
Hari ini ujian akhir semester telah selesai. Ini merupakan hari terakhir murid SMA Cahaya Bintang sebelum liburan musim panas. Murid yang mendapat nilai merah secepat mungkin menyelesaikan tugasnya agar bisa berlibur. Luca Kai adalah anggota OSIS dari sekolah ini. Ia adalah murid biasa yang bisa di temui dimana saja.
Luca mendaftar OSIS untuk menutupi kebiasaan buruknya saat masih SMP. Sekarang adalah hari terakhir ia menjadi murid kelas satu. Ia sudah benar-benar beradaptasi menjadi murid yang baik. Meskipun ia memiliki kepribadian tersembunyi yang buruk itu hanyalah masa lalu baginya. Hari ini ia bertugas untuk merapikan ruang OSIS. Sekarang ia menjadi lebih baik dalam membuat keputusan.
Ia selalu menjalankan tugas yang sudah dijanjikannya. Ia juga sengaja menggunakan pakaian olahraga untuk membersihkan ruangan agar lebih mudah. Sementara itu di tempat lain, kelas 1-B. Seorang diva sekolah ini, Llhuvia Chinatsu sedang membantu temannya mengerjakan tugas tambahan karena mendapat nilai merah saat ujian.
“Kan’ makanya saat aku suruh belajar harusnya kau mendengarkan!” ucap Llhuvia ke temannya bernama Aoi Kiran.
“Ma-maaf, lain kali aku akan mendengarkan nasihatmu. Jadi, aku mohon bantu aku kali ini saja.” Ucapnya memohon dengan mata memelas.
“Baiklah, sudah berapa kali permintaan terakhirmu itu?” ucap Llhuvia menggelengkan kepalanya.
Llhuvia Chinatsu, gadis cantik terpopuler yang suka menolong temannya. Sudah menolak banyak laki yang menembaknya. Ia juga merupakan orang yang suka merendah. Ia memiliki tipe tertentu dalam memilih lelaki. Ia berasal dari keluarga yang berada dan terbilang sangat kaya. Meskipun begitu keluarganya sangat suka dengan kehidupan sederhana.
Banyak orang yang jatuh hati padanya sungguh bukanlah hal yang tidak mungkin. Meskipun memiliki penampilan biasa yang tidak mencolok dengan rambut hitam panjang dan wajah putih pada umumnya, ia menjadi gadis terpopuler dari sifat baiknya. Karena membantu temannya ia pulang terlambat ke rumahnya.
Kembali ke Luca, akhirnya ia telah menyelesaikan tugasnya sendirian. Tak terasa hari mulai senja, dan matahari mulai terbenam. Luca segera pulang setelah mengunci ruang OSIS dan menaruhnya di ruang guru. Hari ini dia sangat lelah dan juga berkeringat karena sudah mulai memasuki musim panas, karena itulah ia mengganti pakaian olahraganya sebelum pulang.
Kemudian ia langsung pulang ke rumah. Di perjalanan, awan terlihat menggelap dan berangin. Luca yang melihatnya mencoba mencari tempat berteduh karena sepertinya akan turun hujan. Ketika melihat sekeliling, ia melihat sebuah kafe kecil dan langsung berlari ke kafe itu. Ketika ia ingin meraih pintu ia menyentuh gagang pintu bersamaan dengan seseorang.
Ketika ia menoleh, ia sedikit terkejut karena Llhuvia ada di sini. Ia langsung menarik tangannya kembali. Ia membiarkan Llhuvia dan temannya masuk lebih dulu.
“Terima kasih, bukankah kamu dari sekolah kami?” ucap Llhuvia berterima kasih karena membiarkannya masuk lebih dulu dan menyadari seragamnya sama.
“Ya, kau benar. Namaku Luca Kai, salam kenal.”
“Apa kau mau bergabung dengan kami? Dari pada sendiri saja, akan terasa agak canggung bukan?” ucap Aoi mengajak Luca bergabung bersama mereka.
“Aoi? Aku kira siapa, kenapa kau baru pulang?” tanya Luca karena ia adalah teman sekelas Aoi.
“Sebaiknya kita berbicara di dalam saja.” ucap Aoi mencoba mengalihkan pembicaraan.
Kemudian mereka memasuki kafe itu dan menuju tempat duduk untuk mengobrol sambil menunggu hujan berhenti. Mereka juga memesan beberapa makanan untuk menunda rasa lapar.
“Apa pesanan kalian?” ucap seorang pelayan kafe itu.
“Ah, choco lava 2 dan jus stroberi 2.” ucap Llhuvia memesan makanan untuknya dan untuk Aoi karena ia sudah pernah ke sini sebelumnya dengan Aoi.
“Aku kopi hitam saja 1, jangan pakai gula terlalu banyak.” ucap Luca memesan minuman.
“Tunggu sebentar lagi, pesanan kalian akan datang.” ucap pelayan itu lalu pergi.
Kemudian Luca menanyakan Aoi, kenapa mereka bisa pulang selarut ini.
“Ngomong-ngomong kenapa kalian bisa pulang selarut ini?” tanya Luca karena biasanya Aoi telat karena ekskul, namun karena besok liburan musim panas jadi dihentikan untuk persiapan pelatihan saat liburan.
“Sebenarnya aku tadi mengerjakan beberapa tugas tambahan. Hahaha, aku malu tapi untung ada Llhuvia yang membantuku. Kalau tidak, aku tidak akan bisa menyelesaikannya hari ini.” jawab Aoi apa adanya.
“Merasakan apa?” tanya Aoi bingung.
“Tentu saja, rasa tidak enaknya mendapat tugas tambahan!” jawab Luca yang tidak menyangka kalau Aoi sangat bodoh sampai tidak mengerti perkataan Llhuvia.
Sementara hujan di luar menjadi semakin lebat. Aoi mencoba menghubungi orang tuanya agar menjemputnya. Sementara Llhuvia terlihat sangat tenang, seolah tidak masalah meskipun ia tidak pulang ke rumah. Luca, mengkhawatirkan adiknya karena orang tuanya sedang tugas dan tidak bisa pulang minggu ini.
Tak lama, Aoi di jemput ayahnya dengan mobil. Ia mencoba mengajak Llhuvia dan Luca untuk pulang bersama, namun mereka berdua terlalu merasa sungkan hingga menolak tawarannya. Pada akhirnya, mereka berdua di kafe itu. Suasana menjadi sedikit canggung karena mereka tidak terlalu banyak berbicara satu sama lain sebelumnya.
“Llhuvia, apa kau tidak masalah? Bukankah orang tuamu akan mengkhawatirkanmu?” ucap Luca mencoba membuka pembicaraan.
“Aku sudah mengabari mereka melalu email tadi. Kamu sendiri, apa kamu tidak masalah kalau pulang terlambat?”
“Tidak ada masalah sih, hanya saja aku khawatir pada adikku.”
“Kau punya adik? Laki atau perempuan? Rasanya aku juga ingin sekali punya adik.”
“Aku punya dua adik, adik perempuanku saat ini kelas 2 SMP, sementara adik laki-lakiku yang paling kecil masih kelas 5 SD.”
“Benarkah? Apakah memiliki adik itu menyenangkan?”
“Yah, setidaknya bukanlah hal yang tidak menyenangkan. Walaupun terkadang suka bertengkar tapi, akan berbaikan lagi dengan sendirinya. Mungkin seperti itu.”
“Enaknya, aku hanya punya kakak laki-laki yang menyebalkan dan suka mengejekku.”
“ah, hujannya sudah mulai mereda. Sebaiknya kita jalan sekarang sebelum hujannya kembali deras.”
“Kau benar tapi, masih gerimis.”
“Tenang saja aku membawa payung, apakah rumahmu jauh dari sini?”
“Tidak terlalu, hanya tinggal lurus dari sini dan berbelok ke kiri di persimpangan dan rumahku yang kedua sebelah kiri.”
“Ternyata tidak terlalu jauh dari rumahku, kalau begitu aku akan mengantarmu dulu.”
“Tidak usah, nanti aku akan merepotkanmu.”
“Tidak masalah, rumahku tidak jauh dari rumahmu. Lagi pula rumahku searah denganmu.”
“Kalau begitu, aku tidak akan menolak.”
Kemudian mereka pulang bersama dengan satu payung. Llhuvia memikirkan bagaimana reaksi Luca ketika berjalan bersamanya. Ketika ia melihatnya, Luca terlihat biasa saja. Dengan begitu, ia tahu kalau Luca tidak memiliki niat tertentu untuk menolongnya tidak seperti lelaki yang lainnya. Biasanya, orang yang membantunya hanya mencoba terlihat baik agar dapat mendapatkan hatinya.
Kemudian Llhuvia tersenyum setelah melihat wajah Luca yang tidak memiliki niat tersembunyi. Karena lelaki seperti dia sangat jarang. Karena hal itulah ia mulai memiliki ketertarikan terhadap Luca. Setelah selesai sampai di depan rumah Llhuvia, Luca langsung berpamitan ke Llhuvia dan pulang karena khawatir pada adiknya.