membersihkan sampah, tetapi kalian juga harus mengawasi murid sekolah ini agar tidak berbuat hal yang mempermalukan sekolah, apa kalian paham?”
“Baik, Ketua Angel.” ucap semua anggota OSIS.
Setelah memberitahu hal itu, para anggota OSIS sudah diperbolehkan pulang. Hari masih siang dan Luca berniat untuk jalan-jalan sebentar. Luca yang niat awalnya ingin jalan-jalan sebentar pun terkejut. Karena, ketika ia melihat sepedanya di tempat parkir Llhuvia sedang duduk di sepedanya menunggu kedatangan Luca.
“Llhuvia?” ucap Luca memanggil Llhuvia dengan sedikit kebingungan.
“Hah, akhirnya kau datang juga. Kenapa lama sekali?” tanya Llhuvia di depan banyak orang di sekitar tempat parkir.
“Apa kau menungguku? Kenapa kau tidak pulang duluan?”
“Jahat sekali, aku ‘kan datang ke sini bersamamu. Jadi, sebaiknya aku pulang juga bersamamu. Lagi pula, aku sedang ingin ke kafe, apa kau mau menemaniku? Aku yang traktir sebagai tanda terima kasih!”
“Baiklah, kalau begitu ayo kita jalan sekarang.”
“Jalan? Tentu saja akan lebih enak jika naik sepeda bukan?”
“Iya, iya tuan putri. Aku akan mematuhi perkataanmu.” ucap Luca yang sudah tidak peduli lagi oleh pandangan murid lain di sekitarnya.
Kemudian mereka pergi bersama dengan berbonceng sepeda. Llhuvia mengajak Luca ke sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah mereka. Nama kafe itu adalah Lars. Tempat itu adalah kafe yang sering dikunjungi oleh Llhuvia sepulang sekolah. Para pelayan dan manajernya pun sudah mengenalnya. Karena hampir setiap hari ia mampir ke kafe ini.
Sesampainya di sana pun mereka langsung masuk ke kafe itu. Saat masuk, di dalam sangatlah indah. Tempat ini dihias dengan sangat detail dan menggunakan tema santai jadi, ini adalah tempat terbaik untuk menenangkan pikiran dan istirahat.
“Wah, tempat ini indah sekali.” ucap Luca yang terkagum saat memasuki kafe itu.
“Bagus bukan? Karena aku yang mengajakmu kemari, biarkan aku yang membayar pesananmu.”
“Tidak perlu, aku bukanlah lelaki yang mengandalkan dompet perempuan.”
“Hihihi, kau itu lucu sekali ya.” tawa Llhuvia diakhiri senyuman manis yang pertama kali dilihat oleh Luca.
Luca terdiam melihat wajah imut Llhuvia, karena tidak sanggup mengimbangi topik pembicaraan lagi ia pun mencari tempat duduk. Setelah duduk, mereka pun memesan sesuatu untuk dimakan. Llhuvia terlihat sangat akrab dengan para pelayan yang ada di sini. Luca merasa canggung karena ia merasa seperti orang asing yang salah tempat.
“Pelayan!” teriak kecil Llhuvia memanggil pelayan.
“Owh, hari ini yang berjaga Kak Mia ‘kah? Aku pesan seperti biasa, Luca kau mau pesan apa?”
“Aku mau es kopi, jangan terlalu manis dan viennetta.”
“Wah, Luca apa kau suka makanan dingin?”
“Tidak juga ‘sih, mungkin karena sudah akan memasuki musim panas. Aku jadi ingin makan yang dingin.”
Di waktu yang singkat itu, untuk pertama kalinya Luca merasa bisa bersantai dengan tenang selain di rumahnya. Tak lama pesanan mereka tiba, Llhuvia memesan milk shake stroberi dan tiramisu cake. Luca langsung mencicipi makanan yang ia pesan namun, Llhuvia mencegahnya karena ingin memfotonya terlebih dahulu.
“Stop! Kalau lagi seperti ini, aku sebagai wanita tidak bisa diam saja.”
“Apa maksudmu?”
“Tentu saja, aku akan memfotonya terlebih dahulu.”
“Dasar wanita.” keluh Luca dalam hati.
Setelah selesai, mereka pun memakan pesanan mereka. Di saat Luca sudah hampir memakan setengah bagian viennetta, Llhuvia bilang kalau ia ingin mencicipinya. Sebagai gantinya, Luca diperbolehkan mencicipi tiramisu cake milik Llhuvia.
“Luca, aku ingin mencicipi viennetta mu apa boleh?”
“Silahkan saja, tapi ini bekas gigitan . . .” ucapan Luca terpotong karena Llhuvia langsung mencicipi viennetta.
“Tadi kau bilang apa? Aku tidak mendengarnya.” ucap Llhuvia menanyakan apa yang sebelumnya dikatakan Luca.
“Astaga, kau seharusnya lebih waspada sedikit dong.”
“Mewaspadai apa?”
“Tidak, aku malas menjelaskannya.”
“Kalau begitu, ini sebagai balasan dariku.” ucap Llhuvia lalu menyuapi Luca potongan cake miliknya menggunakan sendoknya.
Luca yang menerima ciuman tak langsung itu terdiam karena malu. Pada saat itu, ternyata ada seorang murid yang berasal dari sekolah yang sama dengan mereka dan langsung memfoto Luca yang sedang disuapi oleh Llhuvia. Tetapi, mereka tidak menyadari keberadaan murid dari sekolah yang sama pada saat itu.
Setelah selesai makan, Luca mengantar Llhuvia pulang sebelum kembali ke rumah. Karena rumah mereka searah, jadi bukaanlah masalah bagi Luca untuk mengantarnya. Sesampainya di depan rumah Llhuvia, rumahnya terlihat sangat sepi dan gelap dari luar. Luca pun tanpa sengaja bertanya apa ada orang di dalam.
“Llhuvia, apa di dalam rumahmu ada orang? Kelihatannya sepi sekali.”
“Kedua orang tuaku pulang malam, jadi aku sendiri di rumah.” jawab Llhuvia dengan wajah tidak ingin membahas.
“Apa kau . . . “ ucap Luca membatalkan perkataannya.
“Apa? Aku kenapa?” tanya Llhuvia bingung dengan ucapan Luca yang tidak jelas.
“Tidak, bukan apa-apa. Kalau begitu, aku pamit dulu, sampai jumpa lagi!” ucap Luca meninggalkan Llhuvia di depan rumahnya.
“Sampai jumpa lagi!”