Rain And Roin

Rain And Roin
Tiga Tangkai Mawar Merah



Yang belum baca episode sebelumnya bisa dibaca dulu yaa biar nggak bingung sama ceritanya :) thankyou.


Hari Sabtu adalah hari yang ditunggu Rain karena hari sabtu dia tidak ada kuliah. Dia bebas di rumah tanpa memikirkan tugas kuliah dan bisa membantu ibunya jualan bunga di rumah. Selama mereka ditinggal oleh Mahendra ─Rain dan Ningsih merantau ke Jakarta pergi ke rumah kerabatnya. Rumah yang mereka tinggali di Bandung sudah disita oleh bank karena hutang yang menumpuk dan jalan satu-satunya adalah menumpang di rumah tantenya Rain─Erin. Erin sangat baik kepada mereka bahkan dia mau meminjami uang kepada mereka untuk mengontrak rumah dan membuka usaha kecil-kecilan. Erin memiliki toko bunga yang cukup besar, untuk itu Erin menyarankan kepada Ningsih untuk membuka usaha toko bunga di depan kontrakanya agar keluarga mereka mendapatkan penghasilan. Bunga yang mereka dapatkan tak lain juga dari toko bunganya Erin.


" Rainn" panggil Ningsih.


" Iyaa Bu."


" Tolong kamu jaga toko dulu yaa, Ibu mau anter pesanan ke perumahan sebelah. Udah ditungguin nih."


" Siapp bu"


" Itu bunganya jangan lupa di sortir mana yang udah layu sama mana yang masih segar!" kata ibu sambil membawa keranjang bunga yang berisikan beberapa ikat mawar merah.


Beberapa menit kemudian setelah Ningsih pergi meninggalkan rumahnya, ada suara mobil putih yang berhenti di depan toko bunga tersebut. Terlihat seorang lelaki membuka pintu mobil itu dan hendak berjalan memasuki toko tersebut sambil melihat-lihat bunga yang ada distu. Saat pembeli itu datang, Rain sedang disibukkan menyortir bunga-bunga yang masih segar jadi dia tidak melihat pembeli itu karena posisinya menghadap tembok dan membelakangi pembeli.


" Permisi mbak" kata seorang pembeli itu.


"Iya, silakan bisa dipilih-pilih dulu tuan." kata Rain yang masih sibuk menyortir bunga-bunga.


"Ada bunga apa saja di sini mbak?" tanya pembeli itu memegang beberapa bunga yang ada di depannya


"Banyak tuan, ada mawar merah,putih,pink, bunga krisan, lili, tulip, anthurium"


"Ada bunga yang paling cantik disini mbak? saya mau mencari bunga yang paling cantik untuk pacar saya"


" Ada tuan, mawar merah segar cocok untuk pacar tuan." kata Rain sembari memotong daun yang sudah kering di tangkai bunga.


"Kalau semisalnya mbak adalah pacar saya apakah mbak menyukai bunga itu?".


Rain terdiam dan tidak melanjutkan pekerjaanya. Dia sedang berpikir kenapa si pembeli itu mempertanyakan hal yang semestinya tidak ditanyakan untuk orang yang belum kenal. Rain mencoba menjawab pertanyaan konyol yang dilontarkan oleh pembeli tersebut.


" Kalau saya sih suka, karena saya juga suka warna merah tuan."


" Oke saya ambil tiga tangkai mbak, minta tolong di bucket yang cantik."


"Baik tuan!" setelah selesai menyortir bunga Rain segera berbalik badan dan menghadap depan untuk melihat pembeli tersebut. Namun dia sangat terkejut melihat orang yang ada didepannya sekarang.


" Rafael !!!" Rain berteriak seperti melihat maling yang akan mencuri bunganya.


" Pstttt.... Jangan teriak-teriak. Nanti aku dikira ngapa-ngapain kamu" kata Rafael cemas sambil melihat-lihat suasana komplek sekitar toko.


" Rafael ihhh" teriak Rain pelan sambil menepuk badan Rafael mengunakan kardus yang ia pegang. Kardus itu kosong bekas tempat bunga yang sudah dipindahkan ke ember.


"Kenapa nggak tuan lagi manggilnya? Aku lebih senang kalau kamu manggil aku dengan sebutan tuan. Tuan muda." tanya Rafael tertawa menggoda sambil memperlihatkan senyuman manisnya yang begitu memikat.


Rain melanjutkan pukulannya menggunakan kardus karena membuatnyaa jengkel lagi. Kali ini pukulannya agak keras, tapi Rafael hanya tertawa menanggapi pukulan Rain.


"Kamu ngapain disini?" tanya Rain galak.


"Masak beli nggak boleh sih," kata Rafael meredamkan emosi Rain.


" Nggak. Baca tuh bannernya yang didepan apa!" Rain menujuk sebuah banner yang terpampang di samping toko bunganya.


Rafael menengok kesamping dan hendak membaca isi tulisan yang ada di banner tersebut. Tulisan di banner itu berbunyi seperti ini;


"COWOK PLAYBOY DILARANG BELI DISINI. HANYA UNTUK LELAKI SETIA YANG MEMILIKI SATU WANITA" Rafael membaca banner yang bertuliskan kalimat tersebut dan menahan tawanya.


" Segitunya Rain Hahahaha" kali ini Rafael tidak bisa menahan tawanya dan tawanya pecah setelah membaca kalimat tersebut.


" Itu yang nulis kamu?"


"iya lahh, masak tetanggaku" jawab Rain ketus.


"Kenapa?" tanya Rafael penasaran dengaan makna tulisan terssebut.


"Kamu nggak perlu tau. Ini masalah keluarga kami" Rain menimpali pertanyaan Rafael dengan jutek.


"Oh maaf Rain." Rafael merasa bersalah sudah menanyakan hal tersebut kepada Rain.


" Kamu kenapa bisa tau rumahku sih?" tanya Rain heran dan gemas melihat lelaki yang ada didepannya sekarang.


"Aku kemarin kan habis dari bengkel terus mbuntutin kamu" jawab Rafael dengan senyum tampannya.


"Gilaa ya kamu. Aku pikir hari ini aku bakal tenang karena aku nggak ketemu kamu lagi. Kamu yang selalu nggangguin aku dari kemarin. Ternyata kamu punya banyak cara biar bisa nggangguin aku."


" Bukan Rafael namanya kalau nggak tau sesuatu hal mengenai perempuan yang aku incar" lagi-lagi Rafael tersenyum.


"Udahlah. Aku nggak mau lihat kamu hari ini. kamu pulang aja sana " usir Rain kepada Rafael.


" Nggak, aku nggak mau pulang sebelum aku beli bunga ini." Rafael menyodorkan bunga yang ia pegang.


Rain terdiam melihat bunga yang Rafael pegang. Sepertinya memang lelaki itu berniat membelinya.


"Sinii!" Rain merebut bunga yang ada digenggaman Rafael kemudian segera membungkusnya menjadi bucket bunga yang cantik.


" Yang bagus yaa mbak, buat pacar saya soalnya."


Rain tidak menimpali perkataan Rafael karena sibuk membungkus bunga yang Rafael beli.


"Makasih Rain." Rafael mengambil bunga tersebut sekaligus membayar bunga tersebut kepada Rain dengan uang pas. Saat berbicara kepada Rain selalu saja ada senyuman yang menghiasi bibirnya. Seakan-akan dia tidak pernah menunjukkan muka marah atau kesalnya kepada Rain walaupun Rain selalu menujukkan eskpresi kesalnya ketika berbicara dengan Rafael.


" Udah kamu boleh pergi sekarang!" usir Rain lagi.


" Oke Rain, aku pulang dulu yaa. Pacarku keburu nungguin nih."


Rafael mengakhiri pembicaraannya dengan Rain kemudian dia berpamitan kepada Rain. Tetap saja Rain mengacuhkannya hingga Rafael sudah memasuki mobil putihnya dan menancapkan gasnya. Rain melihat mobil itu bergerak melaju dengan kecepatan perlahan sampai sudah tidak terlihat lagi dari pandangan mata Rain. Oke, kali ini Rain sudah lega. Dia sudah tidak lagi melihat lelaki itu sekarang. Dia bisa tenang menjaga toko bunga ibunya karena ibunya belum kembali dari mengantarkaan pesanan.


Beberapa menit kemudian Rain melihat ibunya kembali dari perumahan sebelah. Kali ini ia melihat keranjang bunga yang ibunya bawa habis tak tersisa. Itu artinya orang yang memesan bunga tersebut dapat mnerima bunga yang diantarkan dengan baik dan jadi membelinya. Mengingat beberapa minggu kemarin ada seseorang yang memesan bunga kepada mereka tetapi setelah diantarkan kerumahnya, si pembeli tersebut malah menolaknya mentah-mentah karena bunganya sudah agak layu. Padahal hanya beberapa bunga saja yang layu, tidak semuanya yang layu. Memang hari ini adalah rejeki mereka berdua dan mereka sangat bersyukur.


Rain merasa lelah walaupun hanya melayani satu pembeli. Tenaganya terkuras melayani pembeli yang menyebalkan tadi. Ya, si Rafael itu. Siapa lagi kalau bukan dia?. Rain kemudian masuk ke kamar untuk istirahat dan mengambil ponselnya untuk membuka akun instagramnya. Di dalam ruangan yang tidak begitu luas ini Rain betah menghabiskan waktu untuk istirahat, bahkan seharian penuh. Hanya untuk tiduran sembari mendengarkan murotal diponselnya.


Suara kendaraan terdengar lagi dari kamar Rain, kali ini suaranya lebih pelan daripada suara yang tadi. Rain mendengar suara tersebut dan mengabaikannya karena masih asyik sibuk dengan dunia mayanya. Seorang pengemudi kendaran bermotor memberhentikan motornya tepat di depan toko mereka.


" Punten bu, ieu bumi teh Rain?" tanya seorang pria memakai jaket hijau bertuliskan Go-Jek kepada Ningsih dengan logat sunda.


" Sumuhun, Pak. Punten katungan naon anu kedah dipesen ku murangkalih abdi?" tanya Ningsih terheran-heran. Ningsih menanyakan kepada pria tersebut bahwa anaknya pesan makanan apa.


" Ini ada titipan paket dari seseorang untuk mbak Rain. Katanya dari Mister X gitu tadi bilangnya sama saya." Pria tersebut menyodorkan kardus yang ukurannya tidak terlalu besar.


Ningsih menerima paketan tersebut dan membawanya, dia merasakan kardus tersebut sangat ringan kemudian ia goyang-goyangkan untuk mengetahui isi barang yang di dalam kardus tersebut. Di paling atas permukaan kardus tersebut ada kertas putih yang bertuliskan,


Untuk : Rain


Pengirim : Mister X


" Ya sudah kalau begitu bu saya pamit dulu. Hatur nuhun." Pria pengirim barang tersebut berpamitan karena tugasnya mengantar barang sudah selesai kemudian dia pergi.


Ningsih masih heran dan melihat paketan yang ia terima barusan kemudian ia hendak memanggil anaknya.


" Rainnn...Rainn!!!" Ningsih memanggil anaknya sambil berjalan menuju kamar anaknya.


" Iyaa bu" suara Rain tedengar lirih dari dalam kamarnya.


"Ini ada paket untuk kamu, Rain."


Rain yang sedang tiduran dan bermain ponsel dikamarnya mendadak bangun dan loncat dari tempat tidurnya kemudian dia keluar untuk melihat paket yang dikirimkan untuk dirinya. Dia melihat Ningsih membawa kardus yang tidak terlalu besar ukurannya.


"Dari siapa bu?" tanya Rain sambil mengerutkan keningnya. Mukanya tampak sangat heran melihat paket itu.


" Katanya dari Mister X gitu. Siapa sih mister X Rain? Kok keliatan seram, ibu jadi takut atuh. Ihhh ngeriii " tanya Ningsih sembari menggerakan kedua bahunya karena merasa ketakutan.


" Mister X saha Bu? Rain nggak punya temen namanya Mister X tuh." Rain masih melihat paket misterius tersebut sambil mengingat-ingat nama teman-temannya.


" Udah laah, sekarang buka aja ini paket makanya ,biar tau isinya!" pinta Ningsih kepada Rain sembari menyodorkan kardus tersebut agar Rain segera membukanya. " Tapi hati-hati, takutnya kalau isinya bom atau mercon! Kan nanti bisa meledak " lanjut Ningsih dengan eskpresi wajahnya yang ketakutan.


"Ihhh ibu ih jangan nakuti-nakuti gitu atuhh. Ini isi kardusnya aja ringan kok" ujar Rain menenangkan ibunya sambil menggoyang-nggoyangkan kardus tersebut.


Rain semakin penasaran dengan isi kardus tersebut. Apakah isinya berupa barang atau makanan Rain tidak peduli, yang penting dia bisa mengetahui isi paket yang dikirimkan untuknya dari orang misterius tersebut. Meskipun merasa takut untuk membukanya Rain mengumpulkan nyali terlebih dahulu. Pelan-pelan ia menyobek solasi hitam yang menempel di permukaan kadus tersebut. Setelah itu, Rain mencoba membuka sisi tutup kardus bagian kanan kemudian bagian kiri. Rupanya terlihat bungkusan koran didalamnya.


Rain mengambil bungkusan koran itu kemudian menyobeknya dan nampak sebuah bucket bunga yang berisikaan tiga tangkai bunga mawar merah, di bucket bunga itu terdapat pita berwarna pink yang menghubungkan sebuah kertas kecil yang bertuliskan beberapa kata. Rain mulai mengambil kertas kecil tersebut dan membacanya dalam hati.


" Untuk kamu, setetes air yang membasahi bumi. Membawa kebahagian tersendiri bagi makhluk hidup-Nya. Kamu adalah sesuatu yang ditunggu oleh jutaan makhluk hidup di bumi ini. Mereka gembira akan kehadiranmu, mereka bersukacita menyambutmu. Tak jua diriku merasakan kehadiranmu saat ini karena kau telah membasahi relung jiwaku. Terimakasih Rain".


Rain terkejut setelah membaca isi pesan tersebut. Pesan tersebut memberikan makna yang mendalam bagi penulisnya tak lain juga Rain. Seakan-akan saat membaca tulisan tersebut ada tetesan air yang membasahi hatinya. Hatinya bergetar memaknai pesan tersirat tersebut. Artinya sangat dalam. Hatinya sekarang menjadi dingin dan tenang. Terlihat senyuman Rain merekah setelah membaca isi pesan tersebut. Rain penasaran siapa yang mengirimkan bunga tersebut kepadanya. Di pesan tersebut hanya tertulis; Pengirim : Mister X. Siapa sebenarnya mister X?. Otak Rain mulai bekerja, dia mulai mengingat-ingat bunga yang ada digenggamannya.Tiga tangkai mawar merah. Dia pernah melihat bunga tersebut dalam beberapa waktu ini


Astaga.


Tiba-tiba Rain mengingat Rafael dalam ingatannya. Bayangan Rafael ada dalam pikirannya sekarang. Rain tersadar Rafael membeli bunga seperti ini barusan. Hatinya yakin bahwa pengirim bunga misterius itu tak lain adalah Rafael. Rain sangat yakin itu. Bunga itu masih terlihat segar dan sama persis seperti yang ia lihat saat ia membungkus bunga itu tadi. Rain tidak habis pikir, kenapa lelaki itu melakukan seperti ini kepadanya? Bukankah dia tadi bilang bunga itu untuk pacarnya? Apakah yang dia anggap pacarnya adalah dirinya. Ah sudahlah. Walaupun Rain terlihat senang menerima bunga tersebut dia tidak boleh luluh dengan lelaki itu, namun batinnya terkoyak. Hatinya kini bimbang apa yang harus dia lakukan dengan bunga itu sekarang.


" Rainn, dari siapa jadinya?" suara Ningsih menyadarkan Rain yang sedang membaca isi pesan itu.


"Oh.. Anu Bu..Dari─Dari teman Rain ternyata. Hehehe" kata Rain gugup karena bingung menjawabnya. Apakah ibu harus tahu kalau saja ada lelaki yang berani mengirimkan bunga itu kepadanya.


"Cowok atuh?" tanya Ningsih lagi.


"Iyaa Bu" kata Rain menunduk ketakutan jika saja ibunya memarahinya. "Tapi Rain sudah berusaha menjauhi lelaki itu Bu, dia aja yang suka ngejar-ngejar Rain." jelas Rain dengan mimik muka melas agar sang ibu tidak memarahinya.


"Loh bagus donk, anak ibu ada yang nyukain. Tapi kamu harus tetap hati-hati sama lelaki itu. Batasi pertemuan. Carilah lelaki yang paham agama Rain, jangan seperti ayahmu." pinta Ningsih tegas dengan senyumannya.


Rain kira ibunya akan memarahinya, ternyata tidak demikian. Memang semenjak ditinggal oleh Mahendra, Ningsih menjadi lebih selektif dalam memilihkan pasangan anaknya. Ningsih tidak mau anaknya seperti dirinya, dikhianati oleh lelaki yang kini sudah menjadi mantan suaminya.


"Iyaa ibu, Rain akan lebih berhati-hati lagi dengan lelaki itu. Rain masuk kamar dulu ya Bu." ucap Rain. Mendegarkan nasihat Ningsih─Rain merasa lega. Kemudian ia segera membawa bunga tersebut masuk ke dalam kamar.


Rain memegaang bucket bunga yang berisikan tiga tangkai mawar merah itu sembari duduk di kasurnya. Dia tertawa kecil melihatnya.


"Anehh... ini kan bunga yang aku jual. Kenapa dia balikin lagi ke aku. Hahaha. Rafael, Rafael." gumam Rain tertawa sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya.


Rain melihat vas di atas meja belajarnya. Vas itu berisikan bunga krisan yang sudah layu. Rain mengambil bunga krisan yang berada di dalam vas itu kemudian membuangnya ke tempat sampah. Ia menggantikan bunga krisan yang telah ia buang tadi dengan tiga tangkai mawar merah. Kini ia bisa memandang bunga mawar merah itu setiap harinya.


Terimakasih Rafael atas pemberianmu. Sederhana, tapi aku suka. Kamu lelaki unik yang pernah aku temui.


***


BERSAMBUNG...