Rain And Roin

Rain And Roin
Gelang Roin




Aku suka hujan, karena aku selalu ingat hruf R. Rain” ─ Roin─


Langit di bumi yang tadinya berwarna biru berubah menjadi keabu-abuan. Awan mendung bergeser menutupi sang mentari. Suara gemuruh terdengar dari langit. Suhu udara menjadi agak dingin dan angin berhembus agak cepat. Burung-burung berterbangan mencari tempat berlindung. Air jatuh dari langit dan menetes ke bumi. Volume air tidak terlalu deras hanya gerimis saja. Di bawah pohon agak besar tempat berlindung burung-burung yang berterbangan tadi, terlihat dua anak kecil. Kedua anak itu sedang bermain di bawah pohon. Sambil berteduh dibawah naungan pohon. Hujan semakin deras tetapi mereka tetap bermain disana tanpa takut air hujan membasahi tubuh mereka.


“Tangkap bolanya!” perintah anak laki-laki itu yang berusia sembilan tahun.


Bola melambung kearah anak perempuan yang berdiri dihadapan anak laki-laki itu yang berjarak 2 meter dari dirinya. Tiba-tiba anak perempuan itu tidak bisa menangkap bola dan menggelinding di semak-semak.


“ Ahh, payah kamu Rain. Nangkap kayak gitu aja masak nggak bisa” ucap anak laki-laki itu dengan kesal.


“Tadi bolanya kena angin, Roin. Aku nggak bisa nangkepnya” kata Rain memelas.


“ Ya udah deh, kita main kapal-kapalan aja yuk” Roin mengambil daun kering dan membuat perahu layar. Dia membuat dua buah, yang satu buat ia sendiri kemudian yang satunya ia berikan kepada saudara kembarnya, Rain.


Mereka melayarkan perahu yang terbuat dari daun kering tadi diatas genangan air. Mereka terlihat sangat bahagia ditemani suara deras air hujan.


“Kamu tahu kenapa aku suka hujan?” tanya Roin kepadaa Rain sambil menatap Rain dengan senyumannya.


“Enggak, emang kenapa?” Rain tanya balik dengan muka penuh penasaran.


“Aku suka hujan, karena aku selalu ingat hruf R. Rain” kata Roin sambil menujukkan gelang yang terdapat huruf R digelangnya.


Kata-kata Roin membuat Rain tergelitik tertawa. Walaupun mereka sering tidak akur tetapi mereka sangat menyanyangi satu sama lain.


“Eh kenapa air hujannya diminum? Kan kotor.” tanya Rain.


“Sesuatu yang datangnya dari Tuhan itu tidak kotor” jawab Roin sambil meminum air hujan yang tertampung di tangannya.


***


Malam hari tiba dan hujan semakin deras disertai kilataan petir yang menyambar-nyambar. Angin kencang berhembus dan mematahkan ranting pohon. Di dalam rumah yang berwarna coklat tua terdengar suara kedua orang yang sedang beradu-mulut.


“Ternyata kelakuan kamu begini ya Mas dibelakangku!” teriak seorang wanita sambil menangis histeris.


“Apa yang kamu berikan selama ini kepadaku? Nggak ada kan. Selama pernikahan, kamu tidak memberikan apa yang aku minta. Padahal aku ini suamimu!” bentak seorang pria kepada wanita tersebut sehingga membuat wanita tersebut semakin menangis.


“Lebih baik aku pergi dari sini daripada harus mengurusi kamu dan anak perempuan itu!” lanjut pria itu dengan nada tinggi sambil buang muka dengan wanita yang berada dihadapannya. Pria itu langsung masuk ke dalam kamar Roin dan membopong Roin yang masih tertidur dengan lelap untuk keluar rumah. Roin tiba-tiba terbangun dan menangis.


“Mas, kamu tidak bisa membawa Roin ! Roin anak aku juga. Dia harus tinggal disini bersama Rain!” Wanita itu mencegah pria itu untuk keluar dari rumah sambil merebut Roin dalam gendongan sang Ayah.


Namun tubuh pria itu terlalu kuat dan kekar sehingga dia mendorong wanita tersebut dengan keras  sampai wanita tersebut jatuh di lantai. Tubuhnya terasa sakit akibat benturan lantai yang mengenai tubuhnya, tapi ia tidak memperdulikannya. Ia lebih merasa  kesakitan lagi jika anaknya dibawa oleh pria bejat itu.


“Roin harus ikut denganku. Anakku cuma Roin. Aku akan membawanya tinggal bersamaku dan Maya di Jakarta!” ucap Mahendra dengan nada keras.


Pria itu pergi sambil membanting pintu rumah dan langsung masuk ke mobil tanpa mengucakan selamat tinggal kepada istrinya.


Suara pintu rumah membuat Rain terbangun dari mimpinya. Dia mengusap matanya dengan kedua tangannya dan keluar kamar. Dia mendapati ibunya duduk dilantai sampai menangis dan menjerit-jerit. Pemandangan yang ia lihat membuat gadis berambut panjang itu ketakutan dan memeluk ibunya.


“Ibu kenapa?” tanya Rain kepada sang ibu dengan sesenggukan seolah merasakan apa yang dirasakan ibunya.


Tangan wanita itu mendekap tubuh mungil Rain kemudian memeluknya. Rain dengan polosnya tanpa mengetauhi kejadian yang telah terjadi hanya mengangguk kebingungan sambil memeluk ibunya.


***


Empat tahun kemudian Roin dan ayahnya, Mahendra tinggal di Jakarta bersama Maya. Mayaadalah istri sahnya sekarang mengingat beberapa tahun yang lalu Mahendra sudah bercerai dengan istri pertamanya, Ningsih. Selama di Jakarta Mahendra dan Maya tinggal dirumah mewah karena karir Mahendra di Jakarta melesat. Posisinya sebagai direktur di perusahaan ternama membuat pria berumur 40 tahun ini memiliki banyak aset yang akan diwariskan ke putranya, Roin.


“Sarapan dulu Pah” bujuk Maya kepada sang suami sambil menyodorkan roti tawar dan susu yang berada di meja makan.


“Kamu mau selai apa Roin? Coklat atau kacang?” tanya Maya kepada Roin.


Roin tidak menjawab sepatah katapun. Sejak tinggal bersama Maya di rumah mewah  ini Roin memang masih belum bisa menganggap Maya sebagai ibunya. Dia tidak sudi menjadikan Maya sebagai Ibunya. Didalam hatinya hanya ada Ningsih, ibu yang selalu menyayanginya dengan tulus , tidak seperti Maya.


“ Roin kamu yang sopan sama mama mu! kamu punya telinga kan? Ha? Kalau mamamu tanyaitu dijawab!” ucap Mahendra dengan bentakannya.


Mahendra sudah tidak nafsu makan lagi karena melihat tingkah laku anaknya.


“Roin nggak laper Pah!” jawab Roin sambil mengambil tas yang berada di meja kemudian keluar rumah. Dia pergi menuju mobil BMW yang berwarna hitam.


“Dasar anak itu!” tukas Mahendra dengan kesal kemudian segera mengejar Roin agar dia tidak semakin berulah lagi.  Selama tinggal di Jakarta perilaku Roin semakin lama semakin meresahkan. Roin selalu membuat ulah dengan kedua orangtuanya entah itu bolos sekolah dan main game di warnet sehingga dia sering masuk ruang BK dan membuat Mahendra berhadapan dengan guru BK.


Roin yang mengenakan seragam biru dongker dan putih membuka pintu mobil dan masuk kedalam. Mahendra duduk didepan dan mengendarai mobilnya. Mobil itu melaju dengan kencang menuju sekoalah Roin. Selama perjalanan, mobil melaju dengan aman-aman saja. Sesampainya di tikungan menuju Jalan Dahlia yang agak menanjak tiba-tiba dari arah berlawanan ada truk yang membawa beton. Mahendra langsung menurunkan gas mobilnya dan menginjak rem, namun naas rem tersebut blong. Mobil tersebut tidak bisa berhenti dan tetap melaju menuju truk yang ada didepannya. Kemudian mobil yang mereka tumpangi menabrak truk yang ada didepannya. Kecelakaan tersebut mengakibatkan kaca mobil pecah dan membuat Mahendra dan Roin luka parah. Mahendra tidak bisa terselamatkan dan Roin mengalami koma akibat luka yang ada di kepalanya


***


Roin terbujur lemah di atas tempat tidur. Di depan Ruang perawatan terdapat papan yang bertuliskan Ruang ICU. Ya, Roin sudah koma beberapa hari. Tiba-tiba alat monitor jantung yang berada didekat Roin berbunyi. Dokter langsung masuk masuk keruang tersebut dan memeriksa kondisi tubuh Roin. Roin akhirnya tersadar dari


komanya.


“Aku dimana?” Roin mendapati dirinya berada di ruangan sempit dan dingin. Dia melihat dinding berwarna putih dan alat infus yang berada disampingnya.


“Kamu tersadar dar koma.” kata  Maya lirih.


“ Maaf, apakah anda perawat disini?” tanya Roin melihat wanita yang ada dihadapannya sekarang ini.


Pertanyaan itu membuat Maya terkejut. Matanya terbelalak. Kenapa dia bisa lupa dengan orang yang paling ia benci.


“ Dia mengalami amnesia akibat benturan yang sangat keras di otaknya. Tolong jangan membuat dia mengingat hal-hal yang membuat kondisinya semakin parah. ” himbau dokter kepada Maya dan dokter tersebut pergi meninggalkan ruangan.


“Tolong jawab! saya ini siapa? Dan kenapa saya bisa berada disini?”


Roin ketakutan. Setelah itu ia melihat gelang yang menujukkan huruf R di pergelangan  tangannya. Dia terlihat heran.


“ R..?” ucap Roin penuh penasaran sembari memegang gelang tersebut.


“Ra…Rafael. Namamu Rafael.” jawab Maya terbata-bata.


Maya memanfaatkan kesempatan ini untuk menyamarkan identitas Roin karena niatnya untuk membalikkan nama warisan ayahnya agar bisa jatuh ke tangannya. Bukan jatuh ke tangan Roin. Mulai sekarang tidak ada nama Roin. Anggap saja Roin sudah mati meyusul ayahnya.


***