Promises

Promises
Episode 1



Zulfan duduk tegak dengan kepala menunduk. Didengarkannya semua penjelasan


ibu bapak juga, kedua adik perempuannya. Udara dingin desa Wonosari, kecamatan


Tutur Kabupaten Malang ,yang terletak didataran tinggi yang dihiasi pohon pinus


yang berjajar indah, tidak mampu menenangkan kegalauan Zulfan mendengarkan


semua penjelasan yang ditangkap


inderanya. Zulfan hanya


menghela nafas berkali-kali.


            “ Sudah 30. Wes seharusnya


kawin. Sampeyan opo yo, ndak kepingin? Masi ndak kepingin tetep kudu kawin.


Kawin iku apik. Lek ndak apik, menungso ndak iro disuruh kawin.” Ibu menatap


dalam-dalam anak laki-laki tertua dan satu-satunya.” Sampeyan yo ora nduwe


calon. Sembarange wes onok. Kurang opo?”


            “ Iyo, Mas. Kan aku wes


dibuatkan tabungan persiapan kuliah. Isine wes akeh. Dadi ndak usah khawatir.


Mbak Etik juga wes lulus.” Zulfan tidak habis pikir, bahkan Titin – baru kelas


1 SMU -, adik yang paling kecil ternyata mengetahui proses perjodohannya dari


awal.


            “ Akukan wes lulus. Aku bisa


mbantu.” Sekarang Etik, adik keduanya angkat bicara.


            Pohon-pohon pinus


menjulang tinggi di depan rumah mereka terlihat indah dan membawa kedamaian. Mata


Zulfan tidak sedang memandang pinus-pinus itu, kepalanya yang agak tertunduk


sedang memandang bunga-bunga mawar mekar aneka warna yang ditanam dandirawat Titin dengan pandangan kosong. Zulfan tidak pernah menyangka akan


mengalami hal seperti ini. Didudukkan. Dijodohkan. Zulfan memandang ke kebun


apel di sebelah kiri rumah mereka yang baru saja dipanen. Kosong. Tidak ada


apa-apa disana. Hanya batang dan daun. Seperti itu juga yang dialami Zulfan.


Hanya mendengarkan, tanpa mampu mencerna.


            “ Sampeyan wes dadi wong


lanang seng apik. Sampeyan ngrungokno omongane Bapak.” Bapak duduk di tembok


teras rumah yang persis menghadap Zulfan. Mau tidak mau, Zulfan memandang Bapak dan berusaha tetap memberikan tatapan yang


sopan.” Kumpulno duwek seng akeh. Sampeyan wes mulai pas mulai kuliah iko, wes


kerjo. Durung lulus, wes punya anak buah. Wes punya bengkel dewe. Wes punya


sapi sepuloh. Kurang opo? Seng nguliakno Etik, yo, rekene sampeyan. Duduk bapak. Banyakkan uangnya sampeyan. Sampek nukokno motor karo laptop gawe


adik-adike sampeyan, yo sopo? Yo sampeyan. Seng nambahi duwek munggah kajine bapak karo ibuk, yo, sampeyan. Wes ndak kurang-kurang


sampeyan iki, nulungi ibu bapak, adik-adike


sampeyan pisan.”


            “ Lek sampeyan ndak siap. Mosok se ibuk


kate ngongkon kawin. Lek ibuk ndak pingin seng baik gawe sampeyan, mosok se, ibu ndak kate milih-milih. Nggolekno wong wedok seng apik?” Zulfan masih


belum menemukan kata untuk memulai. Pikirannya masih kosong melompong.” Ibu karo bapak wes kenal suwe karo keluargane Pak Zen.


Bapake ibuk karo bapakke pak Zen mbiyen podo-podo wong Masyumi. Sak organisasi.


Bapakke sampeyan iki, yo sek ponakane pak Zen.”


            “ Iyo, mas. Kita kan tau nyang omahe mbah Zen. Lek riyoyo mesti mrono.” Titin


mengingatkan.


            “ Bapak karo ibuk ancene


ndak pernah tau karo anake pak Zen seng wedok iku. Mulai SMA wes


sekolah nang Jogya. Embahe, bapake, ibuke turunan wong baik-baik. Lurus baik


agamane. Apik atine. Mas-mase kabeh tukang ngafalno Qur’an. Yang baik. Seng


apik. Seng nglakoni opo seng onok nang Qur’an. Pesantrene ndak gede tapi


murid-murite dadi kabeh. Dadi wong baik.”


            “ Ibuk bapak sampeyan, yo wes mari


nyembayangi....”


            “ Aku karo mbak Etik juga nyolati,


lho, Mas.” Titin tertawa memperlihatkan lesung pipit di pipinya yang chubby.” Biar mantep.” Semuanya tersenyum, kecuali Zulfan.


Zulfan menggaruk tepi matanya yang tiba-tiba


terasa gatal. Yang sebenarnya, rasa gatal itu untuk menutupi rasa bersalahnya


karena tidak ikut tersenyum mendengar lelucon Titin. Sesuatu yang jarang


dilakukan Zulfan. Lucu tidak lucu, Zulfan selalu tersenyum untuk keluarganya.


“ Kita wes mantep.” Etik, adik perempuannya yang


kurus dan tinggi itu mencoba meyakinkankan mas Zulfannya yang sangat mereka kasihi.”


Sampeyan yo koyok wong ndak duwe minat nikah. Ndak ada salahe kalok ibuk bapak


nggolekno. Lagiankan, nyariknone ndak sembarangan. Digolekno dari keluarga yang


baik. Ndak sembarangan langsung diterima, langsung diputusno. Disholati. Memang


kita belum tau orangnya. Tapi kan justru karna itu


hati kita lebih terjaga. Ndak nafsu karna ayune. Tapi opo ini memang apik


temenan gawe sampeyan opo ndak.”


“ Kabeh iki wes takdir. Ndak disengojo. Ibuk karo bapakke


arek wedok iki, yo pas nyarikan jodoh gawe anakke. Mas-mase pisan. Bapak mrono


yo, ndak sengojo. Mampir. Ndak onok niat kate nakokno. Lha, kok moro-moro podo


ngomong seng podo. Iki lak pertanda. Keluargane yo jujur. Ngomong yok opo onoke


anak wedoke.”


“ Lagiankan, mas Zulfan gak anti perjodohan kan?”


Titin memandang Zulfan dengan bibir cemberut.” Kalok njodohkannya ndak apik,


ndak kasih kesempatan mikir, langsung kudu ditrimo. Iku seng ndak bener. Ibu bapakkan


ndak jahat kayak gitu! Dosa.......”


“ Iya... Mas tahu.” Zulfan akhirnya menemukan


kalimat pertamanya dipicu gemas mendengar Titin bicara. Masalahnya Zulfan tidak


tahu, apakah sebaiknya dirinya minta waktu untuk memikirkan atau langsung


mengiyakan. Zulfan sangat tahu dirinya sendiri dalam hal ini. Dia tahu dirinya


tidak pernah akan memikirkan masalah perjodohan ini. Zulfan memang tidak pernah


memikirkan untuk menikah. Itulah alasan kenapa Zulfan belum menikah di usianya


yang sudah menginjak angka 30.


“ Apa mas Zulfan mau ketemu dulu sama anaknya?” Etik memandang menyelidik.


“ Ndak usah wes, Mas!. Langsung disholati saja!” Titin benar-benar sudah tidak sabar melihat


Zulfan menikah.” Seng pentingkan sholate. Masih ndak usah sholat yo ndak po-po.


Ibuk karo bapakkan wes mari nyolati. Mosok ndak percoyo karo ibuk bapak. Ndak


iro kate nafsu!” Zulfan tidak tahan tidak tertawa.” Yok opo se! Wong ngomong


serius malah diguyu!”


“ Yo, yo, yo. Yo, wes. Mas setuju ae.” Zulfan


tidak tahu apa itu jawaban yang tepat atau bukan. Titin benar. Ibuk bapak orang


baik. Mendidik anak dengan baik. Hidup sederhana. Taat beribadah. Sering


kepikiran aku belum nikah. Ndak ada alasan untuk nolak. Membahagiakan orang


tua, pasti dapat pahala, pasti tidak rugi. Pasti jadi baik.


“ Ndak sampeyan pikir dulu, Mas?” Ibu dan bapak juga mengajukan usul yang


sama seperti Etik.


“ Dipikir yok opo maneng?  Sampek 30 ndak mikir. “ Zulfan memberikan


pandangan menggoda ke Titin.” Koyok, jare Titin mau. Ndak usah disholati yo,


ndak po-po. Bapak ibukan sudah.”


Zulfan tidak salah menilai orang tuanya sebagai


orang tua yang baik. Meskipun obrolan sore di teras hari itu menghasilkan persetujuan Zulfan atas perjodohannya, tidak


serta merta bapak ibu mememberitahu pihak wanita tentang keputusannya. Bapak ibu


masih memberi Zulfan kesempatan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Memberi waktu


untuk Zulfan agar lebih menganggap serius tentang perjodohan ini.


Selang sebulan, Zulfan tetap dengan jawabannya.


Siap untuk dinikahkan. Kapan saja. Dengan siapa saja. Asal pilihan bapak ibu dan kedua adik perempuannya. Bukan satu hal


mudah menemukan seorang istri yang disetujui oleh seluruh anggota keluarga.


Jika keluarganya sudah condong dan bukan karena nafsu pada seseorang, Zulfan


menganggap hal tersebut sebagai hal baik. Tidak sepantasnya ditolak. Bagaimana


nanti, Zulfan sama sekali tidak tahu. Zulfan tidak tahu apa pernikahan itu akan


benar-benar terjadi atau tidak. Zulfan tidak tahu apakah kelak pernikahannya


akan baik-baik saja atau tidak. Zulfan benar-benar tidak tahu. Bahkan Zulfan


tidak percaya bahwa dirinya telah sampai pada jenjang menikah. Membicarakan


pernikahan. Setidaknya sampai situ. Belum tentu jadi. Zulfan serba tidak yakin.


Zulfan hanya meyakini membahagiakan orang tua sangat disukai Tuhan. Pahala


hanya akan mendatangkan kebaikan.


Mereka menganggap ini baik,dengan cara yang baik. Pasti baik. Hanya itu yang dipelihara Zulfan dalam


pikirannya.


***


Berkilo-kilo mil jauhnya di sebuah restauran yang memiliki halaman parkir luas dan


rindang yang tengah dipadati pengunjung yang sedang asyik menikmati dinner,


sebuah hp yang tergeletak diatas meja disebuah ruangan yang berlabel Manager


bergerak tanpa bunyi tiada henti. Beberapa saat kemudian, telfon restauran


mendapat giliran memperdengarkan suaranya tanpa gerakan.


Seseorang gadis berbalut blus putih selengan dan


berkerah di meja kasir tidak membiarkan telfon itu


bersuara terlalu lama..” ................... Ada yang bisa saya bantu?” Dengan


suara sopan yang luar biasa lembut, gadis kasir meminta seseorang di seberang sana menunggu sebentar. Gadis itu berjalan dengan tenang di atas sepatu hak tinggi coklatnya yang


terawat meninggalkan front desk tempatnya bertugas dan menghampiri sebuah meja


yang dipenuhi dengan tawa.


“ Maaf, mbak Rika. Ada


telfon.” Perempuan yang mengenakan rok span pensil berbahan katun mutu tinggi


berwarna coklat dengan atasan blus sutra bermotif stripes itu terlihat


keheranan.” Dari mas Setyo.” Sepatu semi formal dengan hak


tinggi yang dipakai perempuan itu menjejak tanah dengan segera.


“ Sapa tuh?”


“ Wah, ternyata ada gebetan lain nih.”


“ Masku!.” Rika melebarkan bibirnya sambil mengangkat alis.” Ok. “ Rika


bergegas menuju ruangannya yang berlabel manager.” Halo. Waalaikum salam. Apa.


Ya. Aku pulang.”


memasukkan hpnya ke dalam tas mungil bertali panjang sebelum


akhirnya Rika meninggalkan ruangannya. Rika berusaha menyembunyikan wajah


jengkelnya, ketika hendak menuju hamparan sofa tempatnya tadi duduk bersama


teman-temannya.


“ I got to go.” Rika mengangkat alisnya.” Family.”


“ Uuuuh..... Ada apa nih?”


“ Wow, family?”


“ Something going on....” Teman-temannya tidak berhenti menggoda.


“ Mau aku temani?”


“ Nggak usah, deh, Wik. Makasih. Aku naik taksi aja. Aku pulang dulu, ya.”


“ Ok. Bye. Take care.”


Rika benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin tiba-tiba mas Setyo


dan ibu sudah ada di depan rumah. Sebuah kunjungan yang sangat tidak biasa.


Mendadak. Tanpa pemberitahuan. Dan setelah sekian lama. Tiba-tiba mereka ada


disana. Benar-benar menjengkelkan.


Rika membuka pintu taksinya dengan tidak sabar.” Maaf, pak!” Rika menutup


pintu taksi terlalu keras.


“ Assalamualaikum.” Ibu segera berdiri dibantu Mas


Setyo dari duduknya yang beralaskan tas hitam milik mas Setyo.” Sepurane, yo


nduk. Ibuk moro-moro mrene.” Rika mencium tangan ibunya. Alangkah terkejutnya


Rika ketika melihat tangan itu terlihat asing. Tangan itu semakin keriput dari


terakhir dilihatnya.” Ibu sebentar.”


“ Mas.” Rika mencium tangan mas Setyo, kakak


laki-laki persis diatasnya Rika. Rika membuka pintu tanpa banyak bertanya.


Setelah membuka pintu, Rika masuk tanpa berkata apa-apa.


Terdengar pintu pagar digembok Setyo. Begitu juga pintu depan. Dikunci kembali


oleh Setyo. Sementara, Rika dan ibu telah sampai di kamar.” Ibu sama mas Setyo tidur disini saja.” Biasanya juga


gitu.” Aku masih mau kembali ke restauran.” Rika menegakkan tubuhnya sambil


menghela nafas dalam-dalam ketika dilihatnya wanita tua dihadapannya itu


berusaha tersenyum dengan mata nanar.Ahhh... knapa sih! Knapa harus sekarang.


Knapa kesini. Seharusnya kan sudah tau bakal begini. Jadi nggak


perlu kesini kan.” Aku pergi dulu, ya.” Rika tidak berniat mencium tangan ibunya


sebagai tanda berpamitan.


“ Besok ibuk sudah pulang. Duduk dulu.” Rika paling benci nada memerintah


dari Setyo. Seenaknya saja, batin Rika.” Ibu ndak kurang-kurang nuruti kemauan


sampeyan. Duduk. Dengarkan omongan ibuk!”


Hak apa yang bisa membuat mas Setyo seenaknya


memerintah aku! Tak urung Rika memilih duduk di tepi tempat tidur. Kamar berukuran 7 x 6 itu terasa


sesak. Semakin sesak dirasa Rika, ketika Setyo menuntun ibunya duduk di sebelah Rika. Knapa nggak duduk sebelah sana aja, sih! Kayak ndak ada


tempat lain aja.


“ Sudah, wes, Yo. Ndak usah. Pulang aja.” Kali ini


Ibu sudah tidak kuasa menahan air matanya. Rika heran kenapa mas Setyo bisa


ikut menangis.


“ Sabar, nggeh, buk.” Setyo memandang lembut ibunya sambil berdoa semoga Allah memberi ibunya kekuatan. Ibu


hanya menunduk sambil menahan air matanya agar tidak berjatuhan lebih banyak


lagi. Rika hanya menghela nafas. Mengusir jauh-jauh gelisah yang semakin


menghisap jiwanya. Setyo berdiri.” Ibuk ke sini mau nawari sampeyan nikah.”


Rika tidak tahu mana yang membuatnya lebih sedih:


perkataan Setyo atau rasa bersalah yang diusirnya jauh-jauh. Rika mensedekapkan


tangannya. Ingin rasanya mengangkat kaki kanannya , kemudian menumpahkannya ke kaki kirinya. Tapi diurungkannya niat itu. Rika tidak ingin


membuat gelisah semakin menghisap jiwanya. Rika juga tidak ingin memberi alasan


lebih banyak pada Setyo untuk menunjukkan kekuasaannya. Sesuatau yang


dibencinya. Mentang-mentang laki-laki!


“ Apa mas tau nyeneni sampeyan sampek seperti


ini?” Suara Setyo terdengar dalam dan ditahan.” Baru datang! Sampeyan wes


nangisno ibuk!” Siapa yang nyuruh. Rika memilih tidak menatap mata Setyo.” Ndak


kurang-kurang Ibu karo Bapak nyang sampeyan. Opo seng ndak dituruti?” Banyak.


Rika mendengus. Kalian juga minta banyak ke akukan. Just like now.” Sak elek-eleke ibu bapak, masih lebih banyak seng ibuk bapak kekno


nyang sampeyan! Sak benci-bencine sampeyan nyang ibuk bapak, sek banyakan apike


ibuk bapak nyang sampeyan!”


“ Wes, yo!. Wes!.” Telinga Rika semakin gatal mendengar suara serak nan pilu ibunya.”


Sudah, Yo. Sudah. Adike sampeyan masih onok acara. Biarkan, wes. Wes budalo, Nduk. Budalo. Metuo, wes. Metuo.”


Ahhh.... knapa sih! Malam-malam! Ndak ngomong gitu


knapa! Kayak aku yang salah saja. Suara lembut penuh pengertian ibu semakin membakar jiwa Rika. Rika berdiri. Setyo terkejut melihatnya.


Setyo mengucapkan istighfar berkali-kali.


“ Ayo, buk. Sampun, buk. Cukup.” Setyo membimbing ibunya untuk berdiri.


“ Sepurane, yo, nduk. Sepurane.” Ibu tersenyum lembut.


Kan tadi disuruh pergi. Ahh. Knapa sih! Pake


senyum segala. Rika berdiri dipenuhi kejengkelan, membiarkan ibu dan mas Setyonya berjalan


keluar. Rika menghentakkan pantatnya ke kasur dengan keras. Wajahnya dipenuhi


otot-otot tegang. Matanya mengeluarkan semua amarah. Terdengar suara pintu pagar


dibuka. Rika mendesah.


Dewi, Risma dan Naning sudah pulang rupanya. Baru


jam setengah sebelas. Seharusnya mereka baru pulang jam dua belas lebih seperti


biasanya. Apa karna khawatir sama aku? Dewi sudah berdiri di depannya. Dewi tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya berdiri


memandang Rika. Rika menatapnya penuh amarah yang tidak disembunyikan. Dewi


tetap menatapnya tajam. Semakin tajam. Dewi tidak bergerak sedikitpun. Rika


heran kenapa Dewi bisa sekuat itu. Ah, dasar pembela ibuk!


Rika melepas sepatu dengan teratur seperti


biasanya. Digantinya span dan blus dengan kaos tidur katun tebal bergambar rusa


yang menutupi lututnya. Rika melirik Dewi yang masih berdiri disana. Kuat


banget sih. Rika hanya melewati begitu saja Dewi yang masih mematung di tepi tempat tidur tempat Rika duduk tadi. Ketika Rika kembali ke kamar


setelah menggosok gigi, dia tidak melihat Dewi disana. Rika tersenyum menang.


Sapa juga yang betah!.


Rika baru saja membaringkan tubuhnya, ketika Risma


dan Naning berdiri diambang pintu. Mereka terlihat biasa saja. Seolah tidak


tahu apa yang terjadi.


“ Your mom di Borobudur.”


“ Mereka pulang pake kereta pagi at six.”


Rika tidak berkata apa-apa. Dia hanya melirik dan mengangguk sebentar. “


Ok. Have a nice sleep.”  Kedua sahabatnya berlalu tanpa berkata apa-apa.


Well, here she goes. Her preach SOON begins! Rika


melirik selintas sebelum memiringkan tubuhnya membelakangi Dewi yang baru saja


menutup pintu. Rika keliru. Dewi tidak berkata apa-apa. Dia diam. Tidak


bersuara. Bahkan untuk waktu yang lama sampai akhirnya Rika yakin Dewi telah


lelap.  Rika mendesah. Knapa anak itu


slalu salah? Knapa orang tua tidak pernah salah? Rika mendengus jengkel ketika


teringat perkataan Setyo. Kalok ibu pasti lebih banyak baiknya daripada anak.


Kalo anak! Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Seenaknyasaja! Ibuk juga bisa salah. Ya, tapikan ndak seharusnya tadi......... Sapa


suruh datang ke Jogya!


Keesokan paginya ketika selesai mandi pagi, Rika


menemukan tiket pesawat di atas tempat tidurnya. Sejak


bangun jam 6 tadi, Rika memang tidak menemukan Dewi di kamar. Rika yakin Dewi lah yang menyiapkan tiket


itu. Rika memilih meneruskan kegiatannya, mengambil sisir dan memilih teras


samping yang dihiasi kolam ikan koi sebagai tempat untuk menyisir rambutnya,


yang baru saja dikeringkannya dengan melilitkan handuk sambil menikmati sereal


instan.


Rika berusaha menikmati keindahan ikan koi yang


berenang tiada henti. Dikosongkannya pikiran dan hatinya. Seolah tak ada


kejadian apa-apa tadi malam. Seolah tidak melihat apa-apa tadi diatas tempat


tidur. Seolah tahu kalau Risma dan Naning sedang berada dikamar mereka


sekarang. Dewi? Entahlah. Rika mengingkari semua kebenaran yang diketahuinya.


Rika cukup yakin kalau Dewi dan kedua sahabatnya yang lain sedang mengantar Ibu


dan Setyo menjuju ke Lempuyangan, stasiun favorit ibu. Tidak rame, begitu


alasan ibu kenapa suka lempuyangan. Entah kapan Rika mendengar jawaban itu.


Lama. Terlalu lama.


Rika mematut dirinya dikaca, dalam kamar kecil


yang terletak disebelah kamar mandi yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan


baju dan berdandan. Pada sebuah kaca besar yang bisa melihat seluruh anggota tubuhnya. Dari atas


sampai bawah. Kamarnya dihiasi warna coklat muda nan lembut. Dilengkapi dengan


beberapa lampu pencipta siluet indah jika gelap telah datang, memiliki dua


pintu yang menghubungkan kamar yang ditempati Rika dan Dewi, satunya lagi


menghubungkan kamar yang ditempati Naning dan Risma.


Rika menatap mata coklat gelapnya yang memandang


tajam dirinya sendiri. Ditepisnya jauh-jauh semua rasa. Rika mencoba tersenyum.


Senyum yang dipaksakan. Kamu salah, nggak seharusnya kamu begitu tadi malam.


Ketika pikiran itu berkelebat, Rika justru berhasil membuat sebuah senyum manis


yang menghiasi kulitnya yang kecoklatan. Rika menyembunyikan keterkejutannya,


ketika tiba-tiba Rika menemukan sebuah bola mata lain dikaca.


“ Sudah bisa tersenyum,kan.” Dewi berdiri di belakangnya dengan rasa lelah yang sangat.


Dewi mendesah. Memeluk Rika dari belakang sebentar, kemudian sambil berlalu dia


berkata,” Aku mau tidur. Sudah kupesankan taksi.”


Rika menghela nafas. Dilihatnya Dewi merebahkan


dirinya dengan puas. Rika menatap tiket yang ada disebelah Dewi.” Hati-hati.”


Setelah itu, Dewi lelap dalam keyakinannya bahwa Rika pasti akan pulang. Dia


cuman butuh waktu aja, seperti manusia lainnya.