
Akhirnya gugatan cerai Andini dikabulkan pengadilan. Hak asuh Diva pun jatuh kepadanya. Hari ini, dia resmi menyandang status janda (mungkin diperhalus lagi sebagai ibu tunggal). Tidak ada lagi ikatan dirinya dengan Randy setelah hakim ketok palu tadi.
"Ndin! Tolonglah, jangan seperti ini!" rengek Randy.
Namun, wanita ini telah sangat terluka. Bukan hanya karena diselingkuhi, tapi juga karena dibohongi oleh sikap acuh tak acuh Randy padanya.
"Andin! Andini!"
Ia terus berjalan meninggalkan Randy yang berteriak memanggil namanya. Pria itu tidak bisa mengejar Andini karena lengannya ditahan oleh Wiwit.
Andini masuk ke dalam taksi online yang ia pesan. Di matanya tidak ada lagi luka. Setelah penantian panjang akhirnya ia terbebas juga dari dua orang yang menjijikkan itu. Ia tak ingin hanya menyalahkan Wiwit sebagai pelakor, akan tetapi Randy juga memiliki andil dalam kesalahan itu.
Sebuah hubungan tidak akan terjadi, jika hanya sebelah pihak yang menginginkan.
Taksi online itu meluncur menuju kediaman ibunya. Diva sengaja ia tinggalkan di rumah untuk berlatih agar tidak merindukan ayahnya nanti.
"Yey, Bunda cudah pulang!" seru Diva kegirangan begitu melihat Andini masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana hasilnya, Nak?"
Di hadapan sang ibu, Andini seolah menjadi anak kecil yang manja. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya.
...----------------...
"Fad, butuh ka kerjaan," ujar Andini ketika bertemu dengan Fadia di sebuah cafe.
Fadia teman SMU-nya itu sudah sangat berubah. Dia tidak lagi gempal. Tubuhnya sekarang langsing dan cantik. Dia bekerja sebagai kepala marketing di sebuah perusahaan telepon seluler. Mata Fadia memandang iba pada sahabatnya itu.
"Nanti kucarikan ko kerja. Tapi nda janji ka," sahutnya.
Ia tidak habis pikir, kalau Andini yang secantik itu saja bisa diselingkuhi, apalagi dirinya ini. Mata Fadia terus menatap wanita yang mengenakan blouse putih dan celana kulot krem. Sederhana. Tapi penampilan Andini sangat cantik.
"Ndin, serius ko cerai sama Bang Randy?" tanya Fadia hati-hati.
Andini mengangguk ringan sembari menyesap kopi pahitnya. Entah kenapa sejak bercerai, ia lebih menyukai kopi hitam tanpa gula, dibandingkan vanilla latte atau sejenis latte lainnya.
"Tapi ko kayak nda sedih ji," seloroh Fadia lagi.
"Biasa saja. Lagipula selama pernikahan terbiasa ka mandiri. Apa-apa sendiri. Kecuali cari uang," tukas Andini santai.
Mendengar itu Fadia tiba-tiba paranoid untuk menikah. Padahal, Bagus pacarnya sudah melamar dia secara langsung beberapa hari lalu.
"Jadi takut ka nikah, astaga!" gerutunya. Andini hanya terkekeh geli.
Mereka kembali sibuk dengan minuman di gelas masing-masing yang hanya tinggal setengah itu. Wajah Andini selalu menyunggingkan senyum. Tapi Fadia tahu, sahabatnya itu sedang berusaha menyembunyikan luka yang sangat parah. Dia mengenal Andini sejak SMP. Hanya saja Fadia tidak ingin memasuki ruang pribadi Andini tanpa ia minta.
"Sudah sore, Fad, aku pulang dulu-lah," pamit Andini. "Jangan lupa lowongan kerja, nah!" ingatnya.
Fadia mengacungkan ibu jarinya.
Taksi online yang membawanya berhenti di depan rumah. Di dalam halaman rumah sang ibu ada sebuah sedan yang sangat ia kenal.
Bang Randy. Gumam Andini dalam hati.
Ia turun dan masuk ke halaman rumahnya. Tiap langkah terasa sangat berat mengingat siapa yang akan ia jumpai di dalam sana.
"Andini..." sapa Randy.
Pria ini takjub melihat penampilan mantan istrinya yang sangat berubah. Dia tidak pernah melihat Andini secantik ini. Setelan blouse dan kulot itu sangat menyatu dengan tubuhnya yang tinggi dan langsing itu. Wajahnya dipoles dengan riasan tipis. Rambut panjangnya ia gelung naik seperti gadis-gadis di drama Korea.
"Diva mana, Bu?" Ia tidak mengacuhkan Randy.
Widya merasa tidak enak dengan mantan menantunya karena sikap Andini. Meskipun rasa marah masih ada dalam hati untuk Randy karena sudah mengkhianati putri satu-satunya itu.
"Nda kita sapa dulu Randy, Nak?" tegur Widya.
Putrinya itu hanya melirik sekilas. "Halo, Bang!" sapa Andini sinis dan berlalu masuk ke dalam.
Di dalam Diva tampak bermain dengan boneka Barbie yang sepertinya baru dibawa oleh Randy. Andini mendekati Diva.
Senyum lebar merekah di bibir mungil gadis kecilnya. "Ayah bawain ini untuk Diva, cantik, ya, Bun!" seru Diva.
Andini hanya mengangguk. Ia masuk ke kamar dan mengganti bajunya dengan kaos oblong dan celana training.
"Diva main di sini dulu, ya, Bunda mau temui ayah dulu,"
Jari mungil Diva menarik ujung kaos Andini. Matanya menatap dengan tatapan memelas.
"Ayah boleh tinggal di sini?" Pertanyaan lugu itu sangat menyayat hati Andini.
Ia berlutut di hadapan Diva dan membelai lembut rambutnya. "Ayah sudah punya tante Wiwit dan sebentar lagi tante Wiwit punya adik bayi," jelas Andini getir.
"Tapi—ayah itu kan ayah Diva, kok gak boleh tinggal cama kita, Bun?"
Andini tidak menjawab. Ia tahu tidak akan mungkin Diva mengerti masalah orang dewasa.
"Diva main dulu, ya, Nak!"
Tanpa menunggu jawaban Diva, Andini keluar menuju ruang tamu. Ia duduk di samping ibunya dan memasang wajah ketus.
"Ada keperluan apa Abang ke sini?" tanya Andini kasar.
Mendengar putrinya memulai percakapan, Widya pun beringsut pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
Randy menunduk. Ia tidak tahu apakah jika ia menjawab pertanyaan Andini dengan sejujurnya, mantan istrinya itu akan luluh. Aku rindu. Batin Randy menjawab pertanyaan Andini.
"Tolong, jangan terlalu sering menjenguk Diva. Anak itu masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan kita. Jadi...sekali lagi aku minta tolong sama Abang, jangan terlalu sering datang!" tegas Andini.
"Ta—tapi, Ndin—"
"Ini untuk kebaikan kita. Kebaikanku, Diva, Abang dan juga calon bayi yang dikandung Wiwit!" Ada nada menekan ketika ia menyebut soal kehamilan istri muda Randy.
Sikap Andini sudah cukup membuat Randy tersadar bahwa pintu hati wanita itu sudah tertutup rapat untuknya.
Randy tidak ingin berlama-lama lagi dalam situasi canggung ini. Ia pun pamit. Sepeninggal mantan suaminya, Andini duduk mematung sendiri di ruang tamu. Hatinya sangat hancur.
Kenapa Bang Randy harus muncul kembali? Ratapnya dalam hati.
Ia membereskan cangkir bekas minum Randy. Andini tidak bisa lagi menangis. Luka yang mantan suaminya toreh itu sudah terlalu dalam. Hingga ia tidak tahu lagi bagaimana rasa sakitnya.
"Ayah cudah pulang, Bun?" tanya Diva.
Andini mengangguk lemah.
"Yaa...padahal Diva ingin main cama ayah," ujarnya sedih.
Ia pura-pura tidak mendengar ucapan Diva dan terus membawa cangkir kotor itu ke dapur. Setelah mencuci semua piring dan gelas kotor di dapur, Andini masuk ke kamar.
Aku terlena dan mengira benang merah kita abadi,
Tetapi aku lupa, kita hanya manusia yang mengikuti skenario Sang Pencipta,
Tentangmu aku ikhlaskan, tentang dia aku maafkan.
Mencoba berdamai dengan luka ini.
Sulit, sangat sulit.
Namun aku ingin istirahat sejenak dari mengenang masa lalu.
Aku lelah...
-Andini Ahmad Abizar-
...****************...