Rain In The Summer

Rain In The Summer
Relawan Persiapan Acara Musim Panas



Sesampainya di rumah, adiknya laki-lakinya sudah tertidur. Adik perempuannya tertidur di depan meja karena menunggu kepulangan kakaknya. Adik laki-lakinya bernama Ryan sedangkan adik perempuannya bernama Luna. Luca mencoba membangunkan adik perempuannya untuk pindah ke kamarnya.


“Luna, ayo bangun! Jangan tertidur di sini, nanti bisa sakit.”


“Kakak? Kau sudah pulang?”


“Ya, apa kalian sudah makan?”


“Sudah, kakak kalau mau makan panaskan dulu makanannya, ada di dalam kulkas. Aku akan tidur lagi. Selamat malam.”


“Selamat malam.”


Luca memanaskan makanan yang sudah disediakan adiknya. Setelah makan, ia mengerjakan PR di kamarnya. Sejenak ia teringat wajah Llhuvia yang sangat tenang saat menunggu hujan berhenti. Ia berpikir, mungkin Llhuvia memiliki masalah keluarga. Karena, ia seperti merasa tidak akan ada masalah jika ia tidak pulang sekalipun.


Di waktu yang sama, Llhuvia sedang menyelesaikan PR di kamarnya. Ia merasa senang karena mengenal Luca. Karena Luca tidak memanfaatkan keadaan yang ia alami untuk mencoba menarik perhatian Llhuvia. Llhuvia sebenarnya merasa kesulitan karena setiap hari akan ada lelaki yang mencoba membantunya.


Ia terlihat seperti ratu yang dilayani oleh para pelayan yang mencintainya. Ia tidak suka hal itu, dan selalu menolak bantuan dari laki-laki yang menyukainya. Karena, ia tidak ingin membuat seseorang merasa kalau masih ada kesempatan untuk mendekati Llhuvia sebab hal itu hanya akan menyakiti mereka.


Ia berpikir mungkin tidak ada salahnya untuk berbicara pada laki-laki kalau untuk sesekali saja. Namun, ia juga harus pandai memilih orang yang tepat untuk di ajak berbicara. Setelah selesai mengerjakan PR, Llhuvia menggumamkan saru hal sebelum tertidur.


“Dunia tidak akan berjalan sesuai kemauan diri kah?” ucapnya bergumam sendiri lalu tertidur pulas.


Luca setelah selesai mengerjakan PR pun bersiap untuk pergi tidur. Saat ia baru saja akan memejamkan mata, suara handphone berdering. Panggilan dari ketua OSIS yang tiba-tiba tidak seperti biasanya. Ia pun mengangkat teleponnya.


“Halo, ketua ada apa?”


“Maaf, aku lupa mengabarimu. Besok kita akan melakukan pertemuan untuk acara akhir musim panas. Kita harus mencari dana dan sukarelawan untuk melakukannya. Jadi, aku harap kau bisa datang ke sekolah besok.”


“Siap ketua, aku akan datang besok. Tumben sekali ketua bisa lupa begini, memangnya ada apa?”


“Tidak, aku hanya sedang ada urusan jadi, aku lupa mengabarimu.”


“Seperti itu, kalau begitu aku tutup teleponnya, aku sudah sangat mengantuk, selamat malam ketua.” Ucap Luca lalu langsung menutup teleponnya.


Pagi hari tiba, Luca bersiap untuk pergi ke sekolah di hari libur. Ia berangkat dengan sepeda kali ini, karena kemungkinan urusannya di sekolah tidak akan memakan waktu lama dan ia berniat untuk jalan-jalan dengan sepeda sepulangnya. Ketika ia siap untuk berangkat, terdengar suara ketukan pintu dari depan rumahnya.


Luca langsung membuka pintu untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya di pagi ini. Ketika ia membuka, Aoi dan Llhuvia berada di depan rumahnya.


“Kalian, apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Luca terkejut melihat mereka berdua.


“Sebenarnya aku diberitahu oleh ketua ekskul tenis perempuan, katanya akan ada acara di akhir musim panas di sekolah, apa hal itu benar?” tanya Aoi mencoba mengkonfirmasi hal yang disampaikan ketua ekskul tenis perempuan.


“Untuk hal itu, kami kemari sebenarnya ingin mengajukan diri sebagai sukarelawan.”


“Benarkah? Tapi, kenapa kalian ke rumahku dan tidak mengajukan ke sekolah?”


“Maaf, aku tidak terlalu sering berkomunikasi dengan anggota OSIS, Aoi juga setelah ini ada urusan. Aku akan ke sekolah denganmu, kami ke sini hanya untuk mengkonfirmasi agar Aoi bisa menjadi relawan. Karena kalau tidak menyampaikan secara langsung tidak akan terdaftar sebagai relawan bukan?”


“Kalian kan, bisa mengirimiku pesan saja bukan?”


“Anu, sebenarnya handphone ku hilang, sementara Llhuvia tidak memiliki kontakmu.” jawab Aoi mencoba menutupi kalau sebenarnya kontak Luca tidak sengaja terhapus saat sedang membersihkan kontak tak bernama.


“Benar juga, kalau begitu tunggu aku membangunkan adikku dulu. Setelah itu baru kita berangkat.”


“Oke” jawab Llhuvia hanya menyetujuinya tanpa alasan.


Kemudian Luca membangunkan adik perempuannya, Nana Kai untuk merapikan rumah karena ia memiliki urusan ke sekolah hari ini. Setelah membangunkannya, Luca segera bergegas berangkat karena sudah di tunggu oleh Llhuvia di ruang tamu. Ia mengatakan Llhuvia kalau ia akan mengeluarkan sepeda terlebih dahulu dan menyuruhnya menunggu di depan rumahnya.


Kemudian, Llhuvia menunggunya di depan rumahnya. Hanya sebentar Luca muncul lewat garasi mobil membawa sepeda. Namun, Luca tidak menaikinya tetapi hanya mendorongnya. Karena Luca merasa tidak enak kalau menyuruh Llhuvia untuk di bonceng sepedanya. Karena itulah ia tidak menaiki sepedanya. Tak lama, Llhuvia malah menanyakan hal yang ia khawatirkan.


“Kenapa tidak di naiki saja sepedanya? Apa sepedamu rusak?” tanya Llhuvia dengan polosnya.


“Tidak, hanya saja aku merasa tidak enak kalau memintamu naik sepeda denganku.” jawab Luca apa adanya.


“Aku? Memangnya kenapa denganku? Aku tidak masalah kalau berboncengan sepeda denganmu kok.” jawab Llhuvia yang tidak mengerti maksud lain dari perkataan Luca.


“Bukan itu maksudku, hanya saja aku tidak enak jika akan ada rumor jelek tentangmu yang berboncengan sepeda dengan pria yang tidak di kenal, lagi pula kau kan populer di sekolah.”


“Aku tidak masalah tentang itu, lagi pula kalau naik sepeda akan lebih cepat bukan? Kalau kau merasa tidak enak, aku yang akan memintamu memboncengiku.” ucap Llhuvia menjawab pertanyaan Luca dengan sedikit ancaman karena ia tidak peduli dengan rumor rendahan seperti itu.


“Oke, aku akan memboncengimu ke sekolah.” jawab Luca menuruti perkataan Llhuvia.


Kemudian Luca membonceng Llhuvia dengan sepedanya. Karena pembicaraan yang cukup lama, Luca sedikit lebih cepat membawa sepedanya agar lebih cepat sampai. Saat di tikungan tajam tanpa sengaja Luca menekan rem terlalu tiba-tiba. Llhuvia yang terkejut memeluk pinggang Luca dengan kuat karena takut terjatuh.


“Maaf, aku tidak sengaja.” ucap Luca dengan wajah memerah karena di peluk oleh wanita dari belakang.


“Tidak apa, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan saja.” reaksi Llhuvia yang menjawabnya sambil menundukkan wajahnya karena malu.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke sekolah. Setibanya di sekolah, beberapa anggota relawan memandangi mereka berdua. Lebih tepatnya memandangi Llhuvia yang di bonceng sepeda oleh lelaki. Namun, Llhuvia tidak mempedulikan hal itu. Di lain hati, Luca merasa tertekan karena pandangan tajam para lelaki kepadanya.


Setelah memarkirkan sepeda, mereka langsung berlari menuju ke ruang OSIS. Sesampainya di sana Llhuvia dan Luca langsung memberikan surat keikutsertaan relawan dalam acara tersebut. Ketua OSIS langsung menerimanya dan mengadakan rapat untuk persiapan kepada seluruh relawan dan anggota OSIS.