
Yang belum baca episode sebelumnya bisa dibaca dulu yaa biar nggak bingung sama ceritanya :) thankyou.
"Rain, emangnya si Rafael itu temenmu yaa? Kok kamu nggak penah cerita ke aku sih. Kamu ihh udah main rahasia-rahasian sama aku." gerutu Wulan sambil berjalan beriringan dengan Rain.
Wulanda Airin atau terbiasa dipanggil Wulan adalah teman dekat Rain di kelas. Dia adalah teman yang cerewet, kepo, ceria, rame, cablak dan baik hati banget. Sangat berbanding terbalik dengan karakter Rain yang pendiam, calm, cuek dan susah bergaul kecuali ada yang ingin mengajak dia berteman atau mengobrol. Rain merasa sangat beruntung bisa berteman dengan Wulan, meskipun dia belum terlalu paham agama tapi dia tetap menjalan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Mereka sudah berteman sejak awal masuk kampus dan dipertemukan ketika mereka OSPEK. Kebetulan satu kelompok OSPEK dan mereka satu kelas juga sampai sekarang. Pokoknya mereka adalah dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan karena mereka selalu bersama dimanapun mereka berada
"Nggak lah, dia aja yang ngarang!" elak Rain dengan muka cemberutnya.
"Tapi dia tadi bilangnya temenmu gitu Rain, masak baru kenal udah nganggep temen. HAHAHA. Aneh banget asli." timpal Wulan.
"Tapi aku belum nganggep dia temen. Dia cuma orang asing yang berusaha masuk dalam kehidupanku." jelas Rain meyakinkan Wulan.
"Jahat banget sih lu, Rain. Jangan terlalu kejem keleus sama cowok. Kamu nanti sulit dapet jodoh loh." ucap Wulan berusaha menakut-nakuti Rain.
"Naudzubillahimindalik, kamu ngomongnya jangan gitu Wul. Aku nggak mau jadi perawan tua lah." timpal Rain ketakutan.
"Ya habis lu sih, terlalu cuek. Sama kak Ilham aja kamu juga cuek." gerutu Wulan tak mau kalah.
"Eh apasih, jangan mbahas kak ilham. Kita itu cuma temen antar organisasi aja. Nggak lebih." jelas Rain meyakinkan Wulan lagi agar ia percaya dengan perkataannya.
"Terus gimana ceritanya tuh si Rafael bisa deket sama lu, Rain?" tanya Wulan sangat penasaran sembari membesarkan bola matanya.
"Jadi habis kita digodain sama dia di kantin itu loh Wul, besoknya dia udah berani bikin ulah tau sama aku. Nyebelin banget nggak sih."
"Maksudnya? Bikin ulah gimana Rain?" tanya Wulan sembari mengangkat satu alisnya.
"Masak, pas habis aku keluar dari kelas kan aku ke parkiran dulu ngambil sepeda. Tiba-tiba aku ngerasain sepedaku berat banget gitu, eh ternyata pas aku lihat ban sepedaku bocor. Yaudah aku panik kan waktu itu. Mana bengkel tuh jauh dari kampus lagi. Eh tau-tau dia datang nyamperin aku terus ngajakin aku pulang bareng gitu.'
"Terus-terus???" tanya Wulan dengan penuh semangat.
"Ya aku tolak lah, gilaa aja aku pulang berdua sama dia."
"Terus lu nggak bisa pulang dong?" tanya Wulan cemas.
"Dia malah ngaku ternyata dia yang mbocorin sepeda aku, asem banget nggak sih. Ihh sumpah yaa. Nyebelin banget kalo aku inget kejadian itu. Belum kenal udah berani mbocorin sepeda orang. Dia aku suruh tanggungjawab buat namablin ban sepedaku." ucap Rain dengan muka geram. Giginya sudah terlihat gemelutuk.
" HAHAHAHAAHAHA" Wulan tertawa puas mendengar cerita Rain sampai-sampai gigi gerahamnya terlihat dan matanya terlihat sipit.
"Ihh kamu malah ketawa sih, Wul. Bukannya marah malah ketawa, emang lucu?" elak Rain dengan muka cemberut.
" Iyaa lahh, kok ada yaa cowok yang cara PDKT ke cewek kayak gitu. Rain, dia kayaknya udah tertarik banget deh sama lu. Semakin lu cuek, malah dia semakin ngejar." Ucap Wulan dengan nada penekanan.
"Terus aku harus gimana donk Wul, biar dia nggak ngejar-ngejar aku terus? Risih tau digituin sama cowok. Selama hidupku baru kali ini ada cowok yang ndeketin sampe sebegitunya." tanya Rain dengan mimik mukanya yang terlihat parno dan ilfeel.
Selang beberapa menit sembari mereka mengobrol tak lama kemudian mereka akhirnya sampai di Masjid Kampus. Masjid tersebut sangat besar dan megah. Begitu luas dan bisa ditempati oleh ribuan jamaah yang beribadah di masjid tersebut. Masjid itu berwarna putih dengan tiga lantai dan terdapat escalator atau lift yang menghubungkan tiap lantai tersebut. Selain untuk keperluan beribadah Masjid tersebut juga bisa untuk keperluan umum seperi acara prosesi akad nikah. Selain di kampus, masjid tersebut memang sudah terkenal di khalayak umum. Tempat wudhu dan kamar mandi terpisah antara laki-laki dan perempuan dan berada di dalam masjid.
Rain dan Wulan meletakkan sepatu mereka kedalam tempat rak sepatu yang berada di luar masjid. Mereka memasuki masjid kemudian menitipkan tas mereka kedalam tempat penitipan barang. Setelah itu mereka melangkahkan kakinya menuju tempat wudhu perempuan di lantai dua. Tiba-tiba suara lantunan bacaan iqomah sudah terdengar dari lantai satu, dimana jamaah laki-laki beribadah ditempat tersebut.
"Udah iqomah Wul, hayukk atuhh." ajak Rain kepada Wulan sembari menggandeng tangan Wulan dan berlari agak cepat.
"Lift sama escalator lebih cepet nyampe mana yaa?" tanya Wulan dengan polosnya sambil memandang kedua mesin tersebut. Wulan adalah temannya yang pemikir walapun dalam keadaan genting seperti ini. Berbeda dengan Rain yang spontan dalam mengambil keputusan.
"Haduh sama ajaa lahh. Yang penting nyampe ke atas." ucap Rain masa bodoh dan masih tetap menggandeng temannya tesebut.
"Kalo lift biasnya sering penuh dan nunggu turun dulu, tapi cepet nyampe keatas sihh. Udah lah escalator aja yuk!" Ucap Wulan sambil menunjuk mesin escalator yang berada di bagian kanan masjid.
"Hadehh..." gerutu Rain kepada Wulan sambil mendengus kesal karena memperlama waktu mereka.
Mereka kemudian bergegas menaiki anak tangga dan anak tangga itu mulai berjalan menuju lantai dua. Tampak beberapa jamaah sudah berada di lantai dua dengan menyusun shaf shalat. Rain dan Wulan berlari menuju ke tempat wudhu yang berada di samping tempat sholat.
Rain melepas jilbabnya kemudian melipat bajunya dibagian tangan kanan dan kirinya agar tidak basah terpercik air wudhu. Rasa segar air wudhu menempel dan masuk kedalam pori-pori kulit Rain. Ada ketenangan batin saat tetesan air wudhu mengalir pada kulitnya. Setelah itu ia mengambil jilbab yang ia tanggalkan pada dinding, kemudian ia kenakan sembari mengaca di depan cermin. Ia bergegas meninggalkan tempat wudhu tanpa menunggu Wulan yang belum selesai karena ia sedang masuk di kamar mandi.
Sampainya di tempat shalat, Rain segera mengambil mukena. Ia mengambil mukena berwarna putih kemudian ia berjalan dan berdiri pada posisi shaf paling belakang karena tertinggal oleh sang imam. Rupanya ia tertinggal tiga rakaat dari sang iman. Selang beberapa detik ada perempuan yang menepuk pundaknya.
"Tuhkan lu ninggal gue!" gerutu Wulan sambil tergesa-gesa memakai mukenanya yang ia pinjam dilemari. Ia mengenakan mukena warna oren dengan motif bunga-bunga.
"Kamu sih kelamaan. Udah lah aku mau sholat dulu." ucap Rain kemudian dia memulai sholatnya dengan posisi takbirotul ikhram.
Selang beberapa menit setelah selesai sholat, Rain dan Wulan segera melipat mukena yang selesai mereka kenakan kemudian mereka menyimpannya kembali di almari.
"Btw, tadi pasti imam Sholat-nya kak Ilham." celetuk Wulan.
"Sok tahu kamu!" elak Rain kepada Wulan.
"Iyaa, Bawel." tukas Rain sembari menaiki anak tangga menggunakan eskalator untuk turun ke bawah, ke lantai satu.
"Eh nama gue buka Bawel, tapi Wulaaaan."
"Iyaa iyaa, Wulan baweeellll ." ucap Rain sambil mencubit pipi Wulan karena merasa sangat gemas dengan sahabatnya.
Setelah mereka turun dan sudah menapaki lantai tiba-tiba Wulan melihat lelaki yang sedang berjalan dan akan keluar dari masjid. Lelaki itu mengenakan baju koko berwarna abu-abu dengan celana hitam berbahan dasar katun. Wajahnya putih mulus, dengan mata yang sipit. Hidungnya mancung. Wajahnya memang blasteran cina dan bule. Dalam pikiran Wulan saat itu ialah kata ganteng berputar-putar dalam otaknya saat melihat lelaki yang berdiri dengan jarak 5 meter dari drinya.
"Rain-Rain. Lihat deh!!" ucap Wulan sambil menepuk-nepuk pundak Rain yang pandangannya sedang mengarah kebawah.
"Apasih, nih anak ihh" tanya Rain sambil menolehkan wajahnya ke arah Wulan.
"Itu itu ada ka Ilham!" teriak Wulan tapi dengan nada pelan dan sangat antusias dengan kehadiran lelaki tersebut.
Rain yang melihat Wulan sedang mengamati Ilham dengan antusias, ia juga menolehkan kepalanya ke arah mata yang dituju Wulan.
"Ya udah sih, biarin aja." titah Rain kepada Wulan agar Wulan tidak terlalu lebay melihat Ilham yang sedang lewat.
"Gilaaa, ganteng banget Rain. Cowok kalau habis sholat di Masjid gantengnya nambah yaa." ucap Wulan dengan mata yang berbinar-binar karena terpesona.
"Kak Ilham!!!" panggil Wulan dengan keras sambil melambaikan tangan kanannya kepada lelaki tersebut.
Mendengar teriakan Wulan memanggil Ilham, sontak Rain membungkam mulut Wulain dengan tangannya. Rain berpikir kenapa Wulan berani-beraaninya memanggil lelaki tersebut. Hal ini tentunya membuat Rain malu dengan tingkah temannya itu. Sialnya lelaki itu malah berjalan menuju kearah mereka sembari memasang senyumnya yang tampan.
"Hei, Assalamu'alaikum Rain, Wulan." sapa Ilham kepada Rain dan Wulan.
"Wa'alaykumussalam kak," jawab mereka bersamaan dengan tatapan masing-masing. Rain tidak berani menatap Ilham karena ingin menjaga syahwatnya, dia hanya menunduk sedangkan Wulan menatap Ilham dengan mata yang yang berbinar dan menahan kelopak matanya agar tidak berkedip.
"Kak, Ilham tadi yang ngimamin kita yaa?" tanya Wulan kepada Ilham dengan memasang muka senyum-senyum malu. "Eh maksud ku, ngimamin jamaah yang ada di kampus?" lanjut Wulan membenarkan pertanyaanya karena takut Ilham salah paham.
Rain sontak mencubit tangan Wulan yang ada disampingnya seolah-olah memberikan isyarat kepadanya untuk tidak membicarakan hal-hal yang tidak penting. Tetapi Wulan hanya mengaduh sebentar kemudian dia memasang muka cengengesan di depan Ilham.
"Iya Wul, aku tadi yang jadi imam." Jawab Ilham santai.
"Oh iyaa Rain, nanti malam kamu bisa datang rapat kan?" tanya Ilham kepada Rain sembari melihat Rain yang sejaak tadi menunduk.
"Insya Allah bisa kak." Jawab Rain mengangguk pelan dan tidak berani menatap Ilham.
"Gimana ─ Catatanya udah kamu persiapin? Ada yang kesulitan? Nanti biar aku bantu." tanya Ilham dengan menawarkan bantuannya.
"Nggak kok kak, Insya Allah nanti sore catatannya sudah selesai." ucap Rain dengan tegas.
Alhamdulillah, makasih ya Rain. Kamu sekretarisku yang hebat." puji Ilham dengan memasang senyumnya sampai giginya terlihat.
Wulan semakin terpesona dan kagum melihat Ilham tersenyum seperti itu, sedangkan Rain tak berani melihatnya dan hanya menunduk saja.
"Iya kak, Rain emang cocok jadi sekretaris kak Ilham apalagi jadi calon istrinya. HEHEHE." goda Wulan kepada keduanya.
Ilham hanya menanggapi gurauan Wulan dengan tersenyum salah tingkah sedangkan Rain sudah memasang muka tomatnya yang berwarna merah, menggambarkan dia sedang malu-malu dan menahan rasa kesalnya kepada Wulan karena mengatakan hal seperti itu.
"Udah yaa, aku mau masuk kelas dulu. Bentar lagi kuliah udah mulai. Wassalamu'alaikum." Pamit Ilham mengakhiri percakapan mereka bertiga kemudian melangkahkan kakinya menuju luar masjid.
"Wa'alaikumussalam." Jawab mereka bersamaan. Wulan masih saja menatap lelaki tersebut sampai ia berjalan keluar masjid.
Rain yang sedari tadi menahan rasa kesalnya kepada sahabatnya kemudian ia luapkan dengan mencubit kedua pipi Wulan yang tembem sampai Wulan menagaduh kesakitan. Wulan hanya pasrah dengan perlakuan Rain tanpa ikut serta membalasnya.
"Rain lu emang beneran nggak ada rasa sama kak Ilham?" tanya Wulan sambil melepaskan keduaa tangan Rain yang sedang mencubit pipinya.
"Rasa apa? Rasa manis, rasa pedas atau rasa asin?" celoteh Rain.
"Ya Rasa, rasa sayang, rasa cinta. Masa nggak ada sedikit pun gitu sih Rain?" tanya Wulan sambil membentuk bulatan kecil di jarinya.
"Ada nggak yaa, maunya ada atau enggak nih?" tanya Rain menggoda sambil berjalan pelan meninggalkan wulan yang masih diam.
"Ihh kamu malah gantian nyebelin, kalau nggak ada, Kak ilhamnya buat gue aja Rain!" celoteh Wulan kepada Rain yang jaraknya sudah agak jauh dari dirinya.
***
BERSAMBUNG...
THANKYOU READER :). BUTUH VOTE DARI KALIAN BIAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN BISA NGELANJUTIN CERITANYA :D