
“Aku pulang.”
“Kak, hari ini kau lebih cepat dari biasanya?”
“Soalnya ini hari libur sih, jadi tidak terlalu lama.”
“Apa kakak tidak kehujanan? Bukankah hujannya sangat deras?”
“Aku sempat mampir ke rumah temanku tadi, jadi aku mengeringkan bajuku dan mandi di tempatnya.”
“Oh, begitu. Sejak kapan kakak punya teman dekat? Bukankah kakak selalu mengeluh tentang teman sekelas kakak? Jangan membohongiku.”
“Luna? Wajahmu seram sekali loh.”
“Jawab pertanyaanku! Kalau tidak aku akan memberitahu ayah dan ibu kalau kakak membawa pacar ke rumah.”
“Baiklah, jadi jangan mengarang hal itu lagi, terakhir kali mereka sangat gaduh sekali.”
“Jadi, siapa te – man – mu itu!”
“Namanya Llhuvia Chinatsu, Llhuvia sudah pernah kemari sebelumnya walau hanya di depan rumah. Karena kami searah saat itu sedang bersama dengannya. Lalu, ia menawarkanku untuk mengeringkan pakaian terlebih dahulu karena bajuku basah semua. Apa sudah puas?”
“Sudah kuduga, seorang perempuan. Kakak tidak melakukan hal aneh kepadanya kan?”
“Tidak, aku mana berani melakukan hal seperti itu.”
“Kalau begitu bagus, sekarang bantu aku buat makan malam tapi, ganti dulu bajumu.”
“Baiklah.”
Kemudian Luca menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian dan membantu Luna. Setelah selesai berganti pakaian ia langsung menuju dapur dan membantu adiknya memasak. Setelah selesai, Luca memanggil adik laki-lakinya di kamar.
“Ryan, waktunya makan malam!” ucap Luca sambil mengetuk pintu.
“Ya, aku akan segera ke sana. Aku sedang mengerjakan tugasku kak.” jawab Ryan dari dalam kamar.
“Pergilah makan dulu, setelah itu baru lanjutkan lagi.”
“Aku masih belum lapar, kalian tidak makan duluan saja.” ucap Ryan yang selalu mengelak karena ia sedang memainkan video game.
Luca membuka pintu tanpa suara dan melihat Ryan sangat fokus memainkan gamenya. Ia dengan sembunyi-sembunyi mendekati sakelar listrik dan mencabutnya. Ia pun mengejutkan adiknya yang sedang memainkan game.
“Sepertinya tugas mu sulit sekali ya?” tanya Luca ke adiknya dengan senyuman menyeramkan.
“Hah, begitulah kak. Soalnya sudah hampir tamat sih.” jawab Ryan takut dengan senyuman mengerikan kakaknya.
“Apa kamu ingin melanjutkan tugasmu atau makan dulu?” tanya Luca le adiknya.
“Makan dulu, aku akan makan dulu!”
Kemudian mereka turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama. Sampai di meja makan, Luna sudah menyiapkan semua makan malamnya di meja makan. Mereka pun segera makan. Ryan berbisik kepada Luna beberapa kali saat makan malam.
“Kak Luna, kenapa kau tidak memberitahuku kalau Kak Luca sudah pulang?”
“Rasakan saja itu, siapa suruh kau memainkan video game sepanjang hari ini.”
“Oh, jadi kau mengerjakan tugasmu sepanjang hari ini ya, Ryan?” tanya Luca yang mendengar pembicaraan mereka.
“Maaf Kak, aku akan mengurangi waktu bermainku.”
“Kau sudah memutuskan masuk SMP mana? Kakakmu saja sudah memutuskan SMA yang akan dia tuju. Bagaimana denganmu?”
“Aku ingin masuk sekolah teknik khusus, aku ingin mempelajari teknik komputer dan jaringan.”
“Apa kau yakin? Ujian masuk sekolah itu sangat ketat loh.” ucap Luna menanyakan Ryan.
“Ya, aku ingin membuat game dan mengembangkan program visualisasi dalam game.”
“Apa cita-citamu tidak ada yang tidak berhubungan dengan game?”
“Tentu saja, tidak ada.”
Sesampainya di sana, ia langsung memesan dan makan secepatnya. Setelah selesai makan Llhuvia pun langsung kembali menuju ke rumah. Namun, saat di tengah jalan ia melihat 2 orang laki-laki berbadan besar di sebuah gang kecil. Ia merasa kalau suasana yang ia rasakan tidak terasa aman. Ia pun kembali dalam restoran.
Kedua orang itu masih berdiam diri di tempat awal mereka. Mereka terus mengawasi Llhuvia dari jauh. Llhuvia pun mulai merasa kalau ia membutuhkan bantuan. Secepatnya ia membuka ponsel dan melihat kontak yang bisa di hubungi.
“Siapa yang harus kupintai tolong? Aoi? Tidak, dia perempuan. Ya ampun, semua kontakku hanya perempuan saja. Luca! Aku harus menghubungi Luca sekarang.” ucap Llhuvia langsung menghubungi Luca dengan ponsel.
DI lain tempat. Luca sedang menonton televisi, dan adiknya memanggilnya karena ponselnya terus berdering dari tadi.
“Kakak! Ponselmu berdering, kamarku jadi berisik karena suaranya.”
“Mana ponselnya? Berikan padaku!”
“Ini.”
“Llhuvia? Ada apa dia meneleponku di malam begini.”
Kemudian Luca mengangkat telepon dari Llhuvia. Saat itu suara Llhuvia sudah sangat ketakutan.
“Llhuvia?”
“Luca? Aku ingin minta tolong padamu, aku mohon! Temui aku di Restoran Cina Ling sekarang juga. Aku mohon padamu! Datanglah secepatnya!”
“Baiklah aku secepatnya ke sana. Jaga dirimu baik-baik.” jawab Luca tanpa bertanya.
Luca langsung menggunakan sepedanya dan secepatnya ke sana. Saat sampai di sana, ia melihat Llhuvia sedang duduk sendirian dengan penuh gelisah. Ia pun langsung menghampirinya secepatnya.
“Llhuvia! Ada apa? Apa kau dalam masalah?”
“Dari tadi ada 2 orang lelaki yang mengawasiku di sana, aku tidak ada kontak lain yang bisa kupintai tolong. Terima kasih sudah datang.”
“Mereka berdua sepertinya pernah aku lihat di dekat sekolah.”
“Aku takut sekali, untung aku masih sempat kembali masuk ke dalam restoran.” Ucapnya meneteskan air mata.
“Tenang saja, aku ada bersamamu. Ayo ikut aku ke rumahku agar mereka tidak tahu diaman rumahmu.”
Llhuvia hanya mengangguk mengikuti Luca, Luca merasa kalau Llhuvia sudah benar-benar ketakutan. Ia memboncengnya dengan sepeda dan membawanya ke rumahnya. Seperti yang di duga, setelah Luca dengan cepat membawa Llhuvia dengan sepeda, kedua orang itu mencoba mengikuti mereka berdua.
Setelah sampai, Llhuvia langsung di bawa masuk lewat garasi agar lebih cepat. Kedua orang itu berhasil mengikuti mereka sampai ke rumah Luca. Luca langsung menutup semua jendela, pintu, dan apa pun yang bisa digunakan sebagai jalan masuk. Luna dan Ryan pun langsung turun ke bawah setelah mendengar suara ribut kakaknya yang terburu-buru menutup semua pintu dan jendela.
Mereka berdua terkejut karena kakaknya yang sudah menjadi murid taat aturan membawa perempuan ke rumah di malam hari.
“Kakak! Apa yang kamu lakukan? Lalu, siapa kakak cantik ini? Terutama, kenapa dia menangis?” tanya Luna yang agak terlambat melihat wajah menangis Llhuvia.
“Kakak? Apa ada masalah?” tanya Ryan.
“Tutup semua jendela di lantai atas! Sekarang!” ucap Luca menyuruh Ryan.
Ryan langsung bergegas dengan cepat menutup semua jendela di lantai atas. Setelah selesai menutup mereka mulai lebih tenang sedikit. Luna dan Ryan pun langsung menanyakan apa yang terjadi ke kakaknya.
“Kak, apa yang terjadi?” tanya Luna.
“Pertama, perkenalkan diri kalian ke kakak ini.”
“Namaku Luna Kai, senang bertemu denganmu.”
“Namaku Ryan Kai, salam kenal.”
“Perkenalkan, namaku Llhuvia Chinatsu. Aku teman kakak kalian, ia sudah menolongku dari orang jahat. Senang bertemu dengan kalian.”
“Menyelamatkan? Apa maksudnya barusan?” tanya Ryan.
“Begitulah, sepertinya dia sedang di kejar oleh pria jahat.”
“Kenapa kakak tidak menghajarnya saja, kalau kamu serius tidak akan sulit bukan?”
“Aku hanya tidak ingin membuat masalah saja. Jika mereka kelewatan, baru aku akan serius.”