Rain And Roin

Rain And Roin
Dia Si Pengganggu



“ Sorry, mungkin caraku mendekatimu yang salah. Aku akan akan mencari cara lain agar aku tetap bisa mengenalmu. Mengenalmu lebih jauh lagi, Rain.” ─ Rafael─



Rafael Ardi Dirgantara. Panggilan tenar di kampusnya adalah Rafa. Mahasiswa semester enam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas ternama di Jakarta. Lelaki yang selalu mengenakan denim warna abu-abu dengan celana jeans yang sobek dilutut itu adalah mahasiswa yang suka bikin onar se-Fakultas. Mulai dari mempermainkan perempuan hingga sering bolos kuliah sehingga dia terkenal oleh semua kalangan diantara mahasiswa dan dosen.


“Plaaaakkk!!!”


Suara tamparan keras terdengar di kantin fakultas. Seluruh mahasiswa yang berada disitu melihat kejadian itu.


Rafael memegang pipi kanannya dan mengelusnya. Pipinya Nampak merah akibat perlakuan perempuan yang menamparnya tadi.


“ Siapa cewek ini?” Tanya perempuan yang menampar tersebut sambil melirik cewek yang disamping Rafael.


“ Pacar gue! Kenapa ? masalah?”


“Jadi gue pacar lu nomer berapa? Ha?”


“Tenang. Baru nomer 15.” Jawabnya dengan santai tanpa rasa bersalah.


“Mulai hari ini gue resign jadi pacar lu!”


Perempuan itu mengakhiri hubungannya bersama Rafael hari itu juga. Baru satu bulan mereka berpacaran tapi kelakuan Rafael sudah terlihat. Ayu adalah pacar Rafael ke-15 dan dia baru sadar saat itu juga. Bodohnya, Ayu menerima pernyataan cinta satu bulan yang lalu meski Ayu tahu kalau Rafael adalah cowok player. Tapi kini Ayu sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Rafael karena hatinya selalu dipermainkan olehnya.


“ Dan lu yaa, cewek murahan! Mau-maunya aja lu jadian sama buaya ini. Nasib lu bakal sama kayak gue. Cuma dijadiin pacar cadangan! ” tukas Ayu kepada Dinda.


Dinda adalah pacar baru Rafael yang ke-16. Karena masih muda dan mahasiswa baru di fakultasnya Dinda tidak mempermasalahkan kelakuan Rafael meskipun dia cowok player.


Rafael adalah lelaki yang tipenya suka gonta-ganti pasangan tanpa memikirkan hati perempuan. Hari ini dia kehilangan satu pacarnya dan dia akan mencari pengganti perempuan lain, tentunya buat cadangan kalau sewaktu waktu dia bosen dengan Dinda.


Rafael berada di parkiran Fakultas. Sambil menghisap rokonya Rafael melihat pemandangan yang indah saat itu. Rafael melihat perempuan yang sangat cantik baginya. Tapi kali ini benar-benar beda dari mantan-mantannya. Perempuan itu berkulit putih merona, matanya bulat dan berwarna coklat, bulu matanya lentik, alisnya agak tebal dan hidungnya mancung. Yang menambah kekaguman tersendiri bagi Rafael adalah dia mengenakan jilbab berwarna pink rose. Dia terlihat sedang mengambil sepeda di parkiran. Dalam hati Rafael terbesit bahwa dia harus mengenal dan mendekati perempuan itu. Dia harus mendapatkannya.


“ Duluan ya Rain!” Panggil teman perempuan itu yang sedang menegendarai mobil.


Oh jadi namanya Rain.


***


Di kantin Fakultas , Rafael bersama ketiga teman kuliahnya sedang nongkrong dan menggoda perempuan-perempuan yang sedang berlalu lalang. Tampak beberapa perempuan-perempuan cantik sedang berjalan melewati mereka berempat dan menaarik perhatian para lelaki itu. Ada yang memakai bedak dan lipstick berwarna tebal dengan rambut keriting terurai di pungungnya. Ada juga yang berkacamata tapi penampilannya tetap necis. Ketiga laki-laki itu mencoba menggoda perempuan-perempuan yang lewat. Mereka menggoda karena untuk kesenangan dan hanya untuk hiburan mereka saja, tapi barangkali ada yang nyentel salah satu dari mereka.


“Prikitieeeww” goda Irawan kepada perempuan yang ber- make up tebal dengan rambut keriting terurai


“ Bedak-nya tebal amat neng, udah kaya patung pancoran” Irawan menambahkan.


“ Hehh, jangan gitu cuy, dia masih mahasiswaa baru. Bisa-bisa dia malah kabur ngelihat lu kayak gitu” tukas Agung yang sedang memakan bakso didepan Irawan


Perempuan yang baru saja digoda oleh Irawan mendadak ilfeel. Terlihat raut mukanya seperti melihat makanan busuk. Perempuan itu kemudian pergi dari kantin sambil menggandeng tangan temannya cepat-cepat dan menghindar dari keempat lelaki yang sedang menggoda mereka.


“ Sykurin lu Hahahaha” balas Karto tertawa melihat perempuan tadi pergi karena merasa ilfeel.


“ Woyy, ngelamun aja lu Dal!”


Seketika Agung membuyarkan lamunan Rafael yang dari tadi menghisap rokok didepannya. Tidak seperti biasanya dia tidak menggoda perempuan-perempuan yang berlalu lalang di kantin. Biasanya Rafael paling ahli dalam menggoda perempuan cantik dengan gombalannya yang meluluhkan hati perempuan. Selain itu muka ganteng


Rafael adalah sebagai modal besar para perempuan tertarik kepadanya. Bagaimana tidak, Rafael dikategorikan lelaki paling ganteng di Fakultasnya karena wajahnya yang blasteran bule. Memiliki hidung mancung, rambut agak berantakan, kulit mulus, putih dan senyuman memikat menjadi daya tarik sendiri kepada perempuan yang melihatnya. Kadal adalah panggilan Rafael oleh teman gengnya karena Rafael sudah dikenal dengan lelaki playboy dan playaer.


“Nggak ada cewek menarik lagi selain Rain” ucap Rafael sambil menghisap rokoknya dengan tatapan kosong.


Tiba-tiba  ketiga temanya tercengang mendengar perkataan dari Rafael.


“Rain?? Rain siapa Dal? Ah elu nggak bilang bilang sama kita kalo udah gebet cewek lagi”  kata Agung kesal.


“Anak mana tu Dal? jurusan apa tuh? cantik yaa? seksi yaa?. Wah kenalin donk” ujar  Irawan menambahkan.


“Pokoknya Rain sangat berbeda dari mantan-mantan terdahulu gue” Rafael menyanjung Rain sambil membayangkan pertama kali dia bertemu Rain kemarin.


Tiba-tiba terlihat perempuan cantik dengan berjilbab maroon dengan gamis berwarna cream bersama


temannya yang tidak memakai jilbab berjalan melewati ke-empat lelaki itu.


“Wan, cewek lewat. Cewek lewat. Keluarin jurus luuu” kata Karto sambil melirik kedua perempuan tadi sambil menggesekkan siku tangannya kepada Irawan yang ada disampingnya.


Irawan mencuri-curi pandang kepada kedua perempuan yang lewat di sampingnya.


“Cantik sih, tapi pake jilbab. Bisa-bisa gue diceramahin habis ngegodain dia. Nanti gue malah disuruh ikut kajian. Nggak laahhh. Belum siap gua mahh. Nggak-nggak-nggak”


“Ah cemennn lu!” ujar Karto sambil mengacak-acak rambut Irawan agar rambutnya terlihat berantakan.


Mendengar teman-teman Rafael yang sedang mengobrol membicarakan perempuan yang lewat tadi, Rafael merasa penasaran. Dia mencoba menggelengkan kepalanya kekanan dan matanya tertuju kepada perempuan berjilbab itu. Deg. Jantungnya berdebar-debar. Matanya seakan tidak ingin berkedip. Perempuan itu tidak akan hilang dari pandangannya. Spontan, Rafael berdiri dari kursinya dan berjalan sambil menghadang perempuan berjilbab tersebut.


Perempuan tersebut terkejut karena dihadapannya sudah ada laki-laki jangkung yang menatapnya. Perempuan itu tidak berani menatapnya dan hanya bisa menunduk.


“Maaf, kami mau lewat mas. Jangan mengahalagi jalan!” kata perempuan itu tertegun sambil menunduk.


“Aku bisa memberimu jalan asalkan aku boleh kenalan sama kamu.” Rafael tetap berdiri dihadapan perempuan itu dan melihat wajah cantik perempuan itu sambil menunduk ketakutan.


“Tenang, aku nggak bakal nggaguin kamu. Selama kamu mau buka hati buat aku” kata Rafael meluncurkan senjata gombalannya.


“Bukkk!!!” Perempuan itu memukul wajah Rafael dengan sebuah buku yang baru dipengang. Buku itu agak tebal dan membuat wajah Rafael sakit.


“Dasar cowok kurangajar!!! Belum kenal udah berani ngegombal !”


Agung, Irawan, dan Karto terkejut melihat perlakuan perempuan itu yang telah berani memukul wajah Rafael. Baru kali ini ada perempuan yang berani memukul Rafael setelah Ayu kemarin. Dan perempuan ini bukan pacarnya apalagi mantannya. Hanya orang asing dan sudah berani main pukul.


“Waduhhh, Kadal dipukul cewek berjilbab” sorak Karto terkejut.


“Udah Dal, lepasin aja tuh cewek. Belum jadi pacar lu udah berani mukul apalagi kalo udah jadi pacar lu, bisa-bisa kena KDRT tiiap hari lu Dal” tukas Irawan mencoba mencoba membujuk Rafael agar menyerah.


“Heh, siapa yang mau jadi pacar lelaki ini. Saya mukul dia karena saya ingin menjaga diri saya dan teman saya, karena mas ini sudah melecehkan saya. Saya sebagai perempuan nggak terima!”


“Iya mbak. AMPUN-AMPUN!!!” Teriak Karto sambil tangannya bersimpuh seperti seorang dewa. Mereka tidak habis piker kenapa ada perempuan berjilbab yang berani seperti ini melawan para lelaki.


“Bene kan lu diceramahin To. Galak juga nih cewek” bisik irawan kepada Karto


Meski dipukul dengan buku,  Rafael tidak marah dia malah semakin kagum dan penasaran dengan perempuan itu.


“ Sorry, mungkin caraku mendekatimu yang salah. Aku akan akan mencari cara lain agar aku tetap bisa mengenalmu. Mengenalmu lebih jauh lagi, Rain.”  kata Rafael kepada perempuan itu sambil mengusap pipi kanannya sambil tersenyum kepadanya.


Rain terkejut dengan perkataan Rafael, apalagi mendengar dia menyebut namanya. Kenapa dia bisa tah namanya, padahal dia baru baertemu dengannya dan dia juga tidak ingin menyebutkan namanya.


“Kenapa kamu bisa tahu nama saya?”


“Tidak penting kamu tahu , Rain. Aku hanya ingin mengenalkan diriku kepadamu. Aku Rafael.” Rafael menyodorkan tangan kananya dan mengajaknya salaman.


Tap Rain hanya memandang tangan Rafael dan tidak membalasnya dengan menyodorkan tangannya.


“Bukan Mahram” kata Rain dengan kesal


“Apa itu Mahram?” Rafael mengrenyitkan keningnya.


“Mahram aja nggak tau. Cari di gugel nohhh”.


Rain semakin kesal dengan lelaki tersebut. Dia tidak jadi membeli minuman di kantin karena moodnya yang sudah berubah. Dia mengajak temannya, Wulan berputar balik dan meninggalkan kantin menuju fakultasnya. Sebelum dia menuju Fakultasnya dia mendengar ada yang memanggil namanya, kemudian dia menoleh.


“Rainnnn!!”


Rain menoleh mencari asal suara tersebut dan mendapati lelaki itu lagi yang memanggilnya. Ah kenapa dia harus menoleh.


“Semoga Tuhan mempertemukan kita lagi”


Cowok gila. Gumam Rain dalam hati.


“Jadi cewek yang tadi itu yang lu taksir Dal?” tanya Karto keheranan


“Serius nih bocah? Lu udah insyaf?” tanya Irawan sambil memegang dahi Rafael


seakan-akan memastikan suhu tubuh Rafael normal.


 “ Sejak kapan lu bisa suka cewek berjilbab kayak gitu?”


“Ahh lue pade kayak wartawan aja. Dah lah. Gue mau cabut. Ngejar si Rain. Byee” ujar Rafael meninggalkan ketiga temannya.


***