
Kemudian terdengar suara bising motor dari depan rumah Luca. Suara itu terdengar seperti 3 pengendara motor. Motor itu hanya sekedar melalui jalan berulang kali. Luca, pernah mengikuti geng motor seperti itu saat kelas 3 SMP. Kemudian suara ketiga motor itu berhenti seperti memarkir di depan rumah Luca.
Luca melihat melalui jendela ke arah sekumpulan orang itu. Keberadaannya di ketahui oleh salah seorang yang memimpin kumpulan orang itu. Setelah ia teliti memperhatikan, ia mengenal orang yang memimpin kumpulan orang itu. Ia sangat akrab dengannya saat masih SMP. Kemudian Luca keluar melalui garasi untuk menemui kumpulan orang itu.
Luca langsung berlari ke tengah jalanan, ia melawan 7 orang sekaligus sendirian. Awalnya yang menyerangnya hanya 2 orang. Namun, ia berhasil mengalahkan kedua orang itu. Pada saat itu, pemimpin mereka mulai merasakan suatu yang familier. Jadi, ia merasa kalau cara bertarung orang itu sangat hebat.
“Hei, siapa namamu?” tanya pemimpin mereka.
“Kau bodoh ya kak? Masa baru 1 tahun tak bertemu sudah melupakanku.”
“Luca? Apa kau Luca? Penampilanmu sangat berbeda sekarang, bagaimana aku bisa mengenalmu?”
“Ngomong-ngomong, kenapa kau mengejar gadis itu kak?” tanya Luca dengan wajah mengancam.
“Hei, tenang saja. Aku di bayar untuk mencelakai gadis itu, kalau tahu begini aku tidak akan menerimanya.”
“Berapa yang dia kasih?”
“200.000 yen.”
“Sekarang kau lakukan hal yang di pinta orang itu ke dirinya sendiri, aku akan membayarmu 2 kali lipat.”
“Tidak perlu, aku akan membatalkan permintaannya. Kau tidak perlu mengeluarkan uang.”
“Kak, aku tahu kau baik. Tapi, aku tidak bisa membiarkannya.”
“Baiklah, aku akan menghajarnya. Kau tidak usah berikan uangnya.”
“Terima kasih kak, kau memang saudaraku.”
“Sebenarnya, siapa gadis itu? Kau sampai melindungnya begitu.”
“Biar ku perjelas juga kepada kalian, gadis itu adalah milikku. Kalau kalian ingin menyentuhnya, langkahi dulu mayatku.”
“Hahaha, akhirnya aku melihat dirimu yang dulu. Kapan-kapan traktir aku jika kita bertemu lagi.”
“Tenang saja.”
Kemudian kumpulan orang itu pergi meninggalkan rumah Luca. Luca pun kembali masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke dalam, kedua adiknya menahan tawa melihat kakaknya. Luca bingung kenapa mereka berekspresi seperti itu. Ketika ia melihat Llhuvia, dengan cepat Llhuvia langsung memalingkan wajah.
“Kalian, sebenarnya ada apa?” tanya Luca yang bingung akan situasi mereka.
“Gadis itu adalah milikku!” teriak kecil Ryan.
“Kalau ingin menyentuhnya, langkahi dulu mayatku!” teriak kecil Luna.
“Ya ampun, Llhuvia, tadi itu . . .” ucap Luca terpotong.
“Tidak apa, aku tahu alasanmu melakukan itu.” ucap Llhuvia dengan wajah memerah.
Setelah itu mereka bisa bernafas lega. Suasana hati mulai tenang, juga pikiran menjadi rileks. Luca menanyakan Llhuvia tentang kapan ia akan pulang. Karena Llhuvia masih merasa takut, ia tidak berani untuk pulang sendiri, apalagi hari sudah tengah malam. Luca menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
“Llhuvia, apa kau sudah tenang? Kapan kau akan pulang?”
“Aku ingin pulang secepatnya tapi, aku masih sangat takut.”
“Apa mau aku antar dengan sepeda?”
“Sungguh, aku benar-benar sangat takut. Aku tidak berani keluar malam ini.
“Bagaimana kalau menginap saja?” tanya Luna.
“Menginap?” tanya balik Luca ke adik perempuannya.
“Kasurku kan lebih besar dari punya kalian berdua. Jadi, kak Llhuvia bisa tidur di kamarku malam ini.”
“Aku rasa bukan hal yang buruk. Bagaimana denganmu?” tanya Luca ke Llhuvia.
Kemudian mereka menuju ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Tak terasa malam berlalu, Llhuvia bangun dari tidurnya. Ketika ia membuka mata, tidak ada Luna di depannya. Ia menuju ke lantai bawah untuk melihat keberadaannya. Saat ia sampai di lantai bawah, ia melihat Luna sedang menyiapkan sarapan sendirian.
Ia langsung membantunya tanpa pikir panjang. Llhuvia terbiasa memasak karena ia selalu makan sendiri di rumah.
“Luna, apa ada yang bisa ku bantu?” tanya Llhuvia mendekatinya.
“Apa kakak sudah tidak apa?”
“Tidak apa kok, sini biar ku bantu menyiapkannya.”
“Kalau begitu, aku tidak akan menolaknya.”
Tak lama, Luca turun ke lantai bawah. Karena biasanya ia membantu adiknya memasak di pagi hari. Namun, saat sampai bawah Llhuvia sudah membantunya membuat sarapan.
“Kakak, kau sudah bangun?”
“Pagi Luca, terima kasih untuk tadi malam. Maaf aku merepotkanmu.”
“Tidak masalah, untung saja aku kenal salah satu orang mereka.”
“Oh iya, Aoi bilang saat SMP kau adalah murid yang nakal dan bermasalah.”
“Begitulah, kak Luca saat SMP sangat bodoh sekali. Bahkan, ia sudah merepotkan ayah dan ibu berkali-kali.”
“Benarkah? Sekarang dia terlihat begini aku jadi tidak bisa membayangkan hal itu.”
“Kakakku parah sekali waktu SMP, bahkan dia hampir tidak pernah pulang ke rumah.”
“Apa sungguh sampai separah itu?”
“Begitulah, sekarang aku sudah sadar apa yang dilakukan orang tuaku.”
Setelah itu, Luca membangunkan Ryan untuk sarapan bersama. Setelah selesai sarapan, Luca mengantar Llhuvia ke rumahnya untuk mandi dan bersiap melakukan kegiatan bersih-bersih. Saat sampai di rumah Llhuvia, ayah dan ibunya panik karena dia tidak pulang semalaman. Llhuvia menceritakan semua kejadian semalam ke orang tuanya.
Karena memakan waktu lama, Luca memilih untuk menghubungi ketua Angel kalau ia tidak bisa mengikuti kegiatan bersih-bersih hari ini. Karena keluarga Llhuvia sangat berterima kasih atas kejadian itu, Luca diundang untuk makan malam bersama. Awalnya Luca ingin menolaknya, namun Llhuvia mengatakan kalau lebih baik di terima saja.
Bahkan, kedua orang tua Llhuvia mengundang orang tua Luca jika berkenan. Namun, karena kedua orang tuanya masih bekerja di luar kota, ia disuruh untuk mengajak kedua adiknya untuk makan malam di rumah Llhuvia. Karena kedua orang tua Llhuvia belakangan ini terlalu sibuk bekerja, mereka berniat mengambil cuti panjang.
Setelah panjang pembicaraan selesai, Luca pamit ke kedua orang tua Llhuvia dan keluar mencari angin sebentar bersama dengan Llhuvia. Mereka berboncengan sepeda menuju ke taman di siang menjelang sore hari. Mereka membicarakan tentang kegiatan bersih-bersih yang tidak mereka hadiri.
“Luca, bagaimana kegiatan relawannya?”
“Aku sudah memberikan kabar kalau kita tidak bisa datang, jadi besok adalah hari kita bersih-bersih.”
“Oh, bagaimana dengan Aoi? Apa dia ikut kegiatan relawan hari ini?”
“Entahlah, aku tidak menanyakannya saat menelepon tadi.”
“Besok, area bersih-bersihnya lebih kecil bukan? Apakah akan selesai lebih cepat?”
“Tentang itu, sepertinya akan lebih sedikit orang di hari terakhir karena disesuaikan dengan luas areanya. Kemungkinan, yang akan ikut hanya anggota OSIS saja.”
“Serius? Berarti aku tidak ada teman saat di sana dong.”
“Tenang saja, karena anggota OSIS sangat rajin dan cekatan, mungkin hanya sampai siang hari.”
Kemudian Luca mengantar Llhuvia ke rumahnya sebelum pulang. Saat sampai di depan rumahnya, kedua orang tuanya sudah menunggu di depan pagar. Llhuvia sedikit malu karena sifat kedua orang tuanya. Setelah turun dari sepeda Llhuvia sempat mengatakan satu hal.
“Besok tunggu aku ya, aku akan membawakan bekal juga untukmu.” bisik Llhuvia ke Luca lalu langsung berlari ke dalam rumah.
“Terima kasih ya, lain kali mainlah lagi ke sini.” ucap ayah Llhuvia.
“Sama-sama, kapan-kapan aku akan mampir ke sini lagi.”
Setelah itu, Luca kembali ke rumahnya untuk beristirahat mengumpulkan tenaga untuk esok hari. Dengan cepat ia kembali ke rumah. Ia memberi tahu undangan makan malam bersama keluarga Llhuvia. Luna merasa senang karena bisa berkunjung ke rumah Kak Llhuvia sementara Ryan hanya seperti biasa, karena dia tidak terlalu banyak memilih.