Rain And Roin

Rain And Roin
Dasar Jahil!



Siang itu cuaca sedang terik-teriknya. Rain sudah keluar dari kelas dan akan begegas pulang menuju tempat parkir untuk mengambil sepedanya. Sesampai di parkiran dia mencari sepeda berwarna pink yang ber merk- Polygon dan ada keranjangya. Dia mendapati sepedanya kemudian dia menaikinya, tetapi saat dia menaikinya dia merasa aneh terhadap sepedanya karena terasa berat. Kemudian dia turun dan mengecek ban sepedanya.


" Yahh bocor nih." Rain merasa panik. "Duh, mana di kampus nggak ada bengkel. Harus keluar kampus donk".


Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang menghampiri Rain.


" Sepedanya kenapa mbak?" tanya laki-laki tersebut.


" Bannya bocor nih pak" balas Rain tanpa mengetahui siapa laki-laki tersebut dan masih fokus memegang ban sepedanya. Rain mengira lelaki tersebut adalah satpam kampus yang biasanya mondar-mandir memastikan keamanan kendaraan mahasiswa.


Lelaki tersebut kemudian jongkok dibelakang Rain sambil memegang ban sepeda Rain. Rain melihat tangan lelaki itu hampir menyentuhnya kemudian merasakan dibelakangnya ada seseorang seperti ingin memeluknya. Rain menoleh kebelakang dan mendapati wajah Rafael sangat dekat dengan wajahnya. Rain melihat mata Rafael menatapnya. Bola matanya terlihat coklat bulat dan berbinar. Dia bisa melihat ada bayangan dirinya dalam bola matanya. Tatapan mata lelaki itu tajam seolah memberikan isyarat. Mata mereka bertemu satu sama lain tak ingin mereka kedipkan. Mereka saling pandang-memandang. Tiba-tiba jantung Rain beredebar sangat cepat. Tidak biasanya dihadapan lelaki jantung Rain berdebar-debar secepat ini. Terasa seperti ada sekumpulan kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya. Mereka terhanyut dalam suasana. Rain tersadar dari khayalannya dan mendorong lelaki itu sampai tersungkur di tanah.


" Astagfirullaha'adzim. Kamu lagi─kamu lagi"


" Kemarin dipukul sekarang didorong. Kamu jago berkelahi ya?" ucap Rafael sambil membersihkan denimya yang kotor akibat terkena tanah.


"


"Kamu memang pantes di gituin!" balas Rain dengan ketus.


" Jangan gitu, katanya wanita solehah nggak boleh kasar sama cowok loh. Nanti jodohmu kasar juga. Kamu mau?"


Mendengar perkataan Rafael menyadarkan Rain dari amarahnya dan membuat Rain istighfar dalam hati. Memang baru kali ini Rain bertemu lelaki yang sangat amat menyebalkan baginya. Padahal teman-teman lelaki di fakultasnya tidak ada yang berani mendekatinya apalagi dengan mengganggunya seperti ini. Hanya lelaki yang bernama Rafael yang berani seperti ini kepada Rain.


" Ban sepedamu tuh bocor harus ditambal. Bengkel disini juga jauh. Mending kamu pulang bareng aku aja naik mobil. Nanti sepedamu ditaruh dibelakang." Rafael menawarkannya Rain untuk pulang bersamanya naik mobil.


" Nggak. Aku nggak mau pulang bareng cowok. Rain menolak ajakan Rafael dengan tegas.


" Kenapa? Karena bukan Mahram?"


" Nah itu kamu tahu. Jadi kemarin kamu sudah cari arti dari kata "Mahram". Bagus donk"


"Kalau aku nggak kenal kamu mungkin aku nggak akan tau arti kata "Mahram", Rain" balas Rafael dengan senyumannya kepada Rain. Tapi Rain tetap mengacuhkannya.


Rain membalas gombalan Rafael dengan muka enek. Dia hanya diam dan terpikir ingin menonjok muka Rafael walau hanya dalam bayangannya saja.


" Percuma ya aku mbocorin ban sepeda kamu kalau kamu nggak mau pulang bareng sama aku"


Rain tercengang mendengar perkataan Rafael bahwa ternyata dirinya yang membocorkan ban sepedanya sehingga gara- gara dia ─ Rain tidak bisa pulang.


" Jadi kamu yang mbocorin sepedaku!!??"


Rain sangat amat kesal dan rasanya ingin teriak. Untung saja dia bukan kakak lelakinya. Mungkin jikaa saja Rafael adalak kakak lelakinya, Rain tidak segan-segan untuk mengacak-acak rambutnya dan memukul badannya yang kurus. Tapi hal itu hanya dalam imajinasinya saja. Rafael tetaplah Rafael, orang asing dan orang baru kenal yang sengaja masuk dalam hidupnya.


" Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus tanggung jawab!"


" Kamu? Kamu siapa?" Tanya Rafael. Lagi-lagi dia tersenyum menggoda.


"Ya kamuu. Yang ngebocorin ban sepedaku."


"Emm, namanya?"


" Iya. Kamu. Rafael." jawab Rain datar menyembunyikan rasa malunya karena telah menyebut namanya.


"Apa? Sekali lagi. Aku belum mendengarnya" Rafael memegang telinga kanannya seolah akan mendengar bisikan yang sangat penting dari perkataan Rain.


" RAFAEEEL !!!" Teriak Rain dengan keras di telinga kanan Rafael.


" Ternyata kamu masih inget namaku, Rain. Aku nggak nyangka, namaku bisa masuk dalam pikiranmu. Lama-lama bisa masuk ke hatimu nih" lagi-lagi Rafael membuat Rain kesal dan harus bersabar.


"Udah cukup. Aku nggak mau kamu ngegombal lagi ya. Aku nggak punya banyak waktu. Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu bawa sepedaku ke bengkel dan aku nunggu kamu balik bawa sepedaku yang udah nggak bocor lagi. Paham?" Rain menjelaskan dengan pelan dan menahan emosinya yang hampir meledak.


"Aku yang ke bengkel? sendirian? kamu nggak takut kalau sepedamu kubawa pulang dan aku nggak balik lagi kesini?" ancam Rafael.


"Sumpahh yaa, mau kamu apa sih? Kamu nggak ada tanggung jawabnya sama sekali sebagai cowok !"


"Aku mau kamu naik sepeda kemudian aku dorong sepedamu. Atau kamu mau jalan kaki aja? nggak papa sih kalau kaki kamu kuat jalan jauh." Jelas Rafael sembari memegang sepeda Rain dan menepuk-nepuk tempat duduk sepeda.


Rain tidak habis pikir kenapa Rafael memiliki berbagai cara agar dia bisa mendekatinya dan membuat mereka bertemu berdua. Dengan terpaksa Rain tidak bisa menolak permintaan Rafael. Ini demi sepedanya, karena hanya kendaraan itu Rain bisa pergi kuliah dan membantu ibunya berjualan. Rain menaiki sepedanya di tempat duduk bagian belakang walaupun dalam kondisi ban sepedanya bocor. Rain tahu maksud dari lelaki itu tidak ingin dirinya kelelahaan jalan kaki untuk itu Rafael rela mendorongnya. Tas merahnya ditaruh didepan sebagai penghalang dirinya dengan Rafael.


Rafael ada didepannya mendorong sepeda Rain dengan pelan-pelan.


"Awas kamu jangan macem-macem. Jangan modus. Kalau macem-macem aku turun nih" ancam Rain.


"Senakal-nakalku sebagai cowok, pikiranku nggak sekotor yang kamu pikirkan Rain"


Mereka sudah berjalan sampai di jalan raya yang jaraknya agak jauh dari lingkungan kampus. Mereka menelusuri jalan sudah 1 km dari titik awal.


" Masih jauh yaa bengkelnya? Jangan-jangan kamu mau nyulik aku" tanya Rain penuh curiga.


" Hey broo!" sapa seorang lelaki muda yang usianya mungkin sama dengan usia mereka.


Rain langsung turun dari sepeda dan membiarkan sepedanya dibawa masuk oleh Rafael.


" Kenapa nih?" tanya pemuda itu lagi sambil melihat sepeda rain yang bocor.


" Bocor Man"


"Oh kena paku nih, tapi pakunya mana ya?" tanya tukang bengkel itu penasaran sambil melihat ban sepeda yang bocor.


" Ini gue bawa hehehe" jawab Rafael nyengir memperlihatkan paku yang ia gunakan tadi untuk membocorkan ban sepeda milik Rain.


Rain yang melihat Rafael mengobrol dengan tukang bengkel itu mendadak kesal karena memang benar Rafael pelaku yang membocorkan sepeda miliknya menggunakan paku, dan pakunya dia bawa. Memang sudah terbukti dia pelakunya. Rain geram dan hanya bisa menegepalkan kedua tangannya untuk menahan emosinya yang hampir meledak.


" Ehh, siapa tuh Raf ? cewek lu ?" tanya tukang bengkel itu sambil melirik Rain yang sedang duduk disamping oli motor.


"Otw broo" jawab Rafael dengan santai dan penuh harap.


" Cantik juga, tumben selera lu bener. Biasanya cewek lu nggak ada yang modelnya kayak gini " puji tukang bengkel itu sambil melihat Rain.


" Iyalah, udah cantik solehah lagi". Rafael tak segan-segan memuji Rain didepan tukang bengkel yang ternyata adalah teman semasa SMAnya.


" Mbak, kok mau sama si plaboy cap kadal ini?" tanya tukang bengkel itu kepada Rain sembari mengganti ban dalam sepeda.


" Dianya aja mas yang ngejar-ngejar saya. Saya mah dari kemarin ogah sama dia. Dia bikin ulah terus sama saya" jawab Rain ketus sambil melirik Rafael. Tetapi Rafael hanya senyum mendengar perkataan Rain seperti itu.


" Hati-hati mbak, jangan ngomong kayak gitu. Ntar Mbaknya suka beneran loh!" Kata tukang bengkel mendoakan.


" Aamiin Ya Allah Aaminn, Man!" Teriak Rafael loncat-loncat kegirangan.


" Pokoknya ya Man, kalau gue bisa jadian sama cewek yang duduk itu. Bengkel lu bakal gue sulap jadi Toko motor dahh" kata Rafael sambil melirik Rain.


"Ngarep" desus Rain dengan pelan. Entahlah Rafael mendengarkan perkataanya atau tidak.


" Asyiaap, bosquee. Anak konglomerat ya gini nih. Nggak pelit sama temen" puji Eman.


" Mbak, Rafael itu ya walaupun orangnya ugal-ugalan kayak gini tuh sebenarnya didalam hatinya beh baik banget loh sama orang." kata Eman kepada Rain agar Rain bisa membuka hatinya.


"Hmm" jawab Rain singkat.


Beberap menit kemudian ban sepeda yang diperbaiki oleh Eman sudah selesai dan bisa dinaiki kembali dengan aman.


" Udah kelar nihh" kata Eman sambil menempuk-nepuk tangannya yang kotor.


" Wah cepat amat Man, nggak rugi ya lu kuliah di teknik otomotif bisa mbantuin bengkel bokap lu juga."


" Sa ae lu, Raff" kata Eman tertawa.


" Nih.." Rafael langsung mengeluarkan dompetnya dan menyodorkan uang sebesar seratus ribu kepada Eman.


"Lahh, yang kecil aja lah. Gue nggak ada kembalian nih"


" Udahh, kembaliannya buat lu beli rokok aja sana" gerutu Rafael kepada temannya.


" Thankyou bos Rafael. Semoga apa yang lu harapin bisa terwujud ya broo" kata Eman senang.


Melihat Rafael memberikan uang lebih kepada temannya, Rain menjadi kagum. Tapi didalam pikirannya dia sedang perang batin. Tidak. Dia tidak boleh kagum dengan laki-laki yang menganggunya terus menerus seperti ini. Wajar saja kan dia berlaku baik kepada temannya. Apalagi mereka sudah terlihat sangat dekat satu sama lain, jadi ya wajar saja lah. Tidak perlu kagum.


" Udah selesai kan, aku mau pulang" kata Rain singkat.


"Nggak ada yang lupa?" tanya Rafael sembari menggaruk nggaruk lehernya entah karena gatal atau salah tingkah.


" Apa?" tanya Rain sambil menaiki sepedanya.


" Bilang makasih kek, atau apa gitu." jawab Rafel sambil senyum malu-malu.


" Oh, ya makasih!" jawab Rain ketus.


" Makasih udah mbocorin sepeda aku!" tambah Rain sambil mengayuh sepedanya kemudian pergi meninggalkan Rafael.


" Rainnn..." teriak Rafael memanggil


" Apalagi si?" Rain memberhentikan kayuhannya dan menoleh tepat di arah Rafael memanggilnya.


" Hati-hati ya, Sayang!"


Deg. Entah mengapa saat mendengar kata terakhir dari mulut lelaki itu hatinya berbunga-bunga, tetapi disisi lain Rain juga kesal kenapa lelaki itu berani memanggilnya dengan sebutan "Sayang". Rain tidak menanggapi perkataan Rafael. Dia menghela nafas kemudian melanjutkan kayuhannya yang akan membawanya pulang ke rumah. Apakah Rain sudah mulai luluh dengan lelaki playboy itu? Hanya Tuhan dan Rain yang tahu isi hati Rain sebenarnya.