
Zulfan duduk tegak dengan kepala menunduk. Didengarkannya semua penjelasan
ibu bapak juga, kedua adik perempuannya. Udara dingin desa Wonosari, kecamatan
Tutur Kabupaten Malang ,yang terletak didataran tinggi yang dihiasi pohon pinus
yang berjajar indah, tidak mampu menenangkan kegalauan Zulfan mendengarkan
semua penjelasan yang ditangkap
inderanya. Zulfan hanya
menghela nafas berkali-kali.
“ Sudah 30. Wes seharusnya
kawin. Sampeyan opo yo, ndak kepingin? Masi ndak kepingin tetep kudu kawin.
Kawin iku apik. Lek ndak apik, menungso ndak iro disuruh kawin.” Ibu menatap
dalam-dalam anak laki-laki tertua dan satu-satunya.” Sampeyan yo ora nduwe
calon. Sembarange wes onok. Kurang opo?”
“ Iyo, Mas. Kan aku wes
dibuatkan tabungan persiapan kuliah. Isine wes akeh. Dadi ndak usah khawatir.
Mbak Etik juga wes lulus.” Zulfan tidak habis pikir, bahkan Titin – baru kelas
1 SMU -, adik yang paling kecil ternyata mengetahui proses perjodohannya dari
awal.
“ Akukan wes lulus. Aku bisa
mbantu.” Sekarang Etik, adik keduanya angkat bicara.
Pohon-pohon pinus
menjulang tinggi di depan rumah mereka terlihat indah dan membawa kedamaian. Mata
Zulfan tidak sedang memandang pinus-pinus itu, kepalanya yang agak tertunduk
sedang memandang bunga-bunga mawar mekar aneka warna yang ditanam dandirawat Titin dengan pandangan kosong. Zulfan tidak pernah menyangka akan
mengalami hal seperti ini. Didudukkan. Dijodohkan. Zulfan memandang ke kebun
apel di sebelah kiri rumah mereka yang baru saja dipanen. Kosong. Tidak ada
apa-apa disana. Hanya batang dan daun. Seperti itu juga yang dialami Zulfan.
Hanya mendengarkan, tanpa mampu mencerna.
“ Sampeyan wes dadi wong
lanang seng apik. Sampeyan ngrungokno omongane Bapak.” Bapak duduk di tembok
teras rumah yang persis menghadap Zulfan. Mau tidak mau, Zulfan memandang Bapak dan berusaha tetap memberikan tatapan yang
sopan.” Kumpulno duwek seng akeh. Sampeyan wes mulai pas mulai kuliah iko, wes
kerjo. Durung lulus, wes punya anak buah. Wes punya bengkel dewe. Wes punya
sapi sepuloh. Kurang opo? Seng nguliakno Etik, yo, rekene sampeyan. Duduk bapak. Banyakkan uangnya sampeyan. Sampek nukokno motor karo laptop gawe
adik-adike sampeyan, yo sopo? Yo sampeyan. Seng nambahi duwek munggah kajine bapak karo ibuk, yo, sampeyan. Wes ndak kurang-kurang
sampeyan iki, nulungi ibu bapak, adik-adike
sampeyan pisan.”
“ Lek sampeyan ndak siap. Mosok se ibuk
kate ngongkon kawin. Lek ibuk ndak pingin seng baik gawe sampeyan, mosok se, ibu ndak kate milih-milih. Nggolekno wong wedok seng apik?” Zulfan masih
belum menemukan kata untuk memulai. Pikirannya masih kosong melompong.” Ibu karo bapak wes kenal suwe karo keluargane Pak Zen.
Bapake ibuk karo bapakke pak Zen mbiyen podo-podo wong Masyumi. Sak organisasi.
Bapakke sampeyan iki, yo sek ponakane pak Zen.”
“ Iyo, mas. Kita kan tau nyang omahe mbah Zen. Lek riyoyo mesti mrono.” Titin
mengingatkan.
“ Bapak karo ibuk ancene
ndak pernah tau karo anake pak Zen seng wedok iku. Mulai SMA wes
sekolah nang Jogya. Embahe, bapake, ibuke turunan wong baik-baik. Lurus baik
agamane. Apik atine. Mas-mase kabeh tukang ngafalno Qur’an. Yang baik. Seng
apik. Seng nglakoni opo seng onok nang Qur’an. Pesantrene ndak gede tapi
murid-murite dadi kabeh. Dadi wong baik.”
“ Ibuk bapak sampeyan, yo wes mari
nyembayangi....”
“ Aku karo mbak Etik juga nyolati,
lho, Mas.” Titin tertawa memperlihatkan lesung pipit di pipinya yang chubby.” Biar mantep.” Semuanya tersenyum, kecuali Zulfan.
Zulfan menggaruk tepi matanya yang tiba-tiba
terasa gatal. Yang sebenarnya, rasa gatal itu untuk menutupi rasa bersalahnya
karena tidak ikut tersenyum mendengar lelucon Titin. Sesuatu yang jarang
dilakukan Zulfan. Lucu tidak lucu, Zulfan selalu tersenyum untuk keluarganya.
“ Kita wes mantep.” Etik, adik perempuannya yang
kurus dan tinggi itu mencoba meyakinkankan mas Zulfannya yang sangat mereka kasihi.”
Sampeyan yo koyok wong ndak duwe minat nikah. Ndak ada salahe kalok ibuk bapak
nggolekno. Lagiankan, nyariknone ndak sembarangan. Digolekno dari keluarga yang
baik. Ndak sembarangan langsung diterima, langsung diputusno. Disholati. Memang
kita belum tau orangnya. Tapi kan justru karna itu
hati kita lebih terjaga. Ndak nafsu karna ayune. Tapi opo ini memang apik
temenan gawe sampeyan opo ndak.”
“ Kabeh iki wes takdir. Ndak disengojo. Ibuk karo bapakke
arek wedok iki, yo pas nyarikan jodoh gawe anakke. Mas-mase pisan. Bapak mrono
yo, ndak sengojo. Mampir. Ndak onok niat kate nakokno. Lha, kok moro-moro podo
ngomong seng podo. Iki lak pertanda. Keluargane yo jujur. Ngomong yok opo onoke
anak wedoke.”
“ Lagiankan, mas Zulfan gak anti perjodohan kan?”
Titin memandang Zulfan dengan bibir cemberut.” Kalok njodohkannya ndak apik,
ndak kasih kesempatan mikir, langsung kudu ditrimo. Iku seng ndak bener. Ibu bapakkan
ndak jahat kayak gitu! Dosa.......”
“ Iya... Mas tahu.” Zulfan akhirnya menemukan
kalimat pertamanya dipicu gemas mendengar Titin bicara. Masalahnya Zulfan tidak
tahu, apakah sebaiknya dirinya minta waktu untuk memikirkan atau langsung
mengiyakan. Zulfan sangat tahu dirinya sendiri dalam hal ini. Dia tahu dirinya
tidak pernah akan memikirkan masalah perjodohan ini. Zulfan memang tidak pernah
memikirkan untuk menikah. Itulah alasan kenapa Zulfan belum menikah di usianya
yang sudah menginjak angka 30.
“ Apa mas Zulfan mau ketemu dulu sama anaknya?” Etik memandang menyelidik.
“ Ndak usah wes, Mas!. Langsung disholati saja!” Titin benar-benar sudah tidak sabar melihat
Zulfan menikah.” Seng pentingkan sholate. Masih ndak usah sholat yo ndak po-po.
Ibuk karo bapakkan wes mari nyolati. Mosok ndak percoyo karo ibuk bapak. Ndak
iro kate nafsu!” Zulfan tidak tahan tidak tertawa.” Yok opo se! Wong ngomong
serius malah diguyu!”
“ Yo, yo, yo. Yo, wes. Mas setuju ae.” Zulfan
tidak tahu apa itu jawaban yang tepat atau bukan. Titin benar. Ibuk bapak orang
baik. Mendidik anak dengan baik. Hidup sederhana. Taat beribadah. Sering
kepikiran aku belum nikah. Ndak ada alasan untuk nolak. Membahagiakan orang
tua, pasti dapat pahala, pasti tidak rugi. Pasti jadi baik.
“ Ndak sampeyan pikir dulu, Mas?” Ibu dan bapak juga mengajukan usul yang
sama seperti Etik.
“ Dipikir yok opo maneng? Sampek 30 ndak mikir. “ Zulfan memberikan
pandangan menggoda ke Titin.” Koyok, jare Titin mau. Ndak usah disholati yo,
ndak po-po. Bapak ibukan sudah.”
Zulfan tidak salah menilai orang tuanya sebagai
orang tua yang baik. Meskipun obrolan sore di teras hari itu menghasilkan persetujuan Zulfan atas perjodohannya, tidak
serta merta bapak ibu mememberitahu pihak wanita tentang keputusannya. Bapak ibu
masih memberi Zulfan kesempatan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Memberi waktu
untuk Zulfan agar lebih menganggap serius tentang perjodohan ini.
Selang sebulan, Zulfan tetap dengan jawabannya.
Siap untuk dinikahkan. Kapan saja. Dengan siapa saja. Asal pilihan bapak ibu dan kedua adik perempuannya. Bukan satu hal
mudah menemukan seorang istri yang disetujui oleh seluruh anggota keluarga.
Jika keluarganya sudah condong dan bukan karena nafsu pada seseorang, Zulfan
menganggap hal tersebut sebagai hal baik. Tidak sepantasnya ditolak. Bagaimana
nanti, Zulfan sama sekali tidak tahu. Zulfan tidak tahu apa pernikahan itu akan
benar-benar terjadi atau tidak. Zulfan tidak tahu apakah kelak pernikahannya
akan baik-baik saja atau tidak. Zulfan benar-benar tidak tahu. Bahkan Zulfan
tidak percaya bahwa dirinya telah sampai pada jenjang menikah. Membicarakan
pernikahan. Setidaknya sampai situ. Belum tentu jadi. Zulfan serba tidak yakin.
Zulfan hanya meyakini membahagiakan orang tua sangat disukai Tuhan. Pahala
hanya akan mendatangkan kebaikan.
Mereka menganggap ini baik,dengan cara yang baik. Pasti baik. Hanya itu yang dipelihara Zulfan dalam
pikirannya.
***
Berkilo-kilo mil jauhnya di sebuah restauran yang memiliki halaman parkir luas dan
rindang yang tengah dipadati pengunjung yang sedang asyik menikmati dinner,
sebuah hp yang tergeletak diatas meja disebuah ruangan yang berlabel Manager
bergerak tanpa bunyi tiada henti. Beberapa saat kemudian, telfon restauran
mendapat giliran memperdengarkan suaranya tanpa gerakan.
Seseorang gadis berbalut blus putih selengan dan
berkerah di meja kasir tidak membiarkan telfon itu
bersuara terlalu lama..” ................... Ada yang bisa saya bantu?” Dengan
suara sopan yang luar biasa lembut, gadis kasir meminta seseorang di seberang sana menunggu sebentar. Gadis itu berjalan dengan tenang di atas sepatu hak tinggi coklatnya yang
terawat meninggalkan front desk tempatnya bertugas dan menghampiri sebuah meja
yang dipenuhi dengan tawa.
“ Maaf, mbak Rika. Ada
telfon.” Perempuan yang mengenakan rok span pensil berbahan katun mutu tinggi
berwarna coklat dengan atasan blus sutra bermotif stripes itu terlihat
keheranan.” Dari mas Setyo.” Sepatu semi formal dengan hak
tinggi yang dipakai perempuan itu menjejak tanah dengan segera.
“ Sapa tuh?”
“ Wah, ternyata ada gebetan lain nih.”
“ Masku!.” Rika melebarkan bibirnya sambil mengangkat alis.” Ok. “ Rika
bergegas menuju ruangannya yang berlabel manager.” Halo. Waalaikum salam. Apa.
Ya. Aku pulang.”
memasukkan hpnya ke dalam tas mungil bertali panjang sebelum
akhirnya Rika meninggalkan ruangannya. Rika berusaha menyembunyikan wajah
jengkelnya, ketika hendak menuju hamparan sofa tempatnya tadi duduk bersama
teman-temannya.
“ I got to go.” Rika mengangkat alisnya.” Family.”
“ Uuuuh..... Ada apa nih?”
“ Wow, family?”
“ Something going on....” Teman-temannya tidak berhenti menggoda.
“ Mau aku temani?”
“ Nggak usah, deh, Wik. Makasih. Aku naik taksi aja. Aku pulang dulu, ya.”
“ Ok. Bye. Take care.”
Rika benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin tiba-tiba mas Setyo
dan ibu sudah ada di depan rumah. Sebuah kunjungan yang sangat tidak biasa.
Mendadak. Tanpa pemberitahuan. Dan setelah sekian lama. Tiba-tiba mereka ada
disana. Benar-benar menjengkelkan.
Rika membuka pintu taksinya dengan tidak sabar.” Maaf, pak!” Rika menutup
pintu taksi terlalu keras.
“ Assalamualaikum.” Ibu segera berdiri dibantu Mas
Setyo dari duduknya yang beralaskan tas hitam milik mas Setyo.” Sepurane, yo
nduk. Ibuk moro-moro mrene.” Rika mencium tangan ibunya. Alangkah terkejutnya
Rika ketika melihat tangan itu terlihat asing. Tangan itu semakin keriput dari
terakhir dilihatnya.” Ibu sebentar.”
“ Mas.” Rika mencium tangan mas Setyo, kakak
laki-laki persis diatasnya Rika. Rika membuka pintu tanpa banyak bertanya.
Setelah membuka pintu, Rika masuk tanpa berkata apa-apa.
Terdengar pintu pagar digembok Setyo. Begitu juga pintu depan. Dikunci kembali
oleh Setyo. Sementara, Rika dan ibu telah sampai di kamar.” Ibu sama mas Setyo tidur disini saja.” Biasanya juga
gitu.” Aku masih mau kembali ke restauran.” Rika menegakkan tubuhnya sambil
menghela nafas dalam-dalam ketika dilihatnya wanita tua dihadapannya itu
berusaha tersenyum dengan mata nanar.Ahhh... knapa sih! Knapa harus sekarang.
Knapa kesini. Seharusnya kan sudah tau bakal begini. Jadi nggak
perlu kesini kan.” Aku pergi dulu, ya.” Rika tidak berniat mencium tangan ibunya
sebagai tanda berpamitan.
“ Besok ibuk sudah pulang. Duduk dulu.” Rika paling benci nada memerintah
dari Setyo. Seenaknya saja, batin Rika.” Ibu ndak kurang-kurang nuruti kemauan
sampeyan. Duduk. Dengarkan omongan ibuk!”
Hak apa yang bisa membuat mas Setyo seenaknya
memerintah aku! Tak urung Rika memilih duduk di tepi tempat tidur. Kamar berukuran 7 x 6 itu terasa
sesak. Semakin sesak dirasa Rika, ketika Setyo menuntun ibunya duduk di sebelah Rika. Knapa nggak duduk sebelah sana aja, sih! Kayak ndak ada
tempat lain aja.
“ Sudah, wes, Yo. Ndak usah. Pulang aja.” Kali ini
Ibu sudah tidak kuasa menahan air matanya. Rika heran kenapa mas Setyo bisa
ikut menangis.
“ Sabar, nggeh, buk.” Setyo memandang lembut ibunya sambil berdoa semoga Allah memberi ibunya kekuatan. Ibu
hanya menunduk sambil menahan air matanya agar tidak berjatuhan lebih banyak
lagi. Rika hanya menghela nafas. Mengusir jauh-jauh gelisah yang semakin
menghisap jiwanya. Setyo berdiri.” Ibuk ke sini mau nawari sampeyan nikah.”
Rika tidak tahu mana yang membuatnya lebih sedih:
perkataan Setyo atau rasa bersalah yang diusirnya jauh-jauh. Rika mensedekapkan
tangannya. Ingin rasanya mengangkat kaki kanannya , kemudian menumpahkannya ke kaki kirinya. Tapi diurungkannya niat itu. Rika tidak ingin
membuat gelisah semakin menghisap jiwanya. Rika juga tidak ingin memberi alasan
lebih banyak pada Setyo untuk menunjukkan kekuasaannya. Sesuatau yang
dibencinya. Mentang-mentang laki-laki!
“ Apa mas tau nyeneni sampeyan sampek seperti
ini?” Suara Setyo terdengar dalam dan ditahan.” Baru datang! Sampeyan wes
nangisno ibuk!” Siapa yang nyuruh. Rika memilih tidak menatap mata Setyo.” Ndak
kurang-kurang Ibu karo Bapak nyang sampeyan. Opo seng ndak dituruti?” Banyak.
Rika mendengus. Kalian juga minta banyak ke akukan. Just like now.” Sak elek-eleke ibu bapak, masih lebih banyak seng ibuk bapak kekno
nyang sampeyan! Sak benci-bencine sampeyan nyang ibuk bapak, sek banyakan apike
ibuk bapak nyang sampeyan!”
“ Wes, yo!. Wes!.” Telinga Rika semakin gatal mendengar suara serak nan pilu ibunya.”
Sudah, Yo. Sudah. Adike sampeyan masih onok acara. Biarkan, wes. Wes budalo, Nduk. Budalo. Metuo, wes. Metuo.”
Ahhh.... knapa sih! Malam-malam! Ndak ngomong gitu
knapa! Kayak aku yang salah saja. Suara lembut penuh pengertian ibu semakin membakar jiwa Rika. Rika berdiri. Setyo terkejut melihatnya.
Setyo mengucapkan istighfar berkali-kali.
“ Ayo, buk. Sampun, buk. Cukup.” Setyo membimbing ibunya untuk berdiri.
“ Sepurane, yo, nduk. Sepurane.” Ibu tersenyum lembut.
Kan tadi disuruh pergi. Ahh. Knapa sih! Pake
senyum segala. Rika berdiri dipenuhi kejengkelan, membiarkan ibu dan mas Setyonya berjalan
keluar. Rika menghentakkan pantatnya ke kasur dengan keras. Wajahnya dipenuhi
otot-otot tegang. Matanya mengeluarkan semua amarah. Terdengar suara pintu pagar
dibuka. Rika mendesah.
Dewi, Risma dan Naning sudah pulang rupanya. Baru
jam setengah sebelas. Seharusnya mereka baru pulang jam dua belas lebih seperti
biasanya. Apa karna khawatir sama aku? Dewi sudah berdiri di depannya. Dewi tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya berdiri
memandang Rika. Rika menatapnya penuh amarah yang tidak disembunyikan. Dewi
tetap menatapnya tajam. Semakin tajam. Dewi tidak bergerak sedikitpun. Rika
heran kenapa Dewi bisa sekuat itu. Ah, dasar pembela ibuk!
Rika melepas sepatu dengan teratur seperti
biasanya. Digantinya span dan blus dengan kaos tidur katun tebal bergambar rusa
yang menutupi lututnya. Rika melirik Dewi yang masih berdiri disana. Kuat
banget sih. Rika hanya melewati begitu saja Dewi yang masih mematung di tepi tempat tidur tempat Rika duduk tadi. Ketika Rika kembali ke kamar
setelah menggosok gigi, dia tidak melihat Dewi disana. Rika tersenyum menang.
Sapa juga yang betah!.
Rika baru saja membaringkan tubuhnya, ketika Risma
dan Naning berdiri diambang pintu. Mereka terlihat biasa saja. Seolah tidak
tahu apa yang terjadi.
“ Your mom di Borobudur.”
“ Mereka pulang pake kereta pagi at six.”
Rika tidak berkata apa-apa. Dia hanya melirik dan mengangguk sebentar. “
Ok. Have a nice sleep.” Kedua sahabatnya berlalu tanpa berkata apa-apa.
Well, here she goes. Her preach SOON begins! Rika
melirik selintas sebelum memiringkan tubuhnya membelakangi Dewi yang baru saja
menutup pintu. Rika keliru. Dewi tidak berkata apa-apa. Dia diam. Tidak
bersuara. Bahkan untuk waktu yang lama sampai akhirnya Rika yakin Dewi telah
lelap. Rika mendesah. Knapa anak itu
slalu salah? Knapa orang tua tidak pernah salah? Rika mendengus jengkel ketika
teringat perkataan Setyo. Kalok ibu pasti lebih banyak baiknya daripada anak.
Kalo anak! Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Seenaknyasaja! Ibuk juga bisa salah. Ya, tapikan ndak seharusnya tadi......... Sapa
suruh datang ke Jogya!
Keesokan paginya ketika selesai mandi pagi, Rika
menemukan tiket pesawat di atas tempat tidurnya. Sejak
bangun jam 6 tadi, Rika memang tidak menemukan Dewi di kamar. Rika yakin Dewi lah yang menyiapkan tiket
itu. Rika memilih meneruskan kegiatannya, mengambil sisir dan memilih teras
samping yang dihiasi kolam ikan koi sebagai tempat untuk menyisir rambutnya,
yang baru saja dikeringkannya dengan melilitkan handuk sambil menikmati sereal
instan.
Rika berusaha menikmati keindahan ikan koi yang
berenang tiada henti. Dikosongkannya pikiran dan hatinya. Seolah tak ada
kejadian apa-apa tadi malam. Seolah tidak melihat apa-apa tadi diatas tempat
tidur. Seolah tahu kalau Risma dan Naning sedang berada dikamar mereka
sekarang. Dewi? Entahlah. Rika mengingkari semua kebenaran yang diketahuinya.
Rika cukup yakin kalau Dewi dan kedua sahabatnya yang lain sedang mengantar Ibu
dan Setyo menjuju ke Lempuyangan, stasiun favorit ibu. Tidak rame, begitu
alasan ibu kenapa suka lempuyangan. Entah kapan Rika mendengar jawaban itu.
Lama. Terlalu lama.
Rika mematut dirinya dikaca, dalam kamar kecil
yang terletak disebelah kamar mandi yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan
baju dan berdandan. Pada sebuah kaca besar yang bisa melihat seluruh anggota tubuhnya. Dari atas
sampai bawah. Kamarnya dihiasi warna coklat muda nan lembut. Dilengkapi dengan
beberapa lampu pencipta siluet indah jika gelap telah datang, memiliki dua
pintu yang menghubungkan kamar yang ditempati Rika dan Dewi, satunya lagi
menghubungkan kamar yang ditempati Naning dan Risma.
Rika menatap mata coklat gelapnya yang memandang
tajam dirinya sendiri. Ditepisnya jauh-jauh semua rasa. Rika mencoba tersenyum.
Senyum yang dipaksakan. Kamu salah, nggak seharusnya kamu begitu tadi malam.
Ketika pikiran itu berkelebat, Rika justru berhasil membuat sebuah senyum manis
yang menghiasi kulitnya yang kecoklatan. Rika menyembunyikan keterkejutannya,
ketika tiba-tiba Rika menemukan sebuah bola mata lain dikaca.
“ Sudah bisa tersenyum,kan.” Dewi berdiri di belakangnya dengan rasa lelah yang sangat.
Dewi mendesah. Memeluk Rika dari belakang sebentar, kemudian sambil berlalu dia
berkata,” Aku mau tidur. Sudah kupesankan taksi.”
Rika menghela nafas. Dilihatnya Dewi merebahkan
dirinya dengan puas. Rika menatap tiket yang ada disebelah Dewi.” Hati-hati.”
Setelah itu, Dewi lelap dalam keyakinannya bahwa Rika pasti akan pulang. Dia
cuman butuh waktu aja, seperti manusia lainnya.