
Yang belum baca episode sebelumnya bisa dibaca dulu yaa biar nggak bingung sama ceritanya :) thankyou.
Suara desas-desus mahasiswa terdengar dari luar ruangan kelas. Nampak mahasiswa sudah memenuhi ruangan kelas pada esok hari ini. Rafael mendengar suara desas-desus mahasiswa tersebut dari luar ruangan. Dia berjalan menuju ruangan kelasnya─Ruang Ekonomi. Meskipun di ruangan tersebut sudah dipenuhi oleh beberapa mahasiswa dan juga dosen yang sudah mulai mengajar, Rafael tetap santai dalam melangkahkan kakinya menuju ruangan kelas. Ia mengenakan kaos kasual berwarna hitam tak lupa denimnya yang selalu ia pakai setiap harinya. Bukannya dia hanya memiliki satu denim saja, tetapi dia memiliki banyak persedian denim dilemari bajunya dengan merk mahal. Rambutnya tetap saja acak-acakan dengan warna hitam namun tetap wangi. Dibelakangnya terdengar suara perempuan memanggil namanya.
" Rafael !" teriak perempuan dengan rambut panjang hitam dengan penampilan modisnya. Ia mengenakan blouse berwarna cream lengan panjang dipadukan rok yang berwarna navy dibawah lutut.
Rafael menoleh ke asal suara tersebut dan mendapati seorang perempuan sedang menuju kearahnya saat ini. Perempuan itu semakin dekat dan sekarang sudah ada dihadapannya.
"Raf, aku nggak mau putus sama kamu!" kata perempuan itu sambil memegang tangan Rafael.
Rafael menatap wajah perempuan itu. Wajahnya begitu melas persis seperti anak kucing yang ditinggal induknya. Rafael menghela napas sambil melepaskan tangan perempuan itu.
" Maaf ya Din, aku udah nggak bisa sama kamu lagi. Kamu cari cowok lain aja ──Yang lebih baik dari aku." Kata Rafael dengan berat karena tidak mau menyakiti hati Dinda.
"Aku udah cinta banget sama kamu. Aku rela jadi yang keberapapun asalkan aku bisa jadi pacarmu lagi"
"Tapi aku nggak bisa Dinda!" jawab Rafael dengan nada tinggi karena Dinda sudah membuatnya emosi dengan ucapannya.
"Kamu udah nemuin penggantiku? Siapa dia?" tanya Dinda dengan wajah marah seakan-akan ingin menghajar seseorang.
"Ini bukan urusan kamu. Kamu nggak denger ruangan kelas ini?" tanya Rafael agak ketus sambil menunjuk tembok yang memisahkan antara ruang kelas dan koridor. "Pak Bandri sudah di kelas dari tadi, aku udah telat hari ini, dan lebih telat lagi jika kamu masih mengobrolkan masalah ini. Oke aku mau masuk kelas dulu." ucap Rafael agak marah kemudian dia melangkahkan kakinya meninggalkan Dinda dan menuju pintu masuk ruangan kelas.
Rafael mengamati seisi ruangan kelas. Dia melihat Pak Bandri sedang menjelaskan materi kuliah hari ini. Pak Bandri adalah dosen yang paling killer se-jurusanya. Jika ada mahasiswa yang mencari masalah dengan beliau seperti tidak mengerjakan tugas atau tidak memperhatikannya saat beliau menerangkan. Siap-siap saja nilai auto E alias kosong dan dia harus mengulang mata kuliah beliau. Rafael adalah mahasiswa yang masa bodoh terhadap nilai apalagi IPK. Sudah banyak nilai kosong yang ada di KHSnya (Kartu Hasil Studi). Masa depan untuk lulus sepertinya tidak ada dalam bayangan Rafael. Hanya Rafael yang menganggap kuliah hanya untuk kesenangannya saja bukan untuk meraih cita-cita. Rafael kemudian masuk kelas dengan santai melewati Pak Bandri yang sedang menerangkan materi kuliah. Pak Bandri yang melihat dia berjalan seperti itu geleng-geleng kepala sambil menahan emosi dengan sabar. Rafael melihat ke-tiga sahabatnya, Irawan, Karto, Agung sudah duduk dibelakang sedari tadi. Ketiga temannya memang lebih rajin daripada Rafael. Rafael duduk disamping Karto kemudian menyilangkan kaki kanannya ke samping.
"Kemana aja lu?" tanya Karto dengan suara bisik-bisik agar Pak Bandri tidak mendengarnya.
"Biasaaalaahh!" jawab Rafael santai.
"Kayak nggak tau aja lu To, Kadal mah emang bisa dia bangun pagi kayak kita. Mandi aja kagak kok. HAHAHA" ejek Irawan sambil melihat Rafael yang masih telihat muka bantal.
"Gue nggak mandi pagi tetep wangi kaleek. udah banyak cewek yang ngelirik. Lah eluu satu aja nggak punya! HAHAHA" balas Rafael tak mau kalah dengan ejekan Irawan.
"HAHAHAHA" mereka ber-empat tertawa.
Suara mereka terdengar seisi ruangan kelas hingga mahasiwa-mahasiswa yang ada diruangan itu mendengar tertawa mereka dan mengamati tingkah mereka. Pak Bandri yang sedang menjelaskan pun terganggu dengan suara mereka dan sontak beliau menatap ke-empat mahasiswa yang duduk dibelakang tersebut. Sorotan mata beliau tajam. Dahinya sudah terlihat berkerut dan kumis lebatnya sudah turun kebawah. Itu adalah pertanda bahwa beliau sudah terpancing emosi dan ingin diledakkan sekarang juga.
"DIAMMM!!!" Teriak Pak Bandri dengan suara kerasnya sampai terdengar dari luar ruangan kelas. "SIAPA YANG SURUH KALIAN TERTAWA?!" Tanya Pak Bandri dengan suara keras sambil membenarkan kacamatanya. Matanya melotot dan bola matanya seperti hendak ingin keluar.
Karto, Irawan dan Agung segera menundukkan kepala mereka dengan tangan sedekap. Hanya Rafael saja yang tidak menundukkan kepalanya. Rafael mengamati dosen killer yang sudah naik pitam tersebut dengan memasang senyum simpulnya.
"Santai loh Pak, nanti gantengnya hilang loh!" ucap Rafel dengan berani seakan-akan seperti berbincang dengan temannya sendiri.
Mendengar Rafael berkata tak ada sopan santun terhadap dosen yang berada di ruangan kelasnya saat ini membuat mahasiswa malah tertawa mendengarnya. Suara riuh tawa terdengar di kelas itu akibat ulah Rafael.
"Lu cari mati!" kata Karto bisik-bisik kepada Rafael.
Rafael tidak menimpali ucapan Karto. Ia masih tetap saja terlihat santai seperti tidak ada dosa kepada dosen tersebut. Pak Bandri yang mendengarkan perkataan Rafael tentunya amat sangat marah. Tapi kali ini Pak Bandri menghukum Rafael secara elegan agar anak itu bisa sedikit belajar tentang materi yang beliau sampaikan.
"Kamu sudah terlambat masuk kelas saya, di kelas ribut, sekarang sudah berani melawan saya ya. Kamu ini niat kuliah nggak sih? Kamu mau ngulang mata kuliah saya lagi seperti semester kemarin?" ucap Pak Bandri dengan geram sambil menunjuk jarinya tepat dimuka Rafael.
Kini Rafael hanya terdiam mendengarkan ucapan dosen ter-killer itu. Mungkin dia menyadari atas kesalahannya. Tetapi tetap saja dia tidak ada kapoknya dan akan mengulangi kesalahan tersebut.
"Sekarang kamu, Rafael. Coba kamu jelaskan apa pengertian Ekonomi Mikro!" perintah pak Bandri kepada Rafael dengan muka garangnya.
Rafael nampak kebingungan. Dia mencoba untuk berpikir dan mengingat-ingat materi yang disampaikan oleh Pak Bandri, tetapi didalam otaknya kosong. Tidak ada materi yang nyanthol di otaknya. Tentu saja, gara-gara ia telat masuk kelas ia tidak mencatat materi yang disampaikan oleh Pak Bandri. Rafel melihat buku catatan milik karto. Rupanya dia sudah mencatat materi yang telah disampaikan Pak Bandri sebelum Rafael telat masuk kelas tadi. Mata Rafael tertuju pada tulisan materi tentang pengertian Ekonomi Mikro dan Rafael membaca tulisan tersebut dengan percaya diri.
"Em emm.." Rafael terbatuk sedikit sebagai pertanda ia akan mulai menjawab pertanyaan dari Pak Bandri. " Ekonomi Mikro adalah ilmu yang mempelajari bagaimana sebuah perusahan dan rumah tangga saya dengan pacar saya agar bisa berinteraksi di pasar sehingga dapat berkembang pesat" Rafael menjawab pertanyaan Pak Bandri dengan lantang dan penuh percaya diri. Tiba-tiba mahasiswa seisi rungan kelas mendadak tertawa mendengarkan jawaban dari Rafael.
Rafael tercengang dengan ucapannya sendiri dan berpikir seribu kali tentang apa yang ia ucapkan. Kenapa dia bisa salah baca. Rafael segera melihat catatan Karto yang sudah ia baca.
"ANJIRRR LU SALAH TULIS TO!. LU MALU-MALUIN GUE YAA!" kata Rafael kepada Karto dengan Raut wajah yang kesal sambil memukul kepala Karto. Muka Rafael kini memerah seperti tomat.
"Sorry Dal, tadi gue nggak fokus. Ngelamun. Hehehe. Lu bisa malu juga ye ternyata" jawab Karto nyengir.
Mahasiswa seisi ruangan masih tetap tertawa riuh seolah tidak bisa mengalihkan pikiran mereka karena masih mengingat ucapan Rafael tadi.
"SUDAH-SUDAH!" perintah Pak Bandri menenangkan kondisi mahasiswa agar tidak terdengar riuh. "Kamu, Rafael. Tidak bisa menjawab pertanyaan saya untuk itu kamu mengulang lagi mata kuliah saya semester depan" ancam Pak Bandri.
"Waduhhhh!!!" sorak Irawan, Karto dan Agung seolah merasah empati dengan Rafael.
Tetapi Rafael tidak peduli sama sekali dengan ancaman dari Pak Bandri. Dia tetap mematuhi keputusan Pak Bandri dan tidak protes, memang dia menyadari kesalahannya dan dia tidak mau stress memikirkan itu. Baginya nilai itu tidak penting, yang terpenting adalah pengalaman dia bisa bertemu banyak teman dan sahabat di perkuliahan. Dan juga bisa bertemu perempuan pujaan hatinya saat ini ─ Rain. Oh iyaa, Hari ini dia belum bertemu dengan, Rain. Dia sekarang ada dimana? Aku akan mencarimu, Rain.
Pandangan mata Rafael tertuju pada luar jendela, ia melihat beberapa teteas air hujan yang jatuh membasahi dedaunan. Gerimis. Air tetesan huan itu semakin lama semakin terdengar suaranya dan membuat Rafael tenang. Angin dari luar jendela berhembus masuk dan mengenai wajah Rafael dengan sejuk. Rafael beranjak dari tempat duduknya kemudian mengambil tas hitamnya yang ada dikursi dan bergegas keluar ruangan.
"Gue cabut dulu!" pamit Rafael kepada ketiga temannya.
"Mau kemana lu? Kuliah belum selesai Bego. Lu main cabut aja!" omel Agung kepada Rafael dengan mukanya yang geram.
Rafael tidak menanggapi omelan Agung. Dia tetap melangkahkan kakinya keluar pintu masuk melewati Pak Bandri yang sedang menulis di papan tulis. Sepertinya Pak Bandri tidak melihat kepergian Rafael karena beliau terlalu fokus dengan apa yang sedang ia tuliskan di papan tulis. Semua mata mahasiswa tertuju kearah Rafael yang berjalan ke arah keluar. Tetap saja, Rafael tetap cuek dan fokus menuju ke pintu keluar dengan langkah kakinya yang santai dan tegap. Dia mengacuhkan semua mahasiswa yang sedang memperhatikannya saat ini. Begitu Rafael sudah keluar dari ruangan kelas, Pak Bandri berbalik badan dan menghadap tepat di depan para mahasiswa sedang memperhatikannya. Pak Bandri melihat bangku dibelakang yang ditempati Rafael kosong.
"Dimana teman kalian tadi? kenapa tasnya nggak ada?" tanya pak Bandri garang sembari melihat Irawan, Karto dan Agung.
Irawan, Karto dan Agung hanya beregeming dan saling pandang memandang. Mereka bingung apa yang harus mereka katakan kepada Pak Bandri mengenai Rafael yang kabur dari perkuliahan.
"KENAPA DIAMM? KALIAN MAU NGULANG SEMETSER DEPAN JUGA SEPERTI TEMANMU TADI? HAH?" suara Pak Bandri semakin keras tak juga dengan imbuhan ancamannya.
"Ehh ngga-nggak-pakkk. Jangan donk pak!" mohon Karto dengan wajah memelasnya.
"Nganu Pak....," Irawan melihat luar jendela yang sedari tadi sedang hujan dan sekarang sudah mulai deras. "Rafael keluar tadi mau mindahin mobilnya takut kehujanan katanya Pak." ucap Irawan beralasan berharap Pak Bandri percaya dengan ucapannya.
Pak Bandri bergeming mendengar ucapan Irawan dan berpikir antara setengah percaya dan tidak.
"Iyaa bener Pak, Mobil Rafael kalo udah keujanan biasanya mesinnya suka ngadat gitu pak." imbuh Karto. "Iyaa nggak Gung?" tanya Karto meyakinkan Agung sambil mengedipkan kedua mata agar Agung sependapat dengan ucapannya.
"Iyaa Pak" ucap Agung mengangguk dengan terpaksa.
"Lalu kenapa tasnya dibawa?!" tanya Pak Bandri lagi
"Kan kunci mobilnya ada di dalam tasnya pak!" jawab Karto cepat.
Pak Bandri menggeleng-nggelengkan kepala tanpa menanggapi alasan dari ketiga teman Rafael tersebut, kemudian beliau melanjutkan menulis di papan tulis.
Agung, Irawan dan Karto menghela napas dan terlihat lega. Jantung mereka sudah berdenyut normal kembali dan napas mereka sudah beraturan. Mereka memang pintar berasalan apalagi mengelabuhi dosennya sendiri.
"Sial lu Dal, Hampir aja kita ngulang makul semester depan" gumam Irawan.
***
BERSAMBUNG...
THANKYOU READER :). BUTUH VOTE DARI KALIAN BIAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN BISA NGELANJUTIN CERITANYA :D