
Yang belum baca episode sebelumnya bisa dibaca dulu yaa biar nggak bingung sama ceritanya :) thankyou.
"Jangan berhenti Rain, jangan berhenti untuk tertawa. Aku suka saat aku ngelihat kamu tertawa seperti ini. Karena tawamu adalah obat rasa sakitku."
─ Rafael ─
Rafael keluar kelas. Ia berjalan dengan santai sambil memandangi beberapa pintu kelas yang menghubungkan ruangan kelas. Tampak sepi dan sunyi. Tidak ada mahasiswa lalu lalang di koridor tersebut karena seluruh mahasiswa sudah masuk kelas untuk memulai perkuliahan, kecuali dirinya. Sepertinya hanya dirinya sajalah sekarang yang berada di koridor tersebut. Dia berhasil keluar dari koridor tersebut yang menghubungkan dengan fakultas lain ─ Fakultas Seni Rupa. Ditemani rintikan hujan yang agak deras dia terus berjalan melewati beberapa rumput yang hampir saja ia injak. Air hujan membasahi rambut dan wajahnya namun Rafael tak mempedulikan hal itu. Kini dia sudah berada di sebuah taman. Taman tersebut tampak indah dan asri. Terdapat air mancur dan kolam ikan di tengah-tengah taman. Dipinggir kolam tersebut terdapat kursi panjang yang berwarna putih terbuat dari besi. Diatas kursi panjang tersebut tertutupi oleh atap yang berbahan dasar seng, tempatnya mirip seperti halte bus. Rafael menduduki kursi panjang tersebut. Pandangannya mengarah ke langit. Kedua tangannya ia tadahkan agar air hujan bisa jatuh tepat membasahi telapak tangannya. Ia merasakan telapak tangannya dingin dan basah. Ia sangat menikmatin suasananya.
Beberapa detik matanya tertuju kepada seseorang perempuan berjilbab cream sedang duduk diseberang kursinya. Ia mengamati perempuan itu dari agak kejauhan. Perempuan itu sedang memegang kanvas dan kuas. Sepertinya dia sedang melukis. Entah apa yang ia lukis. Wajahnya agak tertutupi oleh kanvas putih itu tetapi Rafael bisa melihatnya sedikit. Wajahnya seperti tidak asing lagi padanya. Terlihat teduh seperti hatinya sekarang ini. Dia terbius ingin mendekati perempuan cantik itu. Rafael beranjak dari kursinya dan segera melangkahkan kakinya beberapa meter dari tempat duduknya. Perempuan itu semakin dekat di pandangan matanya. Rafael mengamati kanvas yang telah dilukis oleh perempuan tersebut. Kini ia sudah tahu apa yang dilukis oleh perempuan itu. Seoarang anak lelaki bersama dengan seorang anak perempuan sedang bermain hujan-hujanan di bawah pohon.
"Bagus!" ucap Rafael kepada perempuan itu.
Perempuan itu tertegun dan tidak melanjutkan lukisannya. Kuasnya masih ia bawa. Ia memperhatiakn ada seorang lelaki berdiri dihadapannya. Ia melihat dari bawah, lelaki itu memakai sneakers berwarna putih bermerk Reebok.─ Terlihat basah. Semakin lama pandangan matanya sampai pada wajah pria itu. Terlihat tampan dengan teteasan air pada wajahnya karena kehujanan.
"Kamu ngapain disini?" tanya perempuan itu kepada Rafael.
"Takdir yang membawa aku kesini." jawabnya dengan binar matanya. "Aku baru tahu kalau kamu bisa ngelukis, Rain" lanjut Rafael sambil memperhatikan lukisan itu.
"Lah iyalah, orang aku jurusan seni rupa. Kamu gimana sih?" jawab Rain ketus.
"Makasih yaa" ucap Rafael menyimpulkan senyumannya.
"Makasih apa?" tanya Rain dengan heran sembari melanjutkan lukisannya.
"Makasih kamu udah ngasih tahu aku tanpa aku harus menanyakan dulu." jawabnya masih tetap tersenyum. "jadinya aku tak perlu repot-repot lagi kan tanya ke kamu ─ Kamu jurusan apa, aku tahu kamu pasti nggak mau njawab." lanjut Rafael sambil memutarkan bola matanya searah jarum jam.
" Nggak penting juga buatku!" timpal Rain ketus.
"Emm, itu gambar siapa?" tanya Rafael menunjuk gambar yang dilukis oleh Rain di kanvas.
"Kamu nggak perlu tahu." jawab Rain singkat.
"Aku tahu itu yang gambar anak perempuan berambut panjang itu pasti kamu kan? HA HA HA." seru Rafael dengan tertawa menunjukkan giginya yang rapi. " dan anak laki-laki itu adalah.........." tiba-tiba kepala Rafael terasa sakit. Sakit sekali seperti ada ribuan jarum yang menusuk kepalanya.
"ARGHHH!!"
Rafael mengeram kesakitan sambil mencengkeram kepalanya. Pikirannya seperti menyeret ia untuk kembali ke masa lalu. Hampir ia akan mengingat memori yang ada di otaknya, tetapi dia tidak bisa melakukannya.
Rain sangat terkejut dan cemas melihat kondisi Rafael seperti itu. Tubuhnya gemetaran. Jantungnya berdetak cepat dan telapak tangannya basah. Dia tidak tahu kenapa Rafael bisa seperti ini sekarang. Spontan─Rain menyeret lelaki itu dengan menarik lengannya, kemudian mengajaknya untuk duduk. Rain masih memperhatikan Rafael dengan cemas. Baru kali ini dia mengkhawatirkan seorang lelaki secemas itu. Rafael mencoba menenangkan diri dengan mengatur napasnya. Hembusan napasnya terdengar agak cepat. Beberapa detik, Rafael menolehkan mukanya kesamping tepat dihadapan wajah Rain yang sedang memperhatikannya sekarang. Rafael melihat mata Rain seperti ingin menagis tapi ia tahan. Bola matanya terlihat basah. Ia tahu Rain sedang mencemaskannya.
"Nggak usah takut Rain, aku nggak apa-apa kok." ucapnya dengan hembusan napasnya yang sudah mulai beraturan. "Aku tahu kamu mengkhawatirkanku kan!?HAHAHA" ujar Rafael tertawa. Kali ini dia sudah tidak terlihat kesakitan. Tapi Rain tahu bahwa dia sedang menyembunyikan rasa sakitnya.
Rain yang raut wajahnya terlihat cemas sedari tadi mendadak memasang muka cemberut. Wajahnya ia tolehkan kedepan dengan tatapan sinis. Dia tidak mau melihat wajah Rafael lagi.
"Nggak usah ke-GRan deh kamu jadi orang!" elaknya dengan raut muka masam .
" Iya, aku nggak pantes kok dapat perhatian dari kamu. Tapi makasih yaa, setidaknya perhatianmu membuat sakitku reda." ujarnya meringis.
Perkataan Rafael baru saja membuat hati Rain terenyuh. Di dalam hatinya ingin menanyakan mengenai penyakit yang diidap oleh Rafael. Namun rasa gengsinya sebagai perempuan mengurungkan niatnya untuk bertanya. Apalagi Rafael adalah lelaki yang tingkat kepedan dan ke-GRannya tinggi. Bisa-bisa dikiranya Rain sangat peduli dengannya, dan hal itu tidak boleh terjadi. Tiba-tiba dia teringat kejadian kemarin sabtu dimana dia diberikan bunga oleh Rafael dengan caranya yang unik. Tidak diberikan langsung tetapi melalui paket. Dan yang membuat Rain tertawa saat mengingat kejadian itu adalah dia membeli bunga di toko ibunya Rain. Mana ada seorang lelaki yang memberikan bunga kepada perempuan dengan cara seperti itu kecuali Rafael?
"Aku yang seharusnya makasih ke kamu." ucap Rain menyembunyikan rasa malunya. Pandangannya masih menatap ke depan, tidak berani melihat wajah tampan Rafael.
Mendadak Rafael melongo mendengar perkataan Rain barusan, "HAHHH?"
"Iyaa, makasih yaa bunganya yang kemarin." ucap Rain cepat agar Rafael tidak terlalu memperhatikan perkataanya.
"Bunga apa?" tanya Rafael pura-pura lupa sambil mengernyitkan keningnya.
"Nggak usah sok bingung gitu deh, kamu kan yang ngasih bunganya ke aku." kali ini suara Rain terdengar agak tinggi sambil menoleh ke arah Rafael.
"Ohhh itu, hehehe." ucap Rafael malu-malu sambil menggaruk-garuk kepalanya. "kamu kok bisa tahu kalau aku yang ngasih? Pasti feelingmu kuat yaa." puji Rafael dengan cengegesan.
"Ya tahulah, bunga itu sama kayak yang kamu beli di toko bunga ibuku." jelas Rain. Kali ini Rafael tidak bisa mengelak lagi.
"Itu emang dari aku Rain, aku tahu kalau aku ngasih langsung ke kamu pasti kamu akan menolaknya, malah kamu akan membuangnya. Iya kan?" timpal Rafael dengan muka lesunya, "dan karena kamu adalah perempuan yang spesial ya aku ngasih ke kamu dengan cara yang spesial juga." Imbuh Rafael.
Rain tidak menaggapi penjelasan Rafael, ia hanya bergeming dan menatap rintikan hujan. Rafael tidak mengetahui sebenarnya bahwa bunga yang ia berikan kemarin sudah Rain simpan di dalam vas bunga miliknya di kamarnya supaya Rain bisa melihatnya setiap hari. Namun Rain tidak akan menceritakan hal tersebut kepada Rafael. Jika saja Rain menceritakannya sudah pasti Rafael akan kegirangan. Hal ini tidak boleh terjadi.
Suara air hujan semakin lama semakin terdengar riuh. Volume air hujan semakin besar dan jatuh ke tanah dengan sangat cepat. Kanvas lukis Rain terlihat agak basah akibat cipratan dari air hujan. Rain segera mengambil kanvas itu kemudian menyimpannya kedalam tas. Rafael beranjak dari tempat duduknya kemudian berdiri di samping tiang yang menghubungkan atap kursi tersebut. Tanganya ia tadahkan ke langit sehingga berhasil membentuk sebuah cekungangan. Tetesan air hujan jatuh mengenai tepat di tangan Rafael sehingga membentuk genangan air. Rafael menarik kedua tangan ke atas kemudian mendekatkannya kemulutnya. Rafael membuka mulutnya kemudian meneguk air yang ada ditangannya dengan perlahan-lahan. Rafael merasakan tenggorokannya sudah basah terkena air hujan yang ia minum. Terasa sangat segar sehingga membuat dahaganya hilang seketika. Rain mengamati tingkah laku Rafael yang sedang meminum air hujan ditangannya tersebut. Hal yang dilakukan Rafael membuat Rain mengingatkan masa lalunya dengan seseorang yang pernah melakukan hal yang sama seperti itu. Tiba-tiba pikirannya melayang jauh kembali kemasa lalu, ke masa tiga belas tahun silam,
" Kamu tahu kenapa aku suka hujan?" tanya Roin kepada Rain sambil menatap Rain dengan senyumannya.
" Enggak, emang kenapa?" Rain bertanya balik dengan muka penuh penasaran.
" Aku suka hujan, karena aku selalu ingat hruf R. Rain" Kata Roin sambil menujukkan gelang yang terdapat huruf R digelangnya.
"Eh kenapa air hujannya diminum? kan kotor." tanya Rain.
" Sesuatu yang datangnya dari Tuhan itu tidak kotor" jawab Roin sambil meminum air hujan yang tertampung di tangannya.
Percikan air hujan membasahi pipi Rain sehingga membuat bayangan di masa lalunya hilang. Matanya memejam karena terciprat oleh air hujan. Jilbabnya agak basah sekarang. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan samar-samar ia mendapati bayangan Rafael yang sedang mencipratkan air hujan ke arahnya. Pantas saja wajahnya basah sekarang ini. Lelaki itu bikin ulah lagi ternyata.
"Rafaell!!!" teriak Rain sambil mengusap usap wajahnya agar tetesan air jatuh kebawah.
"Kena kamu. HAHAHA. Makanya jangan ngelamun donk!" titah Rafael dengan tawa puasnya. Masih saja dia mencipratkan air hujan ke arah muka Rain. Rupanya ia mengajak perang.
Rain meluncurkan senjatanya, tak mau kalah saing dengan lelaki itu. Ia juga menampung air hujan ditangannya banyak agar ia bisa mencipratkan wajahnya ke Rafael.
Air hujan itu berhasil mengenai wajah Rafael dan membuat rambut Rafael basah.
"HAHAHAHA" tawa Rain terdengar renyah karena ia puas telah berhasil membalas kelakuannya.
"Kenapa diam saja?" tawa Rain mendadak berhenti karena Rafael memandang tajam seperti itu. Rain merasa heran.
"Jangan berhenti Rain." pinta Rafael, "jangan berhenti untuk tertawa. Aku suka saat aku ngelihat kamu tertawa seperti ini. Karena tawamu adalah obat rasa sakitku." lanjut Rafael dengan tatapan matanya yang tajam seolah perkatannya itu tulus dari hati.
Rain menunduk malu dan menundukkkan kepalanya kebawah karena tidak mau melihat lelaki dihadapannya sekarang ini. Jantungnya berdebar dengan cepat. Rain berusaha mengendalikan perasaanya saat ini.
"Rain!" panggilnya dengan suara lembut.
Rain mencoba memberanikan diri untuk menatap lelaki itu.
"Apa?" tanyanya.
"Kamu tahu kenapa aku menyukai hujan sampai saat ini?" tanya Rafael sambil mengadahkan tangannya ke langit-langit agar tangannya bisa merasakan tetesan air hujan.
Rain menggelengkan kepalanya seraya memberikan isyarat bahwa ia menjawab pertanyaan Rafael yang ia lontarkan.
"Karena aku selalu ingat kamu, Rain."
Deg.
Jawabannya yang ia ungkapkan hampir sama seperti yang Roin ungkapkan saat tiga belas tahun yang lalu. Saat mereka sedang bermain hujan-hujanan dibawah pohon. Dia menedengarkan jawaban itu lagi bukan dari ucapan Roin, tetapi dari ucapan lelaki lain yaitu Rafael. Kenapa lelaki itu tingkah dan perilakunya mengingatkan dia kepada saudara kembarnya. Roin aku merindukanmu. Kamu dimana sekarang?
Dalam waktu bersamaan terlihat seorang perempuan berambut panjang sedang melihat mereka dari tadi. Perempuan itu tak jauh dari tempat Rain dan Rafael berdiri. Mungkin 4 meter dari lokasi mereka. Perempuan itu sedang mengintip dari tembok gedung fakultasnya. Dia terlihat sedang mengepalkan kedua tangannya, kemudian ia tonjokkan ke tembok. Wajahnya terlihat sangat marah. Giginya bergemelutuk. Alisnya naik ketas dan suhu tubuhnya mendadak panas, tapi tidak demam. Ekspresinya persis seperti singa yang mengamati mangsanya.
"Siapa cewek itu?!!" gumamnya
Blukkk!!!
Dia menghantap tembok lagi untuk kedua kalinya dengan tangan kanannya.
"Jadi gara-gara dia, Rafael mutusin gue. Apa kelebihan cewek itu sih? Cantik aja enggak. Lebih cantikan gue. Rafael-Rafael, ternyata selera lu rendah juga yaa sekarang!!!" gumamnya dengan gigi bergemulutuk sekan ingin menonjok perempuan yang ia intai.
Dinda tidak bisa menahan amarahnya saat melihat Rafael bersama Rain. Dia masih sakit hati dengan keputusan Rafael yang memutuskannya secara sepihak. Dinda sudah sangat terobsebsi dengan Rafael bahkan dia rela menjadi pacar keduanya. Dinda tidak bisa diam saja, dia harus segera menyusun rencana untuk menyingkirkan perempuan itu.
***
Suara adzan berkumandang membuat Rain melihat jam tanganya yang berwarna ungu. Jam menunjukkan pukul 11.45 WIB. Suara adzan itu terdengar dari masjid kampus bersamaan dengan suara deras hujan.
"Woyyy, Rain!!!" teriak seorang perempuan berambut pendek sebahu dengan warna pirang. Dia mengenakan baju kodok berwarna navy berbahan dasar jeans. Kaos didalamnya berwarna pink pastel.
Rain segera mengamati perempuan tersebut. Perempuan itu membawa payung yang berwarna ungu kemudian berjalan kearahnya. Perempuan itu semakin dekat dan sudah dihadapannya sekarang dan tetap membawa payung untuk melindungi tubuhnya.
"Kamu kemana aja sih Rainn, aku cariin dari tadi. Ehh ternyata baru diapelin cowok ganteng!" ejek Wulan sembari mengamati Rafael yang bersebelahan dengan Rain.
"Hehhh.." Rain mengedipkan kedua matanya seakan-akan meberikan isyarat kepada sahabatnya bahwa ia tidak boleh ngomong macam-macam.
"Hayoo, kata kamu berdua-duan itu ketiganya setan loh. Itu kata kamu sendiri loh Rain." tukas Wulan memperigatkan Rain.
"Astagfirullahal'adzim, iyaa. Jadi sekarang kamu Wul, setannya. Hahaha." canda Rain.
Wulan menimpali candaan Rain dengan muka cemberut.
Rafael yang sedari tadi memperhatikan Rain dan Wulan mengobrol dengan candaan ikut tersenyum. Rafael berpikir ternyata Rain adalah perempuan yang suka bercanda kepada temannya sendiri tetapi dia terlihat cuek kepada orang lain. Apalagi dengan Rafael. Ya pantas saja, Rafael belum menjadi teman dekatnya sekarang ini, entahlah mungkin besok.
Wulan mengamati Rafael yang sedang berdiri disebelah Rafael. Dia sedang mengingat-ingat sesuatu ketika ia melihat wajah Rafael. "Ehh, ini mas-mas yang dulu di kantin nggodain kita kan Rain?" tanya Wulan sambil menodongkan jari telunjuknya dihadapan Rafael.
"Oh iyaa, gue Rafael. Temennya Rain!" Rafael menyodorkan tangan kanannya yang mengambang di udara.
"Temen?" Wulan melirik Rain dan melihat Rain hanya tersenyum nyengir.
"Gue Wulan, temen deket Rain." Wulan mengatupkan kedua tangannya dan tidak membalas sodoran tangan Rafael.
"Oh iyaa, bukan Mahram yaa.. lupa." timpal Rafael cengengesan sambil menggaruk-nggaruk kepalanya. Ia terlihat salah tingkah dan malu.
"Ehh udah adzan tuh, sholat dulu kuy!" ajak Wulan kepada Rain dan Rafael.
"Iyaa, sholat dulu yuk Raf, ke masjid!" ajak Rain kepada Rafael.
Rafael terpaku mengamati mereka berdua. Seperti petir yang menyambar hatinya. Tubuhnya tiba-tiba mendadak panas dingin. Keringatnya bercucuraan di dahinya. Tubuhnya sekarang gemetaran. Tapi dia tetap menimpali ajakan Rain.
"E-e-e, aku nggak bisa sholat, Rain," jawab Rafael menyembunyikan rasa gugupnya. Suaranya terdengar agak lirih.
Rain dan Wulan saling pandang memandang seakan-akan mereka bisa berbicara dengan batin mereka masing-masing.
"Kamu kalau masih mau deket sama aku, kamu belajar sholat dulu Raf." pinta Rain kepada Rafael sambil melangkahkan kakinya sejajar dengan kaki Wulan kemudian mengajak Wulan pergi ke Masjid.
"Yuk Wul" ajak Rain kepada Wulan sambil merebut pegangaan paying yang dipegang oleh Wulan.
"Raff, kita duluan yaa!" pamit Wulan sambil menolehkan kebelakang dan melihat Rafael sedang mengamati mereka.
Rafael masih berdiri di dekat kursi taman dan terngiang-ngiang dengan ucapan Rain tadi yang memintanya untuk belajar sholat. Selama hidupnya dia belum pernah melakukan sholat keculi sewaktu sekolah, itu saja karena ada ujian praktik sholat. Dia merasa sangat hina dan kotor didepan perempuan itu sampai-sampai dia memintanya untuk belajar sholat jika ia ingin mendekatinya. Rafael tidak ingin mundur, syarat Rain harus terpenuhi agar dia bisa mendapatkan Rain. Bagaimanapun caranya ia harus bisa sholat.
***
BERSAMBUNG...
THANKYOU READER :). BUTUH VOTE DARI KALIAN BIAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN BISA NGELANJUTIN CERITANYA :D